
Sagara mengerjapkan matanya perlahan, rasa pusing masih menyerang kepalanya. Ia mengernyitkan dahinya saat merasakan adanya pergerakan di sebelahnya. Sagara segera membuka matanya lebar dengan sorot mata memicing ke arah sosok asing di sebelahnya.
Sosok wanita berambut panjang sedang memunggunginya. Bahu wanita itu bergetar, isakan tangis pun tertangkap indra pendengaran Sagara.
Sagara merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala sandaran tempat tidur. Tangannya terulur menyentuh punggung yang masih bergetar itu.
"H-Hei," ucap Sagara saat menyentuh punggung wanita itu.
Wanita itu pun sedikit menegang saat tangan Sagara menyentuh punggungnya yang polos. Sentuhan kulit mereka mampu membuat tubuh mereka meremang. Sagara langsung menarik tangannya saat merasakan hal tersebut.
Wanita itu pun perlahan menoleh ke arah Sagara. Betapa terkejutnya Sagara saat mengetahui siapa wanita itu.
"A-Aruna," Sagara membeku saat melihat wanita itu.
"Ga," lirih Aruna di sela isakan tangisnya.
Sagara stagnan, ia membeku melihat Aruna yang terlihat sangat kacau. Sagara masih mencerna apa yang terjadi dengan dirinya dan juga Aruna.
"A-apa yang terjadi pada kita, Na?" tanya Sagara dengan rasa gugup dan takut.
Aruna masih terdiam dan semakin terisak. Rasa sakit dalam hatinya dan juga sakit disekujur tubuhnya membuat wanita itu tidak bisa berkomentar apapun soal kejadian mereka.
Aruna menggelengkan kepalanya pelan. Sagara langsung memejamkan matanya dan menjambak rambutnya, sungguh ia sangat frustasi saat ini. Aruna semakin menangis histeris memeluk tubuhnya sendiri. Sagara semakin merasa bersalah karena ia telah menodai wanita itu.
"Na, maafkan aku!" lirih Sagara.
Aruna masih terisak, tangisnya terdengar pilu. Ingin rasanya Sagara memeluk wanita itu, namun segera diurungkan olehnya. Sagara takut kalau Aruna akan trauma dan takut dengan dirinya.
"A-aku sudah tidak suci lagi, Ga."
[Deg…]
Hati Sagara mencelos mendengar ucapan Aruna yang terdengar begitu menyesakkan dada. Tanpa ragu lagi, Sagara pun meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Aku takut, Ga… aku takut!"
"Ssstt, tenanglah!"
Sagara berusaha menenangkan Aruna yang terus menangis. Walau sebenarnya ia pun juga sedang merasakan takut.
"Tenanglah, Na! Aku akan mempertanggung jawabkan kejadian ini. Maafkan aku!"
Sagara tidak tahu apakah yang diucapkannya itu tepat atau tidak, bahkan dirinya saja masih bingung apa yang harus dilakukannya. Aruna semakin terisak di dalam pelukan Sagara. Sagara kembali mengeratkan pelukannya, cukup lama Aruna menangis terisak. Hingga akhirnya, wanita itu tertidur dalam dekapan Sagara karena lelah menangis.
Deru nafas teratur Aruna, membuat Sagara merenggangkan pelukannya. Perlahan ia merebahkan kembali tubuh wanita itu. Saat mencoba merebahkan tubuh Aruna, tatapan mata Sagara tertuju pada bercak merah yang sudah mengering menempel di sprei putih itu. Ditatapnya wajah Aruna, tangan Sagara menyibak helaian rambut yang menutupi wajah cantik Aruna.
Seketika itu juga Sagara terpesona saat memperhatikan wajah Aruna. Sorot matanya semakin intens saat memperhatikan mata sembab Aruna. Rasa bersalah pun semakin menjadi-jadi dalam diri pria itu.
"Sekali lagi aku minta maaf padamu, Na. Aku akan mencari tahu bagaimana kita bisa berada dalam posisi seperti ini. Setelah ini aku akan mempertanggung jawabkan atas semua tindakanku yang telah merenggut kesucianmu," gumam Sagara seraya mengusap lembut kening Aruna.
Sagara tersenyum tipis mengingat dirinya lah yang menjadi orang pertama yang merenggut kewanitaan Aruna. Sagara sudah bertekad dalam dirinya, apapun dan siapapun dalang dari kejadian ini. Dia akan tetap bersyukur dan yakin akan mempertahankan Aruna.
Sagara langsung bergegas bangun dan memakai celana boxernya. Ia mencoba mencari ponselnya di saku celana, namun tidak ditemukan. Matanya menjelajah ke seluruh ruangan, mencari benda pipih tersebut.
Sagara segera menghubungi Marvin, ia yakin Marvin bisa membantunya memecahkan masalahnya. Disela Sagara sibuk berbincang dengan Marvin, tiba-tiba saja ponsel Aruna berbunyi. Sagara segera mengakhiri sambungan teleponnya pada Marvin, dan mengatakan kalau malam ini ia sangat ingin bertemu dengan pria itu.
