
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, dan kini Jhon pun sudah bisa berjalan dan menuruni setiap anak tangga,walaupun masih meminta bantuan dari yang lainnya, namun kini keadaan Jhon sudah lebih baik, dan lukanya sudah sembuh 95% , namun masih sedikit jinjit, tetapi sudah tidak memakai kursi roda lagi.
Sinta pun sarapan berdampingan dengan nya karena memang itu permintaan Jhon, awalnya memang Sinta enggan dan menolak nya namun Jhon tetap membujuknya karena akan membicarakan pekerjaan dan juga karena akan berpamitan, Jhon terus membujuknya dan akhirnya Sinta pun tidak dapat menolak ajakan Jhon.
Pagi hari, mentari pagi menyinari dengan sangat indah, dan telah menusuk di celah-celah kaca jendela, tiada kata yang pantas di ucapkan selain kata Alhamdulillah dan bersyukur atas nik'mat yang telah Allah berikan kepada seluruh mahkluk yang ada di muka bumi ini, karena di pagi hari ini masih bisa menikmati indahnya matahari yang begitu cerah.
Sarapan di mulai, semuanya sudah berkumpul, dan satu persatu mulai mengambil makanan lalu memasukannya ke dalam mulut nya masing-masing tanpa ragu, dan tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya makanan yang ada di meja itu habis dengan sempurna.
Kini yang mulai membuka pembicaraan yaitu Jhon Cristian anak dari bu merry dan juga pak Tio.
"Selamat pagi semua, sebelumnya saya mohon maaf, karena pagi ini akan ada yang berpamitan dari rumah ini. "
Seketika ruangan itu menjadi hening semuanya memandangi mata Jhon dengan tajam dan penuh dengan pertanyaan, hanya bi Minah seorang yang sudah tahu soal ini namun dia bungkam enggan berbicara sepatah kata pun karena masih menyimpan kesedihan di dalam lubuk hatinya.
"Maksud kamu apa? " ujar bu merry dengan nada sedikit tinggi.
"Begini mam, hari ini Sinta akan berpamitan dari rumah ini, karena dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. "
"Dimana Sinta akan mulai bekerja? "ujarnya dengan nada terkejut.
"Di kantor Rian, kemarin aku sudah menghubungi nya, dan dia berkata oke bisa di usahakan pasti ada lowongan. "
"Mengapa tidak di pekerjakan di kantor kamu saja, kalian juga kan bisa bertemu setiap harinya. "
"Tidak mam, karena Jhon lebih ke perasaan nya Sinta, takut Dia tidak nyaman. "
"Ya kalau begitu mengapa kamu malah dia carikan pekerjaan, mengapa dia tidak bekerja lagi di restaurant mamah? "
"Tidak mah, Jhon ingin Sinta mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan lebih layak lagi baginya. "
"Kamu ini Jhon, perempuan sudah ada di rumah ini, ko malah di keluarin lagi. " Ujar pak Tio menyelutuk dengan jujur dan apa adanya."
"Maksud papah apa? " Sahut Jhon dengan heran.
__ADS_1
"Iya, perempuan sudah ada di depan mata, dan sudah ada di dekat mu, bukannya di nikahin ko malah di keluarin lagi. " ujar pak Tio
"Iya sih pah, Jhon juga sebenarnya punya sepemikiran yang sama, namun Sinta belum siap, karena usianya dia belum cukup umur untuk menikah. " alasan nya Jhon saja.
"Betulkah itu nak Sinta. " tanyanya sambil menoleh ke arah Sinta.
Namun Sinta tidak berbicara banyak, dia hanya menganggukan sedikit kepalanya lalu mengiyakannya, hanya itu sahutnya Sinta.
Sebenarnya bukan itu saja alasannya Sinta, tetapi tidak mungkin dia akan menjalin rumah tangga tinggal satu atap tetapi tidak se iman atau berbeda keyakinan dengan suaminya, dengan melihat keluarganya begitu mewah dan serba berkecukupan tidak mungkin dia akan mengalah yang ada nanti Sinta yang harus seperti nya, malah itu yang sekarang ada dipikirannya Sinta.
Dan akhirnya mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdiam kembali mengheningkan susana nya di meja makan.
Namun Jhon terus menjelaskan akan hubungan nya dengan Sinta.
"Iya pah yang sabar ya, tunggu waktu yang pas dulu, baru Jhon dengan Sinta akan membicarakan tentang pernikahan. "
"Usia mu sudah cukup umur Jhon untuk menikah, bahkan hidupmu sudah mapan, lalu apa lagi yang kau tunda, mamah sudah tidak sabar nih ingin segera menggendong cucu, dan ingin segera bermain dengan cucu mamah. " ujar bu merry menyerobot perkataan nya pak Tio.
"Ya sudah mah pah, Jhon mau mengantarkan Sinta dulu ke kantornya Rian, masalah ini lain kali saja kita bahasnya lagi. "
"Iya, jika itu sudah keputusan mu mamah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jangan lama-lama memikirkan hal ini, karena lebih cepat lebih baik, pokoknya secepatnya kabari mamah agar mamah sama papah segera bisa mempersiapkan pernikahan kalian berdua. "
Lagi-lagi Sinta di buat semakin tidak nyaman ada di dalam rumah ini, ingin rasanya secepatnya keluar dan meninggalkan mereka, namun apa daya Sinta menunggu kepastian dari Jhon, karena sesudah masuk ke rumah ini semuanya tergantung dia, namun untung saja Jhon mengerti perasaan nya Sinta dengan sigap ia akan segera berangkat menuju kantor nya Rian dan juga akan mencarikan Sinta tempat tinggal untuk sementara.
