
Setelah tuan Faren kembali bersama Diana dan Diego,Anin juga kembali bersama dengan Arya. Anin meminta izin kepada kedua orang tua putri untuk pamit dan meminta maaf atas kejadian tadi yang sempat membuat acara berantakan,kedua orang tua putri sudah memaklumi hal tersebut dan sama sekali tidak mengalahkannya. Malam ini Anin sendiri telah memutuskan untuk menginap di hotel karena rasa bersalahnya,meski keluarga Putri sudah melarangnya berulang kali namun ia tetap kekeh ingin menginap ke hotel.
Akhirnya mereka mengizinkannya,karena malam sudah begitu larut Arya di minta oleh orang tua Putri untuk mengantarkannya.
Selama perjalanan ke hotel Anin memilih diam,Arya mencoba mencairkan suasana dengan menawarkan diri mengajak Anin untuk makan sebentar
"Nin,sedari tadi aku lihat kamu belum makan malam. Gimana kalau kita mampir makan dulu?"
"Nggak usah mas,lagipula ini sudah terlalu malam gak enak juga kalau di lihat orang"
"Ya sudah kalau begitu kita take away saja ya?"
"Nggak usah mas,saya sudah kenyang sekali"
"Baiklah kalau begitu"
Mereka berhenti di depan lobby sebuah hotel,Anin dan Arya masuk menuju resepsionis.
"Mas,sudah sebaiknya kamu pulang. Aku bisa kok sendiri"
"Gak apa-apa aku akan temani kamu dan memastikan kalau kamu bisa dapat kamar,soalnya kamu check-in di jam segini"
"Baiklah"
Setelah berunding akhirnya Anin setuju,ia segera menemui resepsionis dan memesan kamar untuk dirinya.
"Selamat malam tuan dan nona"
ucapan resepsionis itu
"Selamat malam,mbak saya mau pesan satu kamar yang standar saja"
"Untuk berdua?"
"Oh tidak hanya saya"
"Atas nama siapa?"
"Anindita Maheswari"
"Bisa saya pinjam kartu identitasnya untuk data?"
Anin memberikan kartu identitasnya dan beberapa saat kemudian resepsionis memberikan nya kembali dengan sebuah kunci.
"Ini kunci kamar anda nona,untuk pembayarannya mau khas atau debit?"
Dengan sigap Arya memberikan kartu ATM nya kepada resepsionis
"Ini mbak pakai punya saya saja"
"Baik tuan silahkan tunggu sebentar"
"Loh kok pakai kartu mad Arya?"
"Udah gak apa-apa"
"Biar saya ganti mas"
"Udah Nin gak apa-apa"
__ADS_1
"Tapi kan?"
"Udah deh,sebaiknya habis ini kamu langsung ke kamar dan beristirahat. Pasti kamu capek kan seharian juga sibuk bantuin ini itu"
"Terima kasih mas"
"Sama-sama"
Setelah selesai melakukan transaksi Anin segera pergi menuju kamarnya,sedangkan Arya sendiri kembali ke rumah Putri.
Keesokan paginya Anin memutuskan setelah check out ia akan berpamitan kepada Putri dan keluarganya kemudian kembali ke kampung,ia merasa tak enak hati dan terus teringat kejadian kemarin jika berada di sini.
Kedatangannya mendapatkan respon cukup baik dari keluarga Putri,bahkan Putri sendiri masih ingin jika Anin berada disini untuk sementara waktu.
"Kamu yakin nggak mau tinggal disini lebih lama lagi?"
Tanya Putri
"Enggak Put,lagi pula aku ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di tinggal"
"Padahal aku masih kangen sama kamu loh Nin"
"Kamu ini sudah jadi istri orang masih aja kangen sama orang lain"
"kan ke kamu,bukan ke cowok lain"
"Iya iya,tapi maaf Put. Gara-gara aku kemarin acara kamu jadi berantakan"
"Jujur ya Nin,sebelumnya pak Faren sendiri sudah bekerja sama dengan ku untuk melakukan hal semalam,bahkan keluargaku mengizinkannya"
"Kok kamu nggak bilang sama aku sih Put? Kamu tega ya,kamu saja mengkhianati aku loh"
"Come on Put,tidak ada rahasia antara aku dan kamu. Aku ngomong ke tuan Faren kalau aku sudah punya kekasih itu supaya dia berhenti untuk berharap lebih padaku,aku tidak mungkin bisa bersama dengan dia karena kami berbeda"
"Jadi? kamu bohongin pak Faren?"
'Iya,aku terpaksa melakukannya setelah apa yang papanya minta kepadaku buat jauhi putranya"
"Tapi kamu cinta kan sama pak Faren"
"Enggak Put,aku sama sekali tidak punya perasaan apapun ke tuan Faren"
"Ya sudah jika memang itu keputusan kamu apa boleh buat,hati juga tidak bisa di paksakan"
"Iya Put,kalau begitu aku pulang dulu ya. Kamu bahagia selalu dan semoga segera di beri momongan"
"Makasih ya Nin,aku pasti bakal kangen banget sama kamu"
"Aku juga,bye Putri"
"Bye Anin,oh ya mas Arya tolong hantarkan Putri ke stasiun ya"
"Em tidak usah Put,lagi pula aku terlalu banyak merepotkan sepupu kamu"
"Sudah gak apa-apa,lagi pula dia senang kok bisa nganterin kamu"
"Yasudah Anin kita mau berangkat sekarang?"
tanya Arya
__ADS_1
"Em iya mas"
Setelah berpamitan kepada keluarga Putri Anin pun segera menuju stasiun bersama Arya,dalam perjalanan dia mengobrol tentang banyak hal.
"Kamu tidak pengen merantau lagi Nin?"
"Maksud mas Arya"
"Ya bekerja luar kota begitu?"
"Sementara tidak dulu mas,aku ingin fokus ke usaha bibi ku di kampung"
"Sebenarnya aku ada kerjaan sih,dan kebetulan aku masih nyari-nyari orang yang tepat buat mengisi posisi itu"
"Kalau boleh tahu sebagai apa mas?"
"Kepala gudang sih,tadinya sepupu ku juga yang pegang tapi setelah dia menikah dia berhenti karena ikut suaminya ke Padang"
"Kalau tempat mas Arya terlalu jauh sebenarnya,saya takut saja belum pernah ke sana namun tiba-tiba harus beradaptasi lagi"
"Kamu tenang aja,aku akan buka cabang baru untuk pengelolaan barang jadinya di Jakarta. Putri kan pernah cerita sama aku kalau kamu sudah begitu familiar dengan kotanya"
"Memang sih mas sebelumnya saya pernah merantau di sana hampir lima tahun,jadi untuk Jakarta sendiri aku kurang lebihnya sudah paham"
"Iya,kantor dan gudangnya sendiri ada di dekat perusahaan tempat Putri bekerja jadi kalian masih bisa bertemu"
"Nanti aku pikir-pikir dulu mas,lagi pula kasihan bibi kalau tiba-tiba aku tinggal lagi"
"Kamu tenang aja,gudangnya masih dalam tahap finishing juga ko"
"Oh iya"
Tak terasa mereka sudah sampai di stasiun,Arya membantu Anin menurunkan barang bawaannya dan mengantarkan hingga ke tempat menunggu.
"Makasih ya mas"
"Sama-sama"
"Mas Arya gak pulang?"
"Aku nunggu kamu sampai keretanya tiba"
"Aduh tidak usah mas,lagi pula sebentar lagi datang kok"
"Sudah tidak apa-apa,oh ya Nin aku boleh tidak minta nomer kamu"
"Em iya mas boleh"
Arya menyodorkan ponselnya dan kemudian Anin mengetikkan nomernya,setelah itu Arya mencoba me miscall nomer tersebut
"Masuk mas"
"Save ya"
"Iya"
Kereta pun datang dan berhenti tepat di depan mereka,Anin masuk bersama kopernya dan duduk di samping jendela. Tatapan Arya kali ini berbeda dari sebelumnya,ia menatap Anin penuh dengan perasaan hingga membuat perempuan itu merasa salah tingkah. Suara mesin pun berbunyi tanda kereta yang Anin tumpangi akan segera berangkat,Arya yang masih setia menunggu melambaikan tangannya kepada Anin. Perempuan itu tersenyum dan membalas lambaian tangan Arya yang sudah agak jauh,pertemuan mereka berdua harus berakhir sampai di sini rasanya sungguh seperti perpisahan dua pasangan yang akan menjalani hubungan LDR.
......- Adit -......
__ADS_1