CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Masa Lalu Aurel


__ADS_3

Tubuh Sarah gemetar hebat saat ujung pisau sudah sedikit menyentuh lehernya. Aurel sendiri saat ini sedang menyeringai melihat Sarah yang sudah ketakutan.


"A-apa maksudmu, Aurel? Apa yang terjadi padamu, kenapa kamu lakukan ini padaku. Apakah aku ada buat salah padamu?" 


Aurel dapat mendengar suara Sarah yang begitu gemetar. Gadis itu kembali tertawa, membuat Sarah merasa merinding mendengarnya. Mungkin saat ini Sarah berpikir kalau Aurel sedang kesurupan hantu dari villanya. 


"Kau, banyak melakukan salah padaku. Bahkan kau selalu tidak ada waktu untuk bersamaku," bisik Aurel dengan terus mengeratkan tangannya di leher Sarah. 


Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti maksudmu, Aurel. Aku selalu ada untukmu. Lalu, kenapa kamu mengatakan kalau aku tidak ada waktu untukmu?" 


"Bohong!" bentak Aurel yang membuat Sarah memejamkan matanya. 


"Kau terlalu sering menghabiskan waktumu bersama teman priamu itu," ucap Aurel.  


"M-maksudmu Evan?" tanya Sarah. 


"Ssttt, jangan sebut namanya dari mulutmu itu. Membuat telingaku sakit saja," 


Sarah kembali diam, jujur saat ini dirinya sangat takut dengan Aurel yang sekarang. Sarah sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Air matanya pun sudah mengalir deras sejak tadi.


Sarah memberanikan dirinya untuk kembali bertanya. "Kenapa kamu seperti ini, Aurel. Kenapa tidak kita bicarakan saja secara baik-baik?" tanya Sarah. 


Aurel tertawa sinis. "Bicara baik-baik, Ya?" tawa Aurel terdengar memenuhi ruangan tamu. 


"Aku sudah muak dengan dirimu, Sarah. Kamu selalu berlaga sok cantik, hingga membuat Evan selalu mendekati kamu," sambung Aurel yang sudah mulai kesal. 


Sarah tercengang mendengar ucapan Aurel. "K-kamu, apakah kamu menyukai Evan?" tanya Sarah dengan suara lirih. 


Aurel tertawa terbahak-bahak hingga tanpa sadar ia melepaskan kunciannya pada tubuh Sarah. Namun Aurel kembali mengacungkan pisau tersebut ke wajah Sarah. 


"Ya, aku mencintai Evan. Tapi kamu malah lebih dekat dengan pria itu," sahut Aurel.


Sarah kembali tercengang mendengarnya. Sarah sama sekali tidak tahu kalau Aurel juga menyukai Evan. Karena Sarah pikir Ecan bukan tipikal cowok dalam hidup Aurel. Sebab gadis itu juga pernah mengatakan tipikal cowok yang disukainya. 


"Tapi bukankah kamu tidak suka dengan gaya Evan. Kamu sendiri yang mengatakannya padaku, Rel." Sarah mencoba untuk membela diri. 


"Ya, memang dahulu aku mengatakan itu. Tapi, semakin hari aku melihatnya. Semakin membuat aku ingin memilikinya," jawab Aurel dengan tersenyum. 


Sarah menatap tidak percaya pada Aurel. "Kamu nggak boleh seperti itu, Aurel. Aku dan Evan sudah menjalin hubungan terlebih dahulu," 


Mendengar hal itu Aurel semakin geram dan kesal dengan Sarah. "Kau," gumam Aurel dengan penuh kemarahan dalam dirinya. 


"Tinggalkan Evan untukku!" teriak Aurel yang masih mengarahkan pisau ke arah Sarah. 


Sarah menggeleng dengan cepat. "Nggak, Rel. Kali ini aku ingin egois, Evan mencintaiku begitupun juga denganku yang mencintai Evan." ungkap Sarah. 


Autel semakin mengepalkan tangannya. "Brengsek!" 


Aurel hendak melayangkan pisau tersebut pada tubuh Sarah, namun dengan cepat Sarah menghindar sambil berteriak minta tolong. Walaupun kecil harapannya ada yang mendengar teriakannya, tetapi Sarah yakin akan ada orang yang membantunya. Bukan karen Sarah berharap pada orang lain, tetapi Sarah yakin dengan kuasa Allah. 

__ADS_1


Sarah terus berteriak dan berlari menghindari Aurel. Dia tidak mungkin berlari ke arah kamar, karena suasana yang cukup gelap. Suara gedoran dari pintu terdengar, Sarah dapat bernafas lega. Namun tidak dengan Aurel, gadis itu terlihat pani. 


