Cinta Berbeda Keyakinan

Cinta Berbeda Keyakinan
Kamar Jhon.


__ADS_3

Setelah Sinta sampai kedalam rumah milik bu merry, Dan juga sudah ada di dalam rumah itu, namun Jhon, dia meminta di antarkan menuju kamar miliknya yang ada di lantai 2.


Pak Tio dan juga yang lainnya ikut membantu memegangi dan memampang dirinya dengan sangat berhati-hati agar bisa menaiki tangga yang lumayan tinggi dan sedikit berliku, sehingga usaha mereka membawakan hasil, akhirnya Jhon sampai di lantai dua dengan selamat dan baik-baik saja tanpa terkena gesekan lukanya, namun dia harus tetap memakai kursi roda untuk menuju kamarnya, sehingga bu merry menyuruh Sinta mengantarkan nya ke dalam kamar milik Jhon.


"Sinta Tolong antarkan Jhon ke kamarnya ya? karena saya hendak membersihkan badan dulu, sudah tidak enak nih berasa lengket-lengket begitu bak makanan basi. " ucapnya sambil tertawa karena sedikit bercanda.


Degggh... Sinta terkejut ketika mendengar perkataan bu merry yang meminta dirinya mengantar Jhon ke kamarnya.


"Iya baik bu, akan saya antarkan. " Sahut Sinta dengan sigap karena tidak enak jika menolak, walaupun di dalam hatinya ada niatan ingin sekali menolak permintaan bu merry itu tentang mengantar Jhon ke dalam kamarnya.


Sepertinya saat ini aku sedang membutuhkan bantuan bu Minah nih, sebelum sampai dan masuk ke dalam kamar Mudah-mudahan saja dia sudah sampai ke sini, kalau begitu pelan-pelan saja aku mendorong kursi roda milik Jhon ini, sambil menunggu kedatangan bi Minah, gumam bathinnya Sinta.


"Sayang itu kamar ku. " ujar Jhon sambil menunjuk ke arah pintu yang ber cat putih cerah dan dominant dengan warna merah di kusennya, dan melekat ke panel pintunya sangat cocok. Sinta pun langsung terkejut sehingga dia membuyarkan lamunannya itu.


"Iya baik lah, akan aku antarkan kesana! " sahut Sinta dengan tangan sebelahya merogoh-rogoh tas nya, karena hendak mengambil benda pipih miliknya di dalam tas kecil mungil cuman berisi ponsel dan juga dompet.


"Sebentar ya sayang, seperti nya ponsel ku bergetar nih, jika tidak di lihat takutnya ada hal penting . " ujar Sinta mencari-cari alasan berbohong demi kebaikan.


"Iya, lihat lah dulu, siapa tahu sangat penting. " sahut Jhon dengan tanpa rasa curiga sedikitpun.


kemudian Sinta mengetik...


"Assalamu'alaikum, mohon maaf bi jika mengganggu waktunya, Saya saat ini sedang berada di lantai dua, dan pak Jhon meminta ku untuk mengantarkan ke kamarnya, saya tidak berani takut jika harus masuk berdua, jika bibi tidak sibuk atau pun tidak ada pekerjaan lebih penting, tolong bibi naik ke atas dan temani saya, Terima kasih. " Centang dua langsung terkirim ke nomor ponsel bi Minah.


"Siapa sih, baru juga sampai kamar dan mau merebahkan badan dulu sejenak sudah ada saja yang mengganggu? " ujar bi Minah sambil mengambil benda pipih miliknya, kemudian dia langsung melihat layar ponsel nya itu dan tertulis ada pesan Chat Whatsapp dari yang bernama Neng Sinta.

__ADS_1


"Waduh ada apa nih? " Sambil membuka pesan kemudian membacanya dengan seksama, ooh walah jadi Neng Sinta sedang membutuhkan bantuan ku saat ini, dan alasan apa yang harus aku buat agar bisa memasuki kamarnya.


"Baik neng bibi pasti datang, sabar ya! " balasan pesan dari bi Minah, kemudian Sinta pun langsung membuka pesan singkat nya itu.


"Alhamdulillah Terima kasih bibi, karena bibi selalu ada dan siap membantu saya. "ujarnya dan di kirim lagi ke pesan singkat nya itu.


