
Satu bulan sudah Anin koma,kini dokter hanya bisa pasrah. Ia meminta keluarga Anin untuk bersiap mana kala jika sewaktu-waktu takdir berkata lain,mendengar hal tersebut membuat bibi Anin yang baru saja datang terduduk lemas.
"Dok,tolong lakukan apa saja untuk menyelamatkan nya.Berapa pun akan saya bayar asalkan dia sembuh"
ucap tuan Faren
"Maaf tuan,tapi kita semua hanya bisa menunggu takdir. Apakah sebuah keajaiban yang akan datang atau justru sebaliknya"
Tuan Faren masuk ke dalam ruangan ICU dan mencoba untuk menyapa Anin ke sekian kalinya,ia menggenggam erat tangan Anin dan menciumi nya.
"Seumur hidup saya baru kali ini saya merasa takut kehilangan sesuatu Nin,dan itu adalah kamu. Aku tidak pernah merasa sesakit ini melihat orang yang aku sayangi terbaring lemah tak berdaya,aku tidak tahu lagi bagaimana ke depannya jika aku harus tanpa kamu. Dunia ku sekarang benar-benar runtuh melihat kondisi kamu yang seperti ini,tetapi jika memang takdir kamu untuk tidak bersama ku maka aku akan mencoba untuk ikhlas. Aku yakin jika memang tidak di dunia ini sang pencipta mengijinkan kita bersama,aku harap di kehidupan selanjutnya kamu adalah tulang rusukku"
ucap tuan Faren sambil menitikkan air mata
Baru kali ini Diana dan Diego melihat tuan Faren menangis,berbeda dengan saat ia menghadiri sidang perceraiannya dengan mantan istrinya dulu. Apakah ini yang di sebut dengan cinta mati,sehingga ia rela melakukan apapun untuk orang yang ia cintai.
Tak tersadar air mata Anin mengalir,tuan Faren yang menyaksikannya berteriak memanggil dokter. Namun baru lima menit tuan Faren meninggalkan ruangan ICU alat pendeteksi detak jantung berbunyi panjang. Dokter mencoba melakukan kejutan pada jantungnya agar merespon kembali,namun kali ini memang takdir benar-benar tidak berpihak kepada cinta mereka. Dokter keluar dengan raut wajah sedih,hal tersebut sudah dapat menggambarkan jika Anin tidak dapat di selamatkan.
Tuan Faren berlari masuk dan terus berteriak memanggil nama perempuan itu,semuanya hanya dapat menangis dan Diego berusaha menenangkannya. Tuan Faren memukul dada Anin yang sudah tidak berdaya itu berkali-kali,namun hasilnya nihil. Diego membawa tuan Faren keluar namun baru mau melangkah keluar pintu tiba-tiba terdengar suara Anin memanggil tuan Faren.
"Tuan"
suara Anin lirih
Diego dan tuan Faren tidak percaya akan hal tersebut,mereka mendekati Anin dan benar perempuan yang satu menit lalu di nyatakan sudah meninggal tiba-tiba membuka matanya.Para dokter berlari menuju ruangan Anin dan segera memeriksanya,sementara tuan Faren tetap di samping Anin mengenggam tangannya.
"Ini benar-benar sebuah keajaiban,bahkan setelah ia berhasil bangun dari koma tidak ada tanda-tanda jika pasien mengalami kondisi sakit."
"Maksud dokter?"
"Kondisi pasien sudah sepenuhnya pulih,bahkan setelah koma cukup lama ia tiba-tiba bangun dengan keadaan sehat"
Semua yang ada di sana bersyukur atas campur tangan sang pencipta dalam kisah cinta mereka,namun tidak dengan Andrew yang masih meragu akan keseriusan tuan Faren kepada adiknya itu.
"Tuan Faren.....?"
lirih Anin dengan suaranya yang belum sepenuhnya pulih
"Nin,syukurlah kamu sudah sadar. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kamu tidak segera bangun"
"Saya dimana?"
__ADS_1
"Kamu di rumah sakit Nin,sudah satu bulan ini kamu koma"
"Bulek..."
ucap Anin yang melihat bibinya masuk
"Ya Allah nduk,bulek tidak tahu harus bagaimana jika kamu tidak selamat. Bulek lalai dalam menjaga kamu,bulek tidak bisa memenuhi janji bulek kepada ibumu"
ucap bibi sambil berurai air mata
"Aku baik-baik saja bulek"
"Iya ndok,bulek senang kalau kamu sudah sembuh"
Andrew menatap Anin dengan mata berkaca-kaca
"Mas Andrew...."
"Hay..."
"Mas pulang?"
"Iya,mas pulang untuk kamu"
Setelah sampai di ruang perawatan Andrew meminta agar beberapa yang lainnya bergantian untuk menjenguk Anin,karena adiknya itu sedang dalam masa pemulihan ia tidak ingin karena terlalu banyak pengunjung membuat waktu istirahat Anin berkurang. Putri,Adit,Diana,dan Diego memutuskan untuk pulang sedangkan tuan Faren bersikeras menunggu Anin dan setia di sampingnya.
"Anda tidak pulang?"
tanya Andrew dengan nada sinis
"Saya akan tetap disini menemani Anin"
jawab tuan Faren
"Sudah ada ibu dan saya yang akan menjaganya,sebaiknya anda pulang saja"
"Saya akan tetap disini"
"Anda tahu kan kalau adik saya harus banyak istirahat?"
"Mas Andrew sudah,biarkan tuan Faren disini sebentar"
__ADS_1
"Nin kamu harus istirahat supaya cepat pulih"
"Andrew,kamu juga harus istirahat. Kita sebaiknya keluar dulu cari maan,sedari pagi kan ibu belum makan"
sahut bibi Anin
"Tapi bu siapa yang akan menjaga Anin?"
"Kan ada nak Faren"
"Tetap saja Andrew khawatir kalau Anin kenapa-napa"
"Sudah ayo,Anin aman dengan nak Faren"
Akhirnya Andrew mengikuti kata-kata ibunya dan pergi meninggalkan Anin dan tuan Faren sendirian.
"Bagaimana? apa masih ada yang sakit?"
"Tidak tuan,hanya saja saya merasa sedikit pusing"
"Apa perlu saya panggilkan dokter?"
"Tidak usah tuan"
"Oh ya, papi sama mami senang mendengar kamu sudah siuman apalagi Khael"
"Khael,aku rindu dengannya"
"Dia juga sama rindunya dengan kamu"
"Nin,kamu tahu kan aku begitu cinta sama kamu. Aku tidak mau untuk kedua kalinya kehilangan kamu Nin,aku janji aku akan selalu menjaga kamu"
"Tuan,saya rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu"
"Kenapa Nin? kenapa kamu selalu berusaha menghindar dari percakapan ini?"
"Bukannya aku menghindar tuan,hanya saja saya masih belum bisa mempercayai laki-laki lain setelah apa yang saya alami kemariin"
"Percayalah Nin,saya berbeda dari dia"
"Tolong tuan,berikan saya waktu untuk melupakan semua kejadian kemarin terlebih dahulu"
__ADS_1
"Okay,saya akan menunggu sampai kamu mau menjawab perasaan saya Nin"
Seketika suasana menjadi canggung terlebih lagi sekarang hanya ada mereka berdua di dalam kamar tersebut.