
Setelah sama-sama menyibukan diri sejak tadi di kamar Jhon, Bi Minah pun akhirnya kebingungan entah apa yang harus di perbuat lagi agar tetap bisa mengulur-ulur waktunya agar semakin lama dan selalu menemani Sinta saat di dalam kamar Jhon, dan pada akhirnya dia pun menemukan ide agar bisa cepat keluar.
"Maaf ya, sepertinya aku harus turun dulu deh, soalnya badan ku sudah lengket dan tidak enak, ingin rasanya membersihkan badan dulu. " ujar Sinta kepada Jhon.
Mendengar perkataan Sinta bi Minah pun girang dan berpamitan keluar juga.
"Maaf tuan dan juga Neng bibi pamit dulu karena pekerjaan bibi sudah selesai. " ujar bi Minah sambil melangkah kedua kakinya.
"Iya bi baiklah. " Sahut Sinta masih dalam proses pura-pura tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua, dan Jhon pun ikut merespon namun hanya dengan anggukan kecil saja, dan setelah itu dia pun memperboleh kan Sinta keluar dari kamar itu agar segera membersihkan seluruh badannya.
"Oke baiklah sayang, Terima kasih, karena sudah mengantarkan ku ke kamar dan juga sudah menemani ku. " ujar Jhon dengan tatapan begitu sangat mencintai Sinta dengan sepenuh hati.
" Iya sama-sama, tidak usah berlebihan, karena aku juga ingin mengucapkan berterima kasih, karena kamu telah mengijinkan ku keluar. " sahut Sinta dengan tatapan mulai kosong karena dia merasa semakin hari semakin tidak pantas jika harus ada di sampingnya Jhon.
*****
Mengapa bisa seperti itu karena,
Semenjak hari pertama Sinta menginjakkan kakinya di rumah ini perasaan Sinta memang sudah berubah, karena merasa dirinya itu tidak pantas jika harus mendampingi Jhon sebagai sepasang kekasih, sedangkan perbedaan mereka begitu banyak dan sangat jauh bagaikan bumi dan langit ujar bathin nya Sinta.
Jhon memiliki wajah yang tampan dan sangat Mapan, Dia CEO dan juga punya segalanya pasti setiap keinginan nya itu bisa di beli dengan uang, itu menurut Sinta juga.
Dia pun keturunan anak dari orang kaya raya dan kemewahan yang serba ada, bahkan rumahnya pun bagaikan istana.
Sedangkan dirinya yaitu Sinta dia hanya manusia biasa dan terlahir dari keluarga sederhana, jangan kan kekayaan atau pun hidup bermewah-mewahan dia pun hanya sebagai karyawan di restaurant milik mamah kekasih nya.
Menurutnya saat ini dia tidak pantas lagi untuk Jhon, setelah dia tahu lebih jauh, awalnya dia juga sempat tidak PeDe karena dirinya hanya karyawan biasa, dia saat itu memang sudah mengetahui nya, bahwa Jhon adalah anak dari pemilik restaurant tempat ia bekerja, namun saat itu pemikiran Sinta belum sempat sejauh ini, karena Sinta juga sangat mencintai Jhon, tetapi saat ini pemikiran Sinta sudah mulai sadar, setelah dirinya mengetahui kehidupan Jhon itu penuh dengan kemegahan rumah mewah besar dan di penuhi barang-barang mewah bernilai tinggi, semakin hari dirinya semakin tidak pede jika harus terus menerus ada di samping Jhon.
Kini pemikiran Sinta itu mulai bermunculan di benaknya dan dia pun mulai merasakan ke gundahan setelah tahu siapa Jhon sebenarnya dan mengetahui lebih jauh lagi tentang kehidupannya.
__ADS_1
***
Kemudian Sinta melangkah kan kedua kakinya karena hendak keluar dari kamarnya Jhon, dia memegangi hendel pintu . dan menarik lalu dirinya keluar sambil sedikit melirik tajam ke wajahnya Jhon , lalu menutup pintunya kembali dengan sangat berhati-hati, dan ternyata bi Minah pun masih menunggu dirinya di dekat pintu kamar itu.
