
Kedua orang tua Vesha mengajak semuanya untuk makan siang di sebuah restoran. Adam mengatakan kalau dirinya sudah mereservasi ruang VIP untuk merayakan hari kelulusan anak-anak.
Rezeki tidak boleh ditolak, pasukan kura-kura ninja pun tidak menolak sama sekali. Mereka sangat senang karena menghabiskan waktu bersama dengan orang tua mereka dan juga para sahabat.
Mereka menggunakan mobil masing-masing, terkecuali Chandra. Chandra dan sang ibu ikut mobil Marvin, mereka sudah cukup dekat satu sama lain. Begitu pula dengan orang tua mereka.
Disinilah mereka saat ini, di ruang VIP sebuah restoran yang sudah menyajikan makanan khas nusantara yang mampu menggugah selera.
Pintu ruang VIP kembali terbuka setelah pramusaji membawakan makanan untuk mereka. Semua mata tertuju pada sosok yang sedang membawa satu buket bunga, uang dan juga coklat.
Vesha langsung berdiri saat melihat sosok pria yang sejak tadi sedang dipikirkannya. Pria itu tersenyum manis pada Vesha. Sebagian dari mereka bertanya-tanya siapa sosok pria itu, tidak terkecuali kedua orang tua Vesha juga kedua orang Sagara. Bahkan Shena menatap bingung pada pria yang sudah berdiri di dekat Vesha.
"K-kamu datang, bukankah kamu sedang sibuk?" tanya Vesha
"Aku harus datang, karena ini adalah hari spesial calon istriku. Benar begitu Ma, Pa?" jawab Bryan seraya mengedipkan satu matanya ke arah Adam dan Vita.
Adam dan Vita hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. Sedangkan Vesha merasa sangat kesal telah dibohongi.
"Jadi kamu membohongiku?" selidik Vesha.
Bryan tertawa kecil. "Aku tidak membohongimu, hanya sedang ingin memberi kejutan kecil untukmu. Aku ucapkan selamat atas kelulusanmu," ungkap Bryan seraya menyodorkan buket bunga dan coklat pada Vesha.
Vesha mengulum senyumnya dan mengambil buket bunga dan coklat tersebut. Gadis itu nampak melebarkan senyumnya.
"Terima kasih," jawab Vesha.
Bryan masih tersenyum pun merentangkan kedua tangannya. "Peluk," pintanya.
Vesha tidak menjawab ia hanya mengangguk dan tersenyum. Bryan pun langsung menarik tubuh Vesha ke dalam pelukannya. Semua yang melihat hanya bisa tersenyum, terkecuali Sagara yang saat ini sedang mengepalkan kedua tangannya menahan rasa kesal dan cemburunya.
"Ini nggak bisa dibiarin. Bagaimanapun juga Vesha harus balik sama aku," gumam Sagara dalam hatinya.
Disisi lain, Chandra hanya bisa menatap sendu dan mencoba menahan dirinya. Dirinya harus bisa belajar ikhlas menerima kenyataan kalau Vesha sudah ada yang punya.
Bryan mengecup kening Vesha dan membuat gadis itu terkejut dengan tindakan Bryan.
"Sudah, sebaiknya kalian berdua duduk. Nanti bisa kalian lanjutkan kembali di rumah. Kami sudah sangat lapar," ucap Adam memberi instruksi pada Bryan dan Vesha.
Bryan dan Vesha tersenyum. "Iya, Pa." jawab keduanya.
Bryan membantu Vesha untuk duduk, Shena yang tadinya duduk di sebelah Vesha pun berinisiatif untuk pindah.
"Emm, sebaiknya aku pindah saja," ucapnya seraya tersenyum kaku.
Bryan merasa tidak enak. "Eh, tidak usah. Kamu tetap disini saja," ucap Bryan.
__ADS_1
"Tidak apa, dimanapun sama saja. Lagi pula aku tidak ingin mengganggu kedekatan kalian," jawab Shena sedikit menyindir Vesha.
Shena pun menepuk lengan Bryan. "Duduklah!"
Shena berdiri dan menatap tajam ke arah Vesha, lalu ia menunduk mendekati Vesha. "Kamu punya hutang penjelasan sama aku," bisik Shena sebelum ia berlalu dan duduk di antara Marvin dan Chandra.
Vesha hanya tersenyum tipis melihat tingkah Shena. Bryan pun duduk di sebelah Vesha. Mereka pun memulai makan bersama.
Beberapa menit berlalu, makan siang pun selesai. Kini mereka sedang berbincang-bincang. Mike yang sejak tadi memperhatikan Bryan pun memulai beberapa pertanyaan pada pria itu.
"Sepertinya wajahmu itu sangat tidak asing, Nak. Terlihat sangat familiar bagiku," ujar Mike seraya terus memperhatikan Bryan.
Adam, Vita dan Vesha saling melirik. Lalu ketiganya pun melirik ke arah Bryan yang saat ini sedang tersenyum dengan wajah tenang.
"Bukankah manusia di bumi ini memiliki satu hingga tujuh kembaran yang tidak sedarah, Om. Sebab itu mungkin saja wajahku ini mirip dengan orang yang pernah Om kenal," jawab Bryan yang masih tersenyum.
"Ah, iya. Kamu benar, mungkin saja aku salah." ucap Mike seraya tertawa kecil.
