
Tuan Faren melemparkan Anin ke tempat tidur dan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu,Anin yang ketakutan mencoba untuk menghindarinya dan melarikan diri. Namun tuan Faren justru menarik kemeja Anin dan membuatnya sobek,meski begitu ia tidak mempedulikannya dan langsung menindih Anin di atas tempat tidur
"Sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya?"
ucap Anin sambil ketakutan
"Saya hanya ingin kamu selalu berada di samping saya"
"Itu tidak mungkin"
"Kenapa?"
"Sampai kapanpun rasa kecewa saya tidak bisa lagi membuat percaya akan semua ucapan anda"
"Apa saya harus melakukan ini supaya kamu percaya?"
"Jangan,saya mohon jangan"
Tuan Faren tak menghiraukan ucapan Anin lagi,ia menciumi leher Anin sampai membuatnya menangis. Satu persatu kancing kemeja Anin ia bukan sampai dua gundukan besar itu terlihat,tuan Faren menatap wajah Anin yang terlihat begitu ketakutan sembari memejamkan matanya. Hal itu membuat tuan Faren mengurungkan niatnya dan berdiri membelakangi Anin.
"Saya sudah berjanji untuk tidak melakukannya sampai ada kata sah,sebaiknya kamu tetap di sini sampai hal itu terjadi"
ucap tuan Faren yang pergi menuju arah pintu
Anin berlari mengejarnya sembari menutupi tubuhnya yang compang camping itu
"Saya mohon biarkan saya pergi"
ucapnya
"Tidak,kamu harus tetap di sini sampai waktunya nanti kamu keluar"
Tuan Faren keluar dan kembali mengunci pintu kamar itu,meski Anin menggedor-gedor dan meminta agar di bebaskan tetapi tuan Faren tidak mempedulikannya.
Ia turun menemui Marcel dan memintanya agar mengatur jadwal makan dan kebutuhan Anin selama disana.
Hari-hari berlalu seperti itu,pelayan hanya bolak balik mengantarkan makanan dan baju untuk Anin. Pagi itu kebetulan salah satu pelayan yang setengah baya yang mengantarkannya,ia seusia bibi Anin namun masih begitu bertenaga. Ia menata beberapa baju untuk Anin di almari sembari membersihkan kamar tersebut
"Ibu bekerja juga disini"
"Iya non,saya pembantu disini"
"Ibu bisa bantu saya keluar dari sini"
__ADS_1
"Maaf non,saya tidak berani menentang tuan Faren"
"Saya mohon bu,saya punya keluarga dan mereka tidak tahu saya sekarang ada dimana"
"Non tenang saja,pasti tuan Faren sudah memberi tahu keluarga non soal ini"
ucap pelayan itu yang kemudian pergi keluar
Anin benar-benar tidak tahu lagi bagaimana ia harus keluar dari sana,apalagi sekarang ia berada di lantai dua dan tidak mungkin ia memecahkan kaca dan melompat dari sana.
Ia hanya bisa duduk sembari menonton televisi,tidak ada lagi yang dapat ia lakukan. Meski ada telfon rumah namun sambungan kabelnya juga sudah di putus,ia hanya dapat menangis sampai akhirnya terlelap di atas kursi.
Ketika ia terbangun ternyata hari sudah malam,pelayan yang muda mengambil menu makan siang dan menggantikannya dengan makan malam. Tak banyak bicara,ia lebih pendiam dalam melakukan tugasnya ketika hendak keluar Anin memanggilnya
"Tunggu"
"Ada yang bisa saya bantu nona?"
"Apa tuan Faren ada di sini?"
"Tuan Faren belum datang nona,mungkin sedang dalam perjalanan"
"Kalau begitu terima kasih"
Tepat pukul 23.00 tuan Faren masuk ke dalam kamar,ia mandi dan setelah itu menyusul Anin. Ia tidur di samping Anin tanpa mengenakan kaos sehingga membuat dada bidangnya terlihat begitu menggoda meski dalam kegelapan.
Keesokan harinya Anin terbangun dan mendapati tuan Faren yang tertidur pulas tepat di sampingnya,apalagi setelah mengetahui kalau tuan Faren tidak mengenakan kaos ia segera melihat ke dalam selimut dan mendapati bajunya yang masih berada di tempatnya. Anin menghela nafas dan turun,ia mencoba mengecek kamar mandi dan berharap menemukan kunci di saku baju milik tuan Faren,namun usahanya sia-sia. Tak berhenti di situ,Anin juga mencoba menghubungi polisi dari ponsel tuan Faren tetapi itu juga di kunci. Saat Anin mencoba menempelkan ibu jari tuan Faren untuk membuka dengan sidik jari justru ia di tertawakan,ia terkejut melihat tuan Faren yang sudah bangun
"Kamu mau mencoba membuka ponsel dengan sidik jariku? tidak akan bisa,aku hanya menggunakan sandi untuk mengamankannya"
Anin mendengus kesal,laki-laki di hadapannya begitu terlihat mengesalkan namun sekaligus membuat Anin terepesona karena sinar matahari menyusup masuk ke dalam kamar dan menyorot wajah tuan Faren sehingga menambah kesan maskulinnya.
Tuan Faren beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi
"Anda mau kemana?"
ucap Anin
"Mau mandi? kamu mau ikut"
"Hihh apaan sih"
ucap Anin yang langsung membuang muka
__ADS_1
Tuan Faren tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar mandi,setelah itu ia meminta agar pelayan mengantarkan sarapannya ke dalam kamar.
"Anda tidak ke kantor?"
"Ini hari sabtu Nin"
"Hah???? terkurung di sini membuat saya lupa waktu"
"Kemarin saya sudah membicarakan ulang soal rencana pernikahan kita dengan orang tua saya,mereka setuju dan meminta agar segera di laksanakan"
"Enggak enggak,sampai kapanpun saya tidak akana setuju"
"Terserah kamu,saya juga sudah menghubungi keluarga kamu dan sebaiknya jika tidak ada acara pertunangan dan langsung ke acara inti yaitu ijab kabul"
"Enggak bisa begitu dong,saya ini anak perempuan dan semua harus sesuai prosedur"
"Kamu tenang saja,meski tidak ada acara pertunangan saya tetap akan memberikan kamu mas kawin yang tak ternilai"
"Saya tidak berminat,saya hanya akan menikah jika hati saya menghendakinya saja"
"Saya tidak perlu pendapat atau persetujuan apapun dari kamu,bibi dan kakak kamu sudah setuju dan mereka menyerahkan semuanya ke saya"
"Mereka tidak tahu kalau anda telah menculik dan menyekap saya disini?"
"Tidak,mereka hanya tahu kalau kamu kembali ke Jakarta dan kemudian bertemu dengan saya lagi lalu memutuskan untuk meneruskan acara pernikahan yang sempat tertunda"
"Anda gila?"
"Memang,saya akui saya gila dan ini semua karena kamu"
"Meski begitu Putri akan memberitahu bulek karena sudah beberapa hari saya tidak pulang"
"Putri juga sudah saya beri tahu kalau kamu memutuskan untuk kembali kepada saya"
"Aapaaaaa???? enggak ini enggak mungkin"
"Kenapa Nin? kamu pikir saya bercanda?"
"Pokoknya saya tidak akan setuju menikah dengan anda"
"Terserah"
Anin pergi menuju tempat tidur yang di pisahkan oleh sekat dari ruang tv,ia merasa kesal karena tuan Faren bisa berbuat sesuka hatinya tanpa memberinya pilihan ataupun bertanya terlebih dahulu.
__ADS_1