
Jam makan siang pun telah tiba,Anin dengan semangat turn ke kantin untuk menuntaskan rasa laparnya. Kebetulan pagi tadi ia tidak sempat untuk sarapan,ia memesan gado-gado dan juga jus jambu untuk memperlancar pencernaannya yang akhir-akhir ini bermasalah.
Tiba-tiba saja Diego datang dan duduk di sampingnya,padahal saat itu ada dua teman Anin lainnya yang duduk di meja itu.
"Diego,kamu ngapain disini?"
celetuk Anin
"Kamu sendiri ngapain?"
"Makan"
"Ya udah sama,aku juga mau makan"
"Tapi kan masih banyak meja kosong di sana"
"Aku maunya disini sama kamu"
Seketika Anin merasa canggung terhadap teman-temannya namun hal yang justru lebih mengejutkan adalah dimana tuan Faren datang dan ikut duduk di samping Anin. Kedua teman Anin merasa harus pergi akan kehadiran atasannya itu
"Nin,aku duluan ya"
ucap Hesti salah satu teman Anin di kantor
"Eh tunggu"
saat Anin hendak berdiri tuan Faren justru menarik tangannya
"Tolong lepaskan tuan"
"Kenapa tidak kamu lanjutkan saja makan mu yang?"
"Saya sudah kenyang"
"Kalau begitu temani aku makan disini"
"Bukankah sudah ada Diego tuan?"
Tuan Faren melirik ke arah Diego seperti memberi isyarat agar dia pergi,namun yang terjadi justru Diego enggan pergi dan malah meminta tuan Faren untuk tidak mengganggunya.
"Aku lebih dulu disini Ren,jadi kalau mau pergi ya low pergi aja"
celetuk Diego
Situasi kembali canggung saat para karyawan lainnya menatap Anin seperti wanita yang tidak tahu malu karena berdiri di antara kedua pria tersebut,namun menangapi hal itu Anin justru berfikir santai dan tidak menghiraukannya.
"Baiklah jika kalian bersikeras untuk duduk disini,maka sekarang biarkan aku yang pergi"
ucap Anin sembari meninggalkan tempat itu
Sejak saat itu Anin tidak ingin lagi berurusan dengan mereka berdua selain pekerjaan,pasalnya omongan para karyawan kantor justru makin menjadi-jadi. Ia kadang di juluki sasimo karena menjadi rebutan antara Diego dengan tuan Faren.
Hari ini seperti biasa Anin pulang mengunakan grab,Diego yang kebetulan melintas menawarkan tumpangan untuknya.
"Nin,mau pulang?"
"Iya"
jawab Anin singkat
"Bareng aku aja yok?"
__ADS_1
"Gak usah makasih"
"Udah gak apa,santai saja"
"Beneran gak usah,lagipula aku harus mampir ke suatu tempat"
"Baiklah kalau begitu,sampai jumpa di kost"
ucap Diego yang tidak mendapat respon sama sekali dari Anin
Tak berapa lama grab yang Anin pesan tiba,ia segera pergi menuju stasiun yang ada di kota itu. Ternyata kakak laki-lakinya dari kampung yang bernama Andrew telah mengetahui keberadaannya. Setiba di stasiun Andrew segera menemui Anin yang sudah berada di sana,pria tinggi dengan badan tegap dan berkulit sawo matang menghampirinya.
"Mas Andrew...."
teriak Anin
Mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah karena Anin memutuskan untuk merantau setelah lulus kuliah.
"Ya Allah Anin,kamu sudah dewasa sekarang"
"Iya dong mas,kan sudah dua puluh empat tahun"
"Kamu kesini naik apa?"
"Grab mas,mas sendiri disini kerja atau bagaimana?"
"Iya aku kerja di kantor hukum sebagai arsip Nin"
"Wah syukurlah kalau begitu mas,kata ibu kamu udah lama gak pulang"
"Iya,aku belum dapat cuti. Rencana mau aku kumpulin dulu biar nanti kalau pulang kampung bisa lama. Kamu sendiri kenapa gak pulang? ibu itu rindu sekali sama kamu"
"Bukannya kamu kerja di kantor distributor?"
