CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Menjadi Sekretaris Bryan


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, kini waktunya Vesha memulai karirnya menjadi sekretaris Bryan. Hari ini adalah hari dimana Bryan dikenalkan sebagai CEO di perusahaan Heinzee Corp. Untuk menggantikan Sean Heinzee. Acara pun berlangsung cukup meriah dan banyak sekali hidangan enak-enak untuk para pegawai di perusahaan tersebut.


Vesha juga sudah dikenalkan oleh kedua orang tua Bryan. Vesha sangat gugup saat berhadapan langsung pada kedua orang tua dari pria yang sudah mulai mengusik hatinya itu.


"Oh, jadi ini gadis yang bernama Vesha itu. Cantik juga," ucap Naura dengan menunjukkan wajah angkuhnya.


Vesha sedikit menelan salivanya dengan kasar, namun gadis itu harus tetap tersenyum lebar di depan Naura.


"Salam kenal, Nyonya. Terima kasih atas pujian anda," jawab Vesha.


Naura menganggukkan kepalanya. Lalu ia menoleh ke arah Bryan. "Bryan, boleh Mommy mengajak sekretaris kamu untuk mengambil makanan?" tanya Naura pada Bryan.


Bryan pun tersenyum. "Silakan, Mom. Tapi Bryan harap Mommy tidak menyakitinya," jawab Bryan..


Naura berdecak kecil seraya memberi tatapan sinis pada putranya itu. Naura tidak peduli dengan ucapan Bryan, ia pun mengajak Vesha menuju meja yang menyajikan beraneka ragam makanan.


"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan putraku?" tanya Naura tanpa menatap ke arah Vesha.


Wanita itu malah asyik memilih makanan yang ada di hadapannya. Vesha sempat terdiam sejenak sambil memperhatikan Naura.


"Kenapa diam? Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku tanyakan tadi?" Naura kembali bertanya dan tetap saja wanita itu tidak menatap atau menoleh ke arah Vesha.


Vesha mengerjapkan matanya, tiba-tiba saja aura diantara mereka semakin mencekam. Vesha dapat merasakan kalau Naura tidak menyukai dirinya.


"Aku dan Bryan baru dekat sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu. Maaf, aku pun juga sedikit lupa." jawab Vesha dengan tawa getir mencoba agar suasana tidak tegang.


Vesha kembali melirik Naura, tidak ada ekspresi apapun dari wanita itu. Naura hanya menunjukkan wajah datar dan dinginnya saja. Vesha kembali merasa tidak nyaman dan kegugupan pun melanda dirinya.


"Kamu baru diangkat sebagai sekretaris putraku sudah lancang memanggil penerus dari keluarga Heinzee dengan nama saja. Tanpa embel-embel Tuan atau Mr." ucap Naura dengan nada sinis.


Tangan Vesha menggantung saat hendak mengambil daging. Perlahan tangannya pun turun.


"Maafkan saya, Nyonya." jawab Vesha bernada lirih.


"Seharusnya sebagai sekretaris harus bisa menjaga attitude dalam berbicara. Tetapi ini saja memanggil bos pemilik perusahaan dengan hanya menyebutkan nama. Cih, kenapa Bryan memilih sekretaris seperti kamu," celetuk Naura.


Vesha menghela nafasnya, dadanya terasa sedikit sakit mendengar sindiran dari Naura.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nyonya. Saya janji tidak akan mengulanginya kembali," jawab Vesha.


Naura berdecak kesal. "Cih, aku jadi tidak nafsu makan." ujar Naura seraya menaruh kembali piringnya dengan sedikit kasar.


Wanita berpenampilan elegan itu pun berbalik badan dan meninggalkan Vesha begitu saja. Vesha memejamkan matanya sejenak dengan tarikan nafas menahan gejolak rasa kesal dan sakit hatinya terhadap ucapan Naura.


"Sabar, Sha. Kamu pasti bisa menangani orang-orang seperti Mommy nya Bryan," gumam Vesha dalam hatinya.


Saat Vesha hendak menaruh kembali piringnya. Tiba-tiba saja, sebuah tangan menahannya.


"Kamu harus banyak makan, karena setelah ini harus siap menjadi sekretarisku," ujar Bryan seperti sebuah bisikan.


Vesha menegang mendengar suara Bryan, bagaimana tidak posisi mereka saat ini Bryan berdiri tepat di belakang Vesha.


Vesha tersadar kalau mereka terlalu dekat, gadis itu pun sedikit bergeser. "Maaf Tuan, tolong jangan seperti ini. Tidak enak kalau dilihat orang lain," jawab Vesha yang berusaha menutupi kegugupannya.


