CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Fitting Baju


__ADS_3

Vesha datang dengan membawa nampan berisi gelas, teko yang sudah terisi air berwarna merah dan beberapa cemilan. Arkan langsung membantu Vesha membawa nampan tersebut. 


"Sha, kita sudah dapat tempat untuk foto prewedding kamu. Tapi kita nggak tahu kamu suka atau nggak," ujar Arkan. 


"Oh, ya? Coba aku lihat," Vesha pun segera duduk menunduk menatap laptop Gricella. 


"Ini Tebing Koja 'kan?" tanya Vesha. 


Semuanya mengangguk, membenarkan apa yang Vesha tanyakan. 


"Iya, kamu pernah kesana?" tanya Gricella. 


Vesha menggelengkan kepalanya. "Belum pernah, aku hanya tahu dari postingan temanku. Kebetulan temanku tinggal di Desa Cirendeu," jawab Vesha. 


"Ya, memang tempat ini di sana," ujar Chandra. 


"Tapi bagaimana denganmu? Apakah kau tertarik prewedding di tempat ini?" tanya Arkan. 


Vesha nampak berpikir. "Sepertinya menarik. Apalagi kalau kita melakukannya pas sunset muncul," jawab Vesha sambil menelisik beberapa foto tentang Tebing Koja itu. 


"Ya, kamu benar. Tadi Gricella juga mengatakan seperti itu. Apalagi kamu dan Bryan berada di dekat sini," ucap Chandra


merujuk pada batu yang memiliki ukuran sangat besar menyerupai kadal Godzilla. 


"Sepertinya pemandangan dari tempat ini bagus dengan mengambil gambar  secara angle yang tepat," sambung Chandra. 


"Gak bahaya ta?" tanya Arkan.


"Tidak, nanti disana kita juga meminta bantuan pengamanan. Jadi Vesha dan Bryan naik dibantu petugas sana," jawab Chandra.


Arkan mengangguk, lalu ia pun ikut menelisik gambar tersebut. "Kalau begitu kau membutuhkan drone," kata Arkan. 


"Iya, nanti aku akan pinjam sama Marvin." Chandra kembali mencari beberapa tempat yang akan ditempatkan nanti. 


Gricella mengerutkan dahinya. "Jadi kau yang akan memotret Kakakku dan Kak Vesha?" tanya gadis itu. 


"Hmm, memangnya Kakak iparmu itu tidak mengatakannya?" tanya balik Chandra. 


Gricella pun menatap ke arah Vesha. Sedangkan Vesha hanya tersenyum tipis. 


"Aku sudah mengatakannya. Tapi sepertinya adik iparku ini tidak paham siapa yang aku maksud," Vesha terkekeh geli saat melihat wajah bingung Gricella. 


Gricella mencebikkan bibirnya. "Kau hanya mengatakan teman kamu itu berbisnis bersama denganku," celetuk Gricella. 


"Lho, memang benar kan?" tanya Arkan. 

__ADS_1


Seketika Gricella tersadar dengan ucapannya. Tidak lama gadis itu pun nyengir sambil garuk-garuk kepalanya. 


"Iya, ya. Hehe… maaf!" ucap Gricella. 


Rasanya malu sekali, kenapa dirinya tidak menyadari kalau yang dimaksudkan Vesha itu adalah Chandra. Gricella menundukkan wajahnya seakan ingin sekali menghilangkan wajahnya dan berganti wajah baru, agar rasa malu itu menghilang. 


Tanpa Gricella sadari Chandra tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah gadis itu. 


Beberapa hari kemudian, di Sabtu pagi Vesha sudah bersiap untuk melakukan pemotretan di Tebing Koja. Vesha dibantu Gricella dan Karina untuk mempersiapkan semuanya. Sayangnya Shena sang sahabat tidak dapat ikut karena harus bekerja. 


Karina dan Ibu Ayu memang sudah tinggal di Jakarta bersama Chandra di rumah baru mereka. 


Sekitar jam 2 siang Chandra datang bersama Arkan,  Marvin dan juga Langit. Awalnya Langit tidak ada dalam daftar orang yang ikut membantu, tetapi karena ada Karina, Langit pun meminta ikut.


Semua sudah dipersiapkan begitu matang oleh Vesha, Bryan dan Tim mereka dalam melaksanakan prewedding hari ini. Mereka semua sudah berkumpul, dan segera melaju menuju kota Tangerang. Lebih tepatnya ke desa Cireundeu, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Lokasi wisata cukup jauh dari pusat kota Tangerang yakni jarak kurang lebih 42 kilometer dengan waktu tempuh 1 setengah jam. 


(Sumber Google)


Setelah menempuh jarak cukup lama. Akhirnya Vesha, Bryan dan rombongan pun telah tiba di Tebing Koja. Mereka tiba tepat pukul setengah lima, jalan cukup padat kendaraan hari ini. Mereka sengaja memilih melakukan prewedding sore untuk mendapatkan angle tepat pas sunset nanti. 


