
Marvin tersenyum lebar dengan kepercayaan diri yang sangat luar biasa. Sedangkan Shena sendiri sudah malas menanggapi pria yang percaya diri itu. Sungguh Shena sudah sangat muak melihatnya, terlebih Marvin adalah orang-orang dari Sagara.
Shena nampak bersiap meraih tas selempangnya. "Oke, aku rasa pertemuan kita kali ini tidak bermanfaat. Saya undur diri dan terima kasih atas waktu yang tersia-sia ini," ujar Shena seraya berdiri dari posisi duduknya.
Marvin menurunkan senyumannya dengan pias wajah kecewanya. "Tunggu!" cegah Marvin seraya menyentuh tangan Shena.
Shena pun langsung menarik kembali tangannya dan membuat Marvin salah tingkah.
"Maaf! Tapi aku mohon duduklah," ucap Marvin kembali.
Shena menatap tidak suka pada Marvin, namun sorot mata Marvin seakan menunjukkan permohonan pada Shena. Gadis itu pun menghela nafasnya dengan kasar.
"10 menit, cepat katakan apa yang ingin kamu katakan padaku!" Shena berkata seraya mendudukkan kembali bokongnya.
Marvin pun tersenyum penuh kemenangan, kali ini ia berhasil membuat Shena menurutinya. Shena menatap Marvin dengan tatapan datar, namun berbeda dengan Marvin. Pria itu semakin menyukai wajah Shena yang terlihat sangat jutek itu.
"Oh, ayolah! Kenapa kamu masih saja diam dan suka sekali membuang-buang waktuku?"
Marvin mengerjapkan matanya dan tersadar kalau apa yang dikatakan Shena itu benar. Namun pria itu bingung harus memulainya dari mana, pasalnya memang tidak ada yang ingin dibicarakan olehnya. Marvin hanya ingin bertemu dengan Shena, untuk sekedar berbincang biasa saja. Saling mengenal satu sama lain, agar Marvin pun mudah untuk mendekatkan dirinya pada Shena.
Shena menunggu Marvin berbicara, ia pun sesekali melirik ke arah jam tangannya. Gadis itu mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, lalu ia pun berdecak kesal. Sudah hampir 5 menit, tapi tidak ada pembicaraan satu katapun dari Marvin.
"Kau sungguh menyebalkan!" gumam Shena pelan, namun Marvin masih dapat mendengarnya.
Pria itu tertawa kecil mendengar gerutuan Shena. Lalu ia pun menatap ke arah gadis itu.
"Oke baiklah!" ujar Marvin.
"Kalau aku mengajakmu hanya untuk berbincang dan menyatakan perasaanku padamu. Apakah kamu akan menerima pernyataanku ini?" tanya Marvin.
Shena terkejut dan merasa cukup tercengang mendengar penuturan Marvin. Shena menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau tahu, menyatakan perasaan kita terhadap orang yang baru dikenal itu agak sulit. Dan aku salut padamu, karena sangat berani menyatakan perasaanmu itu padaku," jawab Shena seraya tersenyum miring.
"Tapi sayangnya, aku tidak akan mudah mempercayai perkataanmu itu. Aku sudah sering menemukan jenis pria semacam dirimu. Jadi, percuma saja kamu mengatakan itu padaku. Karena aku tidak akan mudah termakan oleh ucapanmu itu," sambung Shena sambil tersenyum sinis pada Marvin.
Marvin mengulum senyumnya sambil menatap Shena yang terlihat kesal padanya. Marvin membenarkan sedikit pisisi duduknya, dan dicondongkannya kepalanya agar dekat dengan Shena.
"Semakin kamu menolak, maka aku akan semakin gencar menyukaimu. Aku suka gadis yang sok jual mahal sepertimu ini," jawab Marvin dengan iringan kedipan mata sebelah kanannya.
Shena tersenyum sinis. "Kenapa dengan matamu, habis kelilipan biji daun Saga kah?" ejek Shena.
Marvin semakin tertawa mendengar ucapan Shena. Sungguh pria itu merasa gemas sekali dengan gadis di hadapannya ini.
"Aku semakin menyukaimu," jawab Marvin dengan begitu enteng.
