Cinta Berbeda Keyakinan

Cinta Berbeda Keyakinan
Sampai


__ADS_3

Bi Minah yang baik hati dan tidak sombong itu, terus saja memberi nasehat kepada Sinta, karena dia menganggap Sinta seperti anaknya, padahal baru kenal beberapa hari ini saja, namun entah mengapa bi Minah sangat menyayangi nya tanpa pamrih.


Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah memang tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan 30 menit saja, namun seperti biasa bi Minah dan pak sopirnya itu selalu membuat Sinta tersenyum dan tertawa geli, karena mereka begitu baik dan humoris, gampang akrab dan mudah kenal.


"Neng cepet nikah saja sama pak bos. " celetuk pak sopir.


"Hussstt pak Roni ini, mmm jangan begitu lah, nanti juga jika sudah saatnya pasti mereka menikah, ya neng." Ujar bi Minah sambil melirik ke arah Sinta.


Sinta hanya berdiam saja tanpa berkutik sedikitpun dan dia hanya menganggukan pembelaan dari bi Minah atas yang di ucapkan oleh pak Roni tadi.


Masa sih aku harus menikah secepat ini, tidak-tidak belum kepikiran tentang hubungan sejauh itu, yang aku pikirkan saat ini masih ingin punya pengalaman dan bekerja, ingin membahagiakan kedua orang tuaku, lagi pula belum cukup umur jika harus menikah saat ini, tetapi entah mengapa setelah mendengar ucapan pak Roni, rasanya hati ini menjadi gundah dan tidak tenang seperti ada yang mengganjal, padahal seharusnya aku bahagia, tetapi ini ko tidak ya. gumam bathinnya Sinta.


"Neng ko jadi terdiam? pasti ini gara-gara ucapan pak Roni tadi ya?. " ujar bi Minah langsung membuyarkan lamunannya.


"Tidak bi tidak, s-saya berdiam hanya memikirkan hal tadi entah bagaimana nanti jika saya harus merawat pak Jhon di rumah nya. " sahut Sinta dengan gugup dan sedikit berbohong karena tidak ingin pak Roni sedih.


"Saya mohon maaf neng, jika perkataan tadi membuat hati neng Sinta menjadi sedih, tadi saya cuman bercanda saja, sekali lagi mohon maaf ya neng. " ucap pak Roni sambil mengendarai mobilnya.


"Tidak pak tidak apa-apa, tadi sudah saya katakan, bahwa saya tidak apa-apa, dan saya hanya memikirkan nanti, bukan itu. " Sinta pun berbohong lagi, karena takut pak Roni di marahi bi Minah, dia berbohong demi kebaikan.


"Makanya lain kali jika berucap jangan terlalu dalam. " ujar bi Minah dengan sedikit sinis kepada pak Roni.


"Iya bi, maaf deh, saya kan bicara sesuai yang ingin saya ucapkan tadi, iya saya salah karena terlalu ingin tahu. " sahut pak Roni karena merasa bersalahnya.


"Sudah-sudah, bibi dan pak Roni kita bicarakan yang lain saja, ko jadi bibi sama pa Roni yang ribut sih, saya aja yang di tanyai tidak marah dan tidak mengapa-apa." sahut Sinta menyembunyikan kesedihan nya itu.

__ADS_1


"Iya neng, maaf kan bibi juga, bibi cuman tidak ingin melihat neng Sinta sedih, itu saja ko. "


"Iya bi saya tahu, Terima kasih atas kebaikan bibi dan pak Roni, kalian berdua begitu baik, padahal kita baru beberapa hari bersama, namun rasanya sudah lama dan akrab. "


"Syukur lah Neng jika seperti itu, bibi merasa senang jika neng merasa nyaman dan dekat degan kita, pokoknya jika ada apa-apa, neng cerita ya ke bibi, insha Allah selama bibi bisa bantu akan berusaha sebisa mungkin bibi bantu neng Sinta. "


"Iya bi, Alhamdulillah bersyukur banget bisa bertemu dengan bibi yang baik dan penyayang, Terima kasih bi. " ujar Sinta sambil memeluk tubuhnya bi Minah.


