
Marah, kecewa dan malu menjadi satu dalam diri Darel setelah mengetahui alasan dibalik keinginan Sagara untuk datang ke mansion keluarga Alvaro, malam ini. Sagara hanya bisa menyesali atas kecerobohannya.
Ia sangat menyesal telah kembali membuat kedua orang tuanya kecewa dengan dirinya. Mungkin kata maaf tidak akan bisa mengembalikan rasa kecewa itu, namun bagi Sagara dengan hanya mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Sagara yakin kalau keputusannya itu tepat. Sagara tidak ingin kembali mengecewakan kedua orang tuanya dengan menjadi seorang pengecut.
Sagara dan kedua orang tuanya sudah bersiap untuk menuju mansion milik keluarga Alvaro. Terlihat jelas wajah gusar dan gugup diantara mereka, terutama Darel. Ia sungguh tidak menyangka kalau akan berhubungan dengan atasannya dengan cara seperti ini. Berkali-kali Darel menghela nafas gusarnya, jujur ia sangat gugup. Namun dengan cepat ia menetralkan rasa gugupnya itu dengan terus menampilkan wajah datarnya.
Sementara di mansion, Aruna menatap nanar pada dirinya di depan cermin dalam kamar tamu. Gadis itu sejak selesai dirias hanya melamun dan tidak bergeser atau berpindah tempat.
Pintu kamar terbuka, seorang gadis cantik dan pria tampan berusia 15 tahun masuk dengan senyum merekah di wajahnya. Wajah keduanya terlihat sangat mirip. Anak kembar itu adalah Andrew dan Andreana, mereka adalah si twins dari pasangan Aaram dan Sandra. Saat pesta kemarin mereka tidak datang karena sedang berada di Bandung, tempat sang nenek.
"Hayo, lagi ngelamunin apa?"
Aruna tersentak mendengar ucapan gadis itu. Ia terkejut melihat keduanya, entah kapan mereka masuk ke dalam kamar.
"Andrew, Andreana," gumam Aruna.
"Kenapa Kak Aruna melamun?" tanya Andreana.
"Palingan juga lagi nervous. Secara sebentar lagi Kak Aruna akan dilamar," celetuk Andrew.
Aruna tersenyum getir, "kamu ini!" Aruna mencubit lengan Andrew.
"Sakit, Kak!" ringis Andrew.
Aruna dan Andreana hanya tertawa. "Makanya jangan suka ngeledekin Kakak," ujar Aruna yang masih tertawa.
Andrew berdecak kecil, tidak lama pintu kembali terbuka dan Lona datang bersama Sandra.
"Ternyata kalian disini, Oma dan Nenek mencari kalian." Sandra menatap kesal pada twins.
Sedangkan twins hanya menampilkan cengiran saja. "Siap Mommy!" jawab twins bersamaan.
Sandra menggelengkan kepalanya dengan helaan nafas pasrahnya. Twins pun keluar dari kamar Aruna dan meninggalkan sang mommy bersama tante dan kakaknya. Lina menghampiri Aruna yang masih duduk di kursi meja rias.
"Keluar, yuk! mereka sudah tiba," ajak Lina.
Aruna pun mengangguk dan meraih tangan Lina. Sandra tersenyum melihat Aruna yang sangat cantik malam ini. Sandra mengusap punggung Aruna dengan lembut.
"Kamu cantik sekali. Kakak yakin Gara akan dengan mudah jatuh cinta sama kamu," goda Sandra.
__ADS_1
Aruna tersenyum seraya menundukkan kepalanya. "Mana mungkin, Kak. Dihati Gara hanya ada nama Gavesha," batin Aruna.
Mereka pun menggiring Aruna untuk keluar kamar. Sementara itu di ruang tamu sudah begitu banyak yang hadir. Seluruh keluarga Alvaro hadir di malam ini, sedangkan dari pihak Sagara hanya dirinya dan kedua orang tuanya saja yang hadir. Darel sengaja tidak mengajak keluarganya yang lain, karena baginya ini adalah kejadian sangat memalukan.
