
Waktu yang terus berlalu, dan tidak terasa kini baby Kai sudah memasuki usia 4 tahun karena sekitar 6 bulan lagi, Kai akan berusia genap 4 tahun. Kai sudah menjadi seorang kakak, ia memiliki seorang adik perempuan yang begitu cantik berusia 7 bulan. Berliana Lovely Heinzee, nama putri kedua dari pasangan Bryan dan Gavesha.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Terlihat Vesha sedang bersiap untuk pergi, entah mau kemana wanita itu. Vesha tersenyum saat melihat putrinya masih terlelap di dalam box bayi. Pintu kamar mandi terbuka, dan Bryan baru saja selesai buang air kecil. Keduanya pun saling melempar senyum.
"Lovely masih tertidur, apakah kau yakin ingin mengajaknya? Kalau dibangunin kasihan, dia baru saja tidur."
Bryan bertanya sambil menghampiri box bayi yang cukup besar tersebut. Vesha pun terlihat nampak ragu, Bryan tahu istrinya sedang galau.
"Sudah kamu pergi ajak Abang Kai saja, aku yang akan menemani Lovely di rumah." usul Bryan seraya tersenyum pada Vesha.
Kedua alis Vesha bertautan. "Kau yakin, Lovely tidak akan menangis saat aku tinggal?" tanya Vesha yang nampaknya masih sangat ragu.
Pasalnya ia sangat tahu kalau putrinya itu begitu manja pada Vesha. Pernah saat Vesha tingga untuk ke kamar mandi saja Lovely langsung berteriak dan menangis takut ketinggalan sang mommy.
Bryan tersenyum akan kekhawatiran istrinya terhadap putrinya itu. Bryan pun merangkul pundak Vesha dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Sudah, tenang saja. Aku yakin Lovely tidak akan menangis selama aku bersamanya," jawab Bryan memberi ketenangan pada sang istri.
Vesha mendongakkan kepalanya dan tersenyum. "Baiklah! Aku akan ajak Abang membeli kado untuk Elena," ujar Vesha.
Bryan mengangguk. "Hmm, aku yakin Abang pasti akan senang mendengarnya." jawab Bryan.
Vesha pun melepaskan pelukannya dan segera menuju ke kamar Kai. Setibanya di kamar putranya itu, Vesha tersenyum saat melihat Kai baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mommy," ucap Kai seraya tersenyum.
"Abang mau ikut Mommy?" tanya Vesha.
"Kemana?" Kai berbalik bertanya pada mommy nya itu.
Kai duduk di tepian tempat tidurnya, Vesha pun menyusul ikut duduk bersama Kai.
"Mommy mau ke mall untuk membeli kado," jawab Vesha.
Dahi Kai berkerut. "Kado untuk siapa, Mom?" tanya Kai kembali.
Vesha mengusap kepala Kai dengan lembut. "Untuk Elena," jawab Vesha.
Mata Kai berbinar cerah. "Apakah Elena berulang tahun?" tanya Kai.
Vesha mengangguk. "Iya, nanti hari Sabtu kita akan datang ke rumah Uncle Justin untuk merayakan ulang tahun Elena disana." jawab Vesha.
"Yeiβ¦!"
Sorak gembira tidak dapat disembunyikan Kai lagi. Rasanya anak itu sangat senang saat Vesha mengatakan acara ulang tahun. Ya, memang Kai sangat senang datang ke acara seperti itu. Setiap ditanya kenapa Kai begitu senang, hanya satu jawabannya. Kai senang bisa berkumpul dan bermain bersama teman-temannya.
Walaupun sebenarnya bisa saja tiap hari Kai bermain bersama Elena dan Ares. Ares adalah putra dari Marvin dan Shena. Diantara ketiganya, Kai lah yang paling tua diantara mereka. Kai senang bisa bermain dengan kedua adiknya itu mengingat Lovely belum bisa diajak bermain permainan seperti seumuran Kai.
"Kalau begitu Kai mandi dan ganti baju," pinta Vesha.
Kai mengangguk. "Siap Mom!" seru Kai yang bersemangat.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Kai pun sudah rapi tanpa dibantu oleh babysitter maupun Vesha sendiri. Kai sudah terlatih untuk mandi sendiri dan memakai baju sendiri, bahkan Kai dapat memilih pakaiannya sendiri sesuai dengan moodnya dan itu pun selalu cocok di tubuhnya. Sepertinya darah fasion dari sang mommy dan nenek mengalir dalam tubuh Kai.
Vesha dan Kai berpamitan dengan Bryan, mereka akan pergi dengan diantar oleh sopir pribadi. Awalnya Vesha ingin mengendarai mobilnya sendiri, namun Bryan tidak mengizinkannya.
Hampir satu jam mobil yang ditumpangi Vesha dan Kai berada di jalan. Kini mereka telah tiba di sebuah mall besar di Jakarta. Senyum Kai sejak tadi tidak pernah luntur, ia sangat senang bisa menemani sang mommy membeli kado.
"Kita beli kado apa ya, Kai?" tanya Vesha
Mereka masih berjalan menyusuri beberapa toko di dalam mall tersebut. Kai terlihat nampak berpikir.
"Eum, Kai pun juga bingung, Mom." jawab Kai.
"Boneka tidak mungkin, karena di dalam kamar Elena sudah banyak sekali berbagai macam boneka. Kalau mainan, dia juga sudah banyak sekali, Mom. Pakaian pun juga banyak sekali, karena Uncle Justin selalu memberikan hadiah pada Elena setiap Minggu," tambah Kai yang terus mengoceh.
Vesha menahan tawanya mendengar ocehan Kai yang begitu hafal dengan kondisi rumah Elena. Memang Kai dan Ares sering bermain ke rumah Sagara dan Aruna.