Chandra and Tim segera mempersiapkan alat-alat untuk memotret. Beruntung  Gricella dan Karina sudah merias Vesha dan Bryan, jadi mereka bisa langsung melakukan sesi pemotretan. 


Vesha dan Bryan di bantu naik ke tebing oleh Marvin dan beberapa orang yang bertugas di wisata tebing tersebut. Drone milik Marvin sudah siap untuk melakukan pengambilan gambar. 


Bryan tersenyum saat melihat Vesha sedang dibantu oleh pegawai butik. Saat ini mereka sedang melakukan fitting baju pernikahan mereka. Setelah dua hari melakukan foto prewedding di Tebing Koja, Bryan menjadwalkan untuk fitting baju pernikahan mereka di butik milik teman Naura. 


Vesha memperhatikan penampilan dirinya di depan cermin besar. Ia tersenyum saat melihat Bryan dari pantulan cermin tersebut, sedang mendekati dirinya. 


"Kamu selalu cantik dimataku," bisik Bryan seraya menarik pinggang Vesha. 


Vesha tersenyum. "Kau pun selalu tampan di mataku," jawab Vesha yang tak mau kalah memuji calon suaminya itu. 


 


Bryan mencium pipi Vesha secara tiba-tiba, hingga membuat gadis itu melototkan matanya. 


"Malu diliatin," protes Vesha seraya menunjuk beberapa pegawai toko yang sedang berdiri di dekat mereka. 


Bryan pun menoleh ke belakang, lalu tersenyum miring. "Tidak peduli, mereka juga memaklumi." Jawab Bryan dengan santai. 


Vesha berdecak kesal. "Tak tahu malu," sahutnya. 


Bryan pun tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan dalam diri Vesha. Setelah fitting baju, Bryan mengajak Vesha untuk bertemu Naura dan juga Sean di rumah utama. 


Sepanjang perjalanan, Bryan dan Vesha terlibat obrolan kecil. Terkadang Bryan menjahili calon istrinya itu hingga membuat Vesha kesal. 

__ADS_1


Selang beberapa menit pun mobil yang dikendarai Bryan telah tiba di rumah utama. Bryan membantu Vesha membuka pintu dan mengulurkan tangannya pada Vesha. 


"Thank you," ucap Vesha seraya tersenyum. 


"U'r welcome, Honey." Jawab Bryan dengan senang hati. 


Keduanya pun masuk ke dalam rumah, dan disambut oleh beberapa pelayan yang bekerja di rumah itu. Naura dan Sean tersenyum melihat kedatangan calon menantu mereka. 


"Akhirnya kamu datang juga sayang, Mommy sudah sangat merindukanmu," Naura langsung memeluk Vesha. 


Hubungan Vesha dan Naura semakin membaik. Bahkan Naura sangat memperlakukan Vesha seperti putrinya sendiri. Terkadang perilaku Naura yang sangat memanjakan Vesha membuat iri Bryan. 


"Kebiasaan, anak kandungnya selalu diabaikan." Keluh Bryan.


[Plak...]


Naura langsung memukul lengan Bryan. "Mengiri saja kau ini. Sesekali menganan saja san!" sahut Naura yang sangat kesal dengan putranya itu. 


Vesha hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil dengan sikap Bryan. Lalu Sean pun memeluk Vesha dan mengusap kepala gadis itu. 


"Papa kamu belum balik ke Jakarta?" tanya Sean. 


Vesha menggelengkan kepalanya. "Belum, Dad. Papa masih bekerja disana," jawab Vesha.


"Bukankah Papa kamu ingin pensiun?" tanya Naura. 


"Kata Papa sih begitu, Mom. Tapi aku juga kurang tahu kapan pensiunnya," jawab Vesha. 


"Mungkin nanti setelah kalian menikah dan memiliki anak. Baru Papa kamu itu pensiun," cetus Sean. 


Bryan mengerutkan dahinya, begitupun juga Vesha. 


"Daddy sok tahu," celetuk Bryan. 


Sean melototkan matanya. "Daddy bukannya sok tahu, tapi memang faktanya seperti itu. Apalagi usia Papanya Vesha dn Daddy tidak jauh beda. Pasti pemikirannya pun sama. Kita ingin pensiun dan sibuk bermain bersama cucu," jawab Sean. 


"Apa yang Daddy kalian katakan itu benar.  Kami berharap setelah menikah kalian  tidak menunda untuk mendapatkan momongan. Mommy selalu berdoa supaya setelah menikah kalian langsung diberi kepercayaan menjadi orang tua," ujar Naura yang membenarkan ucapan Sean. 


"Untung-untungan langsung dapet 2," celetuk Sean. 


"Biar Daddy tidak rebutan cucu sama Papa kamu," sambung Sean. 


"Aamiin," sahut Bryan dengan suara lantang. 


Vesha hanya tersenyum malu, tapi kalau dua sekaligus atau kembar itu tidak mungkin. Pasalnya dari keluarga Vesha tidak ada memiliki keturunan anak kembar. Sedangkan dari keluarga Heinzee pun sama. 

__ADS_1


__ADS_2