
Setelah selesai bersiap akhirnya Khael dan tuan Faren turun menemui Anin yang sudah menunggu di ruang tamu,papa dan anak itu sangat bersemangat hanya untuk sekedar makan siang.
"Kita mau lunch apa sayang?"
tanya Faren pada Khael
"Chicken? or Spaghetti?"
"Oke dua-duanya"
"Really dad?"
"Yes really"
"Yeay,aunty Anin suka yang mana?"
"Em spaghetti"
"Do you not like chicken?"
"Em bukannya gak suka,tapi aunty bosen tiap hari makan sate ayam"
"Okey"
Anin,Khloe,dan tuan Faren pergi menuju restauran yang ada di mall daerah itu,mereka menikmati makan siang bersama layaknya keluarga kecil bahagia. Di sela-sela makan Khael meminta perhatian Anin
"Aunty Anin,do you help me?"
"Yes boy? apa yang bisa aunty bantu?"
"Boleh gak Khloe minta di suapi sama aunty?"
"Em boleh dong"
"Khael,kamu kan sudah besar sebaiknya kamu makan sendiri. Lagipula aunty Anin kan juga lagi makan"
"Dad please"
"Udah ga apa-apa tuan,saya bisa kok"
Anin menyuapi Khael yang sangat manja padanya mereka terlihat seperti anak dan ibu kandung,tuan Faren merasa sangat bersalah karena keegoisan dirinya dan mantan istrinya membuat Khael tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang lebih.
Setelah selesai makan Khael meminta kepada tuan Faren untuk mengabadikan kebersamaan mereka itu,dengan senang hati tuan Faren meminta tolong kepada salah satu karyawan untuk mengambil foto mereka bertiga meski sebelumnya Anin sempat menolak.
"Khael,aunty gak biasa foto"
"Please aunty first pic. Khael senang sekali bisa ketemu sama aunty"
"Oke first pic ya"
Akhirnya mereka berfoto bersama,setelah itu secara rahasia Khael meminta kepada tuan Faren agar foto itu di upload ke sosial media. Namun tuan Faren menolak karena tidak ingin membuat Anin merasa privasinya diganggu.
Setelah usai ber swa foto Khael meminta kepada Anin dan tuan Faren untuk membawanya ke tempat bermain,karena mereka tidak bisa menolak permintaan Khael akhirnya mereka menuruti saja. Tak terasa di luar ternyata sudah hampir gelap,tuan Faren meminta pada Khael untuk berhenti bermain dan segera pulang.
__ADS_1
"Khael kita pulang ya,lagi pula kamu sudah seharian main disini"
"Okay dad"
"Anin,kamu sekalian saya antar pulang"
"Gak perlu tuan,saya naik grab saja"
"Udah gak usah nolak"
Akhirnya Anin mengiyakan perintah atasannya itu,selama perjalanan Khael sangat nempel pada Anin bahkan ia tertidur di pangkuan Anin. Sesampai di kost Anin meminta tuan Faren untuk membantunya memindahkan Khael namun karena tingkah jail Khael yang menarik baju papanya membuat tuan Faren jatuh dan hampir memeluk tubuh Anin. Khael tersenyum meski matanya terpejam,keadaan seketika menjadi canggung bahkan detak jantung Anin begitu keras dan mungkin sekarang tuan Faren mendengarnya.
Anin mendorong tuan Faren sehingga menjauh dari tubuhnya,ia meletakkan perlahan Khael yang tertidur di bangku yang ia duduki tadi setelah itu ia baru bisa berdiri.
"Makasih buat hari Nin,saya harap saya dan Khael tidak membuatmu kecewa ataupun kerepotan"
"Sama-sama tuan,tidak sama sekali justru saya merasa senang bisa bermain dengan Khael seharian ini. Kalau begitu saya permisi masuk tuan"
"Iya"
Tuan Faren menunggu Anin sampai masuk ke dalam gerbang,sementara itu Diego yang berada di warung pak Khoir melihat semua itu. Ia merasa sangat marah dan juga kesal karena ia selangkah di belakang Faren.
