
Satu tahun berlalu…
Kehidupan rumah tangga Vesha dan Bryan bisa terbilang harmonis selama satu tahun terakhir. Walaupun sebenarnya mereka sering terlibat sedikit kesalahpahaman. Namun, diantara mereka tidak pernah mementingkan ego atau meninggikan ego mereka.
Putra pertama mereka juga sudah lahir, dan diberi nama Abercio Kaivan Heinzee. Yang memiliki arti sebagai putra pertama dari keluarga Heinzee yang rupawan. Kini usia Kaivan sudah menginjak 8 bulan. Bayi gembul itu saat ini sedang aktif-aktifnya.
Baby Kai sudah mulai merangkak dan belajar berdiri berpegangan pada benda disekitarnya. Vesha dan Bryan semakin ekstra dalam menjaga baby Kai yang sangat aktif itu.
Pagi ini baby Kai sudah terlihat begitu tampan memakai kemeja lengan pendek berwarna krem. Begitupun juga dengan Vesha dan Bryan yang berpakaian berwarna senada dengan baby Kai.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Bryan yang masih memangku baby Kai.
Vesha menoleh dan tersenyum. "Sedikit lagi," jawabnya sambil memperhatikan baby Kai yang sibuk menggigit mainannya.
"Sepertinya Baby Kai lapar," ucap Bryan.
Vesha belum menjawab, ia memilih menyelesaikan make up nya. Setelah itu ia berdiri dan menghampiri Bryan dan baby Kai.
"Dia sudah makan, masa mau makan lagi?" jawab Vesha sambil bertanya.
"Habisnya dia gigit mainannya terus," ucap Bryan yang dihadiahi gelak tawa Vesha.
"Bukankah semua bayi akan seperti itu jika memegang sesuatu? Dia akan memasukkan ke dalam mulutnya apapun yang dipegangnya. Bukan berarti dia lapar," cetus Vesha yang masih tertawa.
Bryan pun ikut tertawa. "Lihatlah putra kita! Dia sangat menggemaskan seperti Mommy nya,"
Vesha hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa mendengar ucapan Bryan.
"Sebaiknya kita bergegas, karena satu jam lagi acaranya segera dimulai!" titah Vesha.
Bryan pun berdiri dan masih menggendong baby Kai, sementara Vesha mengambil tas selempang miliknya. Mereka turun ke lantai satu dan disana sudah ada Sean, Naura dan juga Gricella.
"Uuuh, cucu Oma ganteng sekali. Sini sayang biar sama Oma saja!" Naura meraih alih baby Kai dari tangan Bryan.
"Semuanya sudah siap?" ucap Devan yang baru saja datang.
"Sudah," jawab semuanya.
"Kalian kompak sekali!" tutur Devan seraya tersenyum.
Mereka pun segera meninggalkan rumah Bryan. Pagi ini mereka harus datang ke acara pernikahan Shena dan Marvin. Akhirnya setelah sekian purnama, Shena menerima lamaran dari Marvin. Itupun juga tidak luput dari peran Vesha dan kedua orang tua Shena yang setiap hari selalu memberi nasihat pada Shena dalam menerima cinta Marvin.
Vesha tahu kenapa sahabatnya seperti itu. Itu juga karena rasa trauma terhadap kisah cinta yang dialami oleh Vesha. Ya, Shena agak sedikit trauma dalam menjalani bahtera percintaan. Terlebih Marvin adalah sahabat dari pria yang pernah melukai Vesha. Namun Vesha terus berusaha dan memberi pengertian pada Shena kalau tidak semua pria seperti apa yang selama ini dipikirkan oleh gadis itu.
