
Setelah semuanya rapi dan kini pak Tio pun datang setelah melunasi pembayaran administrasi terakhir nya Jhon.
"Semua sudah selesai, ayo kita pulang! " ujar pak Tio dengan raut wajah bahagia.
"Akhirnya kita bisa pulang ke rumah lagi. " sahut bu merry dengan tersenyum.
Dan Akhirnya mereka pun pulang, mulai melangkah kan kaki-kakinya satu persatu, namun tidak dengan Sinta, dia terdiam dan termenung karena bingung harus pulang kemana.
Jhon pulang menggunakan kursi roda karena masih banyak yang di rasa, walaupun sudah di ijinkan pulang, namun dia belum pulih 100%.
"Neng ko diam sih, ayoo kita pulang? " ujar bi Minah sambil melirik ke arah nya, dan sontak ucapan bi Minah itu terdengar oleh bu merry.
"T-tetapi bi, Masa saya ikut ke rumah? " sahutnya Sinta dengan nada yang sangat pelan dan gugup karena kebingungan.
"Memangnya mengapa jika kamu ikut pulang ke rumah, ayoo pulang bareng kita?" ujar bu merry
Namun bi Minah, sangat mengerti apa yang di maksud Sinta, dan ingat sama ucapannya yang waktu itu ketika Sinta menginap di rumah bu merry dan yang di minta tinggal oleh bi Mumun dan bi Mimin.
"Begini bu, Mohon maaf sebelumnya, Kemarin neng Sinta pernah bilang, tidak mungkin dia ikut ke rumah, sedangkan tuan muda pun ada di rumah itu, dan tidak mungkin dia mau tinggal satu atap. " ujar bi Minah sambil menundukkan pandangannya.
"Iya-iya saya mengerti, ayo kita pulang dulu, nanti soal ini kita bahas di rumah saja ya? " ujar bu merry sambil mengambil tangan Sinta agar ikut dengannya.
Sinta tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menganggukan kepalanya dengan sangat pelan, dan mulai melangkah kan satu persatu kakinya dengan penuh keraguan di bathinnya.
Masa iya sih aku harus tinggal satu atap dengan Jhon, tidak mungkin aku lakukan ini, memang di sana banyak orang dan kita juga akan tinggal berjauhan dan berbeda kamar, tetapi tetap saja itu namanya tinggal satu atap, tetapi untuk saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan mereka, Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dan di jauhkan dari segala yang buruk ataupun fitnah. gumam Sinta di dalam bathinnya.
"Ayo neng, sedikit cepat melangkah kan kakinya, nanti tertinggal loh." ujar bi Minah membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Iya bi, Terima kasih ya karena tadi bibi ikut membantu menyampaikan unek-unek saya pada ibu. "
"Iya neng sama-sama, begitu doang mah tidak ada apa-apa nya, dari pada neng gak mau ikut pulang, masa mau menginap di rumah sakit lagi." ujar bi Minah menghibur hati Sinta agar tidak terlalu tegang.
"Iya juga ya bi." ujar Sinta dengan nada sedikit tenang.
Kini semuanya sudah sampai lobi rumah sakit, dan pak Tio mengambil mobilnya di parkiran, namun yang ikut di mobil pak Tio hanya bu merry dan juga Jhon, Sinta dan juga Bi Minah dia menaiki mobil yang hendak di kendarai pak sopir.
"Kamu dan juga bi Minah, boleh ko ikut pak sopir , biar kita bertiga di sini, kamu temani bibi saja ya? " ujar bu merry sambil menatap ke arah Sinta.
"Iya bu." Sahut Sinta dengan Lembut.
"Lah ko, mengapa Sinta tidak ikut bareng kita saja, mengapa mamah menyuruhnya menaiki mobil pak sopir. " ujar Jhon dengan nada kebingungan.
"Tidak apa-apa Jhon, mobil pak sopir kan kosong, lagi pula kan ada mamah yang jagain kamu, dan nanti juga pasti kita sampai dalam waktu bersamaan. "
"Ya sudah saya pamit ke mobil yang di kendarain pak sopir ya, Hati-hati di jalan, saya jalan dulu." sahut Sinta berpamitan kepada pak Tio bu merry dan juga Jhon.
