
Marwan mematikan telfonnya sementara Putri kebingungan kenapa bosnya bisa begitu luluh pada tuan Faren,tak selang berapa lama Adit menelfon Putri
"Mas Adit tuan"
"Kamu loudspicker"
"Halo Put kamu sudah bertemu tuan Faren?"
"Sudah mas,sekarang aku sedang bersamanya menuju lokasi"
"Kamu tidak cek lokasinya? GPS Anin berhenti"
"Apa????"
"Aku sekarang berada di titik terakhir GPS Anin terlihat dan disini aku menemukan ponsel Anin yang sudah hancur"
"Kamu bisa gambarkan bagaimana situasi di lokasi itu?"
tanya tuan Faren
"Di sini hanya ada jalan perbatasan menuju Bandung tuan, dan tidak ada bangunan apapun disini hanya pepohonan lebat di sisi kanan kiri jalan"
"Okay,saya rasa itu adalah jalan utama. Kamu bisa tahu mengarah ke mana jalan itu?"
"Kalau saya lihat-lihat memang ini jalan utama menuju ke Bandung tuan karena tidak ada jalan lain disini"
"Kamu coba ikuti jalan tersebut dan temukan sebuah bangunan yang belum seratus persen jadi,kemungkinan bangunan itu ada di sebelah kanan setahu saya. Lokasinya sedikit masuk ke kiri jalan setelah jalur utama itu"
"Baik tuan saya akan mencoba mencarinya,saya akan share live location juga"
"Okay"
Tuan Faren segera menghubungi Diana,ia sekarang mempunyai rencana baru untuk menemukan Anin.
"Halo Na kamu sudah sampai taman cendana?"
"Sudah tuan,tetapi sampai sekarang target belum terlihat menghampiri Tasya"
"Kamu berikan ponselmu ke Diego"
"Baik tuan"
"Halo Ren,bagaimana?"
"Share live location Anin hilang,sepertinya penculik tahu dan membuang ponsel Anin."
"Jadi sekarang bagaimana?"
"Aku dan anak buah Uno sedang dalam perjalanan ke bangunan milik PT.Adipati,aku yakin mereka membawa Anin kesana"
"Okay,setelah target terlihat aku akan segera melaporkannya padamu"
"Okay"
Tuan Faren kembali fokus pada jalan tak berselang lama ia sampai di lokasi bangunan terlantar milik PT.Adipati dan menemui Adit serta rekan kerjanya disana.
"Mas kamu ketemu sama mereka?"
"Tidak,ini ponsel Aninkan?"
__ADS_1
ucap Adit sembari memberikan serpihan ponsel Anin
"Iya benar,aku tahu sekali ini miliknya"
Tuan Faren meminta Uno dan anak buahnya menyusuri bangunan itu,beberapa saat kemudian Uno kembali dan melaporkan siatuasi pada tuan Faren.
"Bagaimana"
"benar sekali bos,di dalam tepatnya di lantai dua belas ada suara orang-orang dan setelah saya cek ada sekitar lima orang sedang bermain kartu"
"Kamu tidak melihat seorang wanita?"
"Tidak bos"
"Sial,dimana laki-laki itu menyembunyikan Anin"
"Berani beraninya Arya menculik Anin"
ucap Putri yang begitu marah
"Jadi yang menculik Anin sepupu kamu?"
ucap Adit yang terkejut
"Iya,dia menculik Anin dan meminta Tasya permpuan yang waktu di pos scurity memberikan semua bukti-bukti kejahatannya"
"Katamu dia di penjara"
"Memang benar dia di penajara,tetapi kuasa hukumnya berhasil membebaskannya sementara waktu karena kita tidak punya saksi yang kuat"
"Astaga benar-benar ya ku kira dia orang baik-baik"
ucap Adit kesal
"Baik tuan"
Putri berusaha menghubungi nya namun nihil,hingga pangilan ke tujuh akhirnya di jawab
"Halo Arya"
"Wah sudah berani memanggil ku dengan nama ya?"
