
Malam hari tuan Faren menyambangi kembali kediaman Anin,di sana ia melihat Anin yang tengah duduk di depan rumah sembari menyiapkan beberapa bahan untuk pesanan cateringnya besok.
"Anin kamu ngapain di luar?"
tanya tuan Faren yang segera duduk di sebelah Anin
"Tuan Faren kenapa malam-malam kemari?"
"Memangnya tidak boleh?"
"Ya tidak enak saja kalau di lihat orang"
"Lagi pula kita tidak ngapa-ngapain kan"
"Eh nak Faren"
ucap bibi Anin yang keluar dari dalam rumah
"Malam tante"
"Bagaimana,cocok dengan penginapan pak RT?"
"Lumayan sih tante"
"Ya mungkin tidak sebagus kamar nak Faren,tetapi setidaknya bisa lah sementara untuk menjadi tempat tinggal di sini"
"Iya tante"
"Nak Faren mau minum apa?"
"Tidak usah tante"
"Tidak apa-apa,sebentar ya saya ambilkan dulu"
"Tuan Faren rencananya mau sampai kapan di sini?"
"Memangnya kenapa Nin?"
"Enggak,maksud saya apa tidak masalah jika kantor di tinggal lama"
"Kan sudah ada Diana,rencana sih saya mau ngajak kamu bergabung kembali di kantor"
"Sepertinya tidak mungkin tuan"
"Tidak mungkin kenapa?"
"Mas Andrew minta saya supaya tetap di rumah mengurus usaha catering ini,lagi pula sayang juga kalau di tinggal begitu saja"
"Kan ada tante kamu"
"Tapi kan tetap saja saya harus membantu bulek"
"Nin,sebenarnya tujuan saya kemari bukan hanya itu"
"Lalu??"
"Saya ingin mengajak kamu kembali ke Jakarta bukan sebagai karyawan saya,tetapi...."
"Tetapi apa tuan??"
"Saya ingin kamu menjadi pendamping hidup saya"
"Tuan,sebaiknya kita jangan berbicara ke arah itu dulu"
"Kenapa Nin? kamu tidak mau?"
"Bukan karena itu"
"Lantas?"
"Saya masih trauma dengan kisah cinta saya yang hanya sesaat bersama Arya,saya takut kalau nanti akan kecewa kembali"
"Kamu jangan khawatir,saya janji tidak akan pernah mengecewakan kamu"
"Itu adalah kata-kata yang sama saat Arya mengungkapkan perasaannya,saya rasa sebaiknya tuan buang jauh-jauh niat untuk hidup bersama saya"
"Kenapa begitu Nin,aku benar-benar mencintaimu. Ini bukanlah hanya bualan saja tetapi kenyataan kalau perasaanku selalu untukmu"
"Cukup tuan,sebaiknya anda pulang"
__ADS_1
"Nin...."
Anin pergi masuk ke dalam rumah dan tak menghiraukan tuan Faren,ia menangis di dalam kamarnya karena masih belum bisa menerima kenyataan bahwa baru saja kemarin ia bersama laki-laki yang bilang begitu menginginkannya. Namun sekarang justru orang itu lah yang menyakitinya,ia tidak ingin hal itu kembali terulang setelah hal itu membuat kekecewaan terbesar dalam hidupnya.
Tuan Faren akhirnya memutuskan untuk memberikan waktu kepada Anin,ia paham betul bagaimana perasaannya sekarang yang hancur karena rasa kecewa karena laki-laki brengsek itu.
Keesokan paginya setelah selesai memuat pesanan catering dan siap di antarkan,tiba-tiba ada mobil berhenti di depan rumahnya.
Andrew,bibi Dika,dan Anin kebingungan karena mobil itu memuat sebuah mobil baru di atasnya dan satu mobil box lainnya yang juga berhenti di depan rumah Anin.
"Selamat pagi"
"Pagi"
"Apa benar ini rumah nona Anindita Maheswari?"
"benar,dengan siapa ya?"
"perkenalkan saya Rudi dari showroom mobil Jakarta Car Automatic,saya kemari untuk mengantarkan pesanan atas nama nona Anindita Maheswari"
"Pesanan? kamu pesan apa Nin?"
Tanya Andrew kebingungan
"Aku gak pesan apapun mas"
"Saya kemari mau mengantarkan unit nona"
"unit?"
"Iya,mobil ini di pesan atas nama nona Anindita Maheswari"
"haaa? Saya tidak pesan pak,beneran deh"
"Tapi di sini atas nama anda"
"saya nggak punya duit buat bayar ini pak"
"nona tenang saja,unit sudah di bayar lunas oleh tuan Faren Farigata"
"Gila,orang itu kasih kamu mobil Nin"
"Silahkan tanda tangan di sini nona"
Ucap sang pengirim sambil menyodorkan dokumen
"Tunggu-tunggu ini tidak mungkin ,kenapa tuan Faren memberikan semua ini"
"Kalau kamu tidak mau tanda tangan biar aku saja Nin"
Celetuk Andrew yang langsung mendapatkan cubitan dari ibunya
"Sebaiknya anda tunggu sebentar biar saya hubungi tuan Faren"
"maaf nona saya sedang buru- buru karena saya langsung mengantarkan unit ini dari Jakarta jadi harus menempuh perjalanan jauh"
Akhirnya karena terpaksa dan kasihan terhadap orang yang mengantarkan mobil itu Anin segera menandatangani semua dokumen itu.
