CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Bryan Heinzee


__ADS_3

Bryan terpaksa pergi dari taman tersebut, walau sebenarnya di dalam hatinya masih sangat kesal dengan Chandra dan Vesha yang malah memilih pergi meninggalkan dirinya.


Bryan memukul stir mobilnya, gemuruh dalam hatinya benar-benar semakin memuncak. Ia kesal karena disaat rasa rindunya terhadap Vesha tidak dapat ia lepaskan bersama gadis itu. Karena hadirnya Chandra di antara pertemuan mereka.


"Brengsek!"


Bryan kembali mengumpat dan memukul stir mobilnya berkali-kali. Sudah cukup lama dirinya tidak bertemu dengan Vesha, karena suatu hal. Rindunya selalu berkembang kala memikirkan gadis itu.


"Aku sangat merindukanmu, Sha." guman Bryan dengan tatapan penuh rindu pada sebuah foto yang sengaja di taruh Bryan di dashboard mobilnya.


Bryan Heinzee adalah putra pertama dari pasangan Sean Heinzee dan Naura Heinzee. Bryan adalah pewaris pertama dari pemilik perusahaan aplikasi taksi dan ojek online yang berkembang di Indonesia dan juga di luar negeri.


Bryan memiliki seorang adik perempuan yang masih berkuliah di luar negeri. Bryan sangat menyayangi adiknya perempuan satu-satunya yang dimilikinya itu.


Bryan sempat menjadi seorang sopir online, karena itu keinginannya sendiri. Bryan ingin memulai karir dan mengembangkan perusahaan kedua orang tuanya sebelum dirinya menggantikan sang ayah untuk memimpin perusahaan tersebut.


Bryan sudah menjatuhkan hatinya pada Gavesha, gadis yang tidak sengaja ditemuinya saat dirinya pertama kali menjadi sopir taksi. Saat itu Bryan merasakan debaran yang berbeda dihatinya.


Saat melihat Vesha menangis, entah kenapa perasaan Bryan sangat ingin memeluk dan mengusap air mata gadis itu. Perasaan ingin memeluk dan membawa gadis itu ke suatu tempat, agar Vesha tenang pun sempat terlintas didalam benak Bryan saat itu.


Namun Bryan masih menahannya, karena ia tidak ingin membuat Vesha tidak nyaman terhadap dirinya. Atau melaporkan segala tindakannya dan mengakibatkan fatal bagi perusahaan kedua orang tuanya.


Seiring berjalannya waktu, pertemuan tidak disengaja pun terjadi dan semakin membuat Bryan yakin kalau Vesha adalah gadis yang selama ini ditunggunya. Gadis yang menurutnya adalah jodohnya.


Hampir satu bulan Bryan tidak bertemu dengan Vesha membuat rasa rindunya semakin besar. Selama dirinya berada di luar negeri, Bryan selalu mengawasi Vesha melalui orang suruhan pria itu.


Ya, diam-diam Bryan menyewa seseorang untuk mengawasi dan menjaga Vesha dari jarak yang cukup dekat tanpa mengganggu gadis itu. Bryan ditugaskan sang ayah untuk mengatasi permasalahan perusahaan yang mendapat sedikit kendala.


Setelah selesai menyelesaikan permasalahan perusahaannya, Bryan cepat-cepat kembali ke Indonesia. Baru satu hari tiba di Jakarta, Bryan kembali menjadi sopir taksi online. Itu pun sengaja dilakukan Bryan, karena dirinya selalu berharap dapat bertemu kembali dengan gadis kesayangannya.


Bryan terus berkeliling sepanjang jalan menuju kampus Vesha. Ketika dirinya tanpa sengaja melintasi sebuah taman dekat kampus Vesha. Bryan melihat sosok yang selama ini dirindukannya, sosok yang selalu menghantui pikirannya. Bryan segera menepikan mobilnya, setelahnya pria itu langsung menghampiri Vesha yang sedang tertawa bersama Chandra.


Ada rasa kesal bercampur cemburu saat melihat Vesha tertawa di depan pria lain selain dirinya. Karena perasaan itulah, Bryan seakan buta dengan hatinya. Drama gila pun segera dilakoninya. Terbukti dari saat dirinya memanggil Vesha dengan sebutan 'sayang' saat menyapa gadis itu.


