
Vesha menghela nafasnya. "Tidak ada yang perlu saya jelaskan pada anda, Tuan Angga. Saya sudah mengambil keputusan yang terbaik untuk kesehatan mental saya," jawab Vesha seraya menatap sekilas ke arah Angga.
Angga mengusap wajahnya dan berjalan mendekati meja kerja Vesha. "Lalu bagaimana jika Tuan Bryan tahu akan hal ini? Apa yang harus aku katakan padanya, Sha?" Angga kembali bertanya.
Vesha dapat melihat Angga yang sangat khawatir jika Bryan marah padanya. Vesha juga tahu kalau Bryan tidak akan membiarkan hal ini terjadi, dan mengganggu pria itu dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang CEO.
"Jangan kamu beritahukan dia, jika dia bertanya tentang diriku katakan saja semuanya baik-baik saja. Beritahu dia setelah kepulangannya, agar tidak mengganggu pekerjaannya di sana. Aku juga akan berkirim pesan padanya seolah semuanya baik-baik saja," jawab Vesha yang terlihat santai.
Wajahnya boleh terlihat santai, akan tetapi di dalam pikiran Vesha saat ini sedang berperang. Ia hanya tidak ingin Angga semakin merasa khawatir dan bersalah terhadap dirinya, karena tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mencegah perintah Naura pun sangat sulit.
"Anda tenang saja, Tuan. Lakukan saja tugas yang diperintahkan oleh Nyonya, tolong bantu buatkan aku surat pengunduran diri. Sementara aku mengerjakan pekerjaan ini, sebentar lagi juga akan selesai. Nanti setelah semuanya selesai, boleh aku titip laporan ini pada anda?" ujar Vesha seraya bertanya.
Angga menghela nafasnya kasar, tidak lama ia pun mengangguk dan membuat Vesha tersenyum tipis.
"Maafkan aku, Sha. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kamu," jawab Angga.
"Tidak apa, Tuan. Aku berterimakasih karena kamu sudah membantuku," ucap Vesha yang kembali tersenyum.
Angga tahu senyum Vesha itu palsu, ia tahu gadis itu sedang menahan luka dan sakit hatinya sendirian. Cukup lama ia berdiri sambil menundukkan kepalanya, detik kemudian Angga pun memilih kembali ke dalam ruangannya.
Sepeninggalnya Angga, pintu ruangan Bryan pun kembali terbuka. Naura dan Gricella keluar bersamaan, lalu Naura menghampiri Vesha yang sudah berdiri menyambut kedatangan wanita itu.
"Nikmati hari terakhirmu di perusahaan ini, aku memberimu kelengangan waktu hari ini. Kuharap besok kamu sudah tidak ada di kursi itu lagi," ucap Naura.
Vesha tersenyum tipis. "Tentu Nyonya, saya akan secepatnya keluar dari perusahaan ini. Terimakasih," jawab Vesha
Naura mendengus kesal. "Bisa-bisanya dia terlihat tenang seperti itu," batin Naura.
Naura melengoskan wajahnya dan berbalik badan, lalu ia pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Gricella. Gricella hanya menatap Naura yang berlalu begitu saja, lalu gadis itu pun menoleh ke arah Vesha. Gricella kembali tertegun saat melihat wajah tenang Vesha, bahkan sempat-sempatnya gadis itu tersenyum padanya.
Vesha langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia pun mengusap wajahnya pelan, tidak lama air matanya pun keluar. Tangannya memukul dada kirinya berkali-kali, agar rasa sesak disana berkurang.
"Ternyata aku tidak sekuat itu menerima perpisahan ini, ya Allah. Kenapa disaat aku mulai merasakan jatuh cinta kembali, cobaan itu datang dan mengharuskan aku memilih menjauhi cintaku?" Vesha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sungguh ia tidak sanggup menyembunyikan lagi hatinya yang terluka. Tanpa Vesha ketahui, Angga melihat gadis itu sedang menangis. Ia pun merasakan iba pada gadis itu, tanpa ia sadari perasaannya begitu peka dengan apa yang Vesha rasakan saat ini.
Angga memejamkan matanya berusaha menahan gejolak rasa ibanya terhadap Vesha. Lalu pria itu memilih berbalik badan dan kembali menuju ruangannya. Angga sengaja kembali menemui Vesha, karena ia tahu kalau Naura dan Gricella sudah meninggalkan kantor.
Sementara itu di pesawat Bryan yang tadi sempat tertidur langsung membuka matanya, ketika ia bermimpi mengenai Vesha. Devano yang duduk di sebelahnya pun menoleh dan menatap Bryan dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Ada apa, Bryan?" tanya Devan.
Bryan mengusap wajahnya dan sedikit membenarkan posisi tidurnya. Bryan masih diam dengan ekspresi wajah khawatir dan gelisah.
"Entahlah!" Bryan menghela nafas gusarnya.
"Tiba-tiba saja aku memimpikan Vesha sedang menangis," lanjut Bryan.
Jantungnya berdebar tidak karuan, dirinya merasa suatu firasat yang kurang baik tentang kekasihnya itu.
"Aku harap Mommy tidak melukai Vesha," gumam Bryan dalam hatinya.
Devano menepuk pundak Bryan. "Tenangkan dirimu! Itu hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin semuanya baik-baik saja, Vesha adalah gadis yang kuat. Bukankah kamu tahu akan hal itu," ucap Devano.
Bryan mengatupkan bibirnya. "Ya, kekasihku itu gadis kuat yang pernah aku kenal," jawab Bryan seraya tertawa getir.