"Iya dulu,sekarang aku di mutasi ke kantor kontraktor di kota ini"
"Syukurlah semakin lebih baik karir kamu,oh ya malam ini kamu nyuruh mas nginep dimana?"
"Mas,aku kost di kost khusus karyawati jadi gak bisa memberikan mas Andrew tumpangan. Tapi kalau mas Andrew mau nanti mas bisa tidur di hotel dan biar aku yang bayar"
"Gak usah Nin,lagipula mas hanya bercanda kok. Kamu gak usah khawatirkan aku"
"Okay"
"Kalau begitu bagaimana jika sekarang kita nyari makan? mas lapar nih"
"Boleh,Ayuk"
Malam itu Anin merasa bahagia sekali karena setelah sekian lama akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan kakak angkatnya yang begitu menyayanginya seperti adik kandung sendiri. Setelah usai makan,Anin di hantarkan ke kost namun Diego yang sedari tadi sudah menunggunya justru terkejut karena Anin pulang dengan laki-laki lain.
"Jadi ini kost kamu?"
"Iya mas"
"Ya lumayan lah,ya sudah sana kamu masuk lalu istirahat."
"Mas mau nginep dimana?"
"Tuh di depan tikungan kan ada hotel,mas nginep di sana aja"
"Ya udah mas hati-hati ya"
__ADS_1
"Kamu juga"
Anin masuk ke dalam gerbang dan kembali menutupnya,sementara Andrew segera pergi. Diego yang sedari tadi menguping pura-pura sibuk memainkan ponselnya dan seperti tak melihat Anin yang baru saja melintas di sebelahnya.
"Baru pulang Nin?"
celetuk Diego yang mengejutkan Anin
"Astaga Diego,kamu ngapain sih malam-malam disitu?"
"Oh ini lagi nunggu cewek mau nganterin martabak ke aku"
"Oh gitu,ya udah kalau gitu aku masuk duluan ya"
Diego masih tidak menganggap Anin ada,ia tetap cuek sambil memainkan ponselnya. Tetapi begitu pintu kamar Anin di tutup ia justru menatap ke arahnya sinis,entah dia berada di sana sedari tadi karena menunggu Anin atau mengunggu cewek pengantar martabak.
Pagi hari ketika Anin akan berangkat ke kantor,Andrew sudah menunggunya di depan kost kebetulan ia ingin mengantar Anin sembari berpamitan.
"Mas Andrew,kok pagi-pagi begini udah disini sih?"
"Iya,aku sengaja mau nganterin kamu ke kantor sekalian pamitan pulang"
"Mas mau balik ke Bandung hari ini?"
"Iya,kebetulan semalam aku ketemu sama temen aku. Jadi sekalian aja aku bareng dia balik ke Bandung"
"Temen mas? mana?"
"Tuh dia nungguin di mobil"
"Ya udah kalau gitu,gak enak juga kalau di tungguin sama temen mas"
Anin berjalan kaki ke depan gang bersama Andrew,sementara itu dari belakang mobil Diego keluar dari garasi.
"Itu kan si Anin,sama siapa dia pagi-pagi begini"
celetuk Diego
Anin masuk ke dalam mobil dan bertemu dengan teman Andrew yang bernama Rico
"Hay,kamu pasti Anin ya adiknya Andrew"
"Iya"
"Salam kenal ya,aku Rico teman kantor kakak kamu"
"Salam kenal juga,dan makasih udah mau ngasih tumpangan ke aku dan mas Andrew"
"Sama-sama,oh ya Drew low mau sarapan dulu gak?"
"Boleh,kamu pasti belum sarapan kan Nin?"
"Belum mas"
"Ya udah kalau gitu kita mampir ke warung soto langganan aku kalau di Jakarta"
Mereka bertiga melaju pergi,dari belakang Diego membuntutinya namun saat di persimpangan jalan justru mobil yang di tumpangi Anin tidak pergi ke arah kantor. Hal itu membuat Diego semakin penasaran dan ingin membuntutinya namun ia terlanjur belok ke jalan satu arah dan tidak mungkin putar balik di depan.
...Diego...
__ADS_1