
Setelah mengantarkan Diana pulang,tuan Faren segera pergi ke kost tempat Anin,namun saat menuju ke sana ia justru melihat Diego bersama Anin makan di restauran yang tak jauh dari kost mereka. Tuan Faren langsung menghentikan mobilnya dan masuk untuk menemui mereka
"Anin"
"Tuan Faren....???"
Anin dan Diego terkejut karena mereka sedang asyik makan dan mengobrol tiba-tiba saja atasannya datang
"Hey bro"
sapa Diego
"Jadi ini alasan kamu ada hal penting yang perlu di selesaikan?"
"Maksud low apa bro?"
"Low gak usah ikut campur,ini urusan ku dan Anin"
"Tunggu-tunggu,sepertinya low salah paham deh. Aku ngajak Anin dinner karena sebelumnya memang karena Anin sendiri tidak ada acara"
"Low tahu kan Anin asisten gua?"
"Itu di kantor Ren,sekarang bukan jam kantor dan Anin berhak buat kemanapun dan dengan siapapun"
"Anin kamu jelasin sama saya,kenapa kamu minta Diana datang untuk gantikan kamu sedang kamu sendiri sembunyi di balik alasan kalau ada hal penting yang harus kamu selesaikan tetapi kenyataannya kamu justru disini bersama sahabat saya sendiri"
"Maaf kan saya tuan,saya sama sekali tidak berniat untuk membohongi tuan"
"Tidak membohongi? tapi ini apa?"
"Saya sadar,yang seharusnya ada di acara itu bukan saya tetapi nona Diana"
"Karena kamu udah lihat artikel itu?"
"Ren,Anin sama sekali soal artikel itu dan dia baru tahu itupun dari gua"
"Plis Nin semua itu gak benar,aku dan Diana tidak ada hubungan apa-apa"
"Mau ada hubungan atau tidak itu gak ada urusannya dengan Anin"
"Diem low ya,gua ngomong sama Anin"
"Udahlah Ren,mau sampai kapan low berusaha buat dapatkan semua yang low mau? Diana juga cantik,smart,dia juga cinta sama low"
"Low gak berhak ya ngatur-ngatur gua,terserah gua mau apa mau suka siapa. Dan asal low tahu,Diana itu suka sama low,bukan sama gua"
"Tapi gua suka sama Anin"
"Apa low bilang barusan?"
teriak Faren
"Gua suka sama Anin"
ucap Diego dengan lantang
"Kurang ajar"
teriak Faren sambil melayangkan pukulan tepat di wajah Diego dan membuatnya tersungkur
Anin yang menyaksikan hal itu terkejut karena seorang Faren sampai setega itu dengan temannya sendiri.
"Udah cukup,stop"
teriak Anin
"Tuan,anda bisa tidak sekali saja jangan menjadi seorang detaktor. Saya selalu mengikuti perintah anda bahkan saya tidak bisa menolak semua permintaan anda,sekali ini saja tolong pahami situasinya saya hanya ingin bekerja dengan tenang. Jadi saya mohon sama tuan jangan pernah libatkan perasaan di kantor ataupun di luar kantor,karena sampai kapanpun jika memang anda mempunyai perasaan kepada saya itu hanya akan bertepuk sebelah tangan"
__ADS_1
ucap Anin yang kemudian pergi meninggalkan mereka
Keesokan paginya saat Anin hendak berangkat ke kantor,Diego menghampirinya. Ia berusaha meminta maaf atas kejadian semalam dan mencoba untuk sedikit menghiburnya.
"Anin"
"Iya Diego,ada apa?"
"Soal semalam aku minta maaf ya,aku gak tahu kalau semuanya bakal seperti ini"
"Iya,aku juga minta maaf karena aku dinner kita jadi berantakan"
"Oh ya Nin,sore ini aku akan terbang ke Cirebon mungkin sebelum kamu pulang kantor aku sudah berangkat"
"Kamu hati-hati ya,jaga kesehatan,jaga diri maaf aku gak bisa antar kamu"
"Iya kamu juga,kalau ada apa-apa atau butuh bantuan jangan sungkan buat hubungin aku"
"Iya,kalau gitu aku berangkat ke kantor dulu ya"
"Mau ku antar?"
"Oh ga usah,aku bisa sendiri kok"
"Ya udah,kamu hati-hati ya"
Anin pun melangkah pergi menuju kantor,sesampainya di sana seperti biasa para karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setibanya di ruangan Anin melihat tuan Faren sudah berada di sana
"Pagi tuan"
sapa Anin
"Kamu udah datang"
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Tidak,saya mau bicara sama kamu"
"Anin tunggu"
Anin berhenti sejenak di depan pintu,tuan Faren datang menghampirinya
"Kamu gak lagi berusaha menghindari saya kan?"
"Tugas saya disini hanya menerima perintah dari anda,jika memang tidak ada saya pamit ke belakang"
Tuan Faren menarik tangan Anin dan membuatnya terjatuh ke dalam pelukannya,perlahan ia mencium bibir lembut nan merah itu namun Anin mencoba memberontak
"Tuan Faren,apa yang anda lakukan?"