Shena memutar bola matanya malas, sekali lagi gadis itu pun berdiri dan tanpa berkata lagi ia langsung meninggalkan Marvin yang masih tertawa.
Menyadari Shena sudah berjalan melewatinya, Marvin langsung berdiri dan mengejar gadis itu. Shena melangkah lebar demi menghindari Marvin, namun pria itu pun ikut mengejar dan berjalan di sebelah Shena.
"Hei, aku serius dengan kata-kataku tadi. Aku benar-benar mencintaimu, maukah kamu menjadi kekasihku? Atau kita langsung menikah saja," ucap Marvin yang masih terus berjalan beriringan di sisi kiri Shena.
Shena tidak menggubris ucapan Marvin. Gadis itu pun langsung keluar dari restoran dan segera bergegas menuju ke arah parkiran. Marvin pantang menyerah, ia pun ikut menghampiri motornya dan mengikuti mobil Shena yang sudah keluar parkiran restoran tersebut.
Shena mengemudi tanpa menghiraukan Marvin yang terus mengikutinya di belakang mobil. Marvin terus mengulum senyumnya dibalik helm yang dikenakannya. Sungguh ini pengalaman pertamanya dalam mengejar cinta seseorang. Biasanya Marvin hanya diam dan mereka para wanita lah yang mengejar-ngejar Marvin.
Di jalan raya yang cukup sepi, tiba-tiba Shena melajukan mobilnya cukup kencang. Hingga membuang Marvin berdecak kesal, Marvin pun mulai mengejar mobil Shena. Namun saat beberapa kilometer tiba-tiba saja ada beberapa motor yang menyalip motor Marvin dan mengejar mobil Shena. Marvin sempat terkejut, namun segera dirinya alihkan dengan terus mengejar mobil Shena.
Marvin hampir saja kehilangan jejak, karena Shena terlalu kencang mengendarai mobilnya. Terlebih motor Marvin tadi sempat ada yang membuatnya terpaksa melajukan motornya dengan lambat.
"Sial, kemana si Shena?" gumam Marvin.
__ADS_1
Marvin terus melajukan motornya, hingga matanya melihat sebuah mobil yang dicarinya sedang dikepung oleh beberapa motor yang sempat mengecohnya tadi.
Sementara itu Shena yang melihat beberapa orang yang ingin memberhentikan mobilnya dengan paksa pun terpaksa turun dari mobil.
"Siapa kalian dan mau apa dariku?" tanya Shena.
"Serahkan semua yang kamu miliki, dimana tas dan ponselmu?" bentak salah satu pembegal itu.
"Kenapa aku harus menyerahkannya pada kalian? Aku saja mendapatkannya dengan susah payah, dan kalian malah mau mengambilnya. Jangan harap aku akan memberikannya pada kalian!" jawab Shena dengan tersenyum sinis.
"Wah, nantangin nih perempuan." ujar ketua pembegal itu.
"Sudah bos, kita sikat saja. Nih, perempuan lumayan juga bos, bisa buat pemuas bos," celetuk salah satu anak buahnya.
Semuanya tertawa terkecuali Shena. Sedangkan Marvin yang baru tiba di belakang mobil Shena pun segera berjalan menghampiri mereka.
"Hei!" teriak Marvin
Semuanya menoleh ke arah Marvin dan dua orang begal itu segera menghampiri Marvin dan mencoba memberi pelajaran pada pria itu. Namun dengan cepat Marvin mendorong dan memukul keduanya. Tidak terima kedua temannya di hajar Marvin, akhirnya beberapa dari pembegal itu pun membalas menghajar Marvin.
Sebagian lainnya mencoba menyekap Shena. Namun sayangnya mereka tidak tahu kalau Shena hampir sama seperti Vesha yang bisa melakukan gerakan bela diri dari Muangthai. Beberapa dari mereka sempat terkejut dan tidak percaya kalau Shena dapat membalas setiap gerakan dari mereka.
Tidak lama beberapa warga dan pengendara lain yang melewati jalan tersebut meneriaki mereka semua. Sehingga para pembegal itu kocar kacir untuk melarikan diri, namun ada beberapa yang berhasil tertangkap oleh warga sekitar. Mereka pun segera dibawa ke kantor polisi terdekat.
Marvin mendekati ke arah Shena. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Marvin.
Shena menggelengkan kepalanya. "Aku nggak apa-apa, tapi kamu.."
Marvin langsung memotong ucapan Shena. "Ah, tidak apa! Sebaiknya kita ke kantor polisi dahulu untuk membuat laporan," ucap Marvin.
Shena pun mengangguk. "Ayo," jawabnya.
"Kamu mau naik mobil bersamaku atau bawa motormu?" tanya Shena seraya melirik ke arah motor Marvin.
"Sebaiknya kamu ikut aku," ajak Shena.
Marvin mengangguk dan berjalan masuk ke dalam mobil Shena. Marvin memilih mengemudikan mobil Shena, awalnya Shena menolak dan mengatakan kalau dirinya saja yang yang mengendarai. Mengingat Marvin saat ini sedang terluka.
"Sebaiknya kamu duduk manis saja, biar aku yang mengendarai mobilmu," ucap Marvin.
"Kamu ini sedang terluka," jawab Shena.
Marvin tersenyum. "Kamu mulai perhatian padaku, hmm?" goda Marvin.
Shena berdecak kesal. "Ck, itu bukan perhatian namanya. Tapi sikap peduli sesama makhluk Tuhan," celetuk Shena.
Marvin tertawa mendengar ucapan Shena. Ia pun hanya menganggukkan kepalanya, memang benar kan apa yang dikatakan Shena. Itu hanya sikap peduli yang terkadang selalu disalah artikan oleh orang yang berbeda pemikiran.
"Motormu bagaimana?" tanya Shena.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk membawanya ke bengkel ku," jawab Marvin.
Shena hanya ber oh ria saja. Pasalnya memang Shena sedikit tahu kalau Marvin ini memiliki beberapa showroom dan bengkel.
"Jangan dulu diperbaiki, biar itu jadi bukti atas apa yang telah orang-orang itu lakukan padamu," ucap Shena.
"Hmm, tentu saja. Kamu tenang saja, mereka semua akan mendekam di penjara dan beberapa dari mereka yang melarikan diri pun akan segera tertangkap," jawab Marvin yang terlihat sangat tenang.
Shena terlihat tertegun melihat wajah Marvin yang terlihat sangat santai dan tidak terlalu mempermasalahkan atas apa yang terjadi pada dirinya.
"Kamu terlihat cukup tenang dalam menghadapi kasus ini, ya!" cetus Shena.
__ADS_1
Marvin tersenyum dan sedikit menoleh ke arah Shena. "Tentu, karena kamu tidak apa-apa. Aku sangat khawatir kamu terluka, dan Alhamdulillah nya kamu tidak apa-apa." jawab Marvin.
Shena terdiam mendengar ucapan Marvin, entah kenapa perasaannya langsung berubah sedikit baper. Namun perasaan itu hanya sekejap saja, karena Shena dengan cepat berdehem dan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Ya Alhamdulillah, aku masih bisa mengatasi mereka," ucap Shena bangga pada dirinya.
Marvin tersenyum menanggapi ucapan gadis di sebelahnya. "Hmm, maka dari itu aku semakin jatuh cinta padamu," sahut Marvin.
Shena memutar kembali bola matanya, dirinya sudah jengah mendengar ucapan Marvin.
"Aku bosan mendengar ucapanmu itu," ketus Shena.
"Tidak apa, asal aku jangan. Aku tidak akan pernah bosan mengatakan itu padamu,"
Shena tidak membalas ucapan Marvin lagi. Gadis itu hanya diam seraya menoleh ke arah luar jendela samping. Namun sudut bibir Shena tersenyum tipis.
Mereka berdua telah sampai di kantor polisi, beberapa warga yang ikut mengamankan si pembegal juga ikut memberi kesaksian atas kejadian tersebut.
Beberapa jam berlalu, akhirnya Marvin dan Shena sudah selesai memberi kesaksian dan laporannya. Kini mereka berdua hendak meninggalkan kantor polisi tersebut.
"