
Vesha sangat penasaran apa yang sebenarnya ingin Bryan sampaikan mengenai pesan dari Naura. Vesha berpikir kalau Naura akan berpesan pada Bryan untuk menjauhi dirinya. Akan tetapi Vesha tidak melihat ekspresi Bryan yang kesal ataupun marah. Bryan bahkan terlihat sangat bahagia dengan senyum lebarnya.
"Pesan apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Vesha kembali.
Vesha sedikit mendorong tubuh Bryan, namun dengan cepat pria itu kembali menarik tubuh kekasihnya itu. Senyum lebar terus merekah diwajah Bryan.
"Mommy berpesan padaku untuk segera membawa kembali calon menantunya yang melarikan diri ke kota ini," jawab Bryan dengan senyum menggoda.
Vesha semakin mengerutkan keningnya dan bergerak kasar melepaskan pelukan dari Bryan.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Kalau kau diperintahkan untuk menjemput calon istri oleh Mommy kamu, sebaiknya kau jemput saja sana. Kenapa kau menyampaikan pesan itu padaku?" Vesha berbalik badan dengan perasaan kesal.
Vesha melipat kedua tangannya di depan dada. Bryan mengulum senyumnya, ia tahu kalau Vesha sedang kesal dan cemburu terhadapnya. Bryan pun berdehem dan memegang kedua bahu Vesha. Bryan menempelkan dagunya di atas bahu gadis itu.
"Maka dari itu aku ada di rumah ini. Aku kesini untuk menjemput calon menantu Mommy yang pergi tanpa kabar setelah mendonorkan darah untuknya," bisik Bryan.
Vesha bergeming, tangannya begitu saja terlepas dari depan dadanya. Lalu ia segera berbalik badan dan menatap penuh selidik terhadap Bryan.
"Kamu.."
Bryan tersenyum dan mengangguk. "Aku ingin menjemputmu kembali ke Jakarta, dan Mommy juga sangat ingin bertemu dengan dirimu untuk meminta maaf. Mommy telah menyadari semua kesalahannya terhadap dirimu," ucap Bryan.
Vesha cukup terkejut mendengar ucapan Bryan. Lalu ia pun menundukkan wajahnya sambil membasahi bibirnya yang terasa kering. Tanpa Vesha sadari tindakan itu membuat Bryan sangat ingin meraup bibir tipis gadis itu.
"Katakan saja pada Mommy kamu, kalau aku sudah memaafkannya. Tetapi kalau untuk kembali ke Jakarta, aku tidak tahu." jawab Vesha seraya meremas jemarinya.
Wajah Bryan berubah pias, pria itu pun menggelengkan kepalanya. "Sayang, jangan seperti ini. Apa kau sangat ingin melihatku menderita karena merindukanmu, hmm?"
"Ini sangat tidak adil, sayang. Apa kamu masih meragukan perasaan cintaku kepadamu?" tanya Bryan.
Vesha menggelengkan kepalanya. "Tidak," bantah Vesha.
"Aku tidak meragukan soal itu, hanya saja…" ucapan Vesha terhenti saat mendengar Adam memanggil namanya.
"Shasa," panggil Adam dengan suara sedikit kencang.
Vesha pun menoleh ke arah luar dapur. "Iya, Pa. Tunggu sebentar!" sahut Vesha.
Vesha pun memilih menemui sang papa dan menghindari perbincangan lama bersama Bryan. Ia hanya tidak ingin luluh begitu saja, ia hanya sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Terlepas apa yang telah terjadi selama ini di dalam hidupnya, terutama dalam persoalan percintaan.
"Ada apa, Pa?" tanya Vesha saat ia sudah di dekat Adam.
Adam melirik sekilas ke arah dapur, dan kembali menatap putrinya.
__ADS_1
"Kamu sudah bicara dengan bocah itu?" tanya Adam.
Vesha mengangguk. "Sudah, Pa." jawab Vesha.
Tidak lama Bryan pun keluar dari arah dapur dengan menenteng sebuah goodie bag. Bryan berjalan menghampiri Adam dan Vesha seraya tersenyum.
"Om akan ke rumah sakit?" tanya Bryan.
Adam menaikkan satu alisnya. "Hmm," jawabnya.
Bryan memberikan goodie bag tersebut ke arah Adam. "Ini bekal sarapan untuk Tante. Nanti aku akan menyusul bersama Vesha setelah Shena bangun dan mengantarkannya ke bandara," ucap Bryan.
Adam menerima bingkisan tersebut. "Terima kasih," jawabnya kembali singkat.
Adam pun beralih ke arah Vesha. "Papa berangkat dulu, kau hati-hati di rumah!" titah Adam seraya melirik ke arah Bryan.
Bagaimanapun juga Adam sedikit merasa khawatir meninggalkan Vesha berdua di dalam rumah bersama Bryan. Walaupun ada Shena, tetapi gadis itu saat ini masih tertidur pulas.
Disaat Adam sedang sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nama Vita pun terpampang di layar ponselnya. Adam segera keluar sambil menerima panggilan dari sang istri.
Vesha hanya menatap kepergian sang papa dengan helaan nafas kasarnya. Bryan pun berdiri di dekat Vesha, sangat dekat. Lalu dengan lancang ia menarik pinggang Vesha agar lebih dekat dengannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, sayang!" bisik Bryan.
