CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 9


__ADS_3

Tepat pukul dua belas,Anin segera menyiapkan diri untuk ikut bersama tuan Faren menemui klien, tuan Faren yang berdiri di depan pintu ruangannya melihat Anin dengan seksama.


iya mengernyitkan keningnya sembari mengatakan


"ada yang perlu diubah".


"maaf tuan apakah kita jadi pergi?"


tanya Anin yang sudah berada di depan tuan Faren


"ya tentu tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan kepadamu terlebih dahulu"


"maksud tuan?"


Tak berpikir panjang tuan Faren langsung menarik tangan Anin menuju lift beberapa karyawan menatapnya dengan aneh namun mereka tidak berani mengatakan hal yang bodoh karena mereka tahu itu adalah atasannya.


Tuan Faren masih tetap menggenggam pergelangan tangan Anin,meski banyak pasang mata di lift tersebut ia tak menghiraukan sedikitpun. Hanya saja Anin merasa tak nyaman atas perilaku tuan Faren yang membuatnya menjadi bahan pembicaraan untuk orang-orang nantinya.


Setelah sampai di lobby,Diana yang sudah menunggu sedari tadi langsung menghampiri mereka


"Selamat siang tuan"


"Diana,kamu hubungi madam dan minta ia bersiap untuk menerima tamu"


"Baik tuan"


Anin hanya diam karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sesampainya di tempat parkir tuan Faren masuk ke dalam mobil tetapi baru saja Anin duduk tiba-tiba laki di sebelahnya yang tak lain adalah sopir pribadi tuan Faren bernama Mario menatapnya.


"Anin,kenapa kamu duduk disitu?"


tanya tuan Faren


"Bukankah saya diminta untuk ikut tuan?"


"Tempat kamu disini,di sebelah saya"


"Ta tapi tuan"


"Tidak ada tapi"


Anin akhirnya terpaksa keluar dari mobil dan berpindah tempat duduk menuju jok belakang,rasa canggung kembali menyelimutinya karena ini kedua kalinya ia duduk tepat di sebelah tuan Faren.


Selama perjalanan tuan Faren meminta Anin untuk mempelajari beberapa dokumen yang akan mereka bahas bersama klien nanti,meski ini pekerjaan pertama Anin namun ia merasa sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Namun tiba-tiba mobil berhenti di sebuah bangunan yang cukup terkenal di kota itu yang tak lain adalah salon kecantikan milik sahabat tuan Faren yang bernama madam Madona.


"Tuan,apakah kita akan bertemu klien disini?"


"Bisa jadi"


Anin buru-buru turun dan mengikuti tuan Faren yang masuk ke dalam salon kecantikan tersebut,tak berselang lama seorang wanita setengah tua menghampiri Faren dan memberikan ciuman akrab di pipi kanan dan kirinya lalu membisikan sesuatu ke telinga wanita itu. Anin hanya dapat menatapnya dengan biasa tanpa berkata sepatah kata pun.


"Anin,bisakah kamu ikut dengan saya?"


ucap Madam Madona yang sudah berada di depan Anin


"Saya? mau di bawa kemana?"


"Sudah ikut saja"


Mona kemudian mengikuti madam Madona atas perintah tuan Faren,ia di bawa ke dalam ruangan penuh make up dan juga baju. Ia di minta untuk duduk dan mengikuti semua instruksi yang madam Madona berikan,tak berselang lama Anin kemudian berubah menjadi seorang wanita karir yang profesional dengan tampilan yang modis.

__ADS_1


"Ini saya?"


tanya Anin terkejut


"Tentu saja itu kamu,pasti kamu tidak menyangka jika kamu secantik ini bukan?"


"Seumur hidup saya hanya menggunakan lipstik dan sedikit pelembab untuk pergi ke kantor"


"Pantas saja kulit kamu masih mulus sehat seperti kulit bayi,karena kamu saja jarang menggunakan riasan yang berat"


"Tapi untuk apa saya di jadikan seperti ini"


"Nanti kamu juga akan tahu"


Anin keluar dari ruang make up bersama madam Madona dan membuat para pengunjung gempar,apalagi ketika tuan Faren menengok ke arahnya.



Anin berubah menjadi seorang Dewi dengan karunia keberuntungan yang tiada batas,wajah Faren tidak dapat berpaling dari kecantikan yang ada di hadapannya itu. Anin merasa malu karena tuan Faren tiada hentinya menatap dirinya seperti itu


"Bagaimana?"


tanya madam Madona


"Perfek"


"Oke,jangan lupa"


"Oke madam,terima kasih kalau begitu aku permisi dulu"


ucap tuan Faren yang memberi kode pada Anin untuk mengikutinya keluar dari salon kecantikan itu.


"Tuan,saya rasa ini terlalu berlebihan jika hanya sekedar untuk menemui klien"


Anin hanya terdiam menutup mulutnya dari pada nanti justru akan membuat tuan Faren menjadi tersinggung,Mario melajukan mobil dengan cepat dan tanpa sadar mereka sudah sampai di tempat pertemuan yang telah di setujui.


Selama presentasi para kolega Faren menatap Anin dengan penuh goda,hal itu juga di sadari oleh tuan Faren sendiri. Meski begitu ia mencoba untuk tetap bersikap profesional,setelah Anin selesai menyampaikan seluruh materi akhirnya Faren segera mengakhiri pertemuan tersebut. Sambil mendengus kesal Faren melepas jasnya dan mengalungkan ke pinggang Anin untuk menutupi pahanya yang sedari tadi terbuka.


