CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 32


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja Anin dan Diego mampir ke sebuah cafe yang ada di mall tersebut,sambil hendak menunggu pesanan Diego mengajak Anin membahas tentang rencanannya yang ingin mengajak kerjasama dan mengembangkan usaha catering milik bibi Anin.


"Oh ya Nin,aku mau menawarkan kerja sama dengan kamu"


"Kerjasama apa?"


"Gimana kalau catering kamu di perbesar,aku akan menambahkan modal untuk usaha kamu dan bibi mu itu"


"Usaha ini hanya musiman Die,dan gak akan ada untungnya buat kamu"


"Tapi apa salahnya di coba Nin,bayangkan jika catering kamu sampai terkenal dan setiap hari banjir orderan"


"Maunya sih begitu,tapi untuk saat ini catering bibi ku hanya sampai di kampung-kampung saja. Aku sendiri tidak mempekerjakan karyawan karena usaha ini baru setengah berjalan"


"Nah maka dari itu,coba deh kamu buka di Jakarta. Kebetulan temanku kemarin menawarkan padaku untuk mencarikan catering yang bisa membuatkan makan siang box gitu setiap harinya. Jadi dia punya semacam usaha konveksi dan menurutku ini peluang yang bagus kalau kamu memang mau mengembangkannya"


"Iya juga sih Die,tapi untuk usaha catering itu perlu tempat yang memadai dan orang-orang yang memang ahli dalam bidangnya"


"Udah kalau masalah itu gampang,kamu serahkan saja sama aku. Kebetulan salah satu sahabat aku punya rumah di daerah Jakarta Pusat yang lumayan besar,kamu bisa pakai untuk usaha kamu dan orang-orang yang akan membantumu kita sebaiknya mencari orang yang benar-benar ahli dalam bidangnya. Dengan begitu selain menguntungkan dan membuat nama usaha kamu besar kamu juga memberikan peluang kepada mereka-mereka yang mencari pekerjaan"


"Benar juga sih,tapi modalnya aku belum ada banyak"


'Gampang nanti aku bisa deh tanam modal di usaha kamu sembari berjalan kamu bisa mengembalikannya"


"Kamu serius Die?"


"Iya serius,kapan sih kamu mau percaya sama aku Nin"


"Kali ini semoga saja kata-katamu dapat di percaya"


"Jadi gimana,kira-kira kapan kamu akan kembali ke Jakarta dan memulainya?"


"Nanti deh aku hubungi lagi,tapi makasih banyak ya atas ide dan juga saran kamu"


"Sama-sama"


Setelah menyelesaikan percakapan,mereka pun kembali. Anin pulang ke rumah Putri tepat sebelum acara pasihan di mulai,suasana rumah begitu ramai bahkan para pemuda dan bapak-bapak berkumpul di depan rumah sembari berbincang-bincang. Putri sendiri sekarang sedang sibuk di lukis tangannya agar terlihat lebih cantik esok hari


"Ternyata ramai juga ya Put"


"Iyalah,kamu tadi habis kemana aja?"


"Cuma nganterin Diego beli kemeja kok,terus mampir ngopi sebentar"


"Oh,eh iya Nin sepupuku katanya mau minta nomer kamu"


"Siapa Put?"


"Yang kemarin jemput kamu di stasiun"

__ADS_1


"Mas Arya?"


"Iya,dia kayaknya tertarik deh sama kamu"


"Apaan sih kamu Put"


"Ih serius,dia itu calon penerus bisnis paman aku loh Nin. Juragan sawit muda di daerahnya"


"Lha terus?"


"Ya pasti masa depan kamu akan terjamin,apalagi kita bisa jadi saudara beneran"


"Udah deh kamu itu gak usah boros tenaga,simpan semuanya buat besok"


"Iya iya bawel"


Semakin malam suasana semakin ramai,para bapak-bapak bermain kartu,catur,dan ada pula yang sekedar bercerita. Tak sengaja mata Anin menatap Arya yang tengah memperhatikannya sedari tadi,hal itu membuat Anin sedikit salah tingkah.


"Put aku ke dalam dulu ya,mau taruh ini"


"Iya,kamu sekalian makan"


"Iya"


Setelah selesai makan Anin kembali menemani Putri yang masih belum selesai dengan urusan menghias tangannya, tiba-tiba ibu Putri keluar dan meminta Anin membantunya mengantarkan kopi ke para tamu yang datang ke acara pasihan itu.


"Oh iya baik Bu"


Anin meletakkan teko berisi kopi di setiap meja,hingga tak sadar Arya berada di belakangnya mencoba membantu.