"Iya neng, bibi juga ikut senang jika neng merasa bersyukur kenal dengan bibi. "


Sinta menganggukkan kepala nya, dan tidak terasa cairan beningnya itu mulai berlinang di kelopak matanya, sehingga terjatuh dan menetes ke pipi putih dan mulusnya itu.


"Neng ko nangis sih, jangan nangis dong, nanti bibi juga ikutan sedih. " ujar bi Minah sambil mengelus punggungnya Sinta.


"Saya tidak sedih bi, justru saya merasa senang, ketika saya jauh dari orang tua, tetapi ada bibi yang menggantikan ibu saya di saya jauh dari dia, jadi saya serasa punya dua ibu. " ujar Sinta sambil menyeka air matanya itu dengan kasar.


"Iya bi. " sahut Sinta sambil terus membersihkan air matanya menggunakan tisu yang sudah tersedia di dalam mobilnya.


Dan tidak lama kemudian, akhirnya mereka pun sampai kepada rumah yang di tuju, bu merry pak Tio dan juga Jhon pun sampai bersamaan karena memang mereka beriringan dari rumah sakitnya tadi, di perjalanan pun mereka tidak terpisah jauh hingga sampai pun tepat waktu dan bareng.


"Alhamdulillah sudah sampai neng, yuk kita turun. "


Sinta termenung sebentar.


"Rumah ini memang megah dan besar, bahkan saking bagusnya membuat aku ketakutan tinggal di rumah ini, entah mengapa hati ini begitu gundah. " gumam bathinnya Sinta sambil melihat ke arah rumah milik bu merry.

__ADS_1


"Neng ayoo." Bi Minah Lagi-lagi membuyarkan lamunan nya.


"Iya ayoo bi. " Sahut Sinta dengan nada pura-pura bahagia, karena tidak ingin bi Minah ikut sedih akibat dirinya.


Kemudian semuanya turun, dari mobilnya masing-masing, pak Tio memegangi kursi roda nya Jhon, begitu pun dengan yang lainnya, ikut membantu nya, sehingga Jhon kini bisa duduk di kursi roda miliknya, sebetulnya keadaan Jhon sudah lebih baik, namun bu merry yang ketakutan dan merasa kasihan, sehingga Jhon untuk sementara harus memakai kursi roda sampai lukanya benar-benar pulih dan normal lagi seperti sebelumnya.


Sinta yang mendorong kursi rodanya Jhon dengan pura-pura tenang, walaupun dalam hatinya masih menyimpan rasa gundah dan ketakutan.


"Terima kasih ya, sudah membantu ku. " ujar Jhon sambil tersenyum.


"Iya sama-sama. " sahut Sinta dengan suara pelannya.


Mereka pun terus saja berjalan sehingga sampai ke dalam rumah besar dan mewahnya itu, yang bak istana raja, itu menurut Sinta, karena mungkin Yang Sinta tahu dia hanya tinggal di rumah sederhana, namun hidup mereka selalu rukun dan apa adanya.


"Jangan lupa, setelah istirahat nanti tolong bicarakan soal yang tadi ya?" Bisikan Sinta kepada telinga Jhon.


"Ok baik lah, tetapi jika mamah misalkan meminta untuk sementara waktu kamu tinggal di sini, kamu jangan kecewa ya, tolong harap di mak'lum. " ujar Jhon dengan rasa tidak enak menyampaikan itu.


"Iya tidak apa-apa jika memang tidak di perbolehkan pulang saat ini. " Sahut Sinta dengan sedikit tenang karena tadi dia sudah tahu dan dapat nasehat dari bi Minah, dan pasti akan mendapatkan jawaban seperti itu.


.


.


.

__ADS_1


.


Mohon dukungannya, jangan lupa tinggal kan jejak like dan komentarnya, agar author makin semangat up lagi.


__ADS_2