
Sagara terkejut mendengar ucapan sang ayah. Ia pun mendekat dan bersujud di depan sang ayah, Sagara memegang kaki Darel.
"Yah, maafkan Gara. Gara akui, Gara salah. Maaf, Yah! Gara memang bodoh karena menerima tawaran taruhan itu dari Marvin. Gara mohon maafin Gara, Yah!" mohon Sagara seraya menangis.
Safira kembali mengeluarkan air matanya, bahkan saat ini wanita itu tengah terisak menangisi putranya yang mengemis maaf dari suaminya.
Sedangkan Darel sendiri enggan menatap ke arah Sagara. Jujur saja kalau sebenarnya ia pun tidak tega dengan apa yang telah dilakukannya terhadap sang anak. Darel tidak bergeming, membuat Sagara kembali memohon.
Pegawai dealer hanya diam dan menunduk, mereka yang tidak tahu apa-apa pun merasa sedikit bersalah. Walaupun mereka tidak melakukan kesalahan, mereka datang membawa motor pesanan pun sesuai dengan perintah dari atasan mereka. Salah satu dari pegawai tersebut mencoba memberanikan diri untuk berbicara.
"Maaf, Pak! sebenarnya kami tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kami mohon sangat untuk segera dipermudah pekerjaan kami. Karena kami juga harus mengantarkan dua motor lagi ke tempat lain," ucap pegawai tersebut.
Darel menatap tajam pada pegawai yang bicara tadi, pegawai itu pun kesulitan menelan salivanya. Namun ia pasrah apapun yang terjadi, karena pikir pegawai itu mau bagaimanapun juga mereka tidak salah dan tidak ada hubungannya dengan masalah yang telah Sagara buat.
"Minggir!" bentak Darel seraya mendorong tubuh Sagara, dan membuat pria muda itu kembali terjatuh.
"Sebaiknya kamu urus motor barumu itu," Darel kembali berucap sebelum ia masuk ke dalam.
Saga masih menangis dengan menundukkan kepalanya. Lalu ia memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya, Sagara melihat ke arah sang bunda. Wajah wanita yang sangat dicintainya menatap dirinya dengan penuh kekecewaan. Saga mencoba bangun dan mendekat ke arah sang bunda.
Namun dengan cepat Safira langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hati Sagar mencelos saat melihat orang yang sangat ia sayangi enggan melihat dirinya.
"Bunda," lirih Sagara.
Safira mengusap air matanya dengan kasar. "Ayahmu benar, sebaiknya kamu urus motor hasil taruhanmu itu."
Sagara tergugu saat sang bunda meninggalkannya begitu saja. Sagara merasakan sesak dalam hatinya, inikah balasan atas perlakuannya terhadap Vesha. Ini juga kah balasan dari apa yang sudah dilakukannya kepada kedua orang tuanya, yaitu berbohong mengenai taruhan ini.
Saga menyesal, sungguh sangat menyesal telah menyakiti kedua orang tuanya dan juga Vesha. Sagara membalikkan tubuhnya menghadap ke dua pegawai dealer tersebut.
"Kalian bawa saja motornya kembali, aku akan memberitahukan hal ini pada Tuan kalian," ucap Sagara yang membuat kedua pegawai tersebut bingung.
"Tapi,"
"Tidak apa, tolong bawa kembali motor itu ke dealer kalian," pinta Sagara kedua kalinya pada pegawai itu.
"Eum, baiklah kalau begitu. Kami permisi!" jawab ragu salah satu pegawai dealer itu.
Kedua pegawai tersebut nampak saling melirik dan memilih berlalu meninggalkan rumah kedua orang tua Sagara.
__ADS_1
Sagara masuk ke dalam dan berjalan dengan langkah gontai. Di ruang tamu Sagara kembali terdiam saat dua pasang mata menatap dirinya dengan tatapan kecewa dan terkesan dingin juga tajam.
"Tindakan bagus, itu artinya kau masih memiliki hati nurani," ujar Darel dengan suara terkesan ketus dan sinis.
