
Kemudian setelah bi Minah menatapi wajah Sinta yang begitu khusu menurutnya ketika beribadah, kini dia pun melanjutkan tugas-tugasnya yang harus dia selesai kan.
Dia pun mulai mengambil alat tempurnya, dan Sinta pun mengikuti setiap langkah-langkahnya bi Minah kemana pun dia pergi, sehingga dia merasa geram sama Sinta.
"Neng lebih baik neng itu istirahat, tidak usah ikut-ikutan bibi di dapur. " ujar bi Minah dengan lembut.
"Tidak apa-apa bi, saya juga bosan jika harus seorang diri di kamar, sedangkan bibi dan yang lainnya sedang pada sibuk! "
"Neng ini semua sudah tugas bibi dan yang lainnya, sedang kan neng itu tamu di rumah ini, dan jika ibu mngetahuinya pasti ibu sangat marah sama saya."
"Ya bibi tidak usah memberi tahu ibu, lebih baik bibi ajarkan masak, biar saya pun bisa masak seperti bibi. "
"Oke! baik neng, mari ikutin bibi, dan lihat semua bumbu-bumbu, karena setiap masaknya itu pasti berbeda-beda, tidak ada yang sama! "
"Iya bi saya akan mecermatinya dengan sangat teliti. "
kemudian Sinta pun terus saja memandang setiap bumbu-bumbu yang telah di siapkan oleh bi Minah, bukan dia tidak tahu, dia juga di restaurant sangat mengetahui ini semua, namun masakan di rumah nya kadang memakai bumbu yang berbeda, karena ada yang suka ini dan ada juga yang seperti itu, Sinta pun terus membantu bi Minah memasak, begitu pun dengan dirinya mencoba memasak yang lainnya, sehingga bi Minah pun terkejut dengan masakan Sinta, bi Minah pun mencicipi nya.
__ADS_1
"Wah ternyata neng ini pinter masak ya, enak banget masak neng, ibu sama bapak pasti suka. "
"Masa sih bi, padahal biasa saja menurut saya. "
"Lihat saja nanti jika mereka menyukainya pasti ini enak neng. "
Sinta pun hanya mengangguakan sedikit kepalanya, dan akhirnya mereka berdua pun selesai memasak.
Pagi hari dan cahaya matahari pun sudah menusuk di setiap celah kaca jendela nya, memancarkan dengan sangat cerah.
"Neng semua masakan kita sudah selesai, yuk kita siap-siap, karena setelah kita sarapan akan berangkat menuju rumah sakit. "
Kemudian bi Minah masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan seluruh tubuhnya, begitu pun dengan Sinta Karena dia harus tetap cantik rapi bersih dan wangi, mereka berdua sangat sibuk, dan setelah itu kemudian bi Minah menghubungi pak sopir agar menunggu di depan garasi.
"Neng sudah siap belum? "
"Sudah bi, ni saya sudah rapi.".
__ADS_1
" Kalau begitu, kita berangkat sekarang ya, soalnya takut ke siangan. " karena sudah di tunggu oleh bu merry dan juga pak Tio, karena tadi bi Minah sudah memberi kabar terlebih dahulu, bahwa dirinya akan membawakan makanan untuk sarapan mereka semua.
"Iya baik bi. " sahut Sinta dengan wajah semuringah nya.
kemudian mereka bertiga itu menuju rumah sakit, dan seperti kemarin tak lupa mereka selalu bercanda tawa di dalam mobil itu saling lempar candaan dan juga pak sopir selalu meledek bi Minah, begitupun sebaliknya.
Sinta yang melihat keakraban pak sopir dengan bi Minah, dia pun ikut tertawa karena bersyukur bisa ada di bagian hidup mereka yang penuh dengan kebahagiaan.
Walaupun Sinta baru beberapa hari mengenal mereka, namun rasanya bagaikan sudah lama dan bertahun-tahun, karena melihat kebahagiaan mereka Sinta pun ingin rasanya bisa bersama-sama mereka setiap harinya, tetapi untuk saat ini tidak memungkinkan, karena jika Sinta hidup bersama mereka, nanti akan satu atap dengan Jhon yang saat ini dia hanya menjadi kekasihnya, belum syah menjadi suami istri.
.
.
.
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar nya. Agar menyemangati up lagi.
__ADS_1
TERIMA KASIH