
Senyum merekah di wajah Sagara, jari tangannya sibuk berbalas pesan. Tidak lama ia menempelkan ponselnya di telinganya. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum sayang," ucap Sagara dengan mengulum senyumnya.
Sagara menghubungi Aruna, nampaknya pria itu sedang merasakan hatinya yang lagi berbunga-bunga.
"Waalaikumsalam, kamu jadi ke apartemen Langit?" tanya Aruna.
"Iya, jadi. Ini aku sudah rapi, kamu mau ikut?" ajak Sagara.
"Tidak, hari ini aku diajak Kak Sandra dan Kak Lina ke salon," jawab Aruna.
"Apakah mereka sudah tahu tentang pernikahan kita?" tanya Aruna
"Eum, mereka belum tahu. Baru hari ini aku ingin memberitahukan mereka," jawab Sagara.
"Bagaimana dengan Vesha?"
Sagara mengerti akan maksud Aruna, ia tahu kalau calon istrinya itu tidak enakan dengan Vesha. Sagara tahu kalau Aruna tidak ingin membuat Vesha kecewa walaupun Aruna tahu kalau Vesha sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Aruna hanya ingin menghargai Vesha yang notabenenya pernah mencintai Sagara.
"Nanti kita temui Vesha dan memberitahukannya bersama-sama," jawab Sagara.
Tanpa Sagara tahu diseberang sana Aruna sedang tersenyum.
"Iya, itu lebih baik. Bagaimanapun juga aku tetap menghargai Vesha sebagai temanku, dan dia juga…" Aruna menjeda ucapannya.
"Dia wanita yang pernah mencintai kamu. Yang pernah hadir dalam hidupmu," sambung Aruna.
Sempat terjadi keheningan diantara mereka. Memang benar apa yang dikatakan Aruna. Namun kini yang ada di pikiran Sagara adalah bukan soal dirinya dan Vesha, melainkan soal dirinya dan Aruna. Wanita yang menjadi masa depannya.
"Iya, maka dari itu sebaiknya kita yang menemui Vesha. Dan membicarakan soal pernikahan kita," jawab Sagara.
"Ya sudah. Sebaiknya kamu bergegas, aku yakin mereka sudah menunggu kedatanganmu." Cetus Aruna.
"Dan Sampaikan salamku pada teman-temanmu," tambah Aruna.
"Tentu, nanti akan aku sampaikan. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Kamu hati-hati di jalan, jangan melirik cowok lain."
Aruna terkekeh kecil dari sambungan telepon tersebut saat mendengar ucapan calon suaminya.
"Mana berani aku melirik cowok lain kalau nyatanya pawang ku sangat galak," tutur Aruna.
Sagara tergelak mendengar jawaban Aruna. "Awas kau, ya! Jika ketemu akan aku terkam kamu,"
Aruna masih tertawa. "Uuh, takut!"
Sagara dan Aruna pun tertawa bersama, tidak lama mereka mengakhiri sambungan telepon tersebut. Sagara merapikan kembali penampilannya di depan cermin. Lalu ia pun keluar kamar, kebetulan ini hari libur kerja.
Sagara menuruni tangga sambil bersiul, Safira dan Darel yang sedang duduk di ruang tengah pun mengerutkan dahinya.
"Mau kemana kamu, Ga?" tanya Safira.
Sagara menoleh dan tersenyum pada kedua orang tuanya. Ia pun menghampiri mereka dan mencium punggung tangan keduanya.
"Gara mau ke apartemen Langit, Bund. Marvin dan Chandra sudah ada di sana," jawab Sagara.
"Jangan sampai larut malam, ingat kamu harus mencicil persiapan pernikahan kamu dan Aruna!" ucap Safira.
"Siap Bunda! Ini juga Gara ingin minta bantuan mereka untuk mempersiapkan semuanya," jawab Sagara.
"Ya sudah, hati-hati dijalan!" ucap Safira.
"Iya, Bun. Gara berangkat sekarang,"
Sagara pun langsung bergegas meraih kunci motor dan helmnya. Ia segera melajukan kendaraannya menuju apartemen Langit.
Sementara itu di apartemen, Marvin berdecak kesal karena orang yang sejak tadi ditunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Nih orang kemana sih? Lama banget datangnya," gerutu Marvin.
Langit yang sedang main game fi ponselnya pun hanya melirik sekilas sambil menggelengkan kepalanya.
"Mungkin lagi dijalan," ucap Langit dengan tatapan yang fokus pada layar ponselnya.
Marvin sekali lagi hanya berdecak, namun beberapa menit ia tersenyum. Jemarinya begitu lincah bermain di layar ponselnya.
Selang beberapa menit Sagara pun tiba di unit apartemen Langit. Sagara tersenyum lebar sambil menenteng beberapa cemilan untuk mereka. Marvin dan Langit yang melihat kedatangan Sagara sempat mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu, Ga?" tanya Langit.