Sagara hanya dia menundukkan kepalanya. Pria muda itu tidak ingin kembali mencari masalah dengan kedua orang tuanya lagi. Bukannya Sagara tidak bisa hidup mandiri, hanya saja rasa sayangnya terhadap sang bunda begitu besar. Hingga dirinya tidak mampu untuk meninggalkan dan membuat sang bunda jatuh sakit karena dirinya.
"Temui Vesha dan kedua orang tuanya, minta maaflah kepadanya," titah Darel yang masih berdiri menatap tajam pada putra semata wayangnya itu.
Sagara memberanikan menatap kedua orang tuanya. "Iya, Ayah. Aku akan segera pergi ke rumah Om Adam," jawab Sagara seraya menganggukkan kepalanya.
"Bersiaplah! kita akan kesana sekarang,"
Saga kembali tertegun mendengar perintah Darel. Saga pikir dirinya harus pergi ke rumah Vesha sendirian, tetapi nyatanya tidak. Kedua orang taunya malah mengajaknya untuk pergi bersama.
Darel dan Safira terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mereka. Lalu disusul Sagara yang kembali ke kamar, ia ingin mandi terlebih dahulu.
Sementara itu Marvin dibuat bingung oleh tingkah Sagara yang mengembalikkan motor yang sudah dijanjikannya saat taruhan dibuat. Pegawainya menghubunginya dan mengatakan kalau Sagara meminta motor tersebut dikembalikan. Namun, pegawai tersebut tidak menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumah Sagara.
"Ada apa dengan anak itu? Ini benar-benar membagongkan," keluh Marvin.
Dahi Marvin berkerut, seakan dirinya sedang berpikir atas apa yang terjadi dengan Sagara akhir-akhir ini.
Tidak lama Marvin pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak mungkin. Seorang Sagara mana mungkin secepat itu sadar atas kesalahan yang telah diperbuatnya,"
Di rumah Vesha, gadis itu sedang duduk termenung di tepi kasur dalam kamarnya. Tatapannya terlihat begitu sendu saat menatap sebuah kotak di hadapannya. Tangannya sedikit bergetar saat meraih sebuah foto dimana dirinya sedang bersama Sagara.
Satu tetes bulir bening jatuh tanpa permisi, tangannya terulur mengusap pipinya dengan kasar. Isakan tangisnya pun mulai terdengar memenuhi ruang kamarnya.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku, Ga?" lirihnya.
"Aku sangat mencintaimu. Bohong kalau aku bisa melupakanmu, Ga. Setiap hari kita bertemu, dan melihatmu bersama Aurel itu semakin membuatku tersiksa. Aku masih sangat mencintaimu, aku tidak bisa melupakanmu."
"Aku tidak sekuat itu untuk menerima semuanya, Ga. Nggak semudah itu melupakan cintaku kepadamu. Cukup lama aku mencintaimu, dan menjaga hatiku hanya untukmu. Aku nggak kuat begini terus, Ga. Aku nggak kuat,"
Tangis Vesha semakin pecah, seandainya ada orang yang mendengar tangisan gadis itu. Mungkin saja orang itu pun merasakan sakit seperti apa yang saat ini Vesha rasakan. Karena suara tangisnya terdengar begitu pilu.
"Aku mencintaimu, tetapi rasa sakit ini sulit aku lupakan," Vesha berkata begitu lirih dengan iringan isakan yang begitu menyayat hati.
*
__ADS_1
Hari pun semakin cepat berlalu, tidak terasa kini sudah menjelang siang. Mobil Darel berhenti tepat di samping pintu gerbang rumah sahabatnya. Mereka bertiga turun dari mobil tersebut. Saga menatap rumah yang terlihat begitu nyaman, tidak besar tetapi mampu menarik perhatian setia orang yang melihatnya.
Darel masuk terlebih dahulu dengan sang istri, Saga mengekor di belakang keduanya. Sebelumnya memang Darel sudah memberitahukan pada Adam kalau mereka bertiga akan datang berkunjung ke rumahnya. Adam pun menyetujui dan menyambut hangat keinginan sahabatnya itu.
Bagaimanapun juga Adam masih menghargai Darel dan Safira sebagai sahabatnya. Hubungan Darel dan Adam sudah terjalin cukup lama sejak mereka duduk di bangku kuliah dulu. Sedangkan Safira, adalah sahabat kecil Adam. Diantara ketiganya sempat terjadi cinta segitiga, namun saat Vita hadir semuanya telah berubah.