Tentu saja ucapan Bryan yang spontanitas itu memicu rasa kesal dalam diri Vesha. Terlihat jelas dari raut wajah Vesha yang menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran Bryan secara tiba-tiba.


Bryan sempat menyesali hal itu, namun dirinya tetap tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati Vesha. Jika perlu meminta kedua orang tua Bryan untuk melamarkan gadis itu untuknya pun visa dilakoninya. Karena kedua orang tua Bryan tidak mempermasalahkan status sosial calon menantu mereka.


Bryan terus menatap rindu pada sebuah foto yang berada di dalam ponselnya. Bryan terus memandangi foto Vesha tanpa berkedip. Pria itu sedikit menghela nafas gusarnya, Bryan menatap ke arah luar jendela kaca mobilnya.


Menatap tanpa lurus ke arah rumah minimalis bertingkat dua tanpa melakukan apapun. Bryan menggigit bibir dalamnya, lalu menyugar rambutnya kebelakang.


Bryan keluar dari dalam mobil, sepertinya tekadnya sudah bulat untuk menemui Vesha di rumahnya. Bryan tidak peduli kalau akan mendapatkan penolakan dari gadis itu. Yang terpenting Bryan bisa bertemu dengan kedua orang tua Vesha.


Bryan memiliki rencana untuk mengambil hati kedua orang tua gadis itu, lalu selanjutnya ia akan terus terang ingin melamar Vesha. Setidaknya itu rencana awal yang ada di pikiran Bryan saat ini.


Bryan terlihat menekan bel rumah Vesha. Kebetulan jam baru menunjukkan pukul 7 malam. Adam terlihat keluar dan segera membuka pintu pagar rumahnya.


"Assalamualaikum," salam Bryan dengan ramah dan sopan.

__ADS_1


Adam tersenyum. "Waalaikumsalam, maaf Mas nya ada keperluan apa?"


"Eum, Saya temannya Vesha, Om. Boleh Saya bertemu dengannya?"


Adam menelisik penampilan Bryan yang terlihat casual, namun sangat rapi. Adam pun mengangguk dan tersenyum.


"Boleh, silakan!" jawab Adam seraya melebarkan pintu pagarnya.


"Terima kasih, Om."


Bryan pun masuk ke dalam dan mengikuti Adam dari belakang.


"Kamu teman satu kampus sama Vesha?" tanya Adam sambil menggiring Bryan untuk masuk ke dalam.


" Iya, Om." jawab Bryan seraya menelan salivanya kasar.


Bryan terpaksa harus berbohong pada Adam, karena jika tidak berbohong maka dirinya akan dipersulit dan berujung penginterogasian Bryan.


"Silakan duduk! Saya akan panggilkan Vesha untuk turun dari kamarnya," titah Adam pada Bryan.


"Iya, Om. Sekali lagi terima kasih," jawab Bryan.


Adam pun naik ke atas lantai dua untuk memanggil Vesha. Sementara itu Bryan sedang tersenyum lebar dan bahkan saat ini hatinya sangat berbunga-bunga dan bahagia. Bryan tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu Vesha, gadis pujaannya.


Belum sempat melangkah menuju kamar Vesha, ternyata gadis itu sudah berjalan hendak menuruni anak tangga.


"Ah, kebetulan kamu keluar kamar. Itu dibawah ada teman satu kampus kamu," ucap Adam seraya menunjuk ke arah bawah tangga.


Jelas bingung karena memang pasalnya tidak ada pesan kalau teman kampusnya akan datang mampir ke rumahnya.


"Papa juga nggak tahu namanya, sudah segera temui. Nggak enak kalau kelamaan nungguin kamu,"


"Hmm, ya sudah!"


Vesha pun berjalan dibelakang Adam menuruni anak tangga. Setibanya di bawah Vesha sempat terkejut saat melihat siapa yang datang bertamu malam ini.


"Bryan," panggil gadis itu dengan mata membulat.


Bryan tersenyum ramah. "Hai, apa kabar?" sapa Bryan sambilan melambaikan tangan pada Vesha.


Adam tersenyum sambil melirik ke Vesha dan Bryan bergantian. "Kalau begitu Papa ke atas dulu, kalian berbincanglah!" ucap Adam seraya berpamitan kembali ke kamarnya.


Bryan tersenyum dan mengangguk pelan. "Sekali lagi terima kasih, Oom."


