CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 69


__ADS_3

Anin menangis sejadi-jadinya karena hal itu benar-benar membuatnya merasa kecewa,meski sempat menginginkannya saat bersama dengan tuan Faren namun bukan dengan cara seperti ini ia harus menyerahkan keperawanannya. Tuan Faren kembali ke rumahnya dengan wajah yang sedih,nyonya Mega menyadari bahwa putranya sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta pelayan menyiapkan air hangat untuk putranya mandi,sembari membuatkan jus agar menambah moodnya kembali.


Setelah mandi tuan Faren turun ke meja makan untuk makan malam bersama keluarganya,nyonya Mega khawatir dan segera bertanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.


"Faren,kamu baik-baik saja?"


Tuan Faren masih terdiam dan menatap kosong


"Ren,kamu kenapa?"


tanya tuan Felix


"Hah,kenapa Pi?"


"Kamu ini lho,di ajak ngomong kok gak nyambung"


"Maaf pa,Faren lagi gak enak badan"


"Mami panggilkan dokter ya?"


"Gak usah Mi,paling cuma kelelahan saja kok"


"Ya sudah,habis makan kamu istirahat saja"


"Iya mi"


Mereka berempat segera makan malam,di sela-sela makan malam tuan Faren selalu mengecek ponselnya berharap Anin mengirimkan pesan kepadanya.


"Kerjaan kamu bagaimana? katanya tadi siang kamu akan ke luar kota untuk beberapa hari. kenapa tidak jadi?"


"Oh itu,aku sudah meminta Diego untuk mengurusnya pi"


"Ya sudah,kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk bilang sama papi"


"Iya pi"


"Daddy besok kita jalan-jalan ya?"


tanya Khael


"Sayang kita jalan-jalannya kapan-kapan saja ya,akhir-akhir ini daddy sedang sibuk"


"Faren,kamu terakhir kali ajak Khael jalan-jalan waktu kita makan bareng sama Anin di mall loh. Sudah lama juga,kasian Khael"


"Iya Ren,apalagi semenjak kamu sibuk mengurus persiapan pernikahan kamu dengan Anin kamu jadi tidak punya waktu untuk Khael"


"Ya sudah,besok kita jalan-jalan"


"Horeee"


"Kalau begitu setelah makan,Khael juga harus istirhat ya"


"Iya oma"


Mereka pun mengakhiri makan malam dan pergi ke kamar masing-masing,sementara itu tuan Faren menghubungi Uno dan memintanya untuk berjaga-jaga di sekitar kamar Anin untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.


Keesokan paginya Khael sudah bersiap untuk menagih janji daddynya untuk mengajaknya berjalan-jalan,baru tuan Faren keluar kamar ia di kejutkan dengan putranya yang sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Khael,kamu mengejutkan daddy"


"Daddy kita jadi kan hari ini jalan-jalan"


"Iya sayang,kita turun dulu sarapan ya"


"Okay"


Di meja makan nyonya Mega sudah menyiapkan bekal dan sarapan untuk mereka


"Mi,kok papi tidak kelihatan?"

__ADS_1


"Papi kamu ada janji main golf dengan temannya hari ini"


"Sepagi ini?"


"Daddy ini sudah siang"


teriak Khael


Tuan Faren melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 10.00


"Astaga"


"Kamu kira masih pagi Ren?"


"Kalau begitu kita berangkat sekarang saja ya Mi"


"Loh ini sarapan kamu?"


"Udah ini saja bekalnya"


Ucap tuan Faren yang pergi mengambil barang-barangnya di kamar,setelah selesai ia segera membawa Khael masuk ke mobil.


"Bye oma"


"Bye sayang,selamat bersenang-senang"


"Mi,aku pergi dulu ya"


"Hati-hati Ren"


"Iya mi"


Tuan Faren melajukan mobilnya,kali ini ia memilih untuk tidak membawa sopir keluarga karena ia takut akan ada yang mengadu kepada orang tuanya. Karena hari ini ia akan mengajak Khael menjenguk Anin,sebelum sampai tuan Faren mampir ke sebuah toko bunga dan membelikan mawar putih untuk Anin.


