CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Usaha Bryan Mencari Vesha


__ADS_3

Naura mengerjapkan matanya saat mendengar suara agak bising di telinganya. Pendengarannya semakin tajam saat mendengar suaminya menyebutkan nama Vesha.  Nama gadis yang sangat dibenci oleh Naura. Ya, Naura sudah sadar dari komanya semalam, bertepatan dengan kedatangan Bryan sepulang dari kantor. 


Naura mengerutkan kedua alisnya saat matanya sudah terbuka dan melihat sang suami sedang berbicara dengan Devano. Dia terheran kenapa suaminya itu menyebutkan nama gadis itu. 


"Sayang," lirih Naura. 


Sean yang sedang serius berbicara pada Devano pun segera menoleh ke arah ranjang. Sean tersenyum saat melihat sang istri sudah bangun dari tidurnya. 


"Ada apa sayang? Apakah kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Sean saat sudah mendekati ranjang Naura. 


Devano pun ikut mendekat ke arah ibu angkatnya itu. 


Naura menggeleng lirih. "Tidak ada," jawabnya pelan.


Lalu ia melirik sekilas ke arah Devan, dan kembali menatap suaminya. "Sayang bolehkah aku bertanya?" tanya Naura. 


Sean tersenyum. "Tentu saja! Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya balik Sean. 


Naura nampak menghela nafasnya, sejenak ia masih terdiam. Namun beberapa detik ia kembali memperhatikan wajah sang suami. 


"Apakah tadi kalian sedang membahas wanita itu?" tanya Naura. 


Alis Sean terangkat satu. "Wanita? Siapa yang kamu maksud, sayang?" bukannya menjawab Sean malah kembali bertanya. 


"Vesha," jawab Naura yang terasa enggan menyebut nama itu. 


Sean mengangguk pelan, sedangkan Devan hanya diam dan tidak ingin berkomentar terlebih dahulu sebelum dirinya ditanya. 


"Iya, aku dan Devan sedang membicarakan Vesha. Kami sedang mencari keberadaannya," jawab Sean sengaja menyinggung kepergian Vesha. 


Naura mengerutkan dahinya. "Mencari keberadaannya? Memangnya dia kemana?" tanya Naura yang penasaran. 


Sean menghela nafasnya. "Aku juga tidak tahu dia kemana, bahkan dia juga sudah mengundurkan diri. Aku mencari Vesha karena Bryan sangat marah," jawab Sean. 


"Lho! kenapa Bryan harus marah, kalau wanita itu pergi? Bukankah sangat bagus kalau Vesha pergi dari kehidupannya. Jadi dia bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari wanita itu," cetus Naura. 


Sean menghela nafasnya, ternyata Devan pun diam-diam menggelengkan kepalanya dan menyayangkan sikap ibu angkatnya itu. 


"Kenapa Mommy berkata seperti itu tentang Vesha?" tanya Sean. 


Naura berdecak kesal. "Daddy sudah tahu kan, kalau Mommy sejak awal tidak menyukai wanita itu. Wanita itu sangat tidak tahu diri," jawab Naura dengan wajah sinis. 


Sean menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu diri bagaimana, Mom? Vesha itu anak baik-baik. Dia tidak seperti apa yang Mommy pikirkan selama mengenalnya," ujar Sean. 


"Ck, asal Daddy tahu saja! Wanita itu sangat tidak tahu diri. Dengan lancang dia memanggil Bryan dengan hanya menyebutkan nama tanpa memakai 'Tuan'. Lagipula keluarga kita dengan keluarganya itu tidak setara. Mommy juga memiliki feeling yang kuat,  kalau dia mendekati Bryan hanya untuk menguasai harta kita,"  sahut Naura. 


"Astaghfirullah, Mom! Daddy tidak menyangka kamu sampai memiliki pikiran sejauh itu," ucap Sean yang terlihat sedang kecewa. 


"Pikiran Mommy tentang gadis itu sangat jauh, Mom. Jujur Daddy sangat kecewa dengan pola pikir Mommy yang memandang buruk tentang Vesha," sambung Sean mengutarakan kekecewaannya. 


Naura memicingkan matanya dengan alis yang saling bertautan. Naura tidak menyangka kalau Sean akan berkata seperti itu dan bukannya malah berpihak padanya. Tetapi malah membela Vesha, perasaan dan pikiran Naura semakin berantakan. Bahkan wanita itu merasa cukup curiga dengan sang suami. 

__ADS_1


"Mommy tidak menyangka kalau Daddy akan membela wanita seperti itu di hadapan Mommy. Seharusnya bukan Daddy yang kecewa, tapi Mommy!" bentak Naura dengan intonasi suara meninggi. 


"Mom, tolong tenangkan dirimu!" ucap Devano.


Naura langsung menatap Devano. "Apa kamu juga merasa kecewa dengan Mommy, dan  mendukung  si wanita itu?" tanya Naura pada Devano. 


Devano menghela nafasnya. "Mom, aku tidak berpihak pada siapapun. Tapi, untuk saat ini apa yang Daddy katakan itu memang benar. Semua yang Mommy pikirkan tentang Vesha itu salah. Dia bukan gadis seperti itu," jawab Devano tanpa ingin menyinggung perasaan Naura. 


Naura tertawa miris. "Aku kecewa sama kamu, Dev!" lirih Naura. 


"Maaf, Mom. Aku hanya berbicara sesuai dengan fakta," jawab Devano. 


Pintu kamar rawat terbuka, dan nampak Gricella datang dengan membawa beberapa keperluan dirinya dan juga Naura. Naura nampak senang dengan kedatangan putrinya itu. Ia yakin kalau Gricella berada di sisinya dan akan berpihak padanya, bukan pada  Vesha. 


"Mommy sudah bangun," ujar Gricella seraya mendekati ranjang Naura. 


Naura pun tersenyum. "Putri Mommy dari mana?" tanya Naura. 


Gricella pun membalas dengan senyuman. "Aku habis dari rumah, Mom. Mengambil beberapa keperluan untuk Mommy dan juga aku," jawab Gricella. 


"Oh, ya Mom. Aku membawakan salad buah. Apakah Mommy mau mencicipinya?" tanya Gricella. 


Mata Naura nampak berbinar. "Wah, Mommy mau sekali. Kamu yang buat atau Bibi?" tanya Naura. 


"Tentu saja aku yang buat, Mom. Tunggu sebentar, ya! akan aku siapkan untuk Mommy, Daddy dan juga Kak Devano." ucap Gricella lagi. 


Sean dan Devano hanya tersenyum dan memilih duduk di sofa. Sementara Gricella menyiapkan salad buah untuk mereka bertiga. 


"Bagaimana rasanya, Mom?" tanya Gricella. 


Naura tersenyum sambil mengacungkan kedua  jempolnya. Walaupun tangan yang satunya masih tertancap jarum infusan, tidak mengurungkan niat  Naura untuk memberi dukungan pada putrinya. 


Gricella pun tersenyum melihat kedua orang tuanya dan Devano menyukai salad buatannya. Bahkan terlihat Devano begitu lahap menghabiskan salad tersebut. 


"Cella, dimana Kakak kamu? Kenapa sejak Mommy sadar dari koma, Mommy belum bertemu dengannya. Mommy sangat merindukan Bryan," tanya Naura dengan wajah memelas. 


Pertanyaan Naura membuat Devano tersedak saat makan salad. Sean pun memberikan segelas air putih pada pria itu. Gricella sendiri masih diam dan sudah dapat dipastikan ia bingung harus menjawab apa. 


Namun, Sean dengan cepat menjawab pertanyaan Naura mengenai Bryan. 


"Bryan sedang berada di Bali, ia sedang meninjau proyek pembangunan restoran yang akan dikelola oleh Gricella nanti," bohong Sean. 


Naura mengerutkan dahinya. "Bukankah itu tugas kamu, Nak? Kenapa kamu menyerahkan pada Bryan?" tanya Naura pada Gricella. 


Gricella menelan salivanya. "Tadinya aku yang akan ke sana, Mom. Tapi Kak Bryan melarang, katanya biar dia saja. Aku malah disuruh menjaga Mommy disini. Kata Kak Bryan, kalau Mommy sudah sembuh  aku baru diperbolehkan ke sana untuk meninjau kembali pembangunan itu," jawab Gricella. 


Naura tersenyum dan meraih tangan Gricella. "Terima kasih sayang, kamu dan Kakak mu itu memang selalu memperhatikan Mommy. Mommy sangat bangga memiliki kalian berdua," ucap Naura seraya merentangkan kedua tangannya. 


Gricella pun tersenyum dan memeluk Naura. Gricella tersenyum kecut saat berada di pelukan sang ibu. 


"Maafkan aku, Mom. Aku harus berbohong pada Mommy mengenai Kak Bryan. Mungkin kalau Mommy tahu hal yang sebenarnya, mungkin Mommy akan kecewa. Maafkan aku, Mom!" gumam Gricella dalam hatinya. 

__ADS_1


Di perusahaan Heinzee, terlihat Bryan sedang berbincang dengan Angga dan juga Rico. Sepertinya mereka masih membahas tentang keberadaan Vesha. 


"Sudah tiga hari orang suruhanku memantau rumah Neneknya Vesha. Tapi tidak ada tanda-tanda Vesha datang ke rumah itu. Apakah kamu sudah melacak melalui penerbangan atau jalur kereta, Ga?" tanya Bryan. 


"Sudah Tuan, tapi tidak ada nama Nona Vesha maupun teman wanitanya itu di bandara maupun di stasiun kereta api," jawab Angga. 


Bryan menghela nafasnya. "Kalian  sudah minta bantuan pada Letnan Syarif untuk mengecek seluruh CCTV di jalan?" tanya Bryan kembali. 


Angga dan Rico pun mengangguk bersamaan. "Sudah Tuan, kita tinggal menunggu kabar dari Letnan Syarif saja," jawab Rico. 


"Hmm, baiklah!" lirih Bryan yang terlihat sudah tak bersemangat. 


Angga dan Rico pun saling melirik, ia tahu kalau tuannya itu sedang merasakan galau. Beruntung amarah Bryan cepat mereda, tidak seperti saat pertama kali diberitahukan oleh Sean tentang Vesha yang mengundurkan diri dari perusahaan atas perintah Naura. 


Saat itu juga Bryan mengamuk dan bahkan tangannya terluka akibat memukul tembok kamar rumah sakit. Bahkan saat menginterogasi Angga, pria itu hampir saja memukul Angga. Beruntung ada Rico dan Devano. Jadi aksi Bryan dapat dicegah oleh kedua pria itu. 


Sedangkan Naura, Bryan masih merasa sangat marah dengan ibunya itu. Walau saat Naura sadar dari koma pun, Bryan masih enggan untuk bertemu dengannya. Bryan sengaja menghindar, agar dirinya tidak kembali marah terhadap sang ibu dan berujung menyakiti Naura. 


Bryan mengusap wajahnya kasar seraya menyugar rambutnya kebelakang. "Kalian bisa kembali ke ruangan kalian," ucap Bryan. 


"Baik Tuan," jawab Angga dan Rico. 


Malam pun tiba, Rico sudah berada di rumahnya. Pria itu terlihat sangat lelah, dari jarak beberapa meter Langit yang sedang duduk di teras pun mengernyitkan dahinya saat melihat wajah abang sepupunya yang sangat kusut. 


Langit yang rumahnya hanya terhalang satu rumah pun segera menghampiri Rico. 


"Bang!" panggil Langit saat Rico baru saja melepaskan sepatunya. 


Langit pun berjalan dan setibanya dia di rumah Rico, Langit langsung duduk di sebelah pria itu.


"Kenapa?" tanya Rico yang merasa heran dengan Langit yang tiba-tiba menghampirinya. 


"Sebenarnya ada beberapa hal ingin aku tanyakan sama kamu, Bang. Tapi kayaknya kamu lelah banget," jawab Langit. 


Rico pun menghela nafasnya. "Pekerjaanku sih tidak banyak, tapi kerjaan diluar itu yang membuat tubuh dan pikiranku lelah," ujar Rico terdengar lirih. 


Langit melipat bibirnya, nampaknya pria itu ragu ingin bertanya pada Rico. Rico mengerutkan dahinya saat melihat Langit hanya diam saja. 


"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanya, Lang. Insyaallah aku akan menjawabnya," ucap Rico. 


Langit pun langsung tersenyum. "Beneran nih? Abang nggak merasa terganggu sama Langit?" tanya Langit yang masih ragu. 


Rico menggelengkan kepalanya. "Selagi jangan kamu tanyakan kapan aku nikah, itu sangat menggangguku. Buruan apa yang mau kamu tanyakan, aku mau bersihin badan." jawab Rico. 


Langit langsung menunjukkan cengirannya. "Oke, Bang. Aku hanya ingin tanya soal itu… eumm, soal Vesha!" ucap Langit. 


Rico menaikkan satu alisnya. "Kenapa memangnya? Ada apa dengan Vesha? Apa kamu menyukainya?" selidik Rico. 


Langit berdecak kesal. "Bukan itu, tapi.." Langit agak ragu, akan tetapi dirinya harus mengorek informasi tentang kemana perginya Vesha. 


"Aku hanya ingin tahu perkembangan dalam mencari Vesha. Aku tahu kalau si Bryan itu sedang mencari Vesha. Apakah Abang sudah dapat informasi?" tanya Langit. 

__ADS_1


__ADS_2