__ADS_1
Setelah mengakhiri sambungan telepon, Sagara mencari ponsel Aruna. Sayangnya ponsel itu tidak berbunyi lagi, membuat Sagara kesulitan mencarinya. Akhirnya Sagara berinisiatif mencari ke dalam tas kecil milik Aruna.
Sagara meraih ponsel Aruna yang masih berada di dalam tas wanita itu. Ponsel itu pun kembali berbunyi, sebuah nama yang sangat ia kenal berada di layar ponsel Aruna.
"Tuan Justin," Sagara meremas rambutnya.
Ingin rasanya ia membangunkan Aruna, namun ia merasa kasihan dengan wanita itu. Ia tahu kalau Aruna sedang sangat lelah. Akhirnya sagara memilih menonaktifkan ponsel Aruna dan memilih untuk membersihkan dirinya.
Berkali-kali Sagara merutuki dirinya, ia tahu kalau Aruna bukan wanita biasa. Setelah ini ia akan berurusan dengan keluarga yang cukup terpandang. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
Sagara segera memakai pakaiannya kembali setelah selesai membersihkan dirinya. Perutnya mulai terasa sangat lapar, ia melirik jam tangan yang baru saja dipakai olehnya.
"Pantas saja aku lapar ini sudah jam 11 siang," gumamnya.
Lalu Sagara menoleh ke arah Aruna yang masih terlelap. Ia menghela nafasnya, sepertinya ia harus memesan pelayanan hotel saja. Setelah memesan pelayanan hotel, Sagara memilih membangunkan Aruna. Namun baru saja menggoyangkan punggung Aruna, bel kamar berbunyi. Dahi sagara pun berkerut, ia heran kenapa secepat itu pesanan makanannya datang.
Sagara memilih membuka pintu kamar hotel tanpa melihat dari lubang pintu siapa yang datang. Sagara membulatkan matanya saat melihat sosok pria yang baru saja ia pikirkan tadi ada di depannya.
"T-Tuan Justin," gumam Sagara.
Pria itu memberi tatapan tajamnya pada Sagara. Lalu Justin pun mendorong tubuh Sagara, dan membuat tubuh pria itu terhuyung ke belakang. Beruntung ada tembok, hingga Sagara tidak terjungkal ke belakang.
"Dimana Aruna," bentak Justin.
Tanpa memikirkan apa yang terjadi pada Sagara, Justin langsung masuk dan pandangannya langsung tertuju pada sosok Aruna yang baru saja membuka matanya. Justin terlihat begitu terkejut, begitupun juga dengan Aruna.
"Aruna," ucap Justin seraya mengeraskan rahangnya.
"K-Kak Justin,"
Degup jantung Aruna semakin memompa kuat. Ia sangat takut dengan tatapan Justin yang terlihat sangat marah terhadapnya. Justin mengepalkan kedua tangannya tanpa berbasa basi lagi ia pun langsung menghampiri Sagara dan memukul wajah pria itu.
Sagara yang belum siap menerima pukulan itu pun akhirnya terjatuh. Berkali-kali Justin memukul wajah Sagara. Aruna hanya bisa berteriak dan menangis saat melihat apa yang dilakukan oleh kakak sepupunya itu pada Sagara.
"Justin," pekik Richard yang baru saja tiba di kamar tersebut.
Sandra dan Aaram pun juga ikut menyusul. Mereka terkejut saat melihat Justin membabi buta Sagara. Sandra langsung menghampiri Aruna dan memeluk wanita itu yang masih menangis histeris.
Richard dan Aaram berhasil menjauhkan Justin dari Sagara. Aaram membantu Sagara bangun dan membantu memapahnya untuk duduk di sofa.
"Tahan emosimu, Justin!" bentak Richard.
"Pria brengsek ini harus diberi pelajaran," pekik Justin yang terus memberontak pada tangan Richard yang menahannya.
"Kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik. Jangan asal main pukul saja!" Richard berusaha menahan amarahnya.
Walau sebenarnya ia juga sangat ingin marah pada Sagara, apalagi saat tadi melihat Aruna menangis dan berteriak minta Justin untuk menghentikan pukulannya pada Sagara. Namun Richard harus menahannya.
Justin melepaskan kuncian dari Richard dengan paksa. Richard harus tetap waspada agar Justin tidak kembali menghajar Sagara.
Richard melihat ke arah Sandra yang masih memeluk Aruna. Ia pun memberi kode pada wanita itu, Sandra pun mengangguk paham. Ia tahu apa yang dimaksudkan oleh saudara tirinya itu.
Sandra membantu Aruna untuk membersihkan diri. Sandra begitu prihatin atas apa yang terjadi pada Aruna. Walaupun mereka tidak sedarah, tapi Sandra tahu rasanya seperti apa.
Di dalam kamar mandi, Sandra begitu telaten membantu membersihkan tubuh Aruna. Sandra menelisik seluruh tubuh Aruna, dan disana ia tidak menemukan satupun luka akibat kekerasan.
__ADS_1
"Na, jawab jujur pertanyaan Kakak. Apakah kamu diperkosa oleh pria itu?" tanya Sandra dengan sangat hati-hati.
