CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 52


__ADS_3

Tuan Faren duduk di ruang tamu bersama Andrew,suasana begitu tegang bahkan Andrew masih penasaran kenapa laki-laki d hadapannya itu bisa tahu segala hal tentang keluarganya.


"Nak Faren,ini di minum. Seadanya ya,karena rumah masih berantakan karena ibu tinggal beberapa waktu di Jakarta"


"Iya bu terima kasih"


"Oh ya nak Faren tadi ke sini dengan siapa?"


"Saya sendiri bu,kebetulan tadi Putri memberikan alamat ini ke saya"


"Oh nak Putri,dia sering ke sini. Terakhir dengan Arya,namun siapa sangka ternyata dia tidak sebaik yang ibu kira"


"Jadi lakai-laki itu sudah pernah ke sini bu?"


tanya Andrew kaget


"Iya,dan saat itu ibu juga berfikir kalau dia laki-laki yang baik. Makanya ibu ijinkan dia untuk menjalin hubungan dengan Anin dan membawanya kembali ke Jakarta"


"Ibu kan tahu sendiri,orang kota tidak semuanya bisa di percaya. Mereka itu egois,apalagi Anin terlalu polos dan baik ke semua orang,pasti mereka akan memanfaatkan semua itu"


"Ibu juga baru sadar sekarng,ibu rasa sebaiknya Anin tidak perlu kembali ke Jakarta lagi. Ibu takut jika tidak bisa memenuhi amanah dari ibunya Anin,apalagi kita tidak tahu apakah ayah Anin sampai sekarang masih hidup atau tidak"


"Ayah Anin kalau boleh tahu dimana bu?"


tanya tuan Faren


"Ibu juga tidak tahu nak Faren,ibu Anin hanya bercerita jika ia pergi meninggalkan Anin waktu masih kecil. Dan ketika mendengar jika ayahnya menikah lagi hal itu membuat ibu Anin terkejut dan sering sakit-sakitan hingga akhirnya meninggalkan dunia ini"


"Apa Anin tahu akan semua itu?"


"Anin hanya tahu jika ayahnya meninggal sebelum ibunya,karena ibu Anin berpesan agar tidak memberitahukan kalau ayahnya masih hidup"


"Jadi ayah ternyata masih hidup bulek?"


ucap Anin yang mengejutkan mereka semua


"Aninnn"


"Bulek jawab,apa benar ayah Anin masih hidup?"


"Ndok bulek tidak bermaksud untuk membohongi kamu. Bulek hanya tidak ingin jika kamu bertanya-tanya siapa dan dimana ayah kamu sekarang"


"Kenapa bulek,kenapa harus bohong kalau pada kenyataannya ayah pergi dan yang membuat ibu meninggal"


Bibi Anin tidak bisa berbuat apa-apa atas kecerobohannya menceritakan semua itu dan tak sengaja terdengar oleh Anin,ia hanya dapat memeluk Anin dan mencoba meminta maaf karena tidak bisa memberitahukan hal ini kepadanya.


"Bulek minta maaf ndok,bulek tidak bermaksud membohongi kamu."


"Kenapa semua orang begitu penuh dengan topeng? kenapa semuanya menganggap ini hal yang lebih baik,memangnya kenapa jika aku tahu kalau ayah masih hidup?"


"Bulek hanya tidak ingin jika kamu mencarinya suatu saat nanti,laki-laki itu tidak pantas kamu sebut ayah ndok"


Anin menangis sesengukan di pelukan bibinya,ia harus menghadapi kenyataan pahit tentang masa lalunya bahwa ayahnya pergi meninggalkannya bukan karena kematian tetapi justru ia menjadi alasan kenapa ibunya terus sakit-sakitan dan meninggal.


"

__ADS_1


"Sekarang Anin hanya ingin tahu siapa nama ayah bulek"


"Buat apa ndok? kamu tidak usah mencarinya lagi,dia sudah memiliki keluarga lain sekarang"


"Aku hanya ingin tahu saja bulek"


"Baiklah,kalau tidak salah ingat ibu kamu pernah sekali mengatakannya pada bulek bahwa nama ayah kamu adalah Wirya Adinata"


Tuan Faren begitu terkejut mendengar nama itu,ia seperti tidak asing dan bertanya lebih lengkap


"Maaf tadi siapa bu nama ayah Anin"


"Wirya Adinata nak Faren"


Seketika ia terdiam namun sedang berfikir keras,ia tidak tega melihat Anin begitu merasa tersakiti oleh kenyataan ini.


"Apa bulek punya fotonya?"