"Iya kamu juga hati-hati ya. " sahut Jhon dengan nada sedihnya.
"Sudah tidak usah sedih, lagi pula Sinta masih akan tetap tinggal di rumah kita untuk beberapa saat untuk membantu mengurus kamu. " ujar bu merry keceplosan.
"Benar itu mam, bagaimana caranya, dan jika dia menolaknya bagaimana? tadi saja dia enggan ikut bersama kita? " ujar Jhon dengan nada heran.
"Sudah kamu tenang saja, biar mamah nanti yang akan membujuknya." Sahut bu merry.
"Ayo pah kita jalan. " ujarnya sambil menatap ke arah pak Tio, begitu pun dengan Sinta dan juga bi Minah mereka mulai menaiki mobil yang di kendarai oleh pak sopir dan mulai melaju mengikuti di belakang mobil pak Tio.
__ADS_1
"Neng kamu jangan takut ya, tidak apa-apa mungkin sementara neng akan tinggal di rumah bu merry selama pak Jhon sakit sampai dia sembuh benar-benar sembuh sampai 100% normal lagi seperti semula, nah mungkin selama ini neng suruh menjaga dan merawat pak Jhon, tetapi tenang saja, bibi akan mengikuti setiap langkah neng jika di suruh membantunya di dalam kamar, karena bibi mengerti akan ketakutan neng karena kita sama-sama perempuan, nah jika pak Jhon sudah sehat dengan sempurna baru neng minta pulang atau bagaimana maunya neng. " ujar bi Minah dengan kata-kata yang panjang lebar bagaikan rel kereta api, karena bi Minah begitu menyayangi Sinta dengan sepenuh hati bak ke anak sendiri.
"Iya bi, Terima kasih banyak ya, karena bibi sudah memberi solusi dan akan membantu saya di setiap langkah yang saya lakukan nanti di rumah itu, lagi pula ini bukan kemauan, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa bi. " sahut Sinta dengan nada sedikit sedih.
"Iya sama-sama neng, ya sudah jangan sedih dong, kan ada bibi yang akan membantu neng, karena pekerjaan bibi di rumah tidak begitu berat hanya memasak dan membersihkan dapur, jadi bibi banyak waktu, lagi pula bibi sudah terbiasa menjaga pak Jhon sejak kecil, jadi bibi sudah tahu sipatnya dia dan setiap gerak geriknya, dia sangat baik tidak mungkin dia berbuat yang aneh-aneh lagi pula dia dalam ke adaan sakit seperti ini. "
"Iya sih bi, tetapi namanya saya perempuan tetap saja rasa takut itu ada. "
"Iya, sudah pasti karena bibi juga perempuan dan bisa merasakan nya karena naluri kita sama, namun kita harus ingat ada Allah yang selalu melihat kita, kita berusaha dan selalu berdo'a meminta perlindungan nya."
"Iya bi, Terima kasih atas nasehat nya, nasehat bibi mengingat kan nasehat ibu saya di kampung dia selalu mengingat kan banyak hal untuk kebaikan saya, agar saya bisa selalu bisa menjaga diri dan banyak-banyak berdo'a agar terhindar dari segala hal buruk yang tidak di inginkan. "
"Iya neng, karena itu sudah pasti, kan sama-sama hati seorang ibu, pasti naluri nya sama, ingin yang terbaik buat anaknya. "
Sinta pun menganggukan kepalanya, lalu bi Minah merangkul dan memeluknya.
"Sudah neng tenang saja, ada bibi yang akan mengawasinya, sudah jangan risau lagi ya, karena tidak akan lama, mungkin hanya beberapa hari saja. "
"Iya bi. " sahut Sinta dengan mulai tersenyum lagi karena bujukan bi Minah itu tulus dan memberikan nasehat yang baik-baik yang berjanji akan membantu dirinya nanti ketika di rumah saat menjaga Jhon.
.
.
.
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggal kan jejak like dan komentarnya, agar menyemangati author up lagi.
__ADS_1
TERIMA KASIH.