Aruna menggelengkan kepalanya. "T-tidak, Kak! bahkan kami berdua juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kami setelah…," jawab jujur Aruna yang tergagap.
Dahi Sandra berkerut, lalu ia dengan cepat memegang kedua bahu Aruna. "Setelah apa? Coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu dan pria itu semalam,"
Aruna menunduk takut, ia meremas ujung handuk kimononya. "S-semalam a-aku dan Gara.."
Setelah keduanya menerima minuman dari salah satu pelayan. Entah kenapa Aruna merasakan aneh pada tubuhnya, begitupun juga Sagara. Aruna yang merasa sangat tidak enak badan, minta Sagara untuk mengantarkannya ke kamar hotel yang sudah direservasi oleh Richard untuk dirinya.
Saat tiba di lantai kamar hotel Aruna, merasakan tubuhnya semakin panas. Sagara pun juga merasakannya, tetapi pria itu berusaha untuk menahannya.
Aruna semakin tidak berdaya, ia pun melihat Sagara dengan tatapan sendu. Sentuhan tangan Sagara membuat tubuh Aruna semakin meremang. Keduanya sama-sama membutuhkan sentuhan lebih, hingga entah siapa yang memulai. Akhirnya Sagara mencium dan ******* bibir Aruna.
Ciuman mereka semakin panas, saat pintu kamar terbuka Sagara dengan cepat melepaskan pakaian yang dikenakan Aruna. Begitupun dengan wanita itu yang tidak sabaran ingin menyentuh perut sixpack milik Sagara. Adegan panas diranjang pun terjadi, sebenarnya mereka sadar atas apa yang terjadi. Pikiran mereka ingin rasanya menolak, akan tetapi tubuh mereka tidak mampu menolak.
Aruna terisak kembali mengingat kebodohan yang dilakukannya. Sandra memejamkan matanya dan merangkul adik angkatnya itu.
"Sudah, tenanglah. Jangan menangis dan menyesali semua yang terjadi. Kita akan bicarakan hal ini pada pria itu dan juga kedua orang tuanya. Bagaimanapun juga pria itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian lakukan," bisik Sandra sambil mengusap punggung Aruna.
Sementara itu Justin masih menatap nyalang ke arah Sagara. Richard memijat pelipisnya, tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pusing. Mereka juga sudah mendengar penjelasan dari Sagara. Tidak lama pintu kamar mandi pun terbuka. Sandra membantu Aruna berjalan dan duduk di tepi ranjang.
Sagara melihat Aruna yang sangat kacau, ia semakin merasa bersalah pada wanita itu. Sagara memaki dirinya, seharusnya ia bisa menahannya. Tetapi semuanya sudah terlanjur.
"Sepertinya kita harus menyelidiki apa yang terjadi pada mereka," cetus Sandra.
Semua perhatian tertuju pada wanita itu. Sandra paham apa yang mereka pikirkan.
"Ini tidak normal, Aruna sudah menceritakan semuanya padaku. Aku yakin pria itu juga sudah menceritakan semua yang terjadi dengan mereka berdua," tambah Sandra seraya menunjuk Sagara dengan dagunya.
Richard menghela nafasnya. "Baiklah, aku akan menyelidikinya," ucap Richard.
"Tidak perlu! Biar aku saja yang mencari tahu siapa dalangnya. Aku yang akan memberi pelajaran pada orang itu," sahut Justin dengan rahang mengeras.
Baik Richard ataupun Aaram tidak bisa mencegah keinginan Justin. Aaram yang sejak tadi menyimak pun ingin ikut bicara mengenai kasus ini.
"Apa kau menyesal melakukan itu?" tanya Aaram pada Sagara.
Sagara mendongakkan kepalanya. Semua menatap tajam ke arah Sagara. Sagara pun kembali menundukkan kepalanya, ia kesulitan menelan salivanya.
"Iya, tapi s-saya akan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan pada Aruna," jawab gugup Sagara.
Aruna yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya, kini mendongak dan menggeleng dengan cepat.
"Disini yang salah bukan hanya Sagara. Aku pun salah, kalau kalian ingin memberi hukuman padanya hukum aku juga. Karena yang salah disini adalah kami berdua," cetus Aruna.
Justin langsung memberi tanggapan tajamnya dan membuat Aruna kembali menundukkan kepalanya.
"Ya, kalian berdua memang sangat salah. Maka dari itu aku ingin kalian segera menikah," sahut Justin.
Aruna membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun juga ia tidak ingin menjerat Sagara dan membebaninya dengan cara menikahi dirinya. Aruna tahu kalau Sagara tidak mencintainya, ia tidak ingin pernikahan tanpa cinta.
"Kak," Aruna hendak protes namun dengan cepat Sagara memotongnya.
"Saya siap menikahi Aruna," jawab Sagara tanpa keraguan.
__ADS_1
"Bagus! Ajak kedua orang tuamu datang ke mansion kami malam ini juga," ucap Justin memberi titah pada Sagara.
Sagara pun mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya akan membawa kedua orang tua saya nanti malam," jawab Sagara.