
Setelah berpamitan, kini Sinta mulai melangkahkan kedua kakinya dengan sangat berat hati, sambil sesekali melirik ke arah bi Minah, disini yang begitu dekat dengannya hanya bi Minah seorang, dengan yang lainnya pun akrab dan dekat, namun tidak seperti dengan bi Minah, karena dia selalu bersamanya dari awal bertemu sampai terakhir di rumah itu, banyak kenangan bersamanya, sering bercanda tawa, di jalan di rumah sakit dan ketika mengerjakan sesuatu di rumah itu, bi Minah begitu baik kepadanya.
Namun sekarang mereka harus berpisah, dengan waktu yang tidak di tentukan, bisa bertemu lagi atau tidak, hanya Allah yang tahu.
Kini Sinta sudah menaiki kendaraan yang sudah di siapkan pak sopir, pintunya sudah di buka kannya, lalu setelah Sinta naik, kemudian di tutup kembali oleh pak sopir, begitu pun dengan Jhon tuannya, semua keperluan dan kebutuhan nya itu sudah di persiapkan oleh pak sopir.
Di dalam mobil, Sinta berdiam tanpa berbicara sepatah kata pun, Jhon melihat raut wajah Sinta begitu menyimpan banyak kesedihan sehingga dirinya memberanikan diri untuk bertanya.
"Hai, ko dari tadi aku perhatikan , kamu diam saja dan kelihatan begitu sedih, bukannya keluar dari rumah itu adalah pilihan mu? '
" Iya aku memang menginginkan ini semua, tetapi entah mengapa begitu berat jika harus berpisah dengan orang baik, terutama bi Minah, dia yang selalu menemani dan menghiburku. "
"Iya saya juga tahu itu, kalian memang Cocok, walaupun baru saling kenal, namun kalian itu sudah akrab seperti sudah saling mengenal lama. "
Pak sopir pun sesekali melirik ke arah Sinta, dan dia tahu betul tentang Sinta dengan bi Minah yang selalu kompak dan bercanda tawa di saat Jhon di rawat di rumah sakit, karena pak sopir ini lah yang Selalu mengantar, dan menjemputnya ketika berangkat dan pulang dari rumah sakit, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut larut dalam kesedihan nya.
"Tetapi ya sudah lah tidak usah di pikirkan lagi, aku pasti kuat dan pasti bisa melewati ini semua. "ujarnya Sinta.
"Nah begitu, semangat dong, tidak usah berlarut-larut di dalam kesedihan, karena hidup masih punya tujuan, dan masa depan. "
"Iya, Terima kasih sudah mengingatkan ku akan hal ini. "
"Iya sama-sama. " sahut Jhon sambil melirik ke arah luar jendela kaca mobilnya, dan sesekali melirik ke arah yang jauh.
kemudian mereka melanjutkan lagi perjalanan dengan tanpa ada suara apapun lagi di dalam mobil itu hening, karena mereka bertiga semuanya berdiam begitu saja setelah obrolan tadi selesai.
Waktu pun terus berjalan, menit dan detik jam terus berputar, sehingga perjalanan pun hampir sampai ke tempat yang mereka tuju.
Dan akhirnya mereka sampai di kantor nya Rian yaitu sahabatnya Jhon.
"Kita sudah sampai, nih kantor nya Rian, yuk kita turun. "ujarnya Jhon sambil menunjukan nya dengan isyarat matanya.
"Iya, sahut Sinta sambil menganggukan sedikit Kepalanya. "
Kemudian mereka berdua pun turun dari mobil yang mereka tumpangi, lalu berjalan dengan perlahan menuju Ruangan Rian, dan ternyata tidak susah untuk masuk ke Ruangannya itu karena memang sudah ada janji, lagi pula Jhon sudah sering dulu ke kantornya Rian, jadi sudah terbiasa dan tidak banyak pertanyaan dari penjaga kantornya itu.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
"Iya masuk. " Sahutnya dari dalam ruangan dan kemudian Jhon masuk terlebih dahulu.
"Iya Terima kasih. "
"Hai bro, akhirnya kita bertemu lagi, bagaimana keadaan mu, apa sudah lebih baik. " tanyanya Rian dengan senang hati.