"Daddy kok beli bunga?"


"Kita mau ketemu aunty Anin ya dad?"


"Iya"


"Yey asyik"


"Khael suka?"


"Suka daddy,aku juga rindu dengan aunty Anin"


Tuan Faren memarkirkan mobilnya dan halaman rumah sakit,Khael kebingungan kenapa mereka justru ke rumah sakit bukan menemui Anin.


Di dalam lift Khael bertanya kepada tuan Faren maksud kedatangan mereka kemari


"Daddy katanya kita mau ketemu aunty Anin"


"Iya sayang sebentar ya"


Akhirnya mereka sampai di depan kamar Anin,tuan Faren membuka pintu dan mendapati Anin yang menatap keluar jendela.


"Aunty Anin"


teriak Khael


Anin membalikkan tubuhnya dan melihat tuan Faren bersama Khael datang menjenguknya


"Khael...."


"Aunty,Aunty sakit apa?"


"Oh Aunty hanya terkena pisau sayang"


"Aunty Anin jangan mainan pisau,kan bahaya kalau sampai berdarah"

__ADS_1


"Iya maafkan aunty ya"


"Bagaimana keadaan kamu?"


tanya tuan Faren


"Sudah mendingan"


"Oh ya,ini ada makanan masakan mami saya. Semoga kamu suka"


"Terima kasih"


"Aunty,aunty harus makan yang banyak supaya cepat sembuh"


"Iya sayang"


Tiba-tiba dokter masuk untuk memeriksa Anin,tuan Faren dan Khael menunggunya


"Bagaimana dok?"


"Luka anda sudah mengering,ini tergolong cepat dari yang saya perkirakan. Kemungkinan sore ini pasien sudah bisa pulang dan menjalani rawat jalan saja"


"Terima kasih dok"


"Sama-sama kalau begitu saya permisi"


"Dokter bilang apa Dad?"


"Dokter bilang kalau besok tante Anin sudah bisa pulang"


"yahh,Khael harus berpisah dong"


"Tidak,kan tante Anin tinggal di vila daddy"


"Yey,aku boleh kesana kan Dad?"


"Boleh dong"


"Ye ye,aku akan jagain dan rawat aunty Anin sampai sembuh"


"Makasih ya sayang"


ucap Anin sambil mengecup kening Khael


Sore hari setelah dokter menyatakan Anin boleh pulang,tuan Faren meminta Uno untuk menjemput mereka. Selama perjalanan ke vila Khael sama sekali tidak mau jauh dari dekapan Anin,hingga di perjalanan ia tertidur di pangkuannya.


Sesampainya di Vila tuan Faren menggendong Khael menuju kamar,sementara Anin kembali ke kamar dimana kemarin ia sempat terjebak di dalamnya.


"Kali ini tolong jangan buat pertengkaran lagi di antara kita,saya tidak ingin Khael melihatnya"


ucap Anin sebelum masuk ke kamar


Tuan Faren setuju dengan pendapat Anin,ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat ia hendak ingin tidur ia terkejut melihat Khael yang sudah berada di atas tempat tidurnya bersama Anin.


"Sejak kapan dia pindah kemari?"


tanya tuan Faren


"Sejak ia terbangun dan mencari saya"


jawab Anin


"Jadi saya harus tidur di kamar sebelah?"


"Apa boleh buat,lagi pula memang seharusnya begitu bukan?"


ucap Anin yang meminta tuan Faren untuk pergi


Tuan Faren menghela nafas panjang sembari berjalan menuju kamar sebelah,padahal ia bermaksud ingin meminta maaf kepada Anin dan berharap perempuan itu akan mengizinkannya berbagi tempat tidur dengannya. Namun kali ini tuan Faren tidak bisa berbuat apapun selain harus mengalah dengan putranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2