Gadis itu berlalu menuju ruang tengah dan menyalakan televisi, Vesha pun duduk di sofa bed dimana semalam Bryan tidur di sana.
Bryan tetap tersenyum melihat tingkah gadis yang sangat ia cintai. Bryan pun memilih ikut duduk di sebelah Vesha, dan memeluk tubuh gadis itu dari samping.
"Sayang," rengek Bryan.
"Diamlah! Kau sangat menggangguku," ketus Vesha.
Bryan tidak peduli dengan ucapan Vesha. Pria itu kembali menaruh dagunya di bahu kanan Vesha. Bryan memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Vesha.
"Wangimu begitu candu untukku," ucap Bryan dengan suara sedikit serak.
Vesha menggigit bibir dalamnya, jujur saja saat iji degup jantungnya sedang tidak baik-baik saja. Jantungnya berdebar begitu kencang, bahkan tubuhnya terasa begitu menegang.
Bryan tersenyum saat merasakan tubuh Vesha sedikit tegang. "Rileks sayang," Bryan mengecup leher Vesha.
Bahkan pria itu memberi gigitan di telinga Vesha. Membuat gadis itu semakin menggigit bibir bawahnya.
"Bryan," bentak Vesha seraya memberontak dari dalam pelukan pria itu.
__ADS_1
Bryan langsung tertawa terbahak-bahak, ia sangat suka melihat wajah Vesha memerah karena menahan hasratnya.
"Wajahmu sangat lucu sayang," ucap Bryan menggoda.
Vesha mengepalkan kedua tangannya, dan dengan cepat ia pun memukul tubuh Bryan dengan memberi tonjokan di lengan dan juga dada pria itu.
Uhukk… uhuk..
Bryan terbatuk-batuk saat merasakan pukulan di dadanya dari Vesha. Vesha pun merasa sangat bersalah, dan langsung mengusap dada Bryan. Tangan Vesha langsung di genggam oleh Bryan, dan tatapan keduanya pun kembali mengunci. Terpancar jelas kerinduan dari mata keduanya.
Wajah mereka pun perlahan semakin mendekat, hingga entah siapa yang memulainya. Kini keduanya sudah saling berciuman, Bryan begitu lembut dalam bermain di bibir Vesha. Setelah beberapa detik, Bryan menghentikan aksi bergairahnya saat dirasa Vesha membutuhkan pasokan udara.
Bryan menyatukan keningnya pada kening Vesha. Keduanya masih memejamkan mata mereka, merasakan deru nafas keduanya.
"Aku mencintaimu, Sha. Sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku, aku tidak ingin kehilangan cintaku lagi. Cukup sekali saja aku kehilangan wanita yang sangat aku cintai," lirih Bryan.
Vesha membuka matanya dan mereka saling menatap. "Apa maksudmu?" tanya Vesha.
Bryan menatap intens pada mata indah milik Vesha. "Kau mau mendengar cerita tentang kisah masa laluku?" Bryan malah balik bertanya.
Vesha hanya menganggukkan kepalanya. Bryan menghela nafasnya sebelum ia menceritakan tentang masa lalunya. Vesha menyimak semua cerita Bryan, hati Vesha terasa terenyuh saat mengetahui kisah cinta pertama Bryan begitu miris. Kini Vesha juga tahu kalau Naura bersikap seperti itu terhadapnya karena kisah cinta dari masa lalu Bryan.
*
Sagara dan Marvin sudah bersiap untuk segera menuju rumah nenek Vesha. Mereka tiba di hotel menjelang subuh tadi, kini mereka sudah berada di dalam mobil yang disewa Marvin selama mereka berdua ada di Surabaya.
Sebelum mereka berdua datang ke rumah neneknya Vesha, Sagara terlebih dahulu menghubungi Adam dan menanyakan alamat rumah. Adam pun memberikannya begitu saja, walau ia tahu ada Bryan di rumah.
Beberapa menit berlalu, kini mobil yang dikendarai Marvin telah tiba di depan rumah nenek Tini. Marvin dan Sagara mengerutkan dahinya saat melihat mobil sedang terparkir di depan rumah Tini.
Sagara merasakan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Entah apa itu, hanya saja perasaannya sangat tidak enak. Keduanya pun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu pagar rumah Tini.
Sagara membuka pintu pagar yang ternyata tidak tertutup, dan mereka pun masuk ke dalam. Marvin mengetuk pintu rumah nenek Vesha sambil mengucapkan salam. Namun keduanya mengerutkan dahinya saat mendengar tawa dari Vesha dan seorang pria.
"Kau bilang Om Adam sedang berada di rumah sakit. Lalu itu suara siapa?" tanya Marvin.
Sagara pun mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu," jawab Sagara yang masih berusaha tenang.
Marvin terus mengetuk pintu, dan hingga beberapa kali mengetuk pintu akhirnya pintu itu pun terbuka. Vesha berdiri mematung saat melihat kedatangan Sagara dan juga Marvin.
Sedangkan Sagara tersenyum sumringah, akhirnya ia bertemu dengan gadis yang selalu mengusik pikirannya.
"Sha,"
__ADS_1
"Gara,"