"terima kasih nona ini kunci dan surat-surat kendaraannya,kalau begitu saya permisi."
"terima kasih pak"
Baru Anin mau menghubungi tuan Faren,tiba-tiba ada satu orang lagi menghampirinya
"nona Anindita Maheswari"
"iya"
"Tolong tanda tangan di sini"
Anin segera menandatangani berkas di depannya,setelah selesai orang itu dan satu temannya segera membuka box mobilnya dan menurunkan semua barang-barang yang ada di dalamnya.
Anin begitu terkejut melihat peralatan memasak serba digital dan beberapa alat catering yang lengkap berada di depan rumahnya.
"apa-apaan ini Ya Allah"
Ucap Anin
"ndok,ini semua tuan Faren yang kirim?"
__ADS_1
"Anin juga tidak tahu bulek"
"coba kamu telfon dia"
"Gak di angkat bulek"
"Wah ini gokil sih Nin,mobil dan semua peralatan ini di berikan secara cuma-cuma dengan si Faren itu"
Ucap Andrew yang kegirangan
Sesampainya di penginapan pak RT,Anin mengetuk pintu kamar tuan Faren. Namun beberapa lama tidak ada jawaban,Anin memberanikan diri untuk membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci. Ia melihat tuan Faren yang tidur dengan menggigil kedinginan. Anin panik dan langsung menghampirinya
"Tuan anda kenapa??"
tanya Anin panik
"Nin... kamu di sini?"
"Ya Allah tuan,badan anda demam"
Anin meminjam baskom dan handuk pada bu RT, ia juga meminta obat penurun demam dan memberikannya kepada tuan Faren.
"Tuan,biar saya kompres"
ucap Anin sembari meletakkan handuk di kening tuan Faren
"Anin,kamu begitu panik melihat saya seperti ini"
"Bagaimana saya tidak panik,semalam anda baik-baik saja tetapi kenapa sekarang malah seperti ini"
"Baru kali ini ada orang yang begitu khawatir dan perhatian meski saya hanya demam"
ucap tuan Faren
"Tuan saya akan mengambil makanan di rumah agar anda bisa segera meminum obat"
Saat Anin hendak berdiri lengannya di tahan oleh tuan Faren
"Jangan kemana-mana Nin,aku tidak mau kamu tinggalkan"
"Tapi tuan,anda harus segera meminum obat"
"Berikan pada saya obatnya"
Anin menyodorkan obat dan segelas air putih kepada tuan Faren yang langsung ia minum
"Tuan sebaiknya anda istirahat dulu,saya akan pulang dan memasak bubur untuk anda"
"Tidak,saya tidak mau kamu tinggal"
"Tapi tuan"
Tuan Faren tidur di pangkuan Anin dan tenang,Anin takut ada orang yang melihat makanya ia mencoba memindahkan kepala tuan Faren ke bantal.
"Tetaplah seperti ini sebentar saja Nin"
lirih tuan Faren sambil menahan tubuhnya
Anin hanya bisa mengikuti kemauan tuan Faren,bagaimana pun juga laki-laki itu sudah berkorban banyak untuknya saat ia koma kemarin.
Setelah tuan Faren terlelap,Anin segera memindahkan tuan Faren ke bantal. Ia mengganti handuk dan menyeka keringat tuan Faren,ternyata demamnya sudah lumayan turun.
Anin bangun dan menutup pintu pelan-pelan agar tidak membangunkannya,ia kembali ke rumah dan membuatkan makanan untuk tuan Faren. Sesampainya di rumah bibinya dan Andrew menunggu jawaban Anin mengenai semua barang yang di kirimkan tuan Faren pagi tadi.
"Bagaimana ndok?"
"Anin belum tanya ke tuan Faren bulek,karena sekarang tuan Faren sedang demam"
"Astaga,kamu buatkan dia sup jahe supaya cepat enakan badannya"
"Iya Nin,kamu harus rawat dia sampai sembuh karena bagaimanapun juga kamu sudah berhutang budi padanya"
imbuh Andrew
"Iya ndok,selama kamu sakit dia paling antusias mengecek kondisi kamu"
"Iya bulek,kalau begitu Anin ke dapur dulu"
Tak berselang lama Anin selesai memasak dan akan mengantarkan makanan itu ke penginapan pak RT,sesampainya di sana ternyata tuan Faren sudah bangun.
__ADS_1