CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA

CINTA BEDA USIA SANG DUDA KAYA
EPISODE 16


__ADS_3

Sore ini setelah pulang dari kantor,Diego berencana untuk menjenguk Anin. Ia membawakan buah-buahan dan beberapa cake sebagai buah tangan. Sesampai di sana kedatangan Diego di sambut hangat oleh Anin,mereka mengobrol dan bercanda seperti tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.


"Kamu tahu gak sih Nin,ketika gua denger kamu korban lift trouble gua langsung lari ke bawah menggunakan tangga darurat"


"Segitunya banget"


"Serius,rasanya kek ada sesuatu yang hancur disini"


"Udah deh Diego gak usah mulai drama"


"Andai kamu tahu Nin gimana rasanya di tolak cewek berkali-kali"


"Kamu ganteng gini di Tolak in terus gimana gua? yang gak cantik,,gak kaya,gak modis begini. Siapa yang mau coba?"


"Gua,gua mau kok Nin nerima kamu apa adanya"


"Ga usah mulai drama lagi deh"


Suasana tiba-tiba berubah,Diego memegang tangan Anin dan meletakkannya di pangkuannya. Ia merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya meski Diego sendiri tahu bahwa ada hati lain yang Anin jaga.


"Nin,serius. Sejak pertama aku ketemu kamu ada sesuatu yang beda dalam hati gua,setiap waktu rasanya ingin sekali aku ada di sampingmu. Tapi apakah mungkin kamu memahami dan mengerti perasaanku"


"Die,gua mau ke toilet bentar ya"


ucap Anin mengalihkan pembicaraan


"Tunggu Nin,plis kali ini saja kamu coba ngerti perasaan gua. Gua udah pernah di tolak Diana,kali ini saja gua pengen bisa memiliki kekasih yang memahami keadaanku"


"Die serius ini kenapa jadi canggung banget ya?"


Tiba-tiba tuan Faren masuk ke dalam ruang perawatan Anin dan mengejutkan mereka,Anin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Diego.


"Tuan Faren"


ucap Anin mencoba memperbaiki suasana


"Ada low Di"

__ADS_1


Diego hanya tersenyum kecil sembari membuang muka


"Low bisa gak sih Ren ketuk pintu dulu jika mau masuk?"


"Emang kenapa? terserah gua dong,lagipula ini sudah bukan jam besuk"


"Lalu low ngapain kesini?"


"Dokter barusan telfon kalau Anin udah boleh pulang,jadi gua kesini buat jemput dia"


"Oh bagus dong,kebetulan juga gua disini jadi low gak perlu repot-repot buat nganterin Anin. Biar dia bareng gua aja,kan gua sama dia satu kost"


"Gak perlu,Anin tanggung jawab gua"


"Low ngomongin tanggung jawab ke gua? sedangkan tanggung jawab low ke keluarga aja gak beres-beres"


"Low apaan sih Di,ga usah bawa-bawa urusan keluarga disini"


"Kenapa? bukankah seharusnya low jam segini di rumah nemenin Khael belajar. Kalau low gagal jadi suami setidaknya jangan sampai lah gagal jadi seorang ayah"


teriak tuan Faren yang hampir meluncurkan pukulan ke arah Diego


"Stop,kalian ini apa-apaan sih? ini tuh rumah sakit bukan pengadilan tempat berdebat. Kalau kalian mau berantem sana keluar,ada apa sih sebenarnya sampai cuma masalah kayak gini kalian jadi anak kecil"


"Anin,saya akan antar kamu pulang"


"Gak usah repot-repot tuan,saya sudah pesan grab di bawah"


Anin merasa jika ia terus berada di sana maka pertengkaran itu akan terus berlanjut,ia memutuskan untuk membawa barang-barangnya keluar dan segera turun untuk pulang. Sementara itu Diego mengikutinya dari belakang dan tuan Faren pergi mengurus dokumen administrasi kepulangan Anin.


Anin benar-benar tidak menyangka bahwa Diego dan tuan Faren akan berdebat hingga seperti itu,tak ingin ambil pusing. Sepulangnya dari rumah sakit Anin langsung masuk ke dalam kamarnya,namun tiba-tiba pintunya seperti ada yang mengetuk.


Anin membukanya dan melihat Diego yang tengah berdiri dari balik pintu sembari membawa beberapa barang-barang Anin yang tertinggal di rumah sakit tadi.


"Ada apa?"


"Ini barang-barang kamu ketinggalan"

__ADS_1


"Oh makasih"


"Nin,soal tadi"


"Udah deh Die,gua capek mau istirahat"


"Tapi Nin"


"Low baiknya pulang saja ya"


Anin segera menutup pintu kamarnya dan tak mempedulikan Diego yang entah sudah pergi atau belum,namun tak berselang lama pintu Anin kembali di ketuk. Dengan raut wajah yang capek dan penuh emosi Anin membukanya


"Ada apa lagi sih Die?"


"Mbak Anin...."


ucap perempuan setengah baya yang berada di hadapannya sembari membawa sesuatu


"Maaf ibu siapa ya?"


"Saya Dewi mbak istri pak Khoir"


"Oh ibu kost,maaf bu sebelumnya saya kira tadi teman saya"


"Iya mbak gak apa-apa,ini ibu bawakan bubur dan opor ayam. Saya dengar-dengar mbak Anin kemarin sempat dirawat di rumah sakit"


"Ya ampun bu jadi ngerepotin,makasih banyak ya bu. Iya kemarin sempat di rawat beberapa hari karena kecelakaan kecil"


"Di jaga kondisinya mbak,ibu tuh suka kasian sama anak-anak kost apalagi perantauan seperti mbak Anin ini"


"Sekali lagi makasih loh bu udah perhatian ke saya"


"Sama-sama mbak Anin,kalau begitu saya permisi ya semoga cepat sembuh"


"Iya bu makasih"


Bu Dewi pergi meninggalkan kamar Anin,sementara itu Anin segera masuk dan meletakkan makanan yang di berikan bu Dewi tadi. Tak berselang lama ponselnya berbunyi dan itu adalah panggilan dari tuan Faren. Merasa kesal dengan kejadian di rumah sakit tadi,Anin sengaja tidak menjawabnya dan lebih memilih untuk segera pergi tidur.

__ADS_1


__ADS_2