Bisa dikatakan kisah mereka dulu sangatlah rumit, Safira sempat merasakan cinta bertepuk sebelah tangan pada Adam yang nyatanya sangat mencintai Vita yang bukan lain cinta pertamanya. Namun Darel selalu ada untuk terus berusaha mendapatkan cinta Safira. Hingga akhirnya wanita itu menyerah dan mengubur cintanya pada Adam.
Mereka semua sudah berkumpul dan duduk saling berhadapan di ruang tamu. Vesha duduk di sebelah Vita, sejak tadi gadis itu hanya diam dan menatap ke bawah. Sementara itu Sagara sesekali mencuri pandangan pada gadis itu. Adam pun berdehem guna mencairkan suasana. Darel pun menghela nafasnya, dan kembali menatap ketiga orang yang ada di seberangnya.
"Jadi kedatangan aku dan Safira kesini ingin meluruskan sesuatu yang sempat membuat hubungan kita sedikit merenggang," ujar Darel sebagai pembuka.
Darel pun sedikit menoleh ke arah Sagara dan memberi kode pada putranya itu. Sagara mengangguk dan sedikit membenarkan posisi duduknya.
"Sebenarnya kedatangan Saya kesini, untuk meminta maaf kepada Om dan Tante. Terutama kepada Vesha," kata Sagara.
"Sha, aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu," sambung Sagara.
Vesha yang sejak tadi hanya menatap ke bawah, kini memberanikan dirinya untuk menatap pria yang sangat dicintainya dan juga telah menorehkan luka di hatinya. Alis Vesha berkerut menatap Sagara yang sedang menatapnya dengan tatapan nanar.
Adam dan Vita pun menoleh ke arah putri mereka. Sayangnya tatapan Vesha kembali menatap ke sembarang arah. Vita menggenggam tangan putrinya seakan sedang memberi ketenangan pada putrinya. Vesha menatap tangan Vita yang menggenggam tangannya.
"Sayang," panggil Vita pada putrinya dengan lembut.
Vesha menatap mata teduh sang mama. Lalu ia pun tersenyum tipis. Kemudian gadis itu mengalihkan tatapannya ke arah pria yang masih bertahta di dalam hatinya. Vesha masih mengulas senyum tipisnya, saat hendak mengucapkan kata tiba-tiba saja Saga ingin berbicara berdua dengan dirinya.
"Bisakah kita bicara berdua, Sha?" tanya Saga seakan memohon pada gadis itu.
Rahang Vesha terbuka, lalu gadis itu menatap Adam dan Vita secara bergantian. Adam sedikit mengangguk, memberi izin pada putrinya. Begitupun juga dengan Vita, wanita itu mengangguk seperti suaminya.
Vesha kembali menatap Sagara. "Kita bicara di ruang tengah saja," ajak Vesha.
Sagara tersenyum, setidaknya dirinya masih diberi lampu hijau oleh Vesha untuk berbicara dengannya. Vesha pun berdiri dan berjalan terlebih dahulu, dan disusul oleh Sagara yang mengekor di belakangnya. Saga tersenyum saat menatap punggung Vesha, ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu. Namun dirinya harus menahan diri mengingat dirinya sedang dalam pengawasan kedua orang tua Vesha dan juga kedua orang tuanya.
Vesha duduk di sofa yang menghadap televisi, sofa itu hanya ada satu di sana. Mau tidak mau Saga duduk di sebelah Vesha. Rasa canggung melanda keduanya, bahkan saat ini Vesha sedang terlihat sangat gugup. Terbukti dari dirinya yang sedang meremas jemarinya.
"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, Sha. Maaf karena sudah menorehkan luka di hati kamu, dan menjadikanmu bahan taruhan dalam menerima cintamu. Jujur aku sangat menyesal atas perbuatanku itu," kata Sagara mengulang kembali permintaan maafnya terhadap Vesha.
Sagara menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Maukah kamu memaafkan aku, Sha?" tanya Sagara terdengar tulus.
__ADS_1