"Lah ko bibi Masih disini? " tanya nya karena terheran-heran di buatnya.
"Iya, kan bibi sedang menunggu Eneng. " ujar bi Minah sambil tersenyum kearahnya.
"Terima kasih ya bi, karena bibi sudah menemani saya di kamar nya pak Jhon." Sahut Sinta dengan penuh senyuman pula karena senang bi Minah itu betul-betul menepati janjinya.
" Iya sama-sama neng, Bibi kan sudah berjanji akan selalu ada di saat neng membutuhkan nya. "
"Iya bi, tidak ada lagi yang bisa saya ucapkan selain kata Terima kasih, dan Terima kasih sebanyak-banyaknya. "
"Iya neng, sudah lah tidak usah di bahas terus, yuk kita turun. " ajaknya.
"Baiklah bi . " Sahut Sinta sambil melangkah kan kedua kakinya dan mengikuti setiap langkahnya bi Minah berjalan.
Bi Minah pun menjawab setiap pertanyaan nya dengan baik dan benar tanpa ada yang di tutup-tutupi sedikit pun, dan akhirnya mereka berdua pun sampai di kamarnya.
"Ooh iya bi, saya mau mandi dulu, boleh kan? "
"Tentu saja boleh dong neng, masa bibi melarang neng mandi sih, ada-ada saja neng mah, bikin bibi tertawa geli, abis lucu hahaaaa. " Sahut bi Minah sambil tertawa.
Begitupun sebaliknya dengan Sinta dia pun tertawa seakan-akan tidak ada beban di dalam benaknya, padahal hati dia saat ini sedang gundah gulana, butuh istirahat dan menenangkan hati. untung saja ada bi Minah yang selalu membuat dirinya tertawa.
"Ya sudah bi, kalau begitu saya tinggal dulu ya."
"Iya neng, gih bibi juga mau membersihkan badan, tetapi nanti saja lah jika neng sudah selesai."
__ADS_1
Sinta pun menganggukan sedikit kepalanya dan mulai berjalan menuju kamar mandi.
"Neng Sinta ini lucu banget orang nya, humoris baik, pinter, di ajak bercanda juga bisa, bikin orang ikut ngakak seakan-akan tidak ada beban di dalam qhati nya, tetapi entah lah, saya juga bingung dengan dia, tetapi ketika saya tatap wajahnya ada kesedihan di raut wajahnya dan terlihat juga di bulatan matanya, namun saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya yang sedang dia pikirkan saat ini, ingin saya mengetahuinya namun takut menyinggung perasaannya dan nanti malah dia semakin sakit hati lebih dalam lagi." gumam bi Minah sambil meluruskan tubuhnya di tempat istirahat nya.
Tok.. tok.. tok..
"Siapa?" ujar bi Minah karena terkejut dia sedang bergerutu sendiri dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Saya bi, sahut bi Mumun, boleh saya masuk! "
"Iya masuk lah, ada apa tumben?" tanya nya.
"Seharusnya saya yang bertanya pada bibi, mengapa tadi bibi bergerutu seorang diri, saya pikir bibi sedang bergurau dengan neng Sinta, tetapi dia tidak ada. "
"Ooh neng Sinta, noh lagi di kamar mandi, dia lagi membersihkan badannya karena tidak enak katanya sudah lengket seperti kena lem kayanya." ujar bi Minah sambil menatap dengan bola matanya, seakan-akan menunjukkan bahwa Sinta ada di sana.
"Husstt bibi ini, bercanda mulu, kan saya juga jadi ikutan nimbrung jadinya. "
"Siapa suruh, kan saya gak ajak. " ujar bi Minah sambil tertawa geli.
Mereka ini memang selalu bercanda dan saling lempar kata-kata namun mereka sudah berjanji bahwa bercanda nya itu tidak boleh di masukin ke dalam hati karena itu hanya untuk hiburan Mereka saja, agar bisa tertawa lepas tanpa harus saling menyalahkan ataupun tersakiti karena hari-harinya memang sudah terbiasa seperti itu.
.
.
.
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentarnya, agar author makin semangat up lagi.
__ADS_1
Salam hangat dari CINTA BERBEDA KEYAKINAN.