CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Merindu


__ADS_3

Kedatangan Sagara membuat perasaan Bryan semakin semrawut. Berbeda dengan Vesha yang terlihat sangat santai, walau awalnya dia terkejut dengan kedatangan Sagara ke rumah sang nenek.


Shena sudah bangun sejak 10 menit yang lalu, ia pun ikut duduk bersama keempatnya setelah selesai sarapan. Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah sambil menyaksikan sebuah acara infotainment di televisi.


"Sudah lama sekali aku tidak kesini," cetus Sagara disela keheningan mereka.


Vesha pun menoleh dan tersenyum kecut. "Hmm, terakhir kau datang saat liburan untuk merayakan kelulusan saat SMA dulu," jawab Vesha lirih.


Sagara menyadari kesalahannya mengingat kejadian saat itu, ia pun mengangguk pelan. "Iya," ucap lirih Sagara.


Sagara tersenyum miris saat mengingat masa itu. Dimana Vesha untuk pertama kalinya berani menyatakan cintanya dihadapan Sagara. Namun malam itu juga Sagara menolak dan memperlakukan Vesha dengan kurang baik. Sagara menyesalkan atas sikapnya itu.


"Aku tahu kau mengingat kejadian itu, Sha. Maafkan aku," lirih Sagara di dalam hatinya.


Bryan menatap sinis ke arah Sagara dan juga Vesha. Lalu ia pun sengaja mendekatkan dirinya dan merangkul pinggang Vesha. Vesha sempat terkejut dengan tindakan Bryan, namun Bryan hanya tersenyum melihat ekspresi keterkejutan dari gadis itu.


Sagara mengepalkan kedua tangannya melihat kemesraan Bryan dan Vesha. Pria itu langsung melengoskan wajahnya ke arah lain. Rasa sesak mulai menyelimuti hatinya, ia tahu kalau hatinya belum begitu ikhlas menerima kenyataan bahwa Vesha sudah tidak lagi mencintainya.


Sagara dapat melihat pancaran cinta yang tulus di mata Vesha, ketika gadis itu sedang menatap Bryan. Begitupun sebaliknya, Sagara juga dapat melihat ketulusan cinta Bryan untuk Vesha.


Sagara menundukkan kepalanya. Menyesal, ya itulah yang kini Sagara rasakan. Menyesal karena telah menghilangkan cinta tulus Vesha terhadap dirinya. Menyesal karena telah melepaskan Vesha terlalu jauh dari hidupnya. Menyesal karena kini bukan dirinya lagi yang menjadi rumah untuk gadis itu.


Sagara berdiri dari posisi duduknya. Ia pun izin ke toilet sebentar. Sepeninggalnya Sagara, Marvin sempat melirik ke arah Vesha dan Bryan. Ia pun menghela nafasnya.


"Kini kau merasakan penyesalan itu kan, Ga? Padahal sejak tadi aku sudah mengingatkanmu untuk tidak datang kesini," gumam Marvin dalam hatinya.


*


Hari pun terus berlalu, Shena sudah kembali ke Jakarta bersama Marvin dan juga Sagara. Di hari kedatangan Sagara dan Marvin waktu itu, mereka semua menyempatkan berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Tini.


Tini sangat senang ternyata Vesha sudah memiliki calon suami. Bryan sendiri dengan percaya diri yang tinggi mengatakan dan mengungkapkan kalau dirinya adalah calon suami dari Vesha. Bahkan pria itu dengan sangat berani melamar Vesha di hadapan kedua orang tua dan nenek Tini, serta teman-temannya Vesha.

__ADS_1


Awalnya Adam dan Vita sempat merasa keberatan, namun sebagai orang tua Vesha. Mereka tidak ingin egois, mereka tahu kalau Vesha sangat mencintai Bryan. Bryan adalah pria yang berhasil mengobati luka dalam hati putri mereka setelah apa yang dilakukan oleh Sagara.


Bryan terpaksa harus kembali ke Jakarta, karena ia harus menghadiri meeting yang tidak bisa diwakilkan oleh asistennya. Bryan sudah mengangkat Rico sebagai asistennya sejak Vesha mengundurkan diri saat itu.


Di Jakarta sepulangnya Bryan dari Surabaya, pria itu mulai terasa rungsing dan sudah merindukan Vesha. Rico tahu kalau atasannya itu saat ini sedang galau. Rico menggelengkan kepalanya, saat melihat Bryan yang kurang fokus saat meeting tadi.


"Bos," panggil Rico.


