
Satu jam berlalu,kini tuan Faren dalam keadaan setengah mabuk. Anin membujuknya agar tidak meminum lagi dan meminta tuan Faren untuk pulang.
"Tuan sebaiknya kita pulang,sekarang tuan sudah mabuk saya takutnya nanti tuan malah tidak kuat berdiri"
"Stttts saya masih sadar Anin,saya masih bisa berdiri"
Anin semakin tidak yakin dan tidak bisa lagi mengendalikan laki-laki di hadapannya itu,ia terpaksa menelfon nona Diana untuk membantunya membujuk tuan Faren. Diana sendiri terkejut mengetahui bahwa tuan Faren mabuk,ia segera menghampiri Anin dan bosnya ke cafe itu.
"Nona Anin bagaimana ceritanya tuan Faren bisa begini"
"Saya sendiri tidak tahu kalau minuman tuan Faren mengandung alkohol nona,saya sudah membujuk tuan Faren agar pulang tapi dia mengotot tetap disini"
"Kalau begitu biar saya hantarkan beliau pulang,kamu bisa bantu saya bayarkan bill ini pakai kartu saya pin nya 343536"
"Baik nona"
Diana di bantu petugas keamanan membawa tuan Faren ke mobilnya,setelah selesai menyelesaikan pembayaran Anin segera memberikan kartu ATM itu pada Diana.
"Nona ini kartu anda"
"Terima kasih Anin,ayo kamu saya antar pulang sekalian"
"Tidak usah nona,saya naik taksi saja. Lagipula saya sudah merepotkan nona untuk mengantar tuan Faren"
"Ya sudah kalau begitu,aku duluan"
"Baik nona"
Sesampainya di rumah Diana di bantu scurity membawa tuan Faren masuk ke dalam rumah,Nyonya Mega dan tuan Felix terkejut melihat kondisi tuan Faren.
"Diana??"
"Tante? maaf tante,om saya menggangu waktunya malam-malam saya hanya mau mengantarkan tuan Faren pulang"
"Astaga anak ini kenapa bisa sampai mabuk seperti ini?"
Setelah selesai membawa tuan Faren ke kamarnya,Diana sedikit berbincang dengan kedua orang tua tuan Faren. Mereka memang dekat karena ayah Diana adalah pengurus kantor tuan Faren di luar jawa.
"Diana,lama kita gak bertemu ya"
"Iya om,om dan tante kapan datang?"
"Tadi pagi,oh ya gimana kabar ayah kamu?"
"Ayah sehat om,seperti biasa semangat kerjanya masih tinggi"
"Ya sama seperti kamu,oh ya kapan kira-kira ayah kamu ke Jakarta?"
"Minggu depan om kebetulan hari itu kami ada acara kirim doa seribu hari meninggalnya mama"
__ADS_1
"Gak terasa ya,mama kamu sudah tiga tahun meninggalkan kita"
"Iya tante"
"Wah kebetulan,ada yang ingin om sampaikan sama ayah kamu"
"Soal apa om?"
"Nanti kamu tahu sendiri"
"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang ya om,tante gak enak juga sudah malam"
"Ya sudah kamu hati-hati ya,makasih sudah antar Faren"
"Iya om"
Keesokan hari tuan Faren bangun dan mendapati kepalanya yang begitu pusing,ia memijat kepalanya sambil bersandar di tempat tidur. Sementara itu nyonya Mega masuk sembari membawa secangkir jahe hangat untuk putranya
"Mami"
"Gimana keadaan kamu?"
"Kepalaku pusing mi"
"Kamu sekarang masih sering minum-minum seperti semalam?"
"Ini mami bawakan jahe hangat buat ngurangin pengar kamu"
"Makasih ya mi"
"Kamu sama papi kenapa sih? mami lihat sepertinya kalian berbeda pendapat masalah Anin"
"Aku gak tahu mi apa alasan papi buat membenci Anin,padahal mami tahu sendiri kan Anin orangnya gimana?"
"Mami sendiri juga heran,kenapa segitunya papi melarang kamu dekat dengan Anin,mami rasa dia cocok sama kamu terlebih lagi Khloe juga menyukainya"
"Aku gak tahu apa yang ada di pikiran papi,oh ya mi semalam aku pulang...."
"Diana,dia yang antar kamu pulang"
"Diana? tapi aku pergi gak sama dia"
"Sudah tidak usah terlalu di pikirkan,sebaiknya sekarang kamu bangun mandi terus ke kantor"
"Iya Mi"
Setelah selesai mandi,tuan Faren datang ke meja makan untuk sarapan. Ia melihat tuan Felix yang tersenyum menatap putranya
"Jadi semalam kamu pergi sama Diana"
__ADS_1
celetuk tuan Felix tiba-tiba
"Diana?"
"Iya,semalam dia yang antar kamu pulang. Kamu mabuk berat,dan untung saja ada dia,lama sekali papi tidak bertemu dengannya. Sekarang dia tambah cantik bahkan dia sudah matang untuk menjadi ibu sambung Khloe"
Faren terbatuk mendengar ucapan tuan Faren barusan,ia tidak menyangka ini alasan papinya tidak suka dengan kedekatannya bersama Anin.
"Mi,Faren ke kantor dulu ya"
"Loh,nasi goreng kamu belum habis"
"Kenyang mi,Khloe daddy ke kantor dulu ya"
"Yes daddy"
Faren pergi tanpa menghiraukan tuan Felix yang masih berbicara, lagi-lagi selera makannya hilang karena ucapan yang sama sekali tidak ingin tuan Faren dengar.
"Mau berangkat sekarang tuan?"
tanya sopir tuan Faren yaitu Taylor
"Ya,tapi kita mampir ke kost Anin dulu"
"Baik tuan"
Mobil pun melaju menuju tempat Anin berada, sesampai di sana kebetulan sekali Anin akan berangkat ke kantor. Kali ini Diego yang mengetahui bahwa tuan Faren menjemputnya berusaha mengajak Anin untuk berangkat bersama.
"Nin,mau berangkat bareng nggak?"
"Enggak,aku naik grab aja"
"Kamu marah sama aku?"
"Enggak,buat apa?"
"Nin plis aku benar-benar suka sama kamu,aku gak tahu lagi gimana caranya nahan ini semua"
ucap Diego sambil memegang tangan Anin
Tuan Faren yang melihat dari dalam mob merasa sedikit terganggu dengan hal tersebut,ia meminta Taylor putar balik dan segera pergi ke kantor.
"Kamu apa-apaan sih Die,bukannya udah berkali-kali aku nolak kamu. Kamu paham gak sih kalau aku tuh sama sekali gak ada perasaan sama kamu"
"Coba sekali aja kamu pahami perasaanku"
"Nggak,sekarang jangan pernah ganggu aku lagi"
Ucap Anin yang pergi meninggalkan Diego di depan pintu gerbang. Melihat tuan Faren telah pergi membuat hati Diego merasa menang karena bisa sedikit mengobati rasa sakit hatinya beberapa kali ini.
__ADS_1