CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 66


__ADS_3

Anin kesal dengan sikap tuan Faren yang selalu bertindak sesuai kemauannya,meski kadang Anin berusaha untuk menerimanya kembali namun lambat laun perubahan sikap dari tuan Faren sendiri yang membuat Anin semakin yakin bahwa semuanya memang harus berhenti sampai di sini.


Anin meratapi nasibnya sampai terlelap,tuan Faren menghampirinya dan mengusap kening Anin. Ia menciumnya penuh dengan kasih sayang,kali ini ia tidak akan membiarkan siapapun menggagalkan rencananya untuk menikahi perempuan di hadapannya itu. Tuan Faren ikut terlelap di samping Anin dan memeluknya seakan-akan enggan untuk berpisah.


Keesokan harinya Anin terbangun lebih dahulu,ia menatap wajah tuan Faren yang masih terlelap di sampingnya. Saat Anin ingin menyentuh dada bidang milik tuan Faren tiba-tiba saja laki-laki itu menggeliat dan memeluk tubuhnya,jantung Anin berdetak kencang mana kala hal itu terjadi. Ia mencoba untuk melepaskan tubuhnya dari tuan Faren,setelah berhasil ia segera turun dari tempat tidur dan memutuskan untuk mandi.


Setelah selesai mandi,seorang pelayan masuk mengantarkan sarapan untuk majikannya. Anin secara diam-diam menyusup keluar tanpa sepengetahuan pelayan tersebut,ia bersembunyi di sebuah ruangan sambil mengawasi situasi dirumah itu.


Anin turun ke lantai bawah secara diam-diam,meski ia sempat bertemu dengan penjaga yang sedang berpatroli. Sampai pada akhirnya tuan Faren terbangun dan tak mendapati Anin di sampingnya,ia segera berlari menuju kamar mandi namun sama sekali tidak dapat menemukan Anin. Tuan Faren berlari kembali ke kamar dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Uno


"Halo bos"


"Anin kabur"


"Baik bos,saya akan menyuruh yang lainnya untuk memeriksa seluruh rumah"


Tuan Faren begitu murka mengetahui hal tersebut,bagaimana bisa Anin keluar dari sana jika kunci kamar hanya dapat di buka dari luar. Kemudian tuan Faren tersadar dengan makanan yang ada di meja,ia menduga jika Anin kabur saat pelayan mengantarkan makanan. Ia segera meminta Uno membukakan pintu dan pergi menuju dapur,dengan wajah yang sudah benar-benar marah tuan Faren meminta seluruh pelayan di rumah itu menghadap di ruang kerjanya.


Setelah semuanya datang tuan Faren menelisik satu persatu


pekerja itu


"Siapa yang pagi ini mengantarkan makanan ke kamar saya?"


tanya tuan Faren dengan nada marah


"Sa saya tuan"


ucap pelayan yang muda


"Kamu yang membantu Anin kabur?"


"Ti tidak tuan,saya benar-benar tidak tahu kalau nona Anin kabur"


"Lalu bagaimana bisa dia keluar dari kamar? kecuali kamu membantunya"


"Tapi demi apapun saya tidak membantu nona Anin kabur tuan"


"Ahhh saya tidak suka kebohongan,Unooooo"

__ADS_1


"Ya bos"


"Kamu bawa wanita ini dan buat dia mengaku kalau dia yang sudah membantu Anin kabur dari sini"


"Baik bos"


Uno dan anak buahnya membawa pelayan itu ke tepi kolam dan menenggelamkan kepalanya berkali-kali sampai ia mengaku,sementara itu tuan Faren semakin marah karena Anin masih belum bisa di temukan. Ia kembali ke kamar dan membersihkan diri,sementara Anin yang dari tadi bersembunyi di balik lemari di ruang kerja tuan Faren begitu ketakutan apalagi setelah melihat para anak buah Uno yang memperlakukan pelayan itu. Anin melihat semua kejadian itu dari jendela ruang kerja tuan Faren,merasa tidak tega karena pelayan itu hampir tidak berdaya. Anin segera keluar dan menghampiri mereka


"Hentikan"


teriak Anin


"Nona Anin"


ucap Uno


"Kalian benar-benar tidak punya hati"


ucap Anin sembari menghampiri pelayan itu


"Nona,sebaiknya anda ikut kami menghadap tuan Faren"


"Nona Anin"


lirih pelayan itu


"Kamu tidak apa-apa?"


"Tidak nona,saya baik-baik saja"


"Saya antar kamu ke kamar ya"


Anin berdiri membantu pelayan itu menuju kamarnya,ia merasa bersalah karena tindakannya membuat orang yang tidak berdosa itu menanggung akibatnya.


Sementara itu Uno melapor pada tuan Faren yang masih dalam keadaan marah


"Bos"


"Bagimana? apa Anin sudah ketemu?"

__ADS_1


"Sudah bos,tadi tiba-tiba nona Anin muncul di tepi kolam dan menyelamatkan pelayan itu"


"Sekarang dia ada dimana?"


"Di kamar pelayan itu bos"


Tuan Faren dan Uno segera pergi ke kamar pelayan tersebut,sesampainya di sana ia melihat Anin yang sedang merawat pelayan itu.


"Tuan"


ucap pelayan tersebut begitu melihat tuan Faren yang berada di pintu kamarnya


"Kamu urus pelayan itu,saya tidak ingin melihatnya lagi"


ucap tuan Faren kepada Uno


"Tunggu,dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kaburnya saya. Dia sama sekali tidak tahu kalau saya menyelinap keluar kamar"


"Tetap saja dia ceroboh karena tidak menutup pintu ketika mengantarkan makanan"


sahut Uno


"Berani kamu menyentuhnya,maka saya akan menjamin kamu menyesalinya"


Tuan Faren langsung menarik Anin keluar dari kamar itu,ia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Anin yang kesakitan.


"Lepaskan,apa begini cara anda untuk mendapatkan segala sesuatu yang anda mau? dengan cara memaksa?"


Tuan Faren tetap diam tak menghiraukan ucapan Anin sampai mereka tiba di dalam kamar


"Kenapa? anda mau mengurung saya lagi? kurung saja,tetapi jangan harap saya akan mau menikah dengan anda ke depannya"


Tuan Faren semakin marah ketika mendengar Anin yang berkata menguji kesabarannya,ia berusaha untuk mencoba tetap diam namun Anin kembali mengatakan hal-hal yang membuat tuan Faren hilang kendali.


"Jangan karena anda punya banyak uang lalu bisa melakukan apapun yang anda inginkan,sampai kapanpun uang anda tidak akan bisa membuat saya kembali cinta kepada orang yang memiliki kepribadian buruk seperti itu"


Tuan Faren geram dan menyeret Anin menuju tempat tidur,kali ini ia benar-benar di luar kendali sampai tega mengingkari janjinya sendiri. Ia melucuti semua pakaian Anin tak perduli ia berteriak sekeras apapapun,tuan Faren tiada hentinya mencumbu tubuh perempuan itu hingga akhirnya melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan sekarang.


Anin hanya dapat melawan sekuat tenaga dan memohon agar tuan Faren tidak melakukannya,namun amarah tuan Faren tidak dapat mendengar suara hatinya. Ia berhasil menembus keperawanan perempuan itu dan melampiaskan amarahnya,sampai pada akhirnya Anin menjerit kesakitan dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2