Vesha dan kedua orang tuanya memang tidak memberitahukan siapa Bryan yang sebenarnya pada semuanya. Ya, kedua orang tua Vesha sudah tahu siapa Bryan dan dari keluar mana dirinya berasal.
Karena setelah kejadian Vesha yang ingin diculik oleh orang suruhan Aurel. Bryan dan Devan datang kerumah Vesha sambil membawa sang pengacara.
Malam itu tidak sengaja sang pengacara menyebutkan nama lengkap Bryan. Membuat Adam dan Vita saling melirik dan menatap curiga pada Bryan.
Dengan sangat terpaksa Bryan mengatakan pada kedua orang tua Vesha mengenai dirinya. Adam dan Vita sangat terkejut, mereka bahkan tidak menyangka kalau pewaris pertama dari keluarga Heinzee ada di rumah mereka dan sekarang dekat dengan putri mereka.
Kembali ke ruang VIP di restoran mewah itu. Suasana di sana masih sangat harmonis, mereka terkadang membahas pekerjaan dan bisnis juga.
"Setelah ini, kalian akan melanjutkan kuliah S2 atau bekerja?" tanya Darel pada Vesha dan yang lainnya.
"Kalau saya sudah pasti menjadi dokter, Om." celetuk Shena.
Semuanya tertawa kecil mendengar jawaban Shena. Membuat gadis itu mengerutkan dahinya.
Shena menaikkan satu alisnya. "Apakah Ada yang salah?" tanya Shena yang bingung.
Darel menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang salah, kami juga tahu kalau kamu seorang dokter, Nak." jawab Darel sambil tertawa kecil.
Shena tersenyum tipis dan menunduk, sepertinya dia agak malu karena menjawab seperti itu. Marvin mengulum senyumnya saat melihat wajah merona Shena.
"Bagaimana dengan kamu, Nak?" tanya Darel kembali, namun kali ini tatapannya tertuju pada Vesha.
Vesha tersenyum. "Bekerja, Om. Karena aku sudah melamar pekerjaan di sebuah perusahaan," jawab Vesha.
"Oh, ya? Dimana?" tanya Darel.
__ADS_1
"Eum, di perusahaan Heinzee Corp." jawab Vesha.
Semuanya terkejut, tidak terkecuali kedua orang tua Vesha dan Bryan. Ya, Bryan lah yang meminta Vesha untuk menjadi sekretarisnya nanti.
"Wah, bukankah itu perusahaan cukup besar di Indonesia. Bahkan sangat sulit masuk ke perusahaan itu," cetus Darel.
"Benar," Mike membenarkan apa yang diucapkan Darel.
"Doakan saja, agar Vesha langsung diterima di perusahaan itu." ujar Adam.
"Tentu, kita semua selalu mendoakan apapun yang terbaik untuk anak-anak kita," jawab Darel.
*
Waktu terus berlalu, sidang untuk kasus Aurel pun digelar. Semuanya hadir, seperti biasa Bryan selalu menemani Vesha dari sidang pertama hingga akhir.
Setelah hakim membacakan semua keputusan dan memukul palu. Aurel dijerat hukum selama kurang lebih 5 tahun penjara. Setelah mendengar keputusan dari hakim, Aurel pun dibawa ke sel tahanan.
Sebelum itu Vesha dan Sagara berdiri bersisian dengan Bryan menatap ke arah Aurel yang sedang dituntun untuk keluar dari ruang sidang.
Aurel menatap ke arah Vesha dan Sagara. "Maafkan aku," ucap Aurel terdengar lirih sebelum dirinya kembali dibawa oleh petugas kepolisian.
Vesha menatap nanar kepergian Aurel, namun tidak dengan Sagara. Pria itu langsung pergi begitu saja dan meninggalkan Vesha bersama Bryan. Bryan pun langsung membawa Vesha keluar dari ruangan tersebut.
"Kita pulang?" tanya Bryan.
Vesha mengangguk dan tidak menjawab. Bryan yang masih menggenggam tangan Vesha terus membawa gadis itu ke arah parkir mobil. Sedangkan Sagara, entah kemana perginya pria itu.
Bryan mengajak Vesha untuk kembali ke rumahnya. Bryan izin untuk pergi, karena hari ini dirinya ada pertemuan dengan klien.
Sepeninggalnya Bryan dari rumah Vesha. Ponsel gadis itu berdering dan menandakan sebuah pesan masuk dari Sagara.
Vesha pun keluar rumahnya untuk memastikan kalau pria itu benar-benar ada di luar rumahnya. Benar saja, pria itu memang ada di depan rumahnya.
"Gara," Vesha memanggilnya sambil menghampiri pria itu.
Sagara pun membuka helmnya. "Aku ingin mengajakmu ke taman. Kamu mau?" tanya Sagara.
Vesha nampak ragu, tetapi gadis itu dapat melihat sesuatu dari tatapan Sagara. Vesha merasa kalau saat ini Sagara sedang membutuhkan teman untuk bicara.
Vesha mengangguk. "Tunggu sebentar, aku kunci pintu dulu." jawab Vesha.
Setelah mengunci Vesha pun kembali menghampiri Sagara.
"Ayo,"
__ADS_1
Setelah meyakinkan Vesha sudah naik ke atas motornya. Sagara pun segera melajukan kendaraannya menuju taman yang dijanjikan olehnya.