"Kenapa Mommy senyum-senyum seperti itu?" selidik Kai.
Akhirnya tawa Vesha pun pecah, ia tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya kau sangat hafal dengan Elena ya, Bang?" Vesha mengulum senyumnya seakan sengaja menggoda putranya itu.
Kai mencebikkan bibirnya. "Elena sering laporan setiap dia mendapat hadiah dari Uncle Justin. Jadi Abang tahu kalau Elena punya semuanya," jawab Kai dengan bibir yang cemberut.
Vesha pun merangkul pundak putranya. "Kalau dia sudah punya semuanya, bagaimana kalau kali ini Mommy serahkan pada Abang mau berikan kado apa untuk Elena. Bagaimana?"
Kai tersenyum dan mengangguk. "Boleh, memang ada satu kado yang sangat ingin Kai berikan pada Elena, Mom." jawabnya penuh semangat.
"Ya, sudah! Kalau begitu kita segera beli kadonya sekarang. Setelah itu kita mampir untuk membeli beberapa cemilan untuk dirumah," ujar Vesha.
Vesha tersenyum. "Ayo!"
Mereka pun mampir ke toko roti bermerek itu dan membeli beberapa roti untuk mereka dan orang rumah serta pak sopir yang sedang menunggu mereka di parkiran.
Setelah membayarnya, Kai langsung mengambil satu potong roti rasa keju kesukaannya. Vesha menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang mudah sekali lapar. Entah keturunan dari siapa, tapi bagi Vesha dan Bryan itu tidak perlu dipermasalahkan. Asalkan Kai sehat dan tidak memakan sembarang makanan.
Tiba-tiba saja ponsel Vesha bergetar, sebuah notifikasi pesan dari Bryan mengalihkan perhatiannya pada Kai. Vesha tersenyum saat membalas pesan dari Bryan.
π© (Mas Bryan π)
("Kalian sudah sampai? Abang sedang apa? Sudah dapat kadonya?")
Begitulah isi pesan dari Bryan. Vesha pun segera membalas deretan pertanyaan suaminya itu sambil mengirim foto Kai yang sedang memegang roti.
π¨ To : (Mas Bryanπ)
("Kami sudah sampai, dan belum membeli kado untuk Elena. Karena Abang minta dibelikan roti, katanya lapar.")
π© (Mas Bryan π)
__ADS_1
("Putraku tampan sekali seperti Daddynya,")
Vesha memutar bola matanya malas saat membaca pesan dari Bryan.
"Jiwa percaya dirinya sangat tinggi, tapi memang benar kalau Kai sangat tampan. Bahkan melebihi Daddynya," gumam Vesha dalam hatinya seraya melirik ke arah Kai.
Kai memperhatikan Vesha yang sedang sibuk dengan ponselnya. Kai pun sedikit mendekat ke sisi kiri Vesha.
"Apakah Mommy sedang berbalas pesan dengan Daddy?" tanya Kai.
Vesha pun sedikit melirik ke arah Kai, lalu wanita itu tersenyum dan mengangguk. Mendapat jawaban seperti itu Kai hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Susah kalau sudah bucin akut seperti Daddy," celetuk Kai.
Vesha tertawa mendengar ucapan Kai dan membenarkan apa yang dikatakan putranya itu. Seketika Vesha baru teringat akan Lovely, akhirnya dia pun kembali membalas pesan suaminya.
π¨ To : Mas Bryan π
("Apakah Lovely sudah bangun, Mas?")
π© (Mas Bryan π)
("Sudah, bahkan saat bangun tadi dia tidak menangis. Habis bangun tadi aku sedang maskeran, dan Lovely juga ikut maskeran. Tapi tidak lama, karena sekarang dia memilih berolahraga,")
Kedua mata Vesha melotot saat membaca pesan dari Bryan.
"Maskeran, olahraga. Apa maksud Mas Bryan?" batin Vesha.
[Triing]
Sebuah notifikasi di ponselnya kembali berbunyi. Pesan dari Bryan membuat Vesha kembali melotot dan begitu syok saat melihat foto yang dikirimkan oleh Bryan.
(Foto Lovely saat maskeran bareng sang Daddy setelah bangun tidur)
(Foto Lovely saat sedang berolahraga)
"Mas Bryan," pekik Vesha yang tertahan karena tidak mungkin ia berteriak di tempat umum.
Kai terkejut melihat raut wajah mommy nya yang terlihat begitu syok. Kai pun mendekat.
"Mom, ada apa?" tanya Kai dengan sangat hati-hati.
Anak laki-laki itu terlihat sangat khawatir dengan mommy nya. Vesha masih begitu syok membuat Kai semakin khawatir. Kai pun melihat ponsel sang Mommy yang masih dipegangnya. Kai akhirnya mengambil ponsel Vesha dan melihat layar yang masih menampilkan isi chat antara Vesha dan Bryan.
Mata Kai melotot saat melihat foto yang baru saja dikirim oleh Daddy nya. Kai menepuk keningnya sambil tertawa.
"Astaga, Daddy macam apa ini? Baru satu jam Lovely ditinggal Mommy dan dijaga oleh Daddy. Nasib Lovely sudah seperti ini, apalagi satu hari bersama Daddy?" Kai masih tertawa terbahak-bahak melihat foto kiriman dari Bryan.
__ADS_1
Vesha hanya bisa menarik nafas sambil mengelus dada kirinya saja saat mengetahui kelakuan suaminya dalam menjaga anak mereka.
"Benar apa kata orang. Jangan biarkan para Daddy menjaga anak-anak. Yang ada malah jadi objek kreasi Daddy nya," batin Vesha sambil menepuk keningnya.