"Udah sini biar aku saja"


"Oh iya mas"


ucap Anin yang kemudian meninggalkan gelas-gelas itu kepada Arya.


Tepat pukul 22.00 tangan Putri sudah selesai di hias,ia di minta oleh keluarganya untuk segera pergi tidur supaya besok bisa kembali fit. Di kamar mereka saling bercerita dan Anin sendiri merasa senang karena akhirnya impian sahabatnya itu sebentar lagi akan terwujud.


"Nin,kamu gak kepingin nyusul gitu?"


"Nyusul apa sih Put?"


"Nikah lah"


"Kan kamu tahu sendiri aku sekarang sedang sibuk mengurus usaha bareng bibi ku,bahkan aku sendiri tidak sempat memikirkan soal pasangan ataupun laki-laki"


"Mas Arya tuh,udah deh gak usah gengsian coba sekali aja kamu berusaha buka hati"


"Bukan masalah gengsi,kamu tahu aku ini yatim piatu bahkan rumah saja aku tidak punya Put. Mana ada laki-laki yang mau menerima orang sepertiku ini"

__ADS_1


"Aku yakin pasti ada,pokoknya aku mau kamu mencoba buka hati buat orang. Jangan seperti ini ke diri kamu sendiri,mau sampai kapan Nin? wanita itu butuh pendamping,pemimpin dalam segala hal. Aku yakin suatu saat nanti pasti ada kok laki-laki yang mau menerima keadaan kamu apa adanya"


"Iya iya,yasudah kita tidur yuk aku ngantuk nih"


"Iya"


Mereka akhirnya terlelap hingga tak terasa suara ayam berkokok sudah terdengar di telinga,ibu Putri masuk membangunkan mereka dan meminta keduanya agar segera bersiap. Setelah mandi Putri pun siap untuk di rias,Anin sendiri sibuk membantu Putri menyiapkan lainnya .


"Put,semuanya udah selesai. Mas Adit juga udah datang dan sekarang baru bersiap di kamar sebelah"


"Oh ya udah Nin,sekarang kamu duduk di situ biar mbaknya yang urus kamu"


"Urus aku? maksud kamu?"


"Kamu ini gimana sih? ya kamu juga di make up dong"


"Hah enggak,gak usah Put. Aku gak pernah make up kayak gini"


"Udah ikut aja"


Setelah melewati beberapa paksaan akhirnya Anin mengikuti kemauan sahabatnya itu demi untuk menyenangkannya.


Tepat pukul 10.00 acara ijab kabul di mulai,Putri nampak seperti seorang ratu mengenakan adat Jawa apalagi Adit yang terlihat gagah sangat cocok bersanding dengan Putri. Saat hendak mengantar Putri ke meja ijab beberapa mata tertuju kepada Anin,penampilannya benar-benar mencuri perhatian para tamu terutama Arya.



Acara ijab kabul dimulai,para tamu sangat khidmat larut dalam suasana hingga akhirnya semua saksi berkata SAH atas terlaksananya ijab kabul tersebut. Semuanya senang karena acara berjalan lancar,langkah demi langkah di lakukan dengan penuh haru apalagi saat kedua mempelai sungkem meminta restu kepada kedua orang tua masing-masing. Tak terasa air mata Anin jatuh mengingat dirinya tak lagi memiliki orang tua yang akan mengantarkannya kepada laki-laki yang akan menemani hidupnya kelak.


Arya yang mengetahuinya menghampiri Anin dan memberikan sapu tangan yang sedari tadi ia bawa di dalam jasnya


"Terima kasih"


ucap Anin pelan


"Kamu pasti terharu karena sahabat kamu sekarang sudah sah menjadi istri orang, terlebih lagi sekarang kalian pasti akan sangat jarang bertemu dan menghabiskan waktu bersama seperti dulu"


"Kamu benar,hanya Putri satu-satunya orang yang aku kenal selama di Jakarta. Sekarang tidak menyangka saja kalau mimpinya untuk menikah terwujud dan aku pun sudah terganti dengan mas Adit"


"Semoga kamu segera menyusulnya"


"Belum terpikirkan"


"Kenapa?"


"Aku masih ingin mencari uang, lagipula aku ini yatim piatu hidupku susah dan tak memiliki apa-apa jadi laki-laki mana yang mau menerima ku dalam keadaan seperti ini"


"Suatu hari nanti pasti akan ada laki-laki yang mau menerima kamu apa adanya"


Anin tersenyum dan berkaca-kaca menyaksikan sahabatnya yang begitu bahagia duduk di atas pelaminan.

__ADS_1


__ADS_2