Sagara tertegun melihat kecantikan Aruna yang berlipat ganda. Matanya bahkan tidak berkedip sama sekali, Aruna sempat melihat ke arah Sagara. Tatapan keduanya pun sempat terkunci, Aruna langsung menundukkan kepalanya saat tatapan mata Sagara terus tertuju padanya.
Aruna duduk tepat di hadapan Sagara. Wanita Itu diapit oleh Lina dan Sandra. Richard yang duduk di single sofa terlihat begitu berwibawa. Richard pun mulai perbincangan dengan sambutan kecil. Ia pribadi mewakili kedua orang tua Aruna yang sudah meninggal dua bulan yang lalu. Itu sebabnya Aruna sudah dianggap bagian dari keluarga Alvaro oleh Richard. Walaupun Justin adalah kakak sepupu Aruna.
Pertemuan keluarga kali ini benar-benar terkesan tertutup. Semuanya juga sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aruna dan Sagara. Setelah Richard berbicara, kini giliran Darel. Pria itu mengungkapkan permintaan maafnya pada seluruh keluarga Richard terutama pada keluarga Justin. Darel pun mengungkapkan keinginannya melamar Aruna malam ini untuk Sagara, putranya.
Kalau boleh jujur, Darel merasa sangat malu berhadapan dengan keluarga Alvaro atas apa yang sudah dilakukan oleh Sagara.
"Saya sebagai kepala keluarga, minta maaf atas apa yang sudah putra saya lakukan. Walau kita tahu kejadian itu adalah sebuah musibah. Tetapi, saya sebagai Ayah sangat merasa malu atas musibah yang terjadi pada Sagara dan Aruna. Mungkin kata maaf tidak akan bisa mengembalikan semua yang telah terjadi. Namun saya benar-benar minta maaf untuk semua yang terjadi," ucap Darel dengan suara bergetar lirih.
Safira langsung menggenggam tangan suaminya sambil mengusap lembut lengan Darel. Sagara merasa ini adalah kesalahannya, ia pun juga tidak luput untuk minta maaf pada semuanya. Terutama pada Aruna.
Sagara mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Richard, Justin dan juga Aruna.
"Saya pun secara pribadi ingin minta maaf pada Aruna dan seluruh keluarga Tuan Richard dan Tuan Justin. Saya akui kesalahan ada di saya, seandainya saya bisa mengontrol semuanya. Mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Sekali lagi saya minta maaf," ujar Sagara tulus.
Lalu tatapannya mengunci ke arah Aruna yang juga sedang menatap dirinya. "Na, maukah kamu menikah denganku?" tambah Sagara bertanya pada Aruna.
Lina memperhatikan Aruna yang hanya diam dan tidak mengeluarkan satu kata pun, akhirnya meraih tangan wanita itu dan memberi sentuhan lembut agar Aruna lebih tenang. Ya, Lina tahu kalau dalam diri Aruna masih sangat ragu. Entah apa yang membuat Aruna ragu menerima lamaran Sagara. Akan tetapi, Lina lebih takut jika Aruna tidak sama sekali menerimanya.
Sebab, Lina tidak ingin Aruna hamil diluar nikah. Sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, maka Lina berharap aga Aruna mau menikah dengan Sagara.
"Tenanglah!" bisik Lina pada Aruna.
Aruna pun menoleh ke arah Lina dan tersenyum. Aruna mengangguk dan kembali menatap ke arah Sagara.
"Iya, aku mau menikah denganmu."
Semua dapat bernafas lega, akhirnya Aruna mengiyakan ajakan Sagara. Walaupun nantinya Aruna menolak, tetap saja mereka berdua tetap harus menikah. Jika salah satu dari keduanya ada yang menolak, maka Justin yang akan bertindak. Sebelumnya Aruna juga sudah diwanti-wanti oleh Justin, agar Aruna tetap menikah dengan Sagara.
Sagara mengeluarkan kotak cincin dari dalam kantong celananya. Darel dan Safira sempat terkejut saat melihat Sagara mengeluarkan kotak cincin tersebut. Pasalnya mereka tidak tahu menahu kalau Sagara sudah menyiapkannya.
Sandra berdiri dan membiarkan Sagara untuk pindah tempat duduk di sisi Aruna. Sagara tersenyum tipis saat tatapannya beradu pada Aruna, membuat wanita itu tersipu malu. Aruna menjulurkan jarinya, dan dengan tangan sedikit bergetar Sagara memasangkan cincin di jari manis Aruna.