"Seperti yang loh lihat ini, gua sudah lebih baik, dan sudah bisa berjalan lagi, namun ya gua masih merasa ngilu-ngilu sedikit lah, mungkin wajar saja , karena belum sembuh total. "
"Iya lah , yang sabar aja, nanti juga dengan berjalannya waktu pasti akan sehat seperti semula. "
"Iya, mungkin seperti itu. "
"Ooh iya mana cewek luh yang mau bekerja di kantor gua. "
"Ada, sudah gua ajak lah, mungkin dia masih di luar, sebentar gua panggilkan dulu ya. "
"Oke baiklah. "
Kemudian Jhon keluar dan mencari Sinta, ternyta Sinta di luar sudah menunggunya, namun entah mengapa tadi Jhon tidak langsung membawanya ke dalam, malah berjalan sendiri tanpa memperdulikan Sinta, apa Jhon sengaja biar Rian penasaran.
"Mmmm tetapi Jhon, bagaimana jika dia banyak bertanya, malu lah. "
"Gak lah, dia tidak sekepo itu. "
"Oke baik lah, " Sinta pun mulai berjalan melangkah kan kedua kakinya dengan rasa malu yang tidak karuan, dia berjalan dengan sangat pelan dan gugup mungkin namanya mau bertemu orang baru wajarlah jika seperti itu, dan mengikuti setiap langkahnya Jhon, masuk ke ruangan kantornya Rian.
"Nih kenalin, cewek gua. "
Rian bukannya langsung bersalaman dia malah bengong karena melihat kecantikan nya Sinta.
Cantik banget cewek nya si Jhon ini, ko bisa dia bertemu perempuan secantik ini, gumam bathinnya Rian.
"Rian mau berkenalan tidak," ucapnya Jhon lagi, dan ternyata membuyarkan lamunan Rian.
__ADS_1
"Oke." sahutnya Rian sambil menyodorkan tangannya ke arah Sinta, dan mereka pun berkenalan menyebutkan namanya masing-masing.
"Pokoknya gua titip ya, pekerjakan dia dengan baik dan layak. "
"Oke bro, tidak usah khwatir, lagi pula gua kan sahabat loh mana berani gua memperlakukan cewek loh dengan tidak baik, dan sejahat-jahat nya gua atau sebandel-bandelnya gua, jika sama perempuan tidak pernah aneh-aneh, karena gua juga punya ibu yang harus gua jaga dan di hormatin, begitu pun dengan semua perempuan, gua memperlakukan sama tanpa membeda-bedakannya." Ujar Rian menjelaskan panjang lebar.
"Oke kalau begitu, Terima kasih ya, karena itu gua bawa dia kesini, karena luh itu baik banget yang gua kenal tidak seperti yang lainnya, makanya gua percaya sama loh. "
"Santai aja bro, nanti gua tempatkan pekerjaan yang ringan-ringan saja ya, yang penting dia bekerja kan. "
"Iya sebenarnya gua bisa ngasih jabatan apa pun ke cewek gua di kantor, namun gua takut dia tidak nyaman, nanti malah di kata, mentang-mentang pacarnya di perlakuan sepesial misalkan padahal sama, takutnya malah menimbulkan kecemburuan karyawan lain, dan menjadi masalah buatnya, lalu dia tidak nyaman lagi bekerja di sana, itu doang sih yang ada di pikiran gua. "
"Iya sih, gua ngerti perasaan loh, pokoknya loh tenang saja, gua akan memperlakukan dia sama seperti karyawan lainnya, lagi pula gua tahu betul, jika disini itu baik-baik ko. "
Kemudian Jhon menganggukan Kepala nya.
"Oke, mulai kapan dia bisa bekerja di sini? " tanya nya Jhon lagi.
"Kapan saja bisa, besok juga atau lusa boleh. " sahutnya Rian dengan sopan.
"Oke, Thanks ya, kalau begitu gua pamit dulu, soalnya gua mau mencarikan tempat tinggal yang dekat-dekat Sini saja. "
"Iya sama-sama, santai saja. "
Setelah itu Jhon dan Sinta berpamitan kepada Rian, dan mengucapkan banyak-banyak berterima kasih, dan Jhon keluar dari ruangannya itu meninggalkan Rian seorang diri.
Si Jhon ini ada-ada saja, dia mapan punya segalanya, mengapa cewek secantik dia tidak langsung di nikahi saja, kan sayang jika kelamaan nanti malah di ambil orang. Gumam Rian setelah Jhon dan Sinta keluar dari ruangannya.
Kini Jhon dan Sinta berjalan menuju halaman kantornya Rian, dan dia sudah di tunggu oleh pak sopir, karena memang tadi sudah berpesan jangan pergi kemana-mana karena perjalanan mereka belum selesai, karena masih ada hal yang harus di urusnya dan di selesai kan, yaitu tempat tinggalnya Sinta.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar nya, agar author semangat up lagi.
Salam hangat dan Peluk🤗 Cium😘 dari CINTA BERBEDA KEYAKINAN.