"Sarah," teriak seseorang sambil menggedor pintu villa tersebut. 


Sarah pun mencoba berlari ke arah pintu, namun sayang Aurel menjambak rambut Sarah hingga gadis itu hampir terjatuh. 


"Evan tolong aku!" teriak Sarah. 


Karen panik, Aurel langsung menusuk perut Sarah. Hingga darah berlumuran di tangan dan lantai. Bertepatan dengan itu juga pintu berhasil didobrak oleh Evan dan juga teman-temannya. Dengan menggunakan pencahayaan dari ponsel Evan dan yang lainnya, mereka masuk ke dalam. 


"Sarah!" panggil Evan saat mendapati Sarah yang sudah berlumuran dengan darah. 


Evan dan yang lainnya cukup terkejut melihat hal tersebut. Aurel juga masih berada di sana, gadis itu berdiri mematung dengan tatapan lurus ke arah tubuh Sarah yang masih merintih kesakitan. 


"E-Evan," lirih Sarah. 


Suara Sarah menyadarkan Evan dan yang lainnya, hingga pria itu pun mendekat dan yang lainnya mengamankan Aurel. Salah satu teman Evan datang bersama penjaga villa, dan saat itu juga lampu villa menyala semuanya. Saat mereka masuk, mereka kembali dikejutkan dengan keadaan Sarah yang sudah berlumuran darah. 


"Bantu aku bawa Sarah ke rumah sakit," ucap Evan. 


"Ayo," ajak salah satu temannya. 


Penjaga villa menghubungi kedua orang tua Sarah dan juga polisi untuk menangani kasus ini. 


"Gila juga nih cewek teman sendiri di tusuk," bisik salah satu teman Evan yang satu kelas dengan Sarah. 


"Cewek psycho," 


"Sakit jiwa," ucap kembali salah satu pria yang ada di sana. 


"Amit-amit, jangan sampai kita kenal cewek model begini lagi. Nyesel aku datang ke sini," 


Mereka tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh Aurel. Benar-benar membuat siapapun merinding dan ngeri saat berdekatan dengan gadis itu. Beberapa menit berlalu, polisi pun datang dan menangkap Aurel. Semua yang ada di villa sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Kini tinggal Sarah, Evan dan temannya yang masih berada di rumah sakit. 


Kedua orang tua Sarah dan Aurel sama-sama terkejut dengan kejadian yang menimpa anak mereka. Kedua orang tua Sarah tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Aurel. 


Hingga akhirnya orang tua Sarah memenjarakan Aurel. Namun karena kekuatan uang dari kedua orang tua Aurel, hukuman gadis itu sangat ringan yaitu 3 tahun penjara. Aurel dikeluarkan dari sekolahnya sebelum gadis itu lulus. Sedangkan Sarah mengalami sedikit traumatik atas kejadian tersebut, gadis itu jadi tidak banyak bicara. Namun dengan sabar Evan selalu bersama Sarah. 


Setelah tiga tahun, Aurel bebas. Kedua orang tua Aurel mengajak putrinya itu untuk pindah tempat tinggal. Selama dua tahun, mereka tinggal di Jakarta dan Aurel lulus sekolah dengan cara ikut Kelompok Belajar Paket C, agar ia memiliki ijazah asli. 


Mengingat masa lalu yang menimpa putrinya membuat Lita memijat pangkal hidungnya. Sungguh Aurel selalu membuat masalah dalam hidup mereka. Itu yang mungkin saat ini sedang dipikirkan oleh Lita. 


"Jadi kita harus merelakan Aurel mendekam di penjara, Mas?" tanya Lita dengan suara lirih. 


Andika menghela nafasnya, ia pun menghampiri sang istri dan menarik lembut tubuh itu ke dalam pelukannya. 


"Kita harus belajar ikhlas, sayang. Semoga setelah ini putri kita mendapatkan hidayah untuk memperbaiki dirinya," jawab Andika. 


Lita pun menangis di dalam dekapan suaminya. Ia meluapkan rasa sedih dan bersalahnya sebagai orang tua yang kurang becus dalam mendidik sang putri. 

__ADS_1


Keesokan harinya Sagara, Safira dan pengacara keluarga mereka datang ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan yang sempat tertunda. Sagara dicecar beberapa pertanyaan, dan pria itu pun menjawab sama seperti apa yang Vesha katakan kemarin. 