Vesha senang akhirnya Shena mau menerima Marvin. Perjuangan Marvin dalam meluluhkan hati Shena patut diacungi banyak jempol. Bran dan Dewi juga sangat setuju jika putri mereka menikah dengan Marvin, pria yang baik dan selalu bisa mengayomi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Setelah menempuh jarak sekitar empat puluh menit, kini mereka akhirnya telah tiba di sebuah hotel. Semuanya turun dari mobil masing-masing, Naura meletakkan baby Kai di stroller. Kali ini Vesha sengaja tidak mengajak babysitter yang biasa membantu mengurus Kai. Karena memang kalau hari libur Vesha dan Bryan sengaja meliburkannya.
"Aku temui Shena dulu di kamarnya," ucap Vesha.
"Biarkan Kai bersama kami, Sha."
Pergerakan Vesha terhenti saat ingin mendorong stroller baby Kai setelah mendengar suara Sean. Vesha nampak ragu, dan Naura pun mengerti apa maksud Vesha.
"Tidak perlu khawatir. Kai sangat anteng, jadi dia tidak akan merepotkan kami. Kamu pergilah temui Shena bersama Gricella," ucap Naura yang paham akan kekhawatiran menantunya.
"Iya, sayang. Biarkan Baby Kai disini saja, aku juga tidak akan kemana-mana." cetus Bryan.
Vesha menghela nafasnya pelan. "Baiklah, aku ke lantai lima dulu." Jawab Vesha.
"Ayo, Cell. Temani aku ke kamar Shena," ajak Vesha pada adik iparnya itu.
Gricella hanya menganggukkan kepalanya saja. Mereka pun pergi menuju lantai lima dimana kamar Shena berada. Sepeninggalnya Vesha dan Gricella, tidak lama Sagara dan Aruna datang bersama dengan Chandra dan Langit. Kali ini Karina tidak ikut bersama karena harus kembali ke Yogyakarta menemani sang ibu untuk menjenguk saudara yang sakit.
"Lihatlah si ganteng kita!" ucap Langit sambil berjalan menuju stroller baby Kai.
Sean, Naura, Bryan dan Devan tersenyum melihat kedatangan Sagara dan yang lainnya.
Sagara dan yang lainnya menyalami kedua orang tua Bryan dengan mencium tangan mereka.
"Aku pikir kau datang siang nanti," ujar Bryan saat bersalaman dengan Sagara.
Semua yang mendengar jawaban Sagara pun tertawa. Memang pada kenyataannya Marvin berkata demikian. Ia ingin para sahabatnya hadir di acara akad nikahnya. Bahkan pria itu terkesan memaksa agar mereka datang. Marvin tidak mau tau alasannya, yang ia tahu hanya para sahabatnya datang pas di momen sakral antara dirinya dan Shena.
"Sudah berapa bulan?" tanya Naura seraya mengusap perut Aruna.
"Sudah memasuki bulan ke 7, Tante." jawab Aruna dengan tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, sehat-sehat terus ya sayang. Jangan terlalu lelah, ya!" ucap Naura.
"Iya, Tante."
"Oh, ya. Dimana Vesha?" tanya Aruna yang memang tidak melihat wanita itu sejak baru datang.
"Vesha dan Gricella sedang menemui Shena di kamarnya," jawab Bryan.
Semuanya menoleh ke arah baby Kai saat mendengar bayi itu mengoceh tidak jelas. Langit yang sedari tadi sangat gemas pun akhirnya mengambil tubun gembul itu ke dalam gendongannya.
"Hati-hati, Lang!" ucap Chandra yang sudah memposisikan dirinya untuk berjaga-jaga.
"Santai saja, biar begini juga aku sering menggendong keponakanku." Jawab Langit
__ADS_1
Benar saja, Langit terlihat begitu luwes saat menggendong baby Kai. Bahkan Bryan yang sebagai orang tuanya saja masih terlihat kaku saat menggendong baby Kai. Baby Kai nampak sangat senang saat berada di gendongan Langit.
"Sepertinya kamu sudah cocok punya anak, Tuan Langit." cetus Devan.
Langit berdecak saat mendengar ucapan Devano. "Lalu kamu bagaimana, Tuan Devano?" tanya balik Langit dengan suara terdengar sinis.
