CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 6


__ADS_3

Sesampainya di rumah Anin hanya dapat merenung dan mengemas pakaiannya,rasanya berat meninggalkan rumah itu beserta kenangannya. Untuk menghilangkan kesedihannya Anin mencoba menghubungi bibi nya yang ada di kampung,ia ingin sedikit melepaskan kerinduannya itu.


"Assalamualaikum Bulik"


"Wa'alaikumsalam,Anin kamu apa kabar ndok?"


"Alhamdulillah baik budhe,budhe dan keluarga bagaimana kabarnya di sana?"


"Bulik dan adik-adikmu baik-baik saja disini ndok"


"Baguslah kalau begitu Bulik,oh ya mas Rahma sekarang kerja dimana Bulik?"


"Mas mu merantau di Bogor ndok,udah tiga bulan gak pulang"


"Kok dia gak bilang aku kalau di Jakarta?"


"Ibu juga gak tahu,udah berulang kali coba hubungi tapi gak bisa. Kamu tahu sendiri kan mas mu itu gimana"


"Iya bu,rencananya minggu depan aku mau kirim uang"


"Kamu ini kok kirim uang terus to ndok,mbok ya di tabung buat kebutuhan kamu di sana"


"Alhamdulillah Anin ada sedikit uang sisa,bisa bantu-bantu bayar sekolah adik"


"Ya sudah ibu cuma bisa bilang makasih sama kamu ndok,kamu udah banyak membantu keluarga ibu"


"Lagipula ini adalah cara Anin berterima kasih karena ibu sudah membesarkan Anin selama ini"


"Iya,kamu ini lagi ngapain ndok?"


"Ini bu,Anin baru beresin baju"


"Oalah,kamu jaga kesehatan ya ndok di sana"


"Ibu juga ya"


"Iya ndok"


"Kalau begitu Anin tutup dulu ya bu"


"Iya ndok"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah Anin selesai membereskan baju-bajunya ia segera pergi mandi,tiba-tiba terdengar suara teriakan Putri yang sangat mengganggu


"Nin,Anin...."


Anin yang baru keluar dari kamar mandi merasa terkejut


"Put kamu apa-apaan sih,suara kamu itu kenceng banget"

__ADS_1


"Kamu yang apa-apaan,kamu kenapa keluar?"


"Keluar gimana maksud kamu?"


"Udahlah Nin,semua orang kantor juga tahu kalau hari ini kamu di berhentikan sama si Marwan"


"Oh itu,ya memang tapi bukan di berhentikan dalam artian di pecat"


"Lalu"


"Aku di mutasi ke perusahaan besar di JakPus"


"Ha ? JakPus?"


"Iya"


"Ya ampun Nin,kita ini sekarang di Jakbar. Kalau sampai kamu pindah ke sana bagaimana nasib aku disini?"


"Ya nasib kamu gak gimana-gimana"


"Kamu gak mikirin kalau aku bakal kesepian tanpa kamu,terus aku akan tinggal disini sendirian gitu?"


"Kan ada mas Adit"


"Tetap aja aku butuh bestie ku"


"Kita masih bisa telponan kok,nanti misal aku libur aku main deh ke sini"


"Aaa gak mau,aku gak mau pisah dari kamu"


"Iya juga,tapi kenapa kamu lebih dulu ninggalin aku. Harusnya nunggu aku nikah dulu"


"Maksudnya biar kamu yang ninggalin aku gitu"


"Emb aku sedih banget waktu denger kabar ini,si Marwan kenapa tega kali sih sama kita"


"Ulu uluhh cup cup sayang"


ucap Anin sembari menenangkan Putri


"Tapi kamu janji ya,kalau ada watu luang kamu bakalan main kemari"


"Iya tuan Putri"


"Aku pasti bakal kangen sama low Nin"


"Sama aku juga"


"Kalau gitu gua mau mandi dulu,habis maghrib mau keluar sama mas Adit buat nyari seserahan"


"Okay gua di tinggal lagi"


"Bentar doang kok"

__ADS_1


"Ya sudah sana"


Putri meninggalkan Anin yang masih menggunakan handuk untuk menutupi setengah badannya,dua bestie itu kemudian sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sebelum pukul tujuh Adit calon suami Putri sudah datang untuk menjemputnya,sementara Putri pergi,Anin membereskan kembali barang-barangnya yang belum selesai.


Rasanya begitu berat meninggalkan sesuatu yang telah membuatku menjadi seperti sekarang ini,


Semua ini yang membuat aku semakin kuat dan bisa menghadapi kehidupan begitu keras sejak dulu. Lingkungan pekerjaan yang cukup nyaman dan teman-teman yang sudah seperti saudara,lalu sekarang aku harus meninggalkan semuanya dan kembali memulai sesuatu yang baru di tempat kerjaku besok.


Ini memang sangat berat apalagi untuk aku dan juga Putri yang memang anak perantauan tanpa arah dari dulu, bersyukur Putri masih memiliki rumah untuk ia kembali sedangkan aku hanya dapat bertanya kabar dengan Budhe yang sedari dulu telah merawat ku menggantikan ibu. Entah jika tidak ada budhe dan juga Andrew aku pasti sudah hilang entah kemana sedari dulu,mereka adalah satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang


Tidak ada yang lain setelah ibu meninggalkan aku melawan penyakitnya,sedangkan laki-laki yang biasa di sebut bapak meninggalkan kami berdua dalam keadaan yang sangat jatuh sejauh-jauhnya.


Tak terasa semua barang-barang ku telah selesai ku packing,tinggal menunggu hari dimana aku akan pergi dari rumah yang penuh kenangan ini.


Namun aku cukup tenang jika pergi meninggalkan Putri di saat posisi ia yang sebentar lagi akan memiliki teman hidup,mungkin ia tak akan kesepian sebagaimana dulu kami saling mengisi suasana di kala sepi.


Pagi hari seperti biasa,Putri sudah ribut untuk bersiap berangkat ke kantor. Sedangkan aku hanya bermalas-malasan di kamar menghabiskan waktu sebelum nanti aku harus di ospek di kantor yang baru.


"Hay Put,semangat ya buat hari ini?"


godaku pada Putri


"Duh Nin,rasanya kok ada yang beda ya?"


"Beda? beda gimana maksud kamu?"


"Ya beda aja,biasanya setiap pagi kan kita selalu bareng-bareng mulai dari bangun pagi,buru-buru berangkat dan naik angkot bareng"


"Baru kerasa ya kalau salah satu dari kita akan pergi"


"Umb aku pasti kangen banget sama kamu,rumah akan sepi tanpa kamu Nin"


"Bukannya lebih enak? kan bisa bawa mas Adit kemari"


Tiba-tiba suara motor menghentikan obrolan mereka berdua


"Aku berangkat dulu ya,mas Adit udah dateng"


"Astaga baru juga aku gak berangkat sehari,udah main manggil mas Adit ke rumah lagi"


"Ya dari pada aku naik angkot sendiri"


"Ya udah sana buruan berangkat,ntar telat di marahin Marwan lagi"


"Dasar tuh bos low"


'Bos low kali"


"Bye Ninnn"


"Bye"


Suasana rumah menjadi kembali hening,Putri sudah pergi tetapi ada sesuatu yang masih meninggalkan bau khas dirinya yaitu handuk yang terlampir di kursi ruang tamu.

__ADS_1


"Dasar anak itu tidak pernah berubah"


gumam Anin memberi dan melempar handuk itu ke kamar Putri


__ADS_2