
Setelah mereka selesai sarapan, mereka masih berbincang-bincang soal apa yang di lakukan Sinta di Rumah bu merry, Bi Minah menceritakan tentang fakta Sinta karena dirinya merasa bangga.
Sinta yang begitu cantik, ternyata mengalahkan hatinya yang lebih baik, karena kebaikan dari hati lah yang lebih berarti di kehidupan manusia, bukan paras saja yang cantik tetapi hati juga harus baik.
"Neng ini bu, dia selain Cantik dia pun rajin dan baik hati, serba bisa, bibi sudah melarang nya tetapi dia tidak menghiraukan perkataan ku, dia selalu saja mengikuti setiap yang bibi kerjakan di rumah. " ujar bi Minah sambil melirik ke arah Sinta.
Namun Sinta tidak berkutik sedikit pun karena malu, dia hanya menatap ke bawah saja, karena tidak berani jika harus menatap ke arah wajah-wajah yang ada di sekeliling nya.
"Masa sih, mengapa kamu lakukan itu, saya menyuruh kalian berdua pulang bukan untuk membersihkan rumah ataupun yang lainnya, saya hanya menyuruh kalian beristirahat di sana. " ujar bu merry sambil menatap ke arah Sinta dan juga bi Minah.
Namun apa lah daya semua itu telah terjadi.
"Saya memang sangat suka dengan orang rajin dan baik hati, tetapi harus lihat situasi dan kondisi, karena kalian harus istirahat yang cukup, baru boleh mengerjakan pekerjaan rumah. " ujar bu merry lagi dengan lembut sambil menatap ke arah bi Minah.
Akhirnya bi Minah pun terdiam tidak bisa berkutik apa-apa lagi, karena memang itu semua faktanya.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu yang hendak masuk ke ruangan itu, dan ternyata yang datang itu perawat dan juga dokter yang akan memeriksa ke adaan Jhon, setelah di priksa kemudian bu merry bertanya kepada dokter itu.
"Bagaimana Dok, keadaan anak saya, apa dia sudah bisa pulang hari ini?" tanya nya bu merry sambil menatap ke arah wajahnya dokter.
"Iya bu, seperti nya keadaan anak ibu sudah lebih baik, dan mungkin bisa di rawat di rumah, namun dia tetap harus ceck -up setiap minggunya, untuk memeriksa setiap lukanya, apa dia sudah kering atau pun belum. "
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Dokter tentang boleh dan sudah bisa pulang, kesedihan di dalam benak Sinta pun terjadi begitu dalam, karena dirinya sangat kebingungan, antara bekerja kembali ke restaurant atau pulang kampung lagi.
__ADS_1
Namun saat ini dia hanya terdiam saja tanpa keluar sepatah kata pun dari bibir tipisnya.
"Syukur lah kalau begitu, saya akan mengurus semua administrasi terakhirnya, supaya anak kita cepat pulang. " ujar pak Tio sambil melangkah kan kedua kakinya.
"Iya pah. " Sahut bu merry yang merasa lega karena Jhon sudah bisa pulang hari ini.
Kemudian bi Minah merapihkan kamar itu, karena takut barang-barang milik bu merry atau Jhon yang tertinggal, bi Minah merapihkan dan membereskan semuanya dengan rapi dan teliti tanpa ada satu barang pun yang tertinggal.
Dan pada akhirnya semuanya telah siap pulang, dan tinggal menunggu kedatangan pak Tio yang sedang melunasi administrasi terakhir nya Jhon yang tadi belum terbayarkan.
lalu ada Jhon yang menatap ke arah wajah Sinta yang kelihatan nya tidak bahagia atas akan kepulangan dirinya ke rumah.
"Hai mengapa wajahmu itu, seperti nya tidak suka dan tidak bahagia mendengar kesembuhan ku, sehingga wajah mu biasa saja? " ujar Jhon sambil membisikan kata-kata itu ke telinganya.
"Masa iya, kamu bahagia, tetapi wajahmu itu biasa saja tanpa ada reaksi sedikit pun. " tanya nya lagi sambil menggoda nya.
"Mmmm lalu aku harus bagaimana, masa aku harus Jingkrak-jingkrak di depan mamah mu, mana mungkin lah karena aku juga punya rasa malu. "
"Ya tidak harus begitu juga, namun exfresi wajahmu yang akan menunjukan itu semua. "
Karena Jhon terus memojokan dengan kata-kata nya itu, akhirnya Sinta pun mengakui kegundahan di dalam benaknya.
"Begini, sebenarnya aku sangat kebingungan, maaf bukan aku tidak bersyukur justru aku sangat bersyukur sekali, karena kamu sudah sehat dan sudah di perbolehkan pulang, namun aku bingung setelah ini harus kemana? "
"Maksud kamu itu apa, mengapa kamu berbicara seperti itu?" tanya balik Jhon yang ikutan sedih pula karena mendengar kegundahan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Iya setelah kamu pulang, apa aku harus kembali bekerja ke restaurant atau harus kembali ke kampung? "
Degghhh...
"Tidak-tidak, aku tidak akan mengijinkan kamu pulang kampung dulu, maaf karena saya tahu persis bagaimana orang-orang kampung akan memandangmu, memang tidak semua nya akan memandang mu dengan tidak baik, tetapi saya tahu persis banyak yang bercerita jika di kampung itu pasti ada saja yang berbicara yang aneh-aneh tentang kehidupan orang lain, masa baru berangkat ke kota beberapa hari dan kini sudah kembali lagi. " ujar Jhon mengingatkan Sinta.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana, tidak mungkin aku ikut dengan mu dan tinggal satu atap dengan mu, sedangkan kita punya hubungan sepesial. "
Jhon pun mengerti dengan ucapan Sinta lalu di berpikir kembali.
"Iya betul juga, ya sudah kita bahas nanti saja ya jika kita sudah sampai di rumah, dan kali saja mamah ku punya solusinya."
"Ok baiklah, tetapi jangan lama-lama ya, pokoknya ketika sampai, harus segera cari solusi nya. "
Kemudian Jhon pun mengiyakan ucapannya Sinta, dan mereka pun mengakhiri percakapan nya ini, karena sebentar lagi akan bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
.
.
.
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar nya, karena untuk menyemangati author up lagi.
TERIMA KASIH.
__ADS_1