Sagara menaikkan satu alisnya setelah duduk di sofa. "Memangnya kenapa? Masalah gitu?" bukannya menjawab Sagara malah berbalik bertanya pada Langit.
Langit menggelengkan kepalanya. "Gak ada yang salah," cetus Langit.
"Chandra mana?" tanya Sagara.
"Dia sedang ke rumah Gricella," sagut Marvin.
Sagara mengernyitkan kedua alisnya. "Mereka berpacaran?" tanya Sagara lagi.
Langit dan Marvin mengedikkan kedua bahunya. Sagara hanya tersenyum tipis, ia pun kembali menatap kedua sahabatnya.
"Eum, sebenarnya ada suatu hal yang mau aku bicarakan sama kalian," ucap Sagara.
"Ah, ya. Apa yang ingin kamu bicarakan sampai kita harus berkumpul semua?" Marvin sejak tadi sangat penasaran dengan apa tujuan Sagara mengajaknya berkumpul.
"Tapi Chandra tidak ada. Aku ingin dia juga ada disini," ucap Sagara.
Marvin berdecak kesal, sedangkan Langit hanya bisa menghela nafasnya saja. Marvin pun menghubungi Chandra, dan meminta pria itu untuk segera kembali ke apartemen Langit.
"Dia sedang dijalan," ucap Marvin.
"Mungkin sebentar lagi dia sampai," tambah Marvin.
Sambil menunggu Chandra datang, mereka memilih untuk bermain PS saja. Marvin dan Sagara asyik bermain PS, sedangkan Langit hanya fokus dengan game di ponselnya.
Selang tiga puluh menit, Chandra pun datang. Namun pria itu tidak sendiri, nampaknya ia datang bersama seorang gadis. Marvin, Sagara dan Langit sempat terkejut saat melihat gadis yang datang bersama Chandra.
"Gri-Gricella," ucap ketiga pria itu.
Gricella tersenyum, "hai." Gricella menyapa ketiganya sambil melambaikan satu tangannya.
"Maaf aku mengajaknya, karena setelah ini kami harus ke rumah Vesha."
Chandra memberi penjelasan pada ketiganya. Karena ia tidak ingin ketiga sahabatnya salah kaprah, atau tidak nyaman karena ia mengajak Gricella.
"Ah, tidak apa. Ayo, sini duduk!" Marvin menyingkirkan beberapa cemilan yang ada di sofa dekatnya.
Marvin pun berpindah tempat agar Gricella dan Chandra dapat duduk dengan nyaman.
Gricella dan Chandra pun duduk. Lalu Chandra melirik ke arah Sagara.
"Ga," panggil Chandra pada Gara.
"Hmm," Sagara langsung mendongakkan kepalanya menatap Chandra.
"Katanya ada yang ingin kamu bicarakan," ucap Chandra.
"Nah, iya. Ini Chandra sudah datang, cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan!" pinta Marvin sambil menyenggol lengan Sagara.
Sagara mengatupkan bibirnya. Lalu ia membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya.
"Sebenarnya," Sagara sedikit menjeda ucapannya. Ia menatap satu persatu sahabatnya.
"Aku akan menikah dengan Aruna," lanjut Sagara.
Hening, seketika suasana menjadi hening. Sagara mengerutkan dahinya melihat keempat orang yang ada di hadapannya hanya diam tanpa berkata atau berekspresi apapun. Bahkan stik PS yang digenggam Marvin seketika itu juga terjatuh.
"Kau habis minum berapa botol, Ga?" tanya Chandra dan langsung mendapat pukulan dari Gricella.
Chandra berdesis kecil sambil mengusap lengannya yang terkena pukulan.
"Kamu tidak sedang sakit kan, Ga?" Marvin langsung meletakkan telapak tangannya di kening Sagara.
Sagara segera menyingkirkan tangan Marvin. "Apaan sih, kalian ini! Aku berkata serius malah diajak bercanda," kesal Sagara.
"Owh, berchandyaaa…." seru keempatnya.
Sagara memutar bola matanya malas, "issh." Kesalnya.
Melihat Sagara sudah kesal, akhirnya keempat orang itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Puas!" kesal Sagara kembali.
Mereka mengangguk sambil tertawa. Sungguh membuat kesal Sagara adalah hiburan buat ketiga sahabatnya, Gricella hanya bisa ikut tertawa karena memang ekspresi wajah Sagara sangat lucu jika sedang kesal.
__ADS_1
"Jadi, kamu benar ingin menikah dengan Aruna?"
Ketiga pria yang masih tertawa itu seketika menghentikan tawa mereka saat mendengar pertanyaan Gricella. Semua menatap Sagara dengan intens, menunggu jawaban pria itu.
Sagara pun mengangguk. "Iya, aku akan menikah dalam waktu dua minggu ini," jawab Sagara penuh keyakinan.
Pernikahan Sagara dan Aruna dengan dipercepat. Itupun Justin yang kembali memintanya, ia baru teringat kalau tiga minggu lagi akan menemani Lina untuk operasi caesar. Akhirnya dengan kesepakatan bersama, pernikahan Sagara dan Aruna akan dilaksanakan dua minggu lagi.