"Aku tidak perlu memanggilmu dengan sebutan Mas karena kamu tidak pantas"
"Oh begitu,jadi apa yang membuat kamu menelfonku Put?"
"Cepat katakan dimana kamu sembunyikan Anin?"
"Woo kenapa kamu tiba-tiba tanya Anin ke aku?bukankah kamu juga tahu kalau dia sudah mencampakkan ku? dia juga sudah membuatku patah hati karena membatalkan pertunangan kami secara sepihak"
"Cukup ya,jangan basa basi dan katakan dimana Anin"
"Aku benar-benar tidak tahu dimana dia"
"Aku akan memberitahukan semua ini ke orang tua kamu terutama papa kamu"
"Katakan saja,dia justru membantuku selama ini"
"Okay kalau begitu ke mama kamu"
__ADS_1
"Dia tidak akan peduli,tetapi jika kamu berani mengatakannya pada dia maka aku sangat berterima kasih karena kamu sudah membuatnya malu di depan keluarga barunya"
"Dasar brengsek kamu Aryo"
ucap Putri yang langsung menutup ponselnya
"Bagaimana ini tuan,Aryo masih tidak mau mengakui bahwa dia menculik Putri"
Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya,dan ternyata Aryo yang mengirim sebuah foto tentang dirinya yang tidur di samping Anin.
"Astaga Anin,ternyata benar jika Aryo yang menculiknya"
Tuan Faren langsung menyahut ponsel Putri dan melihat foto itu,ia merasa geram dan langsung menghubunginya kembali
"Kenapa Put? kamu pasti shock kan melihat sahabat kamu sedang bersamaku"
"Katakan dimana Anin sekarang"
teriak tuan Faren
"Wohhhh ternyata si tuan kaya yang telah membuat Anin kecewa"
"Katakan apa mau mu sekarang dan biarkan Anin pergi"
"Aku tidak ingin apapun karena aku bisa mendapatkan apa yang aku mau termasuk perempuan yang sekarang tidur seranjang denganku"
"Jangan berani-beraninya kamu menyentuh Anin atau akan ku pastikan kamu dan keluarga kamu itu akan pergi ke neraka"
"Huh menakutkan sekali,tapi sebelum kamu membawa ku ke neraka aku sudah pastikan Anin merasakan apa itu neraka"
"Sialan,sekali lagi kamu berani menyentuhnya aku tidak akan tinggal diam"
Aryo mematikan telfonnya dan hal itu membuat tuan Faren semakin marah,ia menyesal karena terlambat menolong Anin. Sekarang mereka hanya dalam titik buntu dan satu-satunya jalan adalah menunggu kabar dari Diego,sementara itu orang-orang yang ada di dalam gedung tersebut keluar dan membuat keributan pada tuan Faren dan yang lainnya.
"Hay mau apa kalian disini?"
teriak salah satu laki-laki dengan tubuh lumayan besar
"Kami ke sini untuk mencari teman kami"
"Salah tempat,ini daerah kekuasaan kami dan kami tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan milik kami"
"Apa kamu yakin tidak melihat perempuan ini?"
ucap Putri yang memperlihatkan foto Anin
Salah satu dari mereka mendekati orang yang berbadan besar itu yang mungkin adalah bosnya,ia seperti membisikkan sesuatu
"Bos,bukankah itu perempuan yang tadi kita culik?"
"Kami tidak pernah melihat perempuan di foto itu"
"Apa kamu yakin?"
Tiba-tiba Uno keluar dan membawa koper milik Anin
"Tuan saya menemukan koper ini di atas sana"
"Itu kan koper Anin"
__ADS_1
ucap Putri
Tuan Faren memberikan kode kepada Uno dan anak buahnya,mereka langsung berkelahi melawan lima orang asing itu. Mereka kalah jumlah dan kabur sementara tuan Faren dan yang lainnya berusaha mengejarnya.