
Malam itu di temani suara rintik hujan dan segelas kopi panas,Anin mengerjakan semua dokumen yang di berikan tuan Faren di ruang santai yang ada di kostnya. Tiba-tiba datang seorang laki-laki berbadan tinggi dan putih duduk di sampingnya
"Penghuni baru ya?"
sapa laki-laki itu
"Iya"
jawab Anin ketus
"Kerja or kuliah?"
"Kerja"
"Dimana?"
"Bisa gak sih diem,aku lagi bikin laporan ini"
Laki-laki itu kemudian menutup mulutnya dan berhenti memperhatikan Anin,namun tak berselang lama ia menatap layar laptop Anin yang menunjukkan kurva perhitungan yang sedang Anin kerjakan. Laki-laki itu kemudian memulai berbicara lagi
"Seharusnya sistem periodik yang kamu gunakan bukan itu,kalau kamu pakainya sistem seperti itu mau sampai kapanpun tidak akan ketemu hasil akhirnya"
"Maksud kamu?"
"Kamu itu salah perhitungan dan juga peletakan masalah,makanya sampai kapanpun hasilnya tidak akan pernah ketemu"
"Kamu paham soal beginian?"
"Lumayan sih,kalau kamu gak keberatan coba saya bantu membenarkan"
Akhirnya Anin terpaksa meminta bantuan laki-laki itu,dan tak perlu menunggu lama semua laporan Anin selesai dalam waktu satu jam saja.
"Wah cepat banget ya,kamu kerja di bidang akuntan juga?"
"Oh enggak,aku hanya seorang teknik sipil kok"
"Oh ya makasih sudah bantuin aku,dari tadi kita belum kenalan"
"Nama aku Diego"
"Hay Diego,senang berkenalan dengan kamu. Nama aku Anin,kamu kost disini juga?"
"Iya"
"Bukannya ini kost karyawati ya?"
"Itu yang di depan,yang di belakang khusus untuk pria. Dan aku sering sih ke depan hanya sekedar cari makan di warung pak khoir atau nongkrong disini"
"Oh begitu,sekali lagi makasih ya sudah membantuku membereskan semua ini"
"Oh ya kalau boleh tahu kamu kerja dimana?"
"Aku di PT.Mulya Agata Konstruksi"
"Loh sama dong"
"Kamu kerja disitu juga?"
"Iya,aku salah satu arsitek yang menangani pembangunan dari Agata Konstruksi"
"Kok jadi kebetulan begini ya?"
"Kamu anak baru mungkin,jadi aku belum pernah lihat kamu. Atau karena pekerjaanku yang di lapangan jadinya aku jarang lihat kamu di kantor"
"Enggak kok,aku memang anak baru. Hari ini adalah hari pertama aku kerja"
"Hari pertama kerja tapi sudah di berikan pekerjaan seperti ini?"
"Ya mungkin sebagai ospek kali"
"Bisa aja kamu Nin"
"Oh ya Diego,aku masuk kamar dulu ya soalnya udah malem juga gak enak kalau sampai di lihat anak kost lainnya"
"Iya Nin,hati-hati"
Anin kemudian kembali ke kamarnya dengan perasaan yang senang,ia bisa mendapatkan teman ngobrol baru di kostnya dan juga teman baru di kantornya.
Pagi harinya ketika Anin hendak memesan Grab,tiba-tiba Diego muncul di depan gerbang kost dengan mobil
"Anin,kamu mau berangkat ke kantor?"
"Eh Diego,iya ni tapi mau pesan grab dulu"
"Yasudah kalau begitu bareng aku saja"
"Enggak gak usah"
__ADS_1
"Udah gak apa-apa,lagian jam segini nyari grab susah karena bareng para anak-anak sekolah"
Anin melirik jam tangannya,dan benar saja lima belas menit sudah ia tidak mendapatkan satupun Grab. Akhirnya ia menerima ajakan Diego yang ada di depannya.