Setelah memasangkan cincin di jari Aruna, Justin mulai berkata kalau pernikahan mereka harus segera dilaksanakan. Justin juga memberitahukan semuanya kalau orang yang menjebak Sagara dan Aruna sudah ia tangani. Sebenarnya Sagara sangat ingin tahu siapa yang telah menjebak dirinya hingga berujung tidur bersama dengan Aruna.
__ADS_1
"Fokuslah pada rencana pernikahan kalian berdua. Soal orang itu kalian tenang saja, aku sudah mengurusnya. Kalian tidak perlu memikirkannya," pesan Justin saat ia paham dengan tatapan Sagara dan Aruna.
Richard mengajak Darel dan Safira untuk menikmati makan malam bersama. Seluruh keluarga segera menuju ke ruang makan, tetapi tidak dengan Sagara dan Aruna.
Mereka sengaja meninggalkan keduanya, agar keduanya bisa berbicara empat mata. Mengenai pernikahan mereka akan diselenggarakan tiga minggu lagi.
Hening tercipta setelah seluruh keluarga berpindah tempat ke ruang makan. Sagara dan Aruna nampak terlihat sangat gugup.
"Terimakasih, Na."
Aruna mendongakkan kepalanya dan menatap Sagara. "Untuk apa kamu berterima kasih padaku? Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Ga. Karena kamu sudah mau menikah denganku," ucap Aruna.
Sagara tersenyum tipis. "Jujur saja tadi aku sempat takut," lirih Sagara.
Dahi Aruna berkerut. "Takut apa?" tanya wanita itu.
Sagara menatap manik mata Aruna. "Aku takut kamu menolak lamaranku," jawab Sagara lirih.
Aruna nampak terkejut mendengar jawaban Sagara. Bahkan itu diluar prediksi BMKG, ia tidak menyangka kalau pria di sebelahnya ini berpikir seperti itu.
"K-kenapa kamu harus takut? B-bukankah itu sangat bagus untukmu, jika aku menolaknya?" Aruna bertanya dengan perasaan gugup.
Sagara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Na. Itu tidak bagus untukku," ujar Sagara.
Pria itu menghela nafasnya. "Aku tidak ingin kembali mengulang kesalahanku. Aku tidak ingin menjadi pria pengecut dan hanya bisa mengecewakan kedua orang tuaku. Tidak Na, aku tidak ingin seperti itu. Kita sudah sama-sama dewasa, Na. Aku tahu kamu mencintaiku, dan aku pun begitu. Aku tidak ingin menjadi pria munafik dengan mengulang kesalahan yang sama. Melepaskan wanita yang tulus mencintaiku, itu kesalahan fatalku dalam hidupku saat itu. Tetapi kini aku sangat bahagia, karena telah kembali mendapatkan wanita yang tulus mencintaiku," tambah Sagara.
Sagara menggenggam tangan Aruna. "Na, maukah kamu menjalani bahtera rumah tangga bersamaku? Menemeniku hingga tua nanti, dan menerimaku apa adanya?"
Aruna semakin baper dibuatnya, mata Aruna pun mulai berkaca-kaca. Sungguh ini benar-benar diluar prediksi Aruna. Bahkan ia bingung mengungkapkan perasaannya saat ini, haruskah ia bahagia? Ya, memang harus. Karena Sagara sendiri yang mengutarakan isi hatinya sendiri. Jadi cintanya sudah tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
Aruna mengangguk sambil menutup mulutnya dengan satu tangan yang tidak digenggam oleh Sagara.
"Iya, aku mau."
Sagara tersenyum lebar mendengar jawaban Aruna. Tanpa aba-aba Sagara langsung memeluk wanita itu. Perasaan keduanya sangat bahagia, Sagara berjanji pada dirinya kalau ia tidak akan pernah mengecewakan Aruna.
"Terimakasih sayang," bisik Sagara yang mampu membuat Aruna tersipu malu.
Bagaimana tidak, baru saja cintanya diterima sudah dipanggil sayang.
__ADS_1