"Sama-sama. Ayo, Vesha diajak ngobrol temannya,"


Vesha hanya mengangguk kaku mendengar Adam berkata demikian. Vesha pun menatap punggung Adam yang berlalu menuju tangga, gadis itu menghela nafasnya. Vesha menoleh dan menatap tajam pada pria di hadapannya itu.


Vesha melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Ada perlu apa datang ke sini?" tanyanya dengan sedikit ketus.

__ADS_1


Bryan menanggapinya dengan senyuman lebarnya, jujur saja Vesha sempat tertegun melihat senyum Bryan yang semakin manis itu.


"Memangnya tidak boleh kalau aku merindukan kekasihku, hmm?" jawab Bryan menggoda Vesha.


Vesha memutar bola matanya malas. "Sudah aku katakan padamu untuk tidak memanggilku sembarangan. Apalagi ini," ucap Vesha mengantung ucapannya seraya mendengus kesal.


"Dengan seenak jidat kamu memanggil aku 'sayang' bahkan kamu menganggapku kekasihmu. Drama apalagi yang ingin kamu rilis?"


"Apa mungkin kamu ingin membuat drama yang bertemakan menjadikan diriku ini istrimu, hoeh?" Vesha kembali berkata dengan pertanyaan yang dilayangkannya secara penuh kekesalan.


Bryan menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar. "Ide bagus," jawab Bryan dengan santai.


Vesha tercengang dengan mulut terbuka sedikit. Vesha menggelengkan kepalanya, seraya tertawa kecil.


"Dasar orang gila," cetus Vesha.


Bryan masih tertawa kecil. "Aku serius, Sha. Aku ingin menjadikanmu istriku," kata Bryan dengan nada serius.


Vesha terdiam sambil memperhatikan mimik wajah pria di hadapannya itu. Vesha dapat melihat ketulusan dari mata Bryan. Vesha segera mengalihkan pandangannya ke arah sembarang.


"Pulanglah!" usir Vesha yang langsung menatap Bryan.


Bryan merasa sedikit kecewa karena Vesha mengusirnya. Namun bukan Bryan namanya jika tidak bersikeras untuk tetap berbicara dengan gadis pujaannya.


"Tidak mau!" tolak Bryan dengan mengerucutkan bibirnya.


Vesha melototkan matanya mendapatkan penolakan dari Bryan.Gadis itu berdecak kesal dan berjalan maju menghampiri Bryan. Vesha meraih tangan Bryan dan sedikit menariknya.


"Keluar!" bentak Vesha.


Vesha terus menarik tangan Bryan, namun dengan cepat pria itu juga menarik tangan Vesha. Hingga gadis itu berada di dalam dekapan Bryan.


Tatapan mata mereka saling bertemu, Bryan tersenyum melihat ekspresi wajah panik Vesha. Namun berbeda dengan gadis itu yang saat ini sedang merasakan debaran di jantungnya yang berdebar sangat kencang.


"Oh, ya Tuhan. Kenapa jantungku berdebar sangat kencang? Kenapa perasaan ini begitu sama seperti saat aku berdekatan dengan Gara?" ucap Vesha dalam hatinya.


Vesha menggelengkan kepalanya, dan dengan cepat ia mendorong tubuh Bryan. Bryan masih tersenyum lebar sambil terus memperhatikan Vesha. Vesha yang merasa terus diperhatikan pun sedikit salah tingkah. Vesha menghela nafasnya berusaha menetralkan dirinya dari getaran aneh yang dirasakannya saat berdekatan dengan Bryan.


"Oke, sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Vesha tanpa menatap ke arah Bryan.


Bryan mengulum senyumnya. "Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke pasar malam," jawab Bryan.


Vesha tertawa meremeh. "Mau ngajak cewek jalan 'kok ke pasar malam," celetuk sinis gadis itu.


Bryan tersenyum tipis. "Tadinya mau mengajak kamu ke mall, nonton bioskop. Tapi jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam. Aku yakin kita sampai di mall, mall itu sudah akan tutup." jawab Bryan sedikit menjelaskan.


Vesha nampak berpikir. "Iya juga," batin Vesha sedikit membenarkan ucapan Bryan.


Lalu Vesha kembali menatap Bryan dengan dagu sedikit terangkat ke atas.

__ADS_1


"Ya, sudah. Tunggu aku akan bersiap," ucap Vesha seraya membalikkan tubuhnya.


__ADS_2