"Tapi gak apa-apa kan ini aku numpang sampai kantor?"
"Enggak apa lah"
Diego turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Anin
"Makasih Diego"
Mereka berdua akhirnya melaju menuju kantor,di perjalanan Diego mencoba mengajak Anin mengobrol untuk mencairkan suasana.
"Kamu kalau ke kantor selalu nge grab?"
"Enggak juga sih,biasanya sih aku lebih memilih jalan tapi hari ini karena dokumen yang aku bawa lumayan banyak jadi aku pesan grab aja"
"Kamu jalan dengan high hill seperti itu"
"Ya enggak,biasanya aku pakai sepatu biasa cuma sesampai di kantor aku baru ganti pakai hills"
"Oh gitu"
Tak terasa mereka sampai di parkiran kantor,kebetulan tuan Faren yang baru saja datang melihat Anin keluar dari dalam mobil. Tuan Faren hanya menatapnya dari kejauhan dan langsung masuk ke dalam kantor.
"Pagi tuan Faren"
ucap Diana yang menyambutnya di loby
"Setelah Anin datang kamu suruh dia buatkan aku kopi"
"Baik tuan"
Anin kemudian berjalan ke lobby bersama Diego namun tiba-tiba saja Diana menghampirinya
"Bu Diana?"
sapa Diego
"Pagi tuan Diego"
"Lama kita tidak bertemu"
"Iya karena tuan terlalu sibuk dengan matahari"
"Maaf nona Anin,tuan Faren sudah menunggu anda di ruangannya"
"Oh baik terima kasih nona Diana,kalau begitu Diego aku permisi dulu terima kasih atas tumpangannya"
"Sama-sama Anin"
Anin pun pergi dan masuk ke dalam lift,sementara itu Diego dan Diana masih berada di lobby
"Sepertinya anda begitu akrab dengan nona Anin tuan?"
tanya Diana
"Oh tidak,aku baru bertemu dia kemarin malam. Dia tetangga kost ku dan kebetulan pagi ini aku menawarkan diri untuk memberikan dia tumpangan ke kantor"
"Baguslah jika tawaran itu tidak hanya berlaku pada saya saja"
ucap Diana yang kemudian pergi meninggalkan Diego
Ternyata Diego dan Diana dulu pernah dekat namun karena selera Diana yang begitu tinggi membuat Diego mundur secara perlahan,meski begitu kini hubungan mereka berdua tetap saja berjalan baik namun siapa sangka jika Diana memiliki kecemburuan apabila Diego dekat dengan wanita lain.
Sesampainya di ruangan Anin segera membawa dokumen-dokumen yang semalam ia kerjakan menuju ruangan tuan Faren,laki-laki berbadan tinggi dengan tampang dingin itu menatap Anin sangat sinis.
"Pagi tuan Faren,saya mau menyerahkan dokumen ini pada tuan"
"Bukankah kemarin sudah saya bilang jika saya ingin kamu meletakan itu di meja sebelum saya datang"
"Tapi tuan,saya rasa ini masih belum terlambat hanya saja tuan terlalu pagi untuk datang ke kantor"
"Alasan saja kamu,bukankah bagus jika saya datang lebih awal? justru itu bisa menjadi contoh bagi karyawan-karyawan saya"
"Maaf tuan,sekali lagi saya minta maaf jika saya terlambat memberikan dokumennya"
"Kopi???"
"Kopi? maksud tuan?"
"Kopi saya mana?"
"Tuan minta saya untuk membuatkan kopi?"
"Bukankah saya sudah perintahkan pada Diana jika setelah kamu datang kamu harus keruangan saya membawakan kopi"
__ADS_1
"Maafkan saya tuan,saya lupa"
"Anin,sepertinya kamu kurang paham dengan saya. Saya benci karyawan yang kerjanya lama,saya benci pada orang yang membuat saya mengulangi lagi perkataan saya"
"Maafkan saya tuan,saya benar-benar lupa. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi"
"Baru dua hari kerja udah buat saya kecewa,udah sana segera bawakan kopi saya"
"Baik tuan"
Anin keluar dari ruangan tuan Faren dengan wajah ketakutan,ia tak menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari yang lebih berat di bandingkan kemarin.