Anin terkejut mengetahui bosnya yang tiba-tiba begitu perhatian,sedari tadi memang Anin merasa tidak nyaman dengan pakaian itu. Tapi mau bagaimana lagi ia harus tetap profesional bekerja dan menerima seluruh perintah dari tuan Faren.


Sesampai di lobi tuan Faren lebih dulu masuk ke dalam mobil ia sama sekali tidak memperdulikan Anin yang ada di belakangnya,tanpa rasa canggung Anin pun masuk dan duduk di sebelah tuan Faren. Suasana begitu hening selama perjalanan,namun tiba-tiba tuan Faren menatap Anin dan menyudutkannya ke jendela


"Tu tuan,apa yang anda lakukan?"


uap Anin dengan terbata-bata


"Jangan pernah kamu sekali lagi mencoba untuk menarik perhatian laki-laki lain selain aku"


ucap tuan Faren dengan nada mengancam


Anin sedikit bergidik dan hanya mengangguk pelan mana kala tuan Faren masih menatapinya,jantung Anin berdetak begitu keras hingga rasanya ia ingin berlari keluar dari dalam mobil itu.


Sesampainya di kantor Anin langsung pergi ke ruangannya,sementara tuan Faren mengurus beberapa pekerjaan lainnya bersama Diana di cafetaria. Anin duduk di kursinya sambil terus memegang dadanya yang terus berdetak parah,peringatan tadi membuat Anin merasa harus berhati-hati selama berkerja dengan tuan Faren. Salah sedikit saja mungkin tuan Faren akan memakannya hidup-hidup.


Jam pulang pun akhirnya tiba,Anin bersiap-siap untuk kembali namun baru saja ia melangkah keluar dari ruangannya tiba-tiba tuan Faren sudah berada di hadapannya. Anin hanya tersenyum dan menyapa sebagai ucapan selamat tinggal,wajah tuan Faren masih terlihat jelas menatap Anin hingga masuk ke dalam lift.


Dalam hati Anin ia merasa seperti di awasi oleh mata elang milik Faren seharian ini,ia bahkan tidak bisa bernafas lega mana kala berada di dekatnya. Sesampai di lobby ternyata hujan turun,Anin tidak membawa payung sama sekali dan terpaksa harus menunggu di sana sampai grab car nya tiba.


"Kamu nunggu apa?"

__ADS_1


celetuk tuan Faren yang sudah berada tepat di belakang Anin


"E em ini saya nunggu grab car tuan"


"Sudah cancel saja,kamu pulang bareng saya"


"Tidak perlu tuan,grab nya sudah dekat kok"


"Jadi kamu menolak perintah saya?"


Tiba-tiba grab yang di pesan oleh Anin sudah tiba tepat di depan mereka


"Maaf tuan bukannya saya menolak,hanya saja grab saya sudah tiba. Kalau begitu saya duluan tuan"


ucap Anin yang tersenyum pada Faren dan masuk ke dalam mobil


Tatapan itu masih mengikuti Anin hingga ia hilang di pintu keluar kantor milik Faren tersebut,Anin menghela nafas lagi karena ia berhasil kabur dari si mata elang menyeramkan itu.


Sesampai di depan kost,Anin segera turun. Meski hujan terbilang cukup lebat namun warung kopi milik pak Khoir tidak pernah sepi pelanggan.


"Baru pulang neng?"


sapa pak Khoir dari balik tenda


"Iya pak"


"Kalau sampai kamar langsung mandi saja,hujan nanti kedinginan"


"Iya pak,kalau begitu saya permisi dulu"


Sesampainya di kamar tiba-tiba Anin mendapatkan panggilan dari tuan Faren,tanpa menunggu lama ia langsung menjawabnya


"Halo tuan,ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu turun sekarang"


"Maksud tuan?"


"Kamu turun atau saya yang naik?"


"Saya sama sekali tidak paham apa yang tuan bicarakan"


"Saya sekarang ada di depan kost kamu,ada yang ingin saya berikan sekarang"


Anin begitu terkejut dan langsung berlari keluar,ia melihat dari balkon dan ternyata memang benar. Tuan Faren ada di depan kostnya berbincang dengan pak Khoir,tanpa berfikir panjang Anin langsung turun menemui bosnya yang gila itu sampai-sampai ia tidak menyadari kalau handuk yang ia balutan di pinggang masih menempel.


"Tuan Faren,kenapa anda bisa ada disini?"


Tuan Faren tak menjawabnya dan hanya memberikan tas berisikan beberapa file dokumen


"Ini apa tuan?"


"Kamu selesaikan malam ini juga,saya mau besok pagi semua dokumen itu sudah ada di meja saya sebelum saya datang"


Anin melotot tak percaya,bagaimana bisa di jam kerjanya yang sudah berakhir tiba-tiba saja atasannya menghampiri dan membawakan setumpuk pekerjaan baru.


"Bagaimana tuan bisa tahu kalau saya tinggal disini?"


"Itu hal yang mudah"

__ADS_1


ucap Faren sembari masuk kedalam mobilnya dan pergi


Anin mendengus kesal karena baru saja pulang namun bosnya sudah datang dan memberinya setumpuk pekerjaan.


__ADS_2