
Saat memasuki kelas, hal yang pertama Vesha lihat adalah bangku dimana Chandra sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Vesha tersenyum dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sagara.
Sagara pun mengerutkan dahinya saat melihat Vesha melewati tempat duduknya. Sagara nampak terlihat kesal saat tahu kalau Vesha menghampiri Chandra.
"Sudah lebih baik?" tanya Vesha yang membuat Chandra menghentikan kegiatannya.
Chandra tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulillah, sudah. Terima kasih ya," jawab Chandra.
Vesha yang masih tersenyum pun hanya mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Lagi-lagi Vesha melewati Sagara begitu saja dan membuat pria itu merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Yaitu perasaan kesal karena kembali dicuekin oleh Vesha.
Sagara pun berbalik dan tanpa sengaja tatapan matanya bersitatap dengan Chandra yang juga sedang melihatnya. Sagara langsung memberi tatapan tajam dan penuh persaingan dalam dirinya saat melihat Chandra.
Chandra yang merasakan aura kekesalan Sagara hanya tersenyum tipis dan kembali menyibukkan dirinya membaca buku. Tidak lama Marvin dan Langit datang yang entah dari mana asalnya.
Marvin terkejut saat melihat wajah Chandra, karena memang dirinya duduk di sebelah Chandra.
"Wajah kamu kenapa, Chan?" tanya Marvin dengan sangat khawatir.
Semuanya menoleh ke arah Marvin dan Chandra. Maklumlah suara si Marvin cukup keras, hingga membuat semuanya menoleh.
Chandra berdecak saat mendengar suara Marvin yang sedikit kencang. "Tidak apa-apa," jawabnya sedikit malas.
Langit pun mendekat dan memperhatikan setiap inci wajah Chandra yang masih terlihat memar.
"Kamu habis berkelahi dengan siapa?" selidik Langit.
Chandra memutar bola matanya malas. "Sama kucing," jawab asal pria itu.
Marvin tergelak mendengar jawaban Chandra, sedangkan Langit hanya mendengus kesal.
"Tidak lucu, aku bertanya serius kamu malah bercanda. Menyebalkan!" Langit kembali ke tempat duduknya dan meninggalkan Marvin dan Chandra yang sedang menertawainya.
Sementara itu Vesha sibuk dengan ponselnya. Gadis itu sedang berbalas pesan dengan seseorang, Vesha sempat menghela nafas beratnya. Membuat Aruna yang ada di sebelahnya mengernyitkan alisnya.
"Kamu kenapa, Sha?" tanya gadia itu.
Vesha melirik sekilas dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Tidak apa-apa," jawabnya seraya tersenyum.
Aruna hnya tersenyum tipis. "Kalau ada apa-apa cerita saja sama aku. Jangan kamu pendam sendirian," ujar Aruna.
Vesha kembali tersenyum. "Iya, Na. Makasih ya," jawab Vesha.
"Makasih untuk apa?" tanya Aruna yang bingung.
"Untuk semuanya, apalagi kamu sudah mau meluangkan waktumu untuk menjadi temanku," jawab Vesha.
Aruna berdecak kesal. "Kita sudah kenal cukup lama, Sha. Kenapa kamu berkata seperti itu sih?" keluh Aruna.
"Pakai bilang aku sudah meluangkan waktu untuk jadi temanmu. Memangnya berteman itu harus cari waktu yang tepat dulu ya, baru bisa berteman?" Aruna bertanya balik pada Vesha.
Vesha mengulum senyumnya. "Bukan begitu maksudku, Na. Maksud aku, aku tuh sangat berterima kasih karena kamu mau berteman denganku. Hanya itu tidak ada maksud apapun, tolong jangan salah paham. Maafin aku, Na!" jawab Vesha seraya memegangi lengan Aruna.
Aruna yang sejak tadi menahan tawanya pun kini hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Hingga membuat semuanya menoleh ke arahnya. Vesha yang tahu sudah dikerjai oleh Aruna pun langsung mencubit pinggang gadis itu.
"Hahaha, ampun Sha!" mohon Aruna yang masih tertawa.