Semuanya kembali tergelak mendengar perbincangan kedua jomles itu.
"Kalian berdua ini kapan menyusul Bryan, Sagara dan Marvin? Mau sampai kapan kalian menjadi jomblo ngenes begin, heoh?" tanya Sean menengahi keduanya.
Devan berdecak. "Nantilah, Om. Devan belum mau terikat dengan sebuah hubungan yang sangat ribet," sahut Devan.
"Kalau saya sudah ada calonnya, Om. Jadi Om Sean tenang saja," jawab Langit.
"Siapa?" tanya Chandra dengan tatapan penuh curiga.
"Siapa lagi kalau bukan adikmu, Chand." celetuk Sagara.
Chandra menaikkan satu alisnya. "Oh ya? Tapi adikku tidak pernah menganggap hubungan kalian istimewa. Malah yang aku lihat adikku selalu menolak ajakan jalan darimu," jawab Chandra yang membuat semua tertawa.
Sungguh Langit rasanya ingin menenggelamkan Chandra karena sudah membongkar aibnya. Memang Karina selalu menolak setiap ajakan Langit saat ingin berkencan. Bahkan Karina terkesan dingin dan cuek terhadap Langit.
"Ya ampun, Lang. Kenapa nasibmu hampir mirip dengan Marvin," Sagara tergelak kembali setelah menggoda Langit.
Bahkan baby Kai pun ikut tertawa sambil menepuk-nepuk wajah Langit. Langit mencemberutkan bibirnya, tatapannya beradu pada tatapan indah baby Kai. Baby Kai kembali memeluk dan menepuk punggung Langit. Seakan ingin mengatakan 'sabar, ya Om. Om harus kuat,' mungkin seperti itu yang diucapkan baby Kai jika bayi itu bisa bicara.
Acara pun segera dimulai, Marvin sudah duduk berhadapan dengan Bram dan penghulu. Ijab kabul pun segera dimulai, dengan tangan gemetar Marvin berjabat tangan dengan Bram.
Setelah mengucapkan ijab kabul, dan para saksi dengan lantang mengucapkan kata 'Sah'. Kini saatnya Shena keluar dari balok ruangan yang tertutup tirai. Dengan dibantu oleh Vesha dan Gricella, Shena berjalan dengan begitu hati-hati. Marvin menatap tidak percaya pada kecantikan istrinya, bahkan matanya tidak berkedip menatap Shena.
"MasyaAllah, cantik banget istri aku." gumam Marvin yang masih dapat didengar Bram dan bapak penghulu.
Bram pun tertawa sambil menepuk pundak Marvin. Marvin tersentak dan sadar dengan kekonyolannya itu.
Vesha kembali ke tempat duduknya dimana suami dan putranya sedang duduk bersama kedua mertuanya dan juga kedua orang tuanya. Ya, Adam dan Vita datang pas acara baru saja dimulai.
Vesha tersenyum melihat kebahagiaan orang-orang yang ada disekitarnya. Terutama kebahagiaan untuk para sahabatnya. Vesha sangat bersyukur karena Tuhan telah mendengar semua doa-doanya, agar kehidupan mendatang ia dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan tiada henti..
Vesha menoleh ke arah Bryan, dimana pria itu saat ini juga sedang menatap dirinya. Vesha dapat melihat gerakan bibir Bryan yang mengatakan 'I Love You' padanya. Ia pun ikut membalas ucapan Bryan.
"I love you too, Daddy."
Vesha langsung bergelayut manja pada lengan Bryan. Keduanya terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Baby Kai (7 Month)
(Terima kasih sudah mau ikuti cerita Gavesha sampai akhir. Uuhh, gak terasa udah ending aja. Sekali lagi aku ucapkan banyak-banyak terimakasih yang tidak terhingga buat kalian semua. Aku baru rencana buat cerita si Chandra sama Gricella, tapi gak tahu kapan update nya. Doain biar aku lancar halunya, biar ceritanya cepet di buat ya đŸ¤đŸ¤)