"Kenapa, Ric?" tanya Bryan.


Rico menghela nafasnya. "Bos, tidak bisakah anda lebih konsentrasi hari ini?" tanya Rico.


Bryan menaikkan satu alisnya. "Apa maksudmu?" Bryan balik bertanya.


"Saya perhatikan sejak tadi anda tidak fokus selama meeting. Apakah anda sedang banyak masalah?" tanya Rico.


Bryan menatap tajam ke arah Rico. "Sejak kapan kau mulai memperhatikan aku, heoh? Kau ini aku pekerjakan hanya untuk mengurus urusan kantor saja. Bukan untuk mengurus masalah pribadiku," jawab Bryan.


Rico menelan salivanya dengan kasar. "Maaf, jika saya sudah sangat lancang Tuan!" ujar Rico.


"Baik Tuan," jawab Rico


Rico pun berdiri dan segera keluar dari ruangan Bryan. Sepeninggalnya Rico, Bryan yang memang tidak fokus saat pertama kali datang ke kantor, merasa gelisah. Bryan menghentikan menatap layar laptop dan memilih menutupnya.


"Sial, baru berapa hari saja sudah kangen banget sama Vesha," gumam Bryan pelan.


Sementara itu dilain tempat, Gricella yang sudah mulai berkecimpung di dunia bisnis kuliner. Kini mulai menangani beberapa restoran milik Naura. Gricella saat ini sedang mencari suplier untuk menyetok berbagai sayuran dan buah untuk restorannya.


Kebetulan saat ini dia sudah mendapatkan satu calon supplier yang memenuhi kriterianya. Mereka sudah membuat janji temu di salah satu restoran milik Naura yang ada di Jakarta.


Gricella menunggu kedatangan mereka di dalam ruangannya. Pintu ruangan diketuk oleh salah satu karyawannya. Setelah mendapat perintah untuk masuk, akhirnya orang itu masuk ke dalam ruangan Gricella.

__ADS_1


"Selamat pagi, Nona." sapa hangat pria itu.


Gricella yang sedang fokus menatap layar laptopnya pun mendongakkan kepalanya. "Iya, ada apa Yanto?" tanya gadis itu.


"Saya hanya ingin menyampaikan kalau pemilik suplier yang akn bekerja sama dengan kita sudah datang. Mereka menunggu di luar," jawab Yanto.


"Hmm, tolong suruh ke ruangan saya saja," ucap Gricella.


"Baik Nona," jawab Yanto


Yanto pun kembali keluar dan memanggil klien atasannya itu. Gricella kembali menatap pintu yang terbuka oleh Yanto, dan saat itu juga matanya membulat sempurna saat melihat siapa klien yang akan bekerjasama dengan dirinya.


Begitupun juga dengan orang itu, pria itu terkejut saat melihat Gricella di dalam ruangan itu.


"Kamu," ucap keduanya bersamaan.


Ucapan Gricella dan pria itu menjadi perhatian Yanti dan asisten pria tersebut.


Yanto pun menatap ke arah Gricella. "Maaf, Nona! Apakah sebelumnya kalian sudah saling mengenal?" tanya Yanto dengan dahi berkerut.


Gricella menyadark kesalahannya. "Maaf, silakan duduk!" ucap Gricella mengabaikan pertanyaan Yanto.


Yanto sebenarnya masih penasaran, namun mengingat mereka saat ini sedang bertemu klien. Akhirnya ia memilih melupakan dan meminta kliennya itu untuk duduk.


"Nona perkenalkan ini Tuan Chandra, pemilik Arlanvegeblend. Tuan perkenalkan ini Nona Gricella pemilik restoran ini," ucap Yanto seraya memperkanalkan keduanya.


Gricella yang mulai merasa gugup pun terpaksa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Chandra. Sedangkan Chandra sendiri masih bisa bersikap seperti biasa. Chandra tahu kalau saat ini gadia di hadapannya yang menjadi kliennya itu sedang gugup.


Chandra tersenyum sinis dalam hatinya. "Pencitraan, kenapa aku harus bertemy dengannya dan juga berurusan dengan gadis arogan ini," gumam Chandra dalam hatinya.


"S-senang bisa bertemu langsung dengan anda, Tuan," ucap Gricella gugup.

__ADS_1


Gadis itu menghela nafasnya. "Oh, ya Tuhan. Kenapa aku jadi segugup ini?" lirih Gricella di dalam hatinya.


Chandra tersenyum karena merasa sangat senang saat melihat kegugupan dalam diri Gricella.


__ADS_2