Vesha pun berpura-pura cemberut dan menatap tajam ke arah Aruna. Namun gadis itu hanya bisa tertawa saja.
"Aduh, lama-lama kamu aku panggil Nyonya Krab saja lah," cetus Aruna.
Vesha melototkan matanya. "Sembarangan ganti nama orang. Tidak, aku nggak mau dipanggil itu," jawab Vesha yang masih cemberut.
"Hahaha, habisnya kamu suka banget nyubit aku pakai capitan tanganmu itu. Sudah mirip kepiting Tuan Krab," Aruna kembali tergelak.
Dengan gemas Vesha kembali mencubit Aruna, namun bukan sakit yng dirasakan gadis itu tetapi Aruna malah merasakan geli. Tawa Aruna dan Vesha menjadi perhatian Sagara dan Chandra. Kedua pria itu terus menatap ke arah Vesha yang sedang tertawa lepas.
Seulas senyum terbit di wajah Sagara dan Chandra. Tidak ada yang tahu kalau kedua pria itu sedang memfokuskan diri mereka ke satu gadis.
__ADS_1
Waktu pun semakin siang. Kini Sagara dan Vesha sudah bersiap akan pulang bersama. Sagara segera menghampiri Vesha sebelum Chandra terlebih dahulu mengajak gadis itu untuk pulang.
"Sudah siap, Sha?" tanya Sagara.
Aruna sempat mengerutkan dahinya saat Sagara mendekatinya. Gadis itu hanya bisa melihat Vesha yang sedang menganggukkan kepalanya. Sagara pun tersenyum, setidaknya rencananya berhasil.
Chandra pun mendekati Vesha tanpa mempedulikan Sagara. "Ayo, Sha!" ajak Chandra pada Vesha.
Vesha terkejut saat melihat Chandra yang sudah mengulurkan tangannya. Ia pun menatap pria itu, seakan merasa sedikit bersalah karena lupa memberitahukan Chandra.
"Maaf, Chan. Aku pulang bareng Gara. Karena aku mau mengantarkannya ke butik, aku juga sekalian ingin mengambil pesanan customer ku," jawab Vesha yang merasa sangat bersalah.
Chandra menurunkan tangannya kembali dan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, aku akan ikut kamu. Kamu sama aku biar dia mengikuti kita dari belakang," ujar Chandra.
Sagara mengeraskan rahangnya, dengan tangan yang terkepal kuat. Aruna yang masih ada di sana mulai merasakan adanya persaingan sengit antara dua sahabat ini.
"Tidak bisa, karena Mamanya Vesha taunya dia berangkat sama aku. Sebaiknya kamu pulang saja dan istirahat, sembuhkan luka di wajahmu itu. Memangnya kamu tidak malu kalau bertemu dengan orang banyak dengan wajah lebam seperti itu?" Sagara berkata dengan sinis.
Chandra tersenyum tipis dengan seringaian sedikit di wajahnya. Ia tahu kalau ini hanya siasat Sagara untuk kembali mendekati Vesha. Chandra memberanikan dirinya menghadap ke arah Sagara dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Sebaiknya kamu ajak kekasihmu itu. Jangan sampai dia melihat kamu memboncengi Vesha dan membuatnya dalam masalah. Apakah kamu senang jika Vesha terlibat masalah dengan kekasihmu itu, hmm?" tanya Chandra.
Sagara mengatupkan bibirnya. "Bukan urusanmu," jawab Sagara.
Pria itu beralih menatap Vesha. "Ayo, Sha. Sebaiknya kita segera pergi," ajak Sagara yang langsung menarik pelan tangan Vesha.
Vesha merasa tidak enak dengan Chandra. "Maaf, Chan. Nanti akan aku hubungi setelah sampai," ucap Vesha sambil berjalan keluar kelas bersama Sagara.
Marvin dan Langit yang berjalan menghampiri Chandra dan aruna hanya bisa berekspresi bingung. Mereka melihat Sagara dan Vesha dengan raut wajah bingung.
"Mereka berdua mau kemana?" tanya Langit pada Chandra.