Ya, Vesha datang bersama kedua orang tuanya dan juga Bryan.  Bryan membawa oengacara keluarganya, walau sempat terjadi penolakan dari Adam. Namun pria itu kekeh untuk membantu kasus tersebut sampai tuntas, bahkan Bryan sendiri yang menuntut kasus tersebut atas nama Vesha dan dengan persetujuan gadis itu. 


Tidak terasa waktu terus berjalan, sudah dua Minggu terlewatkan. Kini seluruh mahasiswa tingkat akhir tengah merayakan hari kelulusan mereka. Hari ini  adalah hari dimana mereka akan melaksanakan wisuda. Vesha sudah tampil dengan kebaya dan baju toganya. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan polesan make up tipis di wajahnya. 


Sagara tersenyum dengan memberi tatapan memuja saat melihat wajah Vesha. Setelah acara mereka melakukan sesi foto bersama. Vesha menengok ke sana ke sini seakan sedang mencari seseorang, namun sayangnya orang itu tidak menunjukkan batang hidungnya. 


Vesha menghela nafasnya saat  menyadari apa yang diharapkannya itu. Vesha mengelak hatinya sendiri kalau dirinya berharap sangat kalau di hati istimewanya orang yang diharapkannya ada itu benar-benar datang. Ya, ia berharap kalau Bryan ada di sini mengucapkan selamat untuknya. 


Disaat hati dan pikirannya gelisah. Sebuah notifikasi pesan dari Bryan membuat senyum gadis itu terukir. Namun hanya sesaat saja, karena setelah membacanya Vesha kembali tidak bersemangat. 


"Mungkin dia sedang sibuk dengan urusan kantornya," gumam Vesha pelan.


Lalu, Vesha kembali berkumpul bersama teman dan kedua orang tuanya. Di sana juga ada kedua orang tua Sagara dan Aruna, jangan lupakan pasukan kura-kura ninja. Mereka semua berkumpul sambil bercerita tentang rencana masing-masing setelah lulu. 


"Vesha," 


Semua orang menoleh dan mendapati seorang gadis cantik berjalan menghampiri mereka. 


"Shena," Vesha tersenyum saat melihat sahabatnya datang ke acaranya. 


Mereka pun saling berpelukan. "Selamat, ya!" ucap Shena. 


"Terima kasih, Shen." jawab Vesha.


Shena pun menghampiri kedua orang tua Vesha dan mencium punggung tangan keduanya, bukan hanya dengan kedua orang tua Vesha. Shena melakukan itu juga dengan kedua orang tua Sagara. 


"Apa kabar, Nak? Lama sekali kamu tidak ke rumah," tanya Vita dengan sedikit cemberut. 


Shena tersenyum tipis. "Maaf, Ma. Akhir-akhir ini Shena sedang banyak pasien," jawab Shena yang merasa sangat bersalah. 


"Apakah Shena seorang dokter?" tanya Safira. 


Shena tersenyum dan mengangguk. "Iya, Tante. Kebetulan juga aku dan Kakak sepupuku membuka klinik di daerah Kemang," jawab Shena. 


"Wah, hebat kamu. Sudah cantik, seorang dokter pula." ujar Safira yang terkagum-kagum dengan sosok Shena. 


"Tante bisa saja," jawab Shena yang menunduk malu. 


Tanpa disadari Shena dan yang lainnya. Sejak tadi Marvin memperhatikan Shena dari ujung kaki sampai kepala. Matanya menatap memuja dan kagum akan kecantikan Shena. Tanpa sengaja Chandra memergoki Marvin yang sedang curi-curi pandang ke arah Shena. 


"Dia dokter galak yang pernah aku ceritakan waktu itu," bisik Chandra


 


Marvin terkesiap mendengar suara Chandra. Marvin pun menoleh dengan tatapan penuh tanya. Ya, saat kejadian dirinya yang dihajar Sagara waktu itu. Chandra menceritakan semuanya, bahkan sampai kejadian saat dirinya bertemu Shena kembali. Chandra mengatakan kalau Shena juga selalu ketus dalam bicara saat bertemu dengannya. 


"Benarkah?" tanya Marvin untuk meyakinkan kembali. 

__ADS_1


Chandra mengangguk. "Kalau tidak percaya, kamu datang saja ke kliniknya. Bahkan dia masih terlihat sangat benci pada Saga," jawab Chandra. 


Marvin menelan salivanya dengan kasar. Sepertinya akan sangat sulit untuk mendekati Shena. Akan tetapi rasa penasarannya sangat besar, dirinya harus segera mendekati Shena. 


__ADS_2