"Tidak ndok,bulek tidak punya. Waktu itu ibu dan ayahmu hanya menikah siri jadi mereka tidak punya moment untuk mengabadikan pernikahan itu.


Hal tersebut membuat Anin lebih terkejut lagi,pada dasarnya ia merasa seperti anak di luar nikah karena tidak memiliki identitas tentang orang tuanya. Sekarang nasi sudah menjadi bubur masa lalu orang tua Anin adalah sebuah takdir yang tidak dapat ia rubah sampai kapanpun. Kenyataannya sekarang ia adalah seorang piatu yang di tinggal pergi oleh ayah kandungnya.


Anin menghapus air matanya dan menghampiri tuan Faren,ia duduk di depannya dengan mata yang sembab


"Maaf tuan,anda jadi melihat hal ini"


"Tidak apa-apa Nin,bagaimana keadaan kamu


"Saya sudah baikan tuan,kenapa tuan bisa ada di sini"


"Maaf jika kemarin saya tidak menjenguk mu,bahkan saat kamu pulang aku tidak bisa mengantarkan"


"Oh ya Nin,ini buat kamu"


ucap tuan Faren sambil menyodorkan buket bunga mawar putih dan papper bag berisi vitamin


"Ini apa tuan?"


"Itu vitamin membantu pemulihan kamu lebih cepat"


"Terima kasih tuan,oh ya bagaimana tuan bisa tahu rumah saya?"


"Putri yang memberikan alamatnya"


"Dan tuan kemari sendirian?"


"Iya,Nin disini ada hotel terdekat?"


"Tidak ada tuan,adanya di kota dari sini sekitar dua puluh menit"


"Wah jauh juga ya"


"Tetapi di kampung ini ada penginapan milik pak RT. Memangnya tuan mau singgah di sini?"


"Iya saya akan singgah di sini selama beberapa hari,ya anggap saja sebagai rekreasi. Apalagi di sini udaranya masih segar dan asri"

__ADS_1


"Kalau begitu saya antarkan ke pak RT"


"Sudah Nin biar mas saja,kamu kan juga baru sembuh sebaiknya istirahat saja"


sahut Andrew


"Ya sudah kalau begitu,tolong tunjukkan dimana lokasinya"


balas tuan Faren


Selama perjalanan tuan Faren ke penginapan milik pak RT,Andrew banyak bertanya-tanya soal tujuannya mendekati Anin


"Ngomong-ngomong anda sudah lama kenal dengan Anin?"


"Ya kurang lebih lima bulan ini,kenapa?"


"Tidak,saya hanya berfikir jika kalian seperti sudah lama kenal dan sangat dekat"


"Anin adalah orang yang humbel jadi tidak salah jika banyak orang yang tertarik untuk lebih mengenalnya"


"Termasuk anda hingga mencari tahu tentang keluarganya secara diam-diam"


'Ya bisa di katakan begitu,oh ya apakah anda tahu berapa kira-kira usia ayah Anin?"


"Kenapa anda bertanya soal itu?"


"saya punya kolega yang bernama sama dengan yang ibu anda sebutkan tadi"


"Benarkah?"


"Iya,dan kemungkinan usianya lima puluh tiga an"


"Sebentar,ibu Anin menginggal di usia tiga puluh tahun dan saat itu usia Anin tujuh tahun. Ayahnya pergi kurang lebih satu tahun sebelum ibunya meninggal,saya ingat betul hal itu karena saat itu saya yang mencoba menenangkan Anin"


"Kalau memang benar kolega saya adalah ayah Anin berarti jika ibu Anin masih hidup usianya sekarang sekitarempat puluh delapan an bukan?"


"Iya benar sekali"


"Mungkin tidak jika selisih usia ibu dan ayah Anin adalah lima tahun?"


"Mungkin sih,karena jaman dahulu jika orang menikah ia akan mencari pria yang jauh lebih tua dari usianya. Memangnya anda berfikir kolega anda adalah ayah Anin?"


"Bisa saja begitu,tetapi kolega saya itu mempunya istri yang baru tiga tahun ini meninggal karena sakit. Ia juga punya dua anak"


"Ya sudah dapat di pastikan jika kolega kamu itu bukan ayah Anin"


ucap Andrew


"Tapi bisa jadi...."


"Sudah jangan bisa jadi,bisa jadi. Sekarang kita sudah sampai sebaiknya anda siapkan data-data anda untuk menghadap pak RT"


ucap Andrew


"Memangnya sudah sampai?"

__ADS_1


"Itu,rumah pak RT dan penginapannya ada di samping rumahnya"


ucap Andrew sambil menunjuk rumah bercat kuning di hadapannya.


__ADS_2