Devano tersenyum tipis seraya mengangguk. "Tenangkan dirimu, fokuslah dulu pada pekerjaan dan tujuan kita ke Paris," ujarnya.
Bryan mengangguk kecil. "Iya, maafkan aku!" lirih Bryan.
"It's ok, aku mengerti akan kekhawatiranmu terhadap Vesha. Tetapi yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Setibanya nanti kamu segera hubungi Vesha biar kamu juga tenang," kata Devano.
Bryan tersenyum miring. "Hmm, thanks Dev!"
Entah mengapa kata-kata Vesha terus berbayang di pikirannya. Gricella meremas dress yang dikenakannya, jujur ia merasa takut. Takut akan adanya karma, apa yang dikatakan Vesha ternyata telah berhasil membuat hatinya tidak tenang.
Gricella menghela nafasnya kasar, dan membuat Naura langsung menoleh ke arahnya.
Naura menaikkan satu alisnya. "Kau kenapa, Cella?" tanya Naura.
Gricella sempat terkejut mendengar suara Naura, seketika itu juga kegugupan melanda dirinya.
"Ah, i-itu…"
"Ada apa? Katakan apa yang mengganggu pikiranmu," cetus Naura.
Gricella sedikit berdehem. "Mom, apakah ucapan Mommy pada gadis itu tidak keterlaluan?" tanya Gricella.
Naura memutar bola matanya malas. "Tidak! Dia memang pantas mendapatkan hinaan itu," jawab Naura.
__ADS_1
Naura menoleh kembali dan menatap Gricella. "Jangan bilang kau merasa iba pada gadis itu, dan malah memihak kepadanya," celetuk Naura.
Gricella menundukkan kepalanya dan sedikit memainkan jemarinya. "Bukan begitu, Mom. Tapi, aku takut Kak Bryan mengetahui apa yang sudah kita lakukan," jawab Gricella.
Naura tersenyum sinis. "Bukankah itu lebih bagus. Memang sudah semestinya mereka berpisah," ketus Naura.
"Apakah Mommy masih ingin menjodohkan Kak Bryan dengan anak tadi Tante Lidya?" tanya Gricella.
"Hmm, tentu saja. Mommy akan tetap menjodohkan Kakak kamu itu dengan gadis yang jelas bibit bebet dan bobotnya," jawab Naura.
Gricella menghela nafasnya. "Setelah Kak Bryan dijodohkan dan menikah. Apakah Mommy juga akan melakukan hal itu padaku?"
Dahi Naura berkerut. "Kalau kamu melakukan hal bodoh seperti Kakak kamu itu, tentu saja Mommy akan melakukan hal yang sama. Karena Mommy hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak Mommy,"
Gricella menggelengkan kepalanya, sungguh ia tidak habis pikir dengan apa yang mommynya pikirkan saat ini. Zaman sudah semakin canggih, tetapi untuk urusan percintaan kenapa harus melakukan perjodohan.
Belum tentu di dalam perjodohan itu yang menjalaninya bahagia, bagaimana kalau nyatanya mereka sama-sama saling menderita dan sengsara karena pernikahan yang dilandasi perjodohan.
Gricella semakin takut dan juga gelisah. Seandainya itu terjadi padanya, akankah ia sanggup menjalani pernikahan tersebut? Walaupun ia belum pernah jatuh cinta, tetapi Gricella tahu soal perasaan yang tidak bisa dipaksakan. Gricella tahu akan hal itu, karena temannya di London dulu suka sekali curhat dengannya.
Malam pun tiba, Vesha benar-benar menyelesaikan pekerjaannya untuk yang terakhir kalinya. Angga datang dari ruangannya dan membantu Vesha merapikan meja kerjanya.
"Kau sudah menyelesaikan laporannya?" tanya Angga.
"Hmm, sudah!" jawab Vesha seraya tersenyum.
"Surat pengunduran dirimu sudah selesai dan sudah aku serahkan kepada kepala HRD," ujar Angga.
Vesha menghentikan pergerakannya saat ia hendak memasukkan sebuah bingkai foto. Angga melirik sekilas ke arah Vesha dan ikut berhenti memasukkan beberapa barang milik Vesha.
"Aku bisa bayangkan, jika Tuan Bryan akhirnya mengetahui semua tentang kejadian hari ini. Aku yakin dia sangat marah pada Nyonya Naura, terlebih pada diriku. Karena aku tidak bisa mencegah semua ini," ucap Angga seraya tertawa kecil.
Vesha terkesiap dan kembali memasukkan bingkai itu ke dalam tasnya. "Tuan Bryan tidak akan marah padamu, karena kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik." jawab Vesha.
Angga kembali tertawa. "Aku sudah sangat siap resiko apa yang nantinya akan Tuan Bryan berikan padaku," cetus Angga.
"Tenanglah Tuan Angga, akan aku pastikan kamu tidak akan terkena masalah mengenai pengunduran diriku hari ini," ucap Vesha.
Angga menghela nafasnya. "Kau ini orang baik, Sha. Tapi kenapa Nyonya Naura memperlakukan kamu seperti itu,"
__ADS_1
Vesha tersenyum lirih. "Aku hanya manusia biasa, Tuan. Aku tidak bisa melarang orang lain untuk selalu memperlakukanku dengan baik, bahkan memaksa untuk menyukaiku pun aku tidak bisa. Itu hak mereka untuk menyukai atau membenci diriku," jawab Vesha.
Angga tersenyum mendengar jawaban Vesha. "Tidak salah Tuan Bryan mempertahankan dirimu, Sha. Aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kamu dan Tuan Bryan,"