CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 15


__ADS_3

Tak berapa lama akhirnya Anin siuman,ia menyadari dirinya sudah ada di rumah sakit dengan luka di beberapa tubuhnya. Ia ingat betul kejadian yang menimpa dirinya pagi tadi,ia mencoba bangun dari tidurnya namun tiba-tiba Diana yang baru saja masuk mencoba mencegah Anin.


"Nona Diana,bagaiman anda bisa ada disini?"


tanya Anin bingung


"Tuan Faren meminta saya untuk menjaga anda selama berada di rumah sakit nona"


"Tidak perlu nona,itu hanya akan merepotkan mu"


"Ini sudah tugas saya nona,mohon jangan di tolak"


Anin hanya dapat mengikuti perkataan nona Diana,sementara itu tuan Faren masih sibuk menyelidiki penyebab trouble pada lift kantornya. Tidak di temukan kejanggalan apapun selain memang tali lift ada beberapa yang sudah saatnya untuk di ganti dan di perbaiki,tuan Faren meminta agar tim memperbaiki sebaik mungkin karena tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali.


Malam ini saat Anin selesai mendapatkan pemeriksaan,tuan Faren datang mengunjunginya. Anin nampak sungkan dengan keberadaan atasannya itu


"Gimana keadaan kamu?"


tanya tuan Faren


"Sudah membaik tuan"


jawab Anin


"Baiklah jika memang seperti itu,Di sebaiknya kamu pulang dan terima kasih sudah menjaga Anin seharian ini"


"Baik tuan"


Diana melangkah keluar,sekarang hanya ada Anin dan tuan Faren di dalam kamar itu


"Tuan tidak ikut pulang juga?"


tanya Anin mencoba mencairkan suasana


"Kamu ngusir saya?"


"Bukan begitu maksud saya tuan"


"Kamu jangan khawatir,aku tidak akan macam-macam terhadapmu. Sebaiknya sekarang kamu istirahat"


Anin merasa sikap tuan Faren terlalu berlebihan padanya,meski begitu ia berusaha untuk tetap tenang agar tidak terlihat grogi.


Keesokan paginya saat Anin sudah bangun,ia tak mendapati siapapun di dalam ruang perawatannya. Hanya buket bunga lily putih yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Anin bangun dan coba meraih bunga itu,ia hirup aroma wangi khas lily dan membaca sepucuk surat yang terselip di antaranya.


"Semoga cepat sembuh dan kembali ke kantor"


Tidak ada nama ataupun inisial pengirimnya,Anin mengira itu pasti dari tuan Faren. Tak berselang lama dokter dan beberapa asistennya mengecek kondisi Anin saat ini,semuanya kini sudah baik-baik saja,tinggal menunggu waktu untuk memulihkan diri sepenuhnya.


Karena dokter sudah menyatakan kondisi Anin baik-baik saja ia kemudian melepas infus dan membuat Anin begitu lega,sekarang ia tidak perlu menggantungkan diri pada suster. Anin kemudian mandi dan memakan sarapan beserta obat yang sudah suster berikan. Seharian ini tidak ada hiburan yang membuat Anin merasa nyaman berada di sana,akhirnya ia mencoba untuk menghubungi Putri.


Setelah berkali-kali menghubunginya Putri masih saja tidak menjawab telfon dari Anin,entah karena ini masih jam kantor atau karena dia yang sibuk berpacaran dengan Adit.


Merasa bosan berada di kamar terus menerus,akhirnya Anin memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang ada di rumah sakit tersebut. Ia menghibur diri dengan bertemu anak-anak kecil yang juga sedang dalam masa penyembuhan,meski begitu Anin merasa sedikit senang berada di sana menghibur para anak-anak.


Tuan Faren yang baru saja kembali dari meeting segera pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Anin,sesampainya di kamar ia tidak mendapati Anin dan membuatnya khawatir. Ia meminta kepada para suster untuk membantunya mencari keberadaan Anin,salah satu perawat melihat Anin tengah bermain dengan para anak-anak kecil di taman. Tak menunggu lama tuan Faren segera pergi menuju taman dan mendapati Anin sedang mendongeng untuk anak-anak para penderita kanker.


Tuan Faren mengamati Anin dari jauh,wanita muda yang selalu ia remehkan itu kini berubah menjadi seorang wanita berjiwa keibuan. Tuan Faren merasa bahwa apa yang ada di hadapannya itu adalah Anin versi di masa depan,a menatap wanita itu dengan tatapan penuh kasih sayang dan tak menyadari bahwa Anin yang sudah selesai mendongeng sedang berjalan menuju dirinya.