"Secepat itu?" tanya Langit.
"Mendadak sekali," cetus Marvin.
"Apa kau benar-benar sudah sangat matang dengan keputusanmu?" tanya Chandra.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pada kalian?"
Semua menoleh ke arah Gricella, dan membuat gadis itu bingung dan takut kalau salah berucap.
"Kenapa kalian menatapku, apa ada yang salah?" tanya Gricella.
Sagara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak, pertanyaan kamu tidak salah. Aku mempercepat pernikahan kami karena permintaan dari Tuan Justin," jawab Sagara.
Dahi Marvin mengkerut. "Tuan Justin," beo Marvin.
"Hmm, kalian pasti tidak percaya kalau Aruna ternyata adalah sepupu dari Tuan Justin pemilik perusahaan IT Grup," ujar Sagara membuat mereka terkejut.
"Kalian pasti kenal dengan Tuan Justin kan? Sudah pasti kalian juga mengenal Tuan Richard Alvaro," tambah Sagara.
Langit mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. Sungguh mereka semua terkejut dengan penuturan Sagara.
"Gila… jadi kamu menikahi wanita yang bukan kaleng-kaleng, Ga!" seru Marvin.
Sagara tersenyum miring sambil mengangguk anggukkan kepalanya. "Ya, begitulah!" Jawab Sagara.
*
Hari pun berlalu dengan cepat, pernikahan Sagara dan Aruna semakin dekat pula. Semua orang sudah mengetahui rencana pernikahan keduanya. Begitupun juga dengan Vesha dan Bryan, jujur saja saat Sagara dan Aruna datang berkunjung untuk memberi kabar pernikahan mereka.
Vesha dan Bryan sangat terkejut, pasalnya mereka tidak ketahuan kapan berpacarannya. Tau-tau mereka datang dengan kabar bahagia itu. Vesha sangat senang dan juga mendukung hubungan keduanya.
Vesha dan Bryan bahkan sudah menyiapkan kado spesial untuk Sagara dan Aruna. Vesha juga akan membantu Aruna untuk memilih gaun pengantin yang cocok dengan tema yang diinginkan Aruna.
Disinilah mereka berempat, di sebuah butik ternama milik salah satu rekan bisnis Sandra. Sebelumnya Aruna sudah memberitahukan konsep pernikahan mereka pada Vesha.
Saat sedang memilih gaun, mata Vesha melihat sebuah gaun yang menarik perhatiannya. Lalu ia pun meraih gaun itu dan mencocokkannya ke tubuh Aruna yang sedang berdiri membelakanginya.
"Na," panggil Vesha pada Aruna.
Aruna pun menoleh, begitupun juga dengan Sagara dan Bryan.
"Sepertinya ini sangat cocok dengan konsep yang kalian pilih," Vesha memberikan sebuah gaun berwarna hitam pada Aruna.
Ya, konsep pernikahan Aruna dan Sagara memakai konsep Black Swan. Entah kenapa keduanya menyukai konsep itu, menurut Sagara konsep itu sangat unik.
"Kamu coba dulu saja," ucap Sagara seraya mendekati Aruna.
"Aku juga akan mencoba ini," tambah Sagara seraya menunjukkan tuxedo pada Aruna.
Aruna mengangguk dan tersenyum, keduanya pun berjalan menuju ruang ganti. Vesha pun membantu Aruna memakai gaun tersebut. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun keluar dari ruang ganti.
Sagara sempat terpesona melihat Aruna, begitupun juga Aruna. Namun matanya memicing saat melihat ke arah dasi yang dikenakan Sagara.
"Kenapa dasinya seperti itu?" tanya Aruna sedikit kecewa.
Sagara pun tersenyum sambil menyentuh dasi yang sudah terpasang di lehernya dengan asal.
"Hanya sementara, nanti akan saat resepsi bukan ini dasinya." Jawab Sagara.
Aruna menghela nafasnya, sedangkan Vesha dan Bryan hanya bisa terkekeh geli melihat keduanya.
"Ya sudah, coba kita foto dulu di cermin itu!" ucap Aruna seraya mengajak Sagara untuk berfoto-foto.
Sagara pun memposisikan dirinya di sebelah kanan Aruna. Beberapa kali mereka mengambil foto berdua, dan mengabaikan Vesha juga Bryan.
"Aku ganteng 'kan?" Sagara tersenyum genit sambil memainkan kedua alisnya.
__ADS_1
Aruna memutar bola matanya malas. "PD sekali kamu," kesal Aruna.
Sagara pun tergelak melihat calon istrinya yang sedang kesal. Tanpa aba-aba Sagara langsung merangkul pundak Aruna dan mencium pipi wanita itu. Membuat Aruna tidak bisa menahan rasa malunya, Sagara tersenyum saat melihat wajah calon istrinya yang memerah karena malu.