"Karena jam sudah menunjukan pukul 07:30, yuk kita segera siap-siap." ujarnya kepada Sinta, karena dia pun ingin segera keluar dari rumah ini, akhirnya Sinta dengan cepat merespon apa yang Jhon katakan.
"Iya ayo, Permisi semuanya saya hendak mengambil tas dulu di kamar bibi. " ujar Sinta sambil berdiri.
"Iya silahkan, sahut bu merry sambil memandangi Sinta dengan penuh harap agar Sinta membatalkan pekerjaan nya itu supaya dirinya mau kembali ke restaurant miliknya.
" Sudah neng duduk saja biar bibi yang mengambilkan tasnya. "ujar bi Minah sambil melangkah kan kedua kakinya.
"Terima kasih bi, tetapi tidak usah saya juga bisa sendiri, saya sudah terlalu banyak merepotkan bibi selama saya ada disini. " sahut Sinta sambil mengikuti setiap langkah-langkah nya bi Minah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa neng, bibi sangat senang ko, dan tidak merasa di repotkan sedikit pun, apa neng yakin akan keluar dari rumah ini sekarang? " tanyanya lagi, mungkin masih terasa tidak percaya akan kepergian Sinta.
"Iya bi, maafkan saya ya, sebenarnya saya juga berat meninggalkan bibi yang begitu baik dan penyayang, namun untuk saat ini tidak mungkin saya tinggal disini terus. "
"Iya baik neng, Mudah-mudahan suatau saat nanti kita akan bertemu lagi. "
"Iya bi Insha Allah, asalkan kita sehat dan di beri umur yang panjang, insha Allah pasti kita akan bertemu lagi. " lalu mereka berdua mengaamiinkannya.
Mereka pun akhirnya berpelukan di kamar nya itu, dan di ikuti oleh cairan bening mengikuti setiap ucapan perpisahan nya, dan tidak lama kemudian mereka pun melepaskan pelukan itu dengan sangat pelan, rasanya tidak ingin berpisah, namun waktu semakin siang, dan sudah di tunggu di ruang tamu, karena akan berpamitan dengan yang lainnya, kemudian Sinta mulai berjalan dan di dampingi oleh bi Minah sambil menarik kopernya Sinta, dan sesekali bi Minah melirik ke arah Sinta dengan tatapan yang begitu menyedihkan, sehingga cairan beningnya itu ikut jatuh juga.
Setelah sampai depan rumah, yang lainnya pun sudah menunggu dan berjejer di depan pintu, karena akan melihat kepergian Sinta.
Dan Sinta mulai berpamitan, pertama kepada bu merry, dia memeluk dan mencium Sinta dengan erat dan mengucapkan Terima kasih sebesar-besarnya karena dia waktu itu sudah bersedia datang ke jakarta ketika Jhon mengalami kecelakaan, begitu pun dengan Sinta dia pun mengucapkan banyak-banyak berterima kasih, karena kebaikan bu merry selama ini, di susul berpamitan kepada pak Tio, Sinta bersalaman dan mencium tangannya, dan seterusnya berpamitan dengan bi Mumun dan Bi Mimin mereka memeluk Sinta begitu erat, dan di penuhi dengan cairan bening mengalir di pelukan nya itu, yang terakhir dengan bi Minah, Sinta Sangat erat memeluk bi Minah begitu pun sebaliknya, tangisannya pun semakin menjadi seakan-akan tidak dapat di pisahkan, namun dengan berjalannya waktu akhirnya Sinta dengan bi Minah pun memecahkan pelukannya itu dengan sangat berat hati.
Jhon memandangi peristiwa ini dengan sangat terharu, bahkan tidak terasa cairan bening miliknya pun ikut mengenangi kelopak matanya, dan tidak terasa akhirnya terjatuh pula dengan tidak sengaja.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Sinta melambaikan tangan nya , begitupun dengan sebaliknya, mereka begitu sedih akan kepergian Sinta karena mereka semua berharap bahwa Sinta tinggal bersama selama-lama nya, namun takdir berkata lain tidak mungkin saat ini Sinta tinggal bersama mereka sedang kan dalam satu rumah itu ada kekasih hatinya yaitu anak dari pemilik rumah itu.
Mereka begitu sedih dengan perpisahan ini, karena mungkin mereka sudah akrab apa lagi bi Minah dia sudah sangat dekat dengan Sinta bahkan sudah menganggapnya bak anak kandungnya, namun tiba-tiba kini mereka harus berpisah lagi, dan entah ini berpisah selamanya atau hanya sementara, kita lanjutkan nanti saja ceritanya.
BERSAMBUNG.
.
.
.
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar nya, agar author makin semangat up lagi.
Salam hangat dan peluk🤗 cium😘 dari
CINTA BERBEDA KEYAKINAN.
__ADS_1