Bryan tersenyum tipis, pria itu pun juga ikut mengambil piring dan makanan tanpa melihat apa yang sedang diambilnya. Intinya Bryan hanya terus menatap Vesha yang sedang mengambil beberapa makanan untuknya.


Vesha sudah selesai mengambil makanan, lalu ia pun berjalan meninggalkan Bryan. Vesha sengaja memilih menjauh dari Naura dan Sean. Tanpa disadarinya, ternyata Bryan pun mengikuti Vesha.


"K-kamu kenapa duduk disini?" Vesha bertanya dengan mata yang melotot.


"Makanlah," Bryan memasukkan potongan daging ayam ke dalam mulut Vesha.


"Jangan dengarkan apa yang Mommy ku katakan. Sekarang fokuslah menjadi sekretaris ku dan juga kekasihku," sambung Bryan seraya tersenyum pada Vesha.


Tangan Bryan terulur menyentuh pipi Vesha. "Aku hanya ingin kamu selalu percaya padaku dan tidak meragukan diriku," ucap Bryan kembali.


Vesha hampir saja meneteskan air matanya, jika gadis itu tidak cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah bawah.


Bryan menyentuh tangan Vesha dan memberi usapan halus di sana. Seakan pria itu sedang memberi kekuatan, agar Vesha tetap kuat dan sabar dalam menghadapi segala rintangan yang ada.


"Terima kasih, aku akan berusaha menjadi gadis yang tegar dalam menghadapi apapun itu." jawab Vesha terdengar lirih.


"Harus! Karena kamu adalah wanitaku," cetus Bryan.


Vesha mendongakkan kepalanya dan menatap Bryan yang sedang tersenyum padanya. Senyum yang selalu teduh dan mampu membuat hati Vesha merasakan damai dan tenang. Vesha pun tersenyum dan menundukkan kembali wajahnya.

__ADS_1


Dari jarak yang tidak cukup jauh, Naura menatap datar ke arah Vesha dan Bryan yang sedang terlihat sangat dekat. Naura kembali meraih gelas yang berisikan wine dan meneguknya sekali tenggak. Sean tahu kalau istrinya sejak tadi sedang menahan rasa kesal dalam dirinya.


Jam terus berputar, hingga akhirnya Sean dan Naura pamit undur diri meninggalkan perusahaan di tangan Bryan. Sepanjang perjalanan menuju mansion, Naura hanya diam dan membuat Sean semakin gelisah.


"Kenapa kamu sejak tadi hanya diam saja sayang? Apakah ada masalah?" tanya Sean pada sang istri.


Naura yang sedang menatap ke arah luar jendela hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Suruh Bryan jauhkan gadis itu. Mommy tidak suka melihatnya terlalu dekat seperti itu," ucap Naura pada Sean.


Sean menghela nafasnya sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Mom, Vesha itu gadis baik. Dia disana juga bekerja sebagai sekretaris Bryan. Daddy juga sudah melihat CV nya, dia itu lulusan terbaik di kampusnya."


"Percuma kalau lulusan terbaik tetapi attitude nya tidak ada," celetuk sinis Naura.


"Maksud Mommy apa?" tanya Sean merendahkan nada bicaranya.


Naura pun menceritakan apa yang tadi Vesha katakan saat menyebut nama Bryan tanpa embel-embel 'Tuan'. Sean yang mendengar curhatan istrinya itu hanya dapat mengulum senyumnya saja. Sean menggelengkan kepalanya menyadari kalau istrinya seperti anak kecil.


"Sudahlah, Mom. Mungkin tadi Vesha tidak sengaja, buktinya dia bisa memperbaiki panggilan pada Bryan," jawab Sean.


Naura berdecak kesal. "Jangan bilang kamu membelanya," cetus Naura.


"Bukan begitu,"


"Sudahlah, aku muak membahas gadis itu!" ketus Naura yang kembali menatap ke arah luar jendela tanpa menoleh ke arah Sean.


Sean menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah istrinya ini.


"Oh, katakan pada Tuan Elang kalau aku setuju melakukan perjodohan untuk Bryan dan putrinya."


Sean langsung menoleh ke arah Naura, sungguh ia tidak percaya kalau istrinya akan mengambil keputusan seperti itu dengan sangat cepat.


"Sayang!" protes Sean.


"Lakukan apa yang baru saja aku katakan! Aku tidak suka Bryan terlalu lama dekat dengan gadis itu," potong Naura seraya menatap sinis pada Sean.


Sean kembali menghela nafasnya, sebaiknya nanti saja dibahas kembali soal ini. Jujur saja Sean sangat takut kalau Bryan akan menjauh dari mereka. Sean memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja mulai berkedut.

__ADS_1


"Ya Tuhan, inilah yang aku takutkan jika istriku tahu soal ini." gumam Sean dal hatinya.


__ADS_2