"Ke butik Mamanya Vesha," jawab Aruna.
Marvin dan Langit pun hanya ber oh ria saja. Sedangkan Chandra hanya diam dan berlalu begitu saja meninggalkan Marvin, Langit dan Aruna. Pria itu juga tidak memperdulikan teriakan Marvin yang memanggil namanya.
Marvin mendengus kesal melihat Chandra tidak menanggapi panggilannya. Aruna yang merasa tidak ada keperluan lain pun ikutan pamit dengan kedua pria yang ada di hadapannya.
"Kami juga mau langsung pulang," jawab Marvin.
Ketiganya pun berjalan bersama keluar dari kelas. Mereka bertiga berjalan bersama menuju parkiran, karena kali ini Aruna membawa motornya sendiri.
Sagara dan Vesha juga sudah jalan menuju butik milik Vita. Selama diperjalanan tidak ada yang saling berbincang. Hingga menimbulkan kecanggungan diantara keduanya.
Sagara membelokkan motornya ke jalan yang mengarah ke butik mamanya Vesha. Mereka melewati perumahan, karena Vesha mengarahkan jalan pintas yang cepat sampai ke butik mamanya. Namun siang ini jalan terbilang cukup sepi, tidak seperti biasanya. Sagara pun mengernyitkan dahinya saat merasakan jalan yang sepi.
"Benar ini jalannya, Sha?" tanya Sagara setengah berteriak karena pria itu sedang memakai helm.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya balik gadis itu pada Sagara.
Sagara menggelengkan kepalanya. "Sepi banget jalanan nya," ujar Saga.
Vesha menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Benar apa yang dikatakan Sagara. Memang jalan ini sering tidak ramai kendaraan, tetapi tidak seperti hari ini yang hanya mereka yang melintasi jalan tersebut.
"Jalan ini memang biasanya sepi. Tapi nggak sepi banget kayak gini," jawab Vesha.
Tidak berselang lama sebuah mobil terlihat dari kaca spion motor Chandra. Pria itu sedikit bernafas lega, setidaknya ada sebuah mobil yang menemani melintasi jalan tersebut.
Mobil itu melaju cukup kencang hingga melewati motor milik Sagara. Setelah melewati motor Sagara, mobil iti berhenti mendadak dan membuat Sagara ikut mengerem mendadak.
"Aww," Vesha meringis saat kepalanya terbentur helm Sagara.
Beruntung Vesha juga mengenakan helm. Sagara merasa bersalah karena mengerem mendadak. Sagara langsung menurunkan standar motornya dan menoleh ke arah Vesha.
"Maafkan aku, Sha. Kepala kamu sakit gak?" tanya Sagara sambil membantu Vesha membuka helmnya.
Vesha menggeleng setelah helmnya terlepas. "Untungnya aku pakai helm, Ga." jawab Vesha.
Sagara dapat bernafas lega. Ia pun ikut melepas helmnya dan turun dari motor. Sagara hendak menghampiri mobil yang berhenti mendadak. Namun baru saja melangkah satu langkah, beberapa orang keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Ada sekitar 4 orang yang keluar dari dalam mobil, keempatnya memakai sebuah topeng penutup wajah. Hanya mata mereka yang masih terlihat. Dengan sigap Sagara mundur dan membawa Vesha ke belakang tubuhnya.
"Serahkan gadis itu pada kami," perintah salah satu pria itu.
Sagara langsung memberi tatapan tajamnya pada keempat pria yang berdiri sambil memegang tongkat baseball.
"Untuk apa aku menyerahkan kekasih ku pada kalian?" sahut Sagara dengan gaya menantang.
Pria itu berdecak kesal. "Bukan urusanmu! Sebaiknya serahkan saja gadis itu pada kami, jika kamu tidak ingin berurusan dengan kami."
"Sebaiknya kamu menurut saja anak muda. Anggap saja mempermudah tugas kami untuk memberi pelajaran pada gadis itu," teriak salah satu dari keempat pria bertopeng tersebut.
Sagara tersenyum smirk. "Urusannya juga urusanku," ucap Sagara yang langsung menggenggam tangan Vesha.