Kemudian bi Minah melirik ke arah tempat dimana meja setrikaan rekannya itu, dan ternyata masih ada baju Jhon yang belum sempat di masukan ke dalam lomari miliknya, karena selama dia di rumah sakit, baju Jhon belum sempat bi Minah antarkan ke kamarnya.


"Saya punya ide, itu kan baju tuan muda, iya itu alasan saya agar bisa menemani neng Sinta di kamarnya, bi Minah sigap mengambil baju yang ada di keranjang warna merah, yang khusus untuk baju Jhon saja, kemudian dia langsung berjalan dan menaiki tangga menuju lantai dua."


Kemudian di atas sana ada Sinta yang terus melirik ke arah belakang menunggu kedatangan bi Minah, ya bi Minah udah sigap dari bawah, tetapi tahu sendiri kan rumah nya begitu luas dan besar, sehingga untuk sampai di lantai dua itu membutuhkan waktu beberapa menit.


"Mana bi Minah ko belum terlihat juga, mengapa dia belum sampai kesini padahal dia tadi sudah membalas chatnya, apa dia mencari ide atau apa lah, alasan agar bisa sampai di sini , gerutu bathinnya Sinta.


Sedangkan pintu kamar Jhon sudah semakin dekat dan sudah terlihat jelas tinggal Beberapa langkah lagi sampai ke kamarnya itu.


"Oke kita sudah sampai ya? " Sahut Sinta dengan nada sedikit gundah karena menunggu bi Minah yang tidak kunjung di hadapan nya.


Sinta mulai memegangi hendel pintu kamarnya Jhon, dia dengan sangat pelan dan berhati-hati, kemudian terbuka lah pintu itu, lalu Sinta melanjutkan mendorong kursi roda yang di duduki pemiliknya, dan akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar mewah nan besar itu sehingga membuat Sinta gugup dan tidak bisa berkata-kata lagi.


Ini seakan-akan bukan kenyataan yang aku hadapi saat ini, selain ini hanya mimpi ku di siang bolong, seumur hidupku baru kali ini melihat kamar sebesar dan semewah ini, tidak ku sangka hidupku bisa menginjakkan kaki di tempat seperti ini, tidak pernah sedikit pun terbayang kan dalam hidupku sebelumnya, bahwa aku bisa memasuki ruangan semegah ini, gerutu bathinnya Sinta lagi.


Tok.. tok.. tok..


Suara orang mengetuk pintu kamar milik Jhon.

__ADS_1


"Tuan muda, maaf mengganggu, saya bi Minah hendak menyimpan baju. " Ujar bi Minah.


"Iya masuk saja bi. " sahut Jhon dengan nada santainya.


Alhamdulillah akhirnya bibi datang juga. gumam bathinnya Sinta sambil mengelus dadanya yang sejak tadi merasa gundah, kini Sinta pun sudah mulai sedikit lega dan tentang.


Kemudian bi Minah pun langsung masuk tanpa basa basi lagi.


"Eh ada neng Sinta, maaf ya neng bibi ganggu. " ujar bi Minah agar tuanya itu tidak mencurigai dirinya yang hendak menemani Sinta.


"Iya bi, tidak apa-apa, sahut Sinta dengan nada bahagia karena bersyukur ternyata bi Minah itu bisa di ajak kompromi oleh keadaan.


Bi Minah pun melebarkan bibirnya senyum kepada Sinta seolah-olah tidak ada apa-apa di antara mereka berdua.


Begitu pun dengan Sinta dia sangat mengerti dengan isyarat nya bi Minah, karena memang mereka sudah berjanji ketika di dalam mobil saat pulang dari rumah sakit tadi.


Sinta sibuk dengan membenahkan badan Jhon yang meminta bantuan dirinya hendak pindah dari kursi roda ke tempat membaringkan badannya sekaligus tempat tidur miliknya, begitu pun dengan bi Minah dia juga sibuk pura-pura merapihkan baju tuanya, padahal cuman beberapa saja, namun di olah alih agar menjadi lama dan pura-pura sibuk di hadapan tuannya , dia melakukan itu bukan semata-mata tanpa alasan, tetapi karena ingin menemani Sinta.


.


.


.


Mohon dukungannya, jangan lupa tinggal kan jejak like dan komentarnya, agar menyemangati author up lagi.

__ADS_1


Salam hangat dari CINTA BERBEDA KEYAKINAN.


__ADS_2