Setelah membuat kopi ia segera mengantarkan kopi ke ruangan tuan Faren,namun siapa sangka jika di sana justru ia bertemu lagi dengan Diego.
"Permisi tuan ini kopinya"
ucap Anin yang meletakkan kopi di atas meja tanpa memperhatikan sekitar
"Anin..?"
Anin mengangkat wajahnya dan melihat sumber suara yang tak asing itu
"Diego.....!!!!"
"Kamu ngapain buatin kopi? kamu OB di sini?"
"Kamu kenal sama dia?"
celetuk tuan Faren
"Dia tetangga kost aku,dan kebetulan semalam kita sedikit ngobrol"
"Jadi kamu kost di sekitar kost Anin juga?"
"Iya,emangnya selama ini low gak tahu apa kalau gua kost di daerah situ?"
"Saya gak perduli,lagipula untuk apa saya tahu jika itu tidak akan membuatmu pulang ke rumah orang tua mu sendiri"
"Udahlah Ren ga usah bahas masalah itu lagipula aku bosan mendengar mereka memintaku untuk segera menikah,low sendiri enak bebas orang tua low gak mengekang hidup low karena low lebih sukses dari mereka"
Anin hanya menatap atasannya dan orang yang baru ia kenal kemarin dengan tatapan bingung
"Eh sorry Nin,gak seharusnya kamu dengar ini semua"
"Kalau begitu saya permisi tuan"
Anin meninggalkan ruangan tuan Faren dengan lega,akhirnya ia terhindar dari kemarahan bosnya berkat Diego. Entah ada hubungan apa antara mereka berdua tapi yang jelas pasti mereka memiliki hubungan yang dekat jika hanya memanggil dengan sebutan low gue.
Di dalam ruangan tuan Faren Diego hanya mengobrolkan soal proyek yang sedang ia kerjakan di sentul,tidak ada yang lain lagi selain pekerjaan yang mereka bahas. Namun tiba-tiba Diego bertanya perihal Anin kepada pria di hadapannya tersebut
"Ren,sebenernya posisi Anin disini apa sih?"
"Kenapa memang?"
"Ya enggak aja,kayaknya dia memegang data perusahaan ini deh"
"Dia asisten pribadiku"
"What? asisten pribadi atau lebih nih?"
Tuan Faren hanya diam tak menanggapi pertanyaan Diego sahabatnya di kampus dulu,ia lebih memilih diam dan tak membicarakan kehidupan pribadinya dengan siapapun.
"Jadi sudah sedekat mana kalian berdua?"
ucap Faren tiba-tiba
"Kepo amat sih?"
Faren menatap Diego dengan tatapan mengerikan
"Oke-oke,aku hanya sekedar temen ngobrol aja ya siapa tahu bisa lebih dan..."
"Jangan berani coba-coba mengganggunya"
ucap tuan Faren dengan nada tegas
"Memangnya kenapa? kamu suka sama cewek itu?"
"Aku tidak suka saja jika ada yang mengganggu dia dan membuat dia tidak fokus kerja seperti tadi"
"Low aja yang terlalu kaku Ren"
ucap Diego yang kemudian pergi meninggalkan ruangan tuan Faren
Hari ini pekerjaan Anin tidak begitu banyak,ia hanya di minta untuk mempelajari beberapa kurva oleh sekretaris tuan Faren,selama mempelajarinya Anin sama sekali tidak terkecoh dengan lingkungan sekitar termasuk tuan Faren yang sedari tadi memperhatikan dia dari ruangannya. Kaca tembus pandang itu hanya bisa dilihat dari ruangannya saja,ia sengaja membuatnya untuk memantau setiap gerak gerik Anin selama bekerja di sana.
......Tuan Faren......
__ADS_1