Vesha pun menyentuh lengan Sagara dan memberi usapan pelan. "Tenangkan dirimu, Ga. Tetap waspada karena mereka ada empat orang," bisik Vesha.
Sagara menoleh sedikit. "Hmm, kamu juga tenang saja. Aku akan tetap melindungimu," jawab Sagara.
Dua orang yang berdiri di belakang berjalan menghampiri Sagara dan Vesha. Kedua pun langsung mencoba menarik tubuh Vesha. Namun dengan cepat Sagara mencegah hingga baku hntam pun terjadi.
Vesha pun tidak tinggal diam saat satu orang menghampirinya. Vesha pun menghindar, namun dengan cepat tangannya ditarik dan membuat Vesha reflek menendang orang itu.
Sagara melawan dua orang dan dua orang lagi mencegah Vesha yang hendak berlari menghindari mereka, Vesha berpikir untuk meminta bantuan pada orang lain. Namun itu hanya rencananya saja, karena lagi-lagi kedua orang itu cepat bergerak dan membuat Vesha terkurung.
"Mau kemana Anda, Nona. Anda tidak akan bisa lari dari kami," ujar salah satu pria itu.
Vesha tersenyum smirk. "Benarkah?" Vesha bertanya seakan mengejek keduanya.
Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak menanggapi pertanyaan Vesha.
"Sebaiknya Anda menurut pada kami saja, Nona. Lihatlah teman pria Anda itu sudah kesusahan melawan kedua rekan kami," sahut pria itu.
Vesha berdesis. "Memangnya siapa kalian berani memberi perintah padaku? Kalian hanya sekelompok orang tidak berguna. Katakan padaku siapa yang menyuruh kalian untuk membawaku?"
Satu pria yang mengenakan jaket biru pun berdecak kesal. "Banyak bac*t nih cewek. Kami tidak akan memberitahukan siapa yang menyuruh kami,"
"Sudah! kita bawa saja dia," ujar pria yang ada di sebelahnya.
Mereka pun kembali menarik tangan Vesha, namun sekali lagi gadis itu melawan dengan cara memukul dan menendang.
"Sialan nih cewek, ternyata jago juga dia." ucap pria berhasil di beri pukulan di wajah oleh Vesha.
Vesha tersenyum menyeringai. "Sepertinya kalian salah memilih lawan," jawab Vesha.
Ya, bagaimanapun juga Vesha bisa melakukan beberapa gerakan muangthai. Karena dirinya sering berlatih bersama Shena. Jadi tidak heran jika gadis itu mudah melawan mereka berdua. Sagara tersenyum bangga melihat Vesha dapat bertarung dengan baik, walau terkadang gadis itu sempat terkena pukulan dan tendangan.
Rasa kagum terhadap Vesha pun semakin membesar. Dikala mereka sibuk berkelahi, dua buah mobil datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.
Mobil mereka berhenti di dekat Vesha dan Sagara. Beberapa orang keluar dari mobil sedan hitam tersebut.
[Dor..]
Suara senjata api yang ditembakkan ke udara membuat Vesha, Sagara dan keempat pria yang ingin menculik Vesha pun berhenti dan segera menoleh. Semuanya terkejut melihat sudah banyak pria berseragam hitam mengelilingi sambil mengangkat senjata api di tangan mereka masing-masing.
Keempat pria yang sempat berkelahi dengan Vesha dan Sagara pun panik dan pemimpin mereka memberi kode untuk melarikan diri.
"Sebaiknya kita pergi," bisiknya.
Keempat pria itu mulai berlari untuk kabur, namun dikejar oleh pria berseragam tersebut. Vesha dan Sagara saling melihat, dan nampak wajah bingung di wajah mereka berdua.
Seorang pria menghampiri Vesha sambil membungkukkan tubuhnya sebentar. Vesha semakin dibuat bingung dengan sikap pria yang tidak sama sekali ia kenal.
"Maaf, Nona kami terlambat datang. Apakah Anda terluka?" tanya pria itu.
Shena Aprikot
Aurel
__ADS_1