"Anin kamu tahu kan saya suka sama kamu"
"Maaf tuan saya permisi"
Anin berjalan pergi menuju pantry,ia merasa dirinya sudah tidak bisa lagi menahan itu semua. Rasa sakitnya di remehkan oleh tuan Felix masih terdengar jelas di telinga Anin,namun keberadaan tuan Felix di hadapannya jauh lebih jelas sekarang.
"Om"
"Panggil saya tuan Felix,sekarang kita di kantor bukan di rumah"
"Maaf om,maksud saya tuan Felix"
"Ternyata kamu berani juga ya,bukankah kemarin kamu berjanji untuk tidak menggoda putra saya? tapi tadi baru saja saya lihat kamu justru berani menciumnya"
"Tuan maafkan saya,itu semua hanya salah paham"
"Salah paham? salah paham karena kamu mencoba menyalahkan kalau putra saya yang mencoba untuk menggoda kamu? saya kira kamu perempuan baik-baik tapi ternyata kamu gak jauh beda dari perempuan murahan yang haus akan uang. Jika memang itu yang membuat kamu mendekati anak saya,saya akan berikan lebih banyak asalkan kamu pergi dari kehidupan Faren"
__ADS_1
"Harus bagaimana saya katakan kalau semua yang anda tuduhkan itu tidak benar"
"Sudah tidak usah banyak basa-basi,berapa yang kamu mau supaya kamu meninggalkan kantor ini dan juga melepaskan anak saya"
"Tanpa anda berikan sepeserpun saya akan meninggalkan kantor ini"
ucap Anin dengan mata berkaca-kaca
"Bagus,saya tunggu kamu membuktikan perkataan itu"
Anin pergi menghadap HRD dan memberikan surat pengunduran dirinya,kali ini perkataan tuan Felix sungguh menyakiti hatinya.Setelah selesai ia meminta HRD merahasiakan alasan Anin mengundurkan diri,ia segera berkemas dan pulang setelah jam kantor selesai.
Anin kembali ke kost dengan muka sedih,bu Dewi yang baru saja selesai mengangkat jemuran menyapanya
"Mbak Anin,sudah pulang"
"Iya bu"
"Mbak Anin kenapa? kok mukanya kelihatan sedih gitu? mbak Anin sakit?"
"Enggak kok bu,saya hanya capek saja"
"Oh yasudah,langsung masuk ke kamar saja mandi terus istirahat"
"Iya bu,kalau begitu saya permisi"
"Iya mangga atuh neng"
Anin bingung,harus bagaimana setelah ini. Mata pencarian satu-satunya telah hilang,ia tidak tahu bagaimana lagi harus memutar otak.
Sementara itu Diana melaporkan pada Faren bahwa orang yang menyuruh media menerbitkan artikel itu tak lain tak bukan adalah papinya sendiri,ia merasa marah dan langsung menanyakan alasan tuan Felix melakukan itu semua.
Saat itu tuan Felix,nyonya Mega dan Khloe sedang di ruang keluarga. Tiba-tiba tuan Faren membanting majalah yang berisi artikel itu di meja,sontak nyonya Mega dan yang lainnya terkejut akan hal itu.
"Apa-apaan kamu Faren"
"Papi yang apa-apaan,ini semua apa pi?"
Nyonya Mega mengambil majalah itu dan membacanya,ia sama terkejutnya dengan Faren saat pertama kali membaca artikel itu
"Papi sejak kapan merencanakan ini semua?"
"Sejak Diana mengantarkan Faren pulang malam itu"
"Tapi kenapa papi gak cerita dulu ke mami?"
"Papi tidak mau mami terlalu berfikir akan hal penting semacam ini"
"Kalau papi tahu hal seperti ini penting,kenapa papi gak merundingkan dulu semuanya sama Faren"
"Untuk apa? agar kamu bisa memilih antara Diana dan perempuan itu"
"Aku berhak menentukan siapa pendamping hidup aku pi,harus berapa kali aku bilang kalau aku gak mau kejadian yang sudah berlalu kembali terulang"
"Lagipula Diana cocok dengan kamu,dia smart,business women,beautiful,dan yang terpenting asal usulnya jelas dan latar belakang keluarganya baik"
"Aku gak tahu ya cara papi berfikir itu seperti apa,semuanya harus serba materi,uang dan jalinan bisnis"
"Tentu dong,bukankah hal ini juga menguntungkan untuk kamu?"
"Stop pi,Faren ada Khloe disini"
"Oma,kenapa daddy sama Opa bertengkar?"
tanya Khloe
"Enggak kok sayang daddy sama Opa lagi ngomongin kerjaan,sekarang kita ke kamar yuk"
__ADS_1
"Pokoknya aku gak suka ya pi,papi ikut campur masalah pribadi aku. Cukup dulu pi,cukup dulu papi ikut campur dan ujung-ujungnya berakhir menyakitkan tapi tidak dengan kali ini"
ucap tuan Faren yang kemudian meninggalkan tuan Felix