__ADS_1


"Tuan,tuan"


panggil Anin yang kemudian membuyarkan lamunan tuan Faren


"Kamu itu lagi sakit masih saja suka keluyuran"


celetuk tuan Faren


"Kata dokter aku sudah boleh keluar,dan besok aku bisa pulang"


"Tetap saja kamu butuh istirahat lagi,sekarang kamu kembali ke kamar"


Anin berusaha mengikuti perintah dari atasannya itu,sesampai di sana ia melihat buket mawar putih tergeletak di atas meja. Anin merasa bingung kenapa setiap ia berkunjung atasannya selalu memberikan sebuah bunga kepadanya.


"Tuan tidak ke kantor?"


"Enggak,kamu istirahat saja di kamar saya mau keluar menemui putra saya"


Anin menghela nafas karena ia bisa sedikit lega sebab bosnya tidak mengunjunginya terlalu lama. Setelah tuan Faren pergi Anin merebahkan diri di tempat tidur,tak berselang lama seorang perawat masuk membawakan beberapa buku bacaan untuk Anin.


"Ini apa sus?"


"Ini buku bacaan yang di minta tuan Faren untuk saya berikan kepada anda nona"


"Buku???"


"Iya,tuan Faren berpesan agar memberikan ini pada anda supaya anda tidak begitu bosan berada di kamar"


"Oh makasih sus"


Anin masih tidak menyangka ternyata selain terlihat dingin atasannya itu juga merupakan pria yang penuh perhatian. Anin mencoba menghilangkan kebosanannya dengan membaca buku-buku itu,namun tiba-tiba ponselnya berdering.


"Putri..."


Anin mengangkat panggilan yang ternyata dari sahabat lamanya tersebut,ia sangat senang karena akhirnya kebosanannya sedikit terobati.


"Halo Put...."


"Halo Anin,apa kabar?"


"Baik kok Put,kamu sendiri gimana?"


"Aku juga baik kok,oh ya tadi kamu telfon aku kenapa?"


"Enggak aku hanya bosan saja dan sedang tidak ada kerjaan"


"Kamu pasti kangen sama aku ya?"


"Pasti dong"


"oh ya Nin,ada sesuatu yang ingin aku ceritakan ke kamu"


"Soal apa?"


"Low tahu gak sih,mbak Ririn dan mas Budi bakalan married minggu depan"


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya,low pasti gak nyangka banget kan? Aku aja sampai gak nyangka kapan sih mereka mulai dekat"


"Iya yah,setahu aku sih justru mas Aryo yang lebih dekat sama mbak Ririn"


"Maka dari itu"


"Memangnya kapan?"


"Minggu depan,dia nitip undangan juga kok buat low. Datang ya sekalian reuni kita"


"Ya e lah Put baru seminggu gua pergi,udah kayak setahun aja pakai reuni segala"


"Seminggu tanpamu itu serasa setahun tau"


"Halah modus"


"Oh ya,low lagi dimana sekarang? cowok-cowok di kantor low pasti ganteng-ganteng ya?"


"Apaan sih Put,ingat udah ada mas Adit"


"Ya biasalah,kalau mas Adit itu number one tapi boleh kali ada number two,three and seterusnya"


"Dasar buaya betina"


Tiba-tiba dokter dan suster masuk untuk memberikan surat keterangan bahwa hari ini Anin sudah boleh pulang lebih awal,Putri yang belum mematikan panggilannya mendengar semua itu.


"Nin,kamu sakit?"


"Halo Put,gimana?"


"Kamu sakit ya?"


"Em iya,tapi udah baikan kok"


"Kamu sakit apa sih Nin,kok kamu gak bilang ke gua?"


"Cuma kecelakaan kecil kok"


"kecelakaan?"


"Iya,udah deh ga usah berlebihan gitu lagipula aku sudah gak kenapa-kenapa kok"


"Kamu yakin gak butuh gua Di sana?"


"Enggak put makasih,pokoknya kamu harus tetap strong buat nikahan kamu sebualan lagi. Gak usah mikirin yang aneh-aneh dan sehat terus"


"Siap nona Anindita Maheswari"


"Ya udah kalau gitu aku tutup ya telfonnya,salam buat mbak ririn"


"Oke,bye honey"


"Bye"


......Putri......


__ADS_1


__ADS_2