Malam itu Anin merasa sangat senang karena tak hanya bisa lebih dekat dengan Khael ia juga mendapat teman baru yang seperti sudah ia anggap keponakan sendiri. Setelah selesai beres-beres Anin mendapatkan sebuah pesan dari Fina yang mengatakan bahwa ia meninggalkan buket bunga Lily putih di mejanya,merasa penasaran Anin langsung menghubungi Fina malam itu juga.
"Halo Fin"
"Hay Nin,tumben malem-malem telfon ada apa?"
"Iya,aku taruh kok di meja kamu"
"Dari siapa?"
"Entah,tapi yang jelas kayaknya laki-laki deh"
"Ya masak ada cewek mau ngasih bunga ke cewek sih"
"Iya juga ya"
"Tapi dari siapa?"
"Aku gak tahu,kurirnya juga gak nyebutin pengirimnya"
"Duh kok gini banget sih"
"Hari ini udah dua orang yang ngirimin kamu buket,wah diam-diam kamu punya fans loh Nin"
"Apaan sih Fin,justru kayak gini itu bikin aku parno tahu"
"Ya kan gak apa-apa juga,ruangan kamu jadi makin tambah wangi"
"Udah serasa orang mati tahu gak sih di kirimin bunga gitu,mana bunganya putih lagi"
"Makanya lain kali minta ke si pengirim buat ganti warna"
__ADS_1
"Lah mana aku tahu siapa yang ngirim"
"Tapi yang jelas mawar putih dari tuan Faren bukan"
"Mm,kenapa? kamu mau ngeledek aku lagi?"
"Enggak kok Nin,sensi amat sih. Oh ya dari tadi siang setelah nganterin dokumen low gak balik kantor lagi ya?"
"Enggak,hehehe"
"Wah jangan-jangan low betah di rumah tuan Faren"
"Enggak sih,aku tadi ke sana gak sengaja ketemu sama anaknya Khael"
"Wah beruntung banget low ketemu anak tuan Faren,gua udah lama gak ketemu dia. Dengar-dengar sih sekarang tambah cakep kayak bokap nya"
"Sih dasar,anak kecil aja udah low taksir"
"Yee low belum tahu aja kalau gede dia jadi bibit unggul,eh btw low ngerasa gak sih sikap Diego ke low aneh?"
"Diego? kenapa emang sama dia?"
tanya Anin penasaran
"Masak tadi dia nyuruh gua letakkan buket bunga Lily itu ke meja low,apa jangan-jangan Diego yang ngirim ya?"
"Tunggu-tunggu,Diego ngomong gitu ke low?"
"Iya,kalau low gak percaya besok tanya deh ke Bu Diana"
"Menurut gua sih memang aneh dia,belakangan ini dia sering muncul juga di hadapan aku secara tiba-tiba kek menguntit gitu"
"Nah loh Nin,ada apa nih Diego ke Low?"
"Apaan,gak ada apa-apa kok"
"Tapi kalau dengan tuan Faren ada kan"
"Fin,udahlah malah sampai kemana-mana yasudah makasih ya udah taruh buketnya lain kali kalau gua gak ada buat low aja deh"
"Serius Nin?"
"Iye,yasudah gua tutup dulu ngantuk nih"
"Oke,have a nice dream Nin"
"Iya low juga"
Anin mengakhiri panggilannya dan merenung,sepertinya ia pernah mendapatkan buket yang sama saat di rumah sakit. Oh ya bukankah itu dari Diego,apa kali ini ia mendapatkan juga dari Diego? tapi kenapa?
Gumam Anin dalam hati
Anin tidak ingin berfikir panjang dan menambah beban di otaknya,ia berusaha melupakan semua pertanyaan-pertanyaan itu dari otaknya dan lebih memilih untuk segera tidur.
__ADS_1