
"Maka dari itu Die,aku takut kalau hal itu sampai terjadi"
"Ya sudah kalau begitu sekarang kamu dengarkan aku,kamu harus memperingatkan Anin supaya tidak menghampiri Faren. Apapun caranya kamu harus bantu Anin supaya tidak bisa bertemu dengan Faren"
"Oke Die"
"Ya sudah kalau begitu aku mau lanjut kerja lagi,kamu jaga kesehatan disana"
"Kamu juga ya Die,bye"
Diana menutup ponselnya dan merasa sedikit tenang setelah bercerita kepada Diego,bagaimanapun dia telah melakukan sesuatu yang salah dengan cara memberitahu keberadaan Anin di Jakarta kepada tuan Faren.
Setelah sampai di lobby kantor tuan Faren,Anin segera meminta receptionis menyampaikan bahwa ia ingin bertemu dengan pemilik kantor ini.
"Selamat siang mbak Anin"
"Siang,mbak saya mau ketemu sama tuan Faren"
"Apa sudah membuat janji?"
"Apa saya harus membuat janji dulu untuk bertemu dengannya?"
"Maafkan saya nona,kalau begitu saya telfonkan sekretarisnya dulu"
"Baik saya tunggu"
Beberapa saat kemudian
"Bagaimana?"
"Anda bisa menunggu di ruangan tuan Faren terlebih dulu,karena sekarang tuan Faren sedang rapat"
"Okay"
Anin segera masuk ke dalam lift dan pergi menuju ruangan tuan Faren,sesampai di sana ia masuk dan menunggunya dengan raut wajah yang marah. Sementara itu sekretarisnya menghampiri tuan Faren ke ruang meeting
"Ada apa?"
"Maaf tuan,nona Anin sekarang ada di kantor dan sedang menunggu anda di ruangan"
"Okay,kamu buatkan dia minum"
"Baik tuan,kalau begitu saya permisi"
Tuan Faren meminta asistennya menutup meeting hari ini,namun setelah itu klient mengajaknya untuk makan siang sebagai tanda kerja sama antar perusahaan
"Maafkan saya tuan Robert,tapi sepertinya saya tidak bisa"
"Why?"
"Ada sesuatu yang harus segera urus"
"Baiklah kalau begitu lain kali saja"
"Baik,kalau begitu biar Marcel yang mengantarkan anda ke bawah"
"Terima kasih banyak tuan Faren"
Setelah klientnya pergi tuan Faren segera naik ke ruangannya untuk menemui Anin,ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan pujaan hatinya tersebut.
Ceklek
suara pintu terbuka,Anin terkejut melihat tuan Faren yang sudah berada disana sekarang
"Akhirnya kamu datang juga"
ucap tuan Faren sambil tersenyum
"Maksud kedatangan saya kemari hanya untuk memperingatkan anda agar tidak ikut campur urusan pribadi saya,okay kalau memang anda masih belum terima akan perilaku saya tadi pagi tetapi cara anda meminta pak Marwan untuk menghentikan saya adalah suatu tindakan yang kekanak-kanakan"
__ADS_1
"Easy baby,jadi kamu ke sini karena hal itu"
"Memangnya anda berharap apa?"
"Mungkin membicarakan soal kita"
"Di antara kita sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarkan,bukankah sudah jelas waktu itu saya bilang untuk mengakhiri hubungan antara saya dan anda"
"No Anin,apa yang kamu bicarakan itu adalah keputusan sepihak. Aku menganggapnya semua itu belum selesai sekarang"
"Terserah anda,tapi bagi saya hubungan itu sudah lama berakhir"
Tiba-tiba Vina masuk dan membawakan segelas jus jeruk untuk Anin
"Terima kasih Vin"
"Sama-sama nona Anin"
"Kalau memang kamu marah karena waktu saya tidak jadi datang di hari saat kita akan betunangan,saya minta maaf. Saya tidak ada maksud untuk mengingkari janji-janji itu"
"Lupakan,lagi pula saya tidak berharap untuk menikah dengan anda"
"Kenapa kamu ngomong begitu Nin? kamu sudah tidak cinta dengan saya lagi?"
"Rasa cinta saya sudah berubah menjadi benci sejak anda membuat hati saya kecewa,jadi berhenti berharap kalau saya akan mau menjadi istri anda. Saya permisi"
Saat Anin akan melangkahkan kakinya keluar tiba-tiba tuan Faren menghentikannya dan menarik pergelangan tangan Anin
"Lepaskan"
"Apa tadi kamu bilang? kamu tidak mau lagi menjadi istri saya?"
"Ya,sampai kapanpun"
Tuan Faren merasa marah dan langsung ******* habis mulut Anin kedalam mulutnya,namun bukan rasa senang yang ada justru perasaan risih sehingga membuat Anin mendorong tuan Faren.
"Anda gila ya?"
teriak Anin
"Stop,aku risih mendengarnya. Sekali lagi anda mencoba menghalangi saya pergi maka saya akan berteriak bahwa anda coba-coba berbuat cabul kepada saya"
Anin pun keluar dengan muka marah,sementara itu tuan Faren tidak ingin kehilangan Anin lagi setelah begitu lamanya ia menunggu jawabannya untuk berkata YA. Tuan Faren mengambil ponselnya dan menghubungi Uno untuk memberikannya perintah
"Halo bos"
"Saya ada pekerjaan untuk kamu"
"Pekerjaan apa bos?"
"Kamu culik dan bawa Anin ke vila saya di Bogor,jangan sampai ada yang tahu dan perlakukan dia dengan baik"
"Baik bos"
Anin yang saat itu sedang naik grab kebingungan karena motor yang ia tumpangi tiba-tiba di berhentikan oleh mobil dengan pengendara tak di kenal,tiga orang keluar dan berusaha memaksa Anin ikut dengannya. Karena kondisi jalanan yang sepi Anin tidak bisa meminta tolong meski sudah berteriak memintanya,pengendara Grab juga berhasil di ancam jika ia ikut campur maka akan tanggung akibatnya.
Anin berlari ketakutan sambil membawa beberapa barang-barangnya,hingga salah satu dari mereka berhasil menangkapnya.
"Lepaskan saya,siapa kalian?"
teriak Anin
Meski telah di tangkap Anin tetap saja berusaha memberontak,ia menendang salah satu laki-laki itu dan membuatnya marah hingga satu pukulan di tengkuk leher Anin berhasil membuatnya pingsan.
"Goblok,kenapa kamu pukul?"
teriak Uno pada anak buahnya
"Habis dia melawan bos"
__ADS_1
"Kalau sampai bos besar tahu bisa habis kamu,sudah sekarang masukkan dia ke mobil dan ikat tangannya"
"Baik bos"
Anin masih tidak sadarkan diri meski ia sudah berada di tempat lain,tak lama kemudian tuan Faren datang ke Vila itu
"Bagaimana?"
"Semuanya berjalan lancar bos"
"Tidak ada luka sedikitpun bukan?"
"Maaf bos,terpaksa tadi saya membuatnya pingsan karena terus melawan"
"Kamu bius?"
"Saya pukul sedikit bos"
"Bodoh kamu? sudah saya bilang jangan menggunakan kekerasan"
"Maafkan saya bos"
"Ya sudah kalau begitu kalian berjaga-jaga kalau nanti dia kabur"
"Baik bos"
Tuan Faren berjalan menuju kamar tempat Anin di sekap,begitu masuk ia melihat Anin yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Tuan Faren duduk di sebelahnya sambil membelai paras Anin yang cantik itu
"Coba kamu nurut apa kata saya,pasti semua ini tidak akan terjadi"
ucap tuan Faren
Tak berapa lama Anin bangun,ia merasa kepalanya yang pusing akibat pukulan tadi. Ia mengedipkan matanya dan melihat tuan Faren yang duduk di sebrangnya sambil tersenyum
"Tuan Faren? Di mana saya?"
"Kamu ada di rumah saya"
"Rumah anda?bagaimana bisa? seingat saya tadi waktu pulang ada orang yang memaksa saya untuk ikut dengan mereka berarti orang-orang itu adalah suruhan anda"
"Benar sekali"
Anin terdiam sejenak dan takut melihat tuan Faren yang memandanginya dengan senyum menyeringai
"Saya mau pulang"
"Mau kemana? di sini rumah kamu"
"Enggak saya mau pulang"
teriak Anin yang turun dari tempat tidur dan berusaha keluar dari kamar itu
Namun tuan Faren masih pada tempatnya,ia melihat Anin yang berusaha membuka pintu namun tidak bisa
"Dimana kuncinya? saya mau pulang"
teriak Anin lagi
Tuan Faren masih hanya tersenyum menatap Anin yang begitu ketakutan
"Anin kamu jangan khawatir,saya tidak akan menyakiti kamu"
"Saya bilang saya mau pulang"
teriak Anin lagi yang kemudian membuat tuan Faren marah
Ia menghampiri Anin dan menyudutkannya ke dinding
"Saya tidak suka perempuan pembangkang seperti ini"
__ADS_1
"Terserah anda,saya tidak hidup hanya untuk menyenangkan anda"
Tuan Faren menutup mulut Anin dengan bibirnya,Anin yang merasa jijik memukul-mukul laki-laki di hadapannya itu supaya melepaskannya namun semua itu sepertinya percuma.