
Naura mengepalkan kedua tangannya. Aura kebencian semakin terlihat jelas di matanya. Dadanya naik turun merasakan emosi yang bergejolak begitu besar dalam dirinya.
"Gavesha," satu nama yang telah membuat Naura kesal dan geram.
"Ini semua karena wanita itu," Naura kembali menggerutu kesal.
"Awas saja, akan aku buat kamu pergi dari kehidupan kami. Terutama dari kehidupan Bryan," ancam Naura yang masih kekeh menyalahkan Vesha.
Dengan perasaan campur aduk, wanita paruh baya itu keluar meninggalkan restoran mewah tersebut. Seorang supir dan bodyguard dengan sigap mengawal dan membukakan pintu untuk nyonya besarnya. Tidak lama mobil pun melaju meninggalkan area parkir restoran.
"Kita kembali ke rumah utama, Nyonya?" tanya bodyguard itu.
"Tidak! Tolong antarkan aku ke jalan Mahakam 3," jawab Naura.
"Baik, Nyonya!"
Sang supir pun segera berputar arah menuju jalan yang sudah Naura perintahkah.
Hari pun semakin telah berubah. Siang ini sekitar pukul 2 siang cuaca di negara ini sangat panas. Terlihat seorang gadis cantik baru saja keluar dari bandara Internasional Soekarno Hatta. Gadis blasteran Indonesia Spanyol itu terlihat kesusahan saat membawa beberapa barang bawaannya.
Tanpa sengaja koper milik seorang pria sedikit menyenggol koper bawaannya.
"Hei," tegur gadis itu.
Pria itu pun menoleh. "Maafkan saya, Nona! Saya tidak sengaja, mau saya bantu bawakan barang-barang anda menuju mobil atau taksi?" tawar pria itu.
Gadis itu membuka kaca mata hitamnya, dan menatap tidak suka pada pria yang sok ramah itu. "Tidak perlu, lain kali kalau berjalan itu hati-hati. Jangan malah asyik main ponsel," celetuk gadis itu.
Pria itu menaikkan satu alisnya. "Sebelumnya saya minta maaf, Nona. Bukankah tadi saya sudah minta maaf dan menawarkan bantuan pada anda?" sahut pria itu
"Tapi anda malah menolaknya," sambung pria itu tak mau kalah.
Gadis itu pun berdecak kesal. "Ck, menyebalkan sekali anda ini. Minggir!" dengan langkah arogan gadis itu pun menyenggol lengan pria itu dengan cukup kasar.
"Gak tau apa orang lagi kepanasan, gerah. Malah bikin gara-gara," gerutu gadis itu.
Beruntung pria itu bisa menyeimbangkan tubuhnya, mungkin jika tidak pria itu akan terjatuh karena ulah gadis itu. Pria itu menatap tajam dan kesal pada gadis yang terlihat sombong dan angkuh itu.
__ADS_1
"Aku harap tidak pernah bertemu dengannya lagi," ucap pria itu.
"Chandra,"
Pria itu segera menoleh setelah mendengar namanya dipanggil. Ya, Chandra baru saja tiba di bandara setelah satu bulan berada di Yogyakarta kota kelahirannya. Chandra pun tersenyum saat melihat sahabatnya.
"Aku pikir kamu tidak jadi datang, Vin." ucap Chandra sambil bersalaman dan memeluk.
"Aku selalu menepati janjiku, Chan. Bagaimana disana, apakah semuanya lancar?" tanya Marvin.
Chandra mengangguk. "Alhamdulillah, aku tinggal mengurus supplier yang akan bekerja sama denganku. Besok aku akan bertemu dengan mereka," jawab Chandra.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Semoga semua diperlancar segala urusan kamu, Chan."
"Aamiin," ucap Chandra dan Marvin bersamaan.
"Oh, ya. Bagaimana kabar Langit dan Saga? Sudah lama sekali kita tidak kumpul bersama setelah kelulusan," tanya Chandra.
Mereka mengobrol sambil berjalan menuju arah parkiran. Beruntung Marvin tidak memarkirkan mobilnya terlalu jauh.
"Langit masih menjadi asistenku, Chan. Sedangkan Saga melamar sebagai manajer keuangan di kantor tempat Om Darel bekerja," jawab Marvin sambil membantu Chandra memasukkan koper ke dalam mobil.
Kini mereka sudah masuk ke dalam mobil. Marvin nampak terdiam sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.
"Eum, aku sudah lama juga tidak bertemu dengannya." jawab Marvin.
Chandra manggut-manggut kan kepalanya. "Kapan-kapan kita harus berkumpul, Vin. Jujur aku rindu masa-masa kita berkumpul seperti dulu," ujar Chandra.
"Ya, kamu benar. Aku juga sangat merindukan moment kebersamaan kita semua. Nanti akan aku tanyakan pada mereka dan cari waktu yang tepat untuk berkumpul,"
"Kalau Vesha biar aku saja yang menghubunginya. Sekalian aku izin sama kekasihnya itu," cetus Chandra.
Marvin hanya mengangguk dan segera menyalakan mesin mobilnya. Sepanjang perjalanan Marvin dan Chandra saling berbagi cerita. Bahkan Marvin berkata jujur mengenai perasaannya terhadap Shena.
"Kamu jatuh cinta sama gadis galak itu?" tanya Chandra yang terlihat begitu terkejut.
"Iya, tapi kamu harus ralat kata galak itu. Dia sebenarnya tidak galak, hanya saja Shena itu agak tegas. Ya, mungkin saja karena efek Saga yang menyakiti Vesha. Jadi Shena agak menjaga jarak dengan seorang pria. Terlebih kita ini adalah orang terdekat Saga," jawab Marvin.
__ADS_1
Chandra menghela nafasnya. "Ya, terserah kamu saja, Vin. Aku hanya bisa mendukung apapun keputusanmu, karena mencintai seseorang itu adalah hak kamu." ujar Chandra.
"Thanks, Bro!" Marvin mengulurkan tangannya yang terkepal di sebelah Chandra.
Dengan sigap Chandra pun membalas kepalan tangan Marvin. Mereka kembali bercerita, namun kali ini Chandra lebih menjadi pendengar setia. Karena Marvin selalu menceritakan kedekatannya dengan Shena.
Chandra tersenyum, kadang tertawa dan menggelengkan kepalanya saat mendengar cerita Marvin. Jujur saja ini pertama kalinya Chandra melihat Marvin seantusias ini dengan seorang wanita. Tidak seperti yang sudah-sudah, karena yang Chandra tahu Marvin itu selalu bergonta ganti pasangan.
Melihat Marvin sesenang ini saat bertemu Shena, Chandra hanya bisa berharap agar hubungan keduanya baik-baik saja. Chandra berharap juga, agar Marvin dapat merubah wajah galak Shena menjadi ramah saat bertemu dengan dirinya.
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah utama keluarga Heinzee. Seorang gadis terlihat baru saja menuruni mobil tersebut. Kedatangannya disambut hangat oleh para pelayan dan bodyguard di rumah itu.
"Selamat datang kembali Nona Gricella," salam salah satu pelayan tersebut.
Gadis itu tersenyum tipis. "Terima kasih," jawabnya yang langsung berlalu masuk ke dalam rumah utama. Para pelayan membantu membawakan koper milik Gricella. Ya, gadis itu baru saja tiba di Indonesia setelah beberapa tahun menempuh pendidikannya di luar negeri.
"Mommy,"
Gricella langsung berjalan cepat menghampiri Naura yang baru saja menuruni anak tangga terakhirnya. Mereka pun berpelukan dan saling melepas kerinduan antara anak dan ibu.
"Akhirnya kamu kembali juga sayang. Mommy sangat merindukanmu," ucap Naura saat masih memeluk putrinya.
"Aku juga sangat sangat sangat merindukan, Mommy." jawab Gricella.
"Sama Daddy tidak?"
Baik Naura dan Gricell sama-sama menoleh dan merenggangkan pelukannya. Gricella tersenyum lebar saat melihat Sean yang baru saja datang bersama Bryan dan juga Devano. Gadis itu pun langsung berhambur memeluk Sean, lalu bergantian memeluk Bryan dan Devano.
Mereka bertiga sengaja balik ke rumah lebih cepat karena mereka mengingat kalau Gricella gadis kesayangan mereka sudah tiba di Indonesia.
"Aku sangat merindukan kalian," ucap Gricella menatap satu persatu orang yang dirindukannya.
"Kami juga sangat merindukan kamu, sayang." jawab Naura seraya mengelus puncak kepala gadis itu.
Mereka berkumpul dan saling bercengkrama di ruang keluarga. Banyak cerita yang diceritakan oleh Gricell, gadis itu terlihat sangat antusias saat menceritakan dirinya lulus dengan nilai sangat baik dan mampu membanggakan kedua orang tuanya.
Gricella Queen Heinzee
__ADS_1