
Sesampainya di Jakarta Tuan Faren dan Anin langsung menuju rumah,kedatangan mereka di sambut dengan senang oleh nyonya Mega dan tuan Felix. Meski awalnya tuan Felix agak tidak enak hati karena pernah memperlakukan Anin secara tidak baik,namun sekarang semuanya sudah kembali seperti semula tidak ada lagi hal yang perlu di sembunyikan dari masing-masing.
"Anin akhirnya saya bisa bertemu dengan kamu kembali"
ucap tuan Felix
"Lama tidak bertemu tuan"
sapa Anin penuh hormat
"hustt panggil papi,sebentar lagi kan kamu mau menikah dengan Faren tidak baik panggil saya begitu"
"Baik tuan,maksud saya papi"
"Oh ya Anin,mami senang sekali akhirnya kalian segera menikah. Mami sudah siapkan beberapa pilihan vendor,make up,dan decoration untuk acara kamu dan Faren nanti"
"Terima kasih mami"
"Nah gitu dong,jadi enak di dengar. Sudah lama tidak ada yang memanggil saya mami selain Faren"
Anin tersenyum
"Oh ya dimana Khael Mi?"
"Dia masih sekolah,mungkin sebentar lagi pulang"
"Oh iya mi"
"Kalau begitu Faren,kamu ajak Anin ke kamar biarkan dia istirahat"
"Iya Mi"
"Tapi kamar Anin ada di kamar tamu kedua ya bukan di kamar kamu,kalian juga belum sah jadi suami istri jadi harus di tahan dulu ya"
ucap nyonya Mega sambil tersenyum
Tuan Faren mengedip kepada Anin seraya menggoda,ia membawa Anin ke kamar tamu dan membantunya membereskan barang-barangnya.
Setelah selesai tuan Faren merebahkan diri di atas tempat tidur,melihat Anin yang melintas ia langsung menarik tangannya hingga membuat Anin terjatuh di atas tubuh kekar itu.
"Tuan,nanti kalau mami lihat gimana?"
"Enggak,aman kok"
"Kamu ini,lepaskan"
"Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba"
"Hari apa?"
"Kita menikah"
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin segera berbagi tempat tidur denganmu"
__ADS_1
"Hmmm,dasar mesum"
"Gitu-gitu kamu juga ketagihan"
"Ihh apaan sih,udah sana sekarang sebaiknya anda keluar"
"Yakin kamu gak mau?"
"Kan mami udah katakan kalau belum sah kita tidak boleh melakukannya"
"Lagi pula kenapa harus nunggu sah,kemarin saja kita sudah mencobanya buka "
ucap Tuan Faren dengan nada menggoda
"Ihhh dasar ya'"
teriak Anin sembari melemparkan bantal ke arah tuan Faren yang berjalan keluar dari kamar itu.
Anin tersenyum menatap jendela,ia merasa kali ini ia benar-benar akan menjadi istri orang. Tinggal tiga hari lagi sebelum statusnya berubah,tetapi dia masih belum memberitahu hal ini kepada teman-temannya ataupun kerabatnya. Ia juga lupa kalau tuan Faren belum mengembalikan ponselnya sedari ia di sekap di vila kemarin.
Ia berjalan keluar menuju kamar tuan Faren,sesampainya disana ia tidak menemui sang pemilik kamar bertema gelap itu. Anin mencoba mengecek di laci yang ada di kamar namun sama sekali tidak mendapatkan hasil,Anin mendengus kesal namun tuan Faren yang baru selesai mandi menyaksikan semua itu. Ia segera berjalan menghampiri Anin dan memeluknya dari belakang,badannya yang masih basah dengan air membuat kemeja Anin yang tipis ikut basah.
"Tuan apa yang anda lakukan?"
"Kamu sendiri? apa yang kamu lakukan di kamar saya"
"Saya mencari ponsel saya,tolong kembalikan. saya harus mengabari keluarga dan teman saya jika tiga hari ke depan kita akan menikah"
"Kamu tenang saja,semuanya sudah di atur. Bahkan keluargamu sekarang sudah ada di Jakarta,Putri juga sudah tahu akan hal ini dan dia sudah membantu membagikan berita bahagia ini kepada teman-temanmu'
"Yaps"
"Kalau begitu segera kembalikan ponsel saya"
"No,sebelum kita resmi menikah aku tidak akan mengembalikannya"
"Tuannn"
rengek Anin
"Kenapa? kamu mau minta itu?"
"Ihh apaan,udahlah kalau memang gak mau balikin"
ucap Anin kesal dan berjalan keluar kamar tuan Faren
di luar Anin berpapasan dengan Khael yang baru saja pulang sekolah
"Aunty Anin"
teriak Khael yang berlari dan memeluk Anin
"Hay,sayang"
" Kok aunty bisa disini?"
__ADS_1
"Kan Khael pernah bilang kalau aunty di suruh main ke sini"
"Yey,jadi aunty akan disini sampai kapan?"
"Emb sampai kapan ya???"
"Selamanya"
sahut tuan Faren yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya
"Daddyyyyy......"
"He hay jagoan daddy sudah pulang"
"Dad,maksud daddy apa kok bilang kalau aunty Anin akan disini selamanya?"
"Memangnya kamu gak mau? gak suka kalau aunty Anin tinggal disini?"
"Mau dong dad,justru Khael suka sekali kalau aunty Anin akan tinggal bersama kita disini"
"Tapi ada syaratnya"
"Syaratnya apa dad?"
"Khael harus belajar memanggil aunty Anin dengan sebutan mama"
"Mama?"
"Iya,karena sebentar lagi daddy dan aunty Anin akan menikah"
"Daddy serius?"
"Yes"
"Yeay aku senang sekali kalau aunty Anin akan menjadi mama Khael"
"Jadi panggilnya apa?"
"Mama Anin"
"Good boy"
Anin tersenyum dan memeluk Khael yang berada di gendongan tuan Faren
"Mulai sekarang mama akan belajar untuk menjadi mama yang baik untuk kamu"
"Makasih ya ma sudah mau menjadi mama Khael"
"Sama-sama sayang"
"Ya sudah sekarang kamu ganti baju terus makan di temani sama mbak Ine"
"Iya dad"
Melihat Khael yang begitu senang dan bisa menerima dirinya dengan mudah membuat Anin merasa bahkan sekarang tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Semua masa sulit telah ia lewati seimbang dengan apa yang ia dapatkan sekarang,kini tinggal menunggu hari sampai tanggal pernikahannya dengan tuan Faren tiba. Namun bagi Anin semua ini terlalu cepat meski harus melalui proses yang panjang,hanya saja kali ini dia percaya terhadap takdir dan keberuntungan yang telah berpihak kepadanya dengan sangat baik. Sekarang hanya akan ada bahagia menyelimuti hari-harinya,Anin menatap wajah tuan Faren yang duduk di sampingnya sembari membaca buku di tangannya. Ia menyenderkan kepalanya di bahu tuan Faren sembari menatap pemandangan taman yang cukup luas di hadapannya dan sosok Khael yang begitu gembira dan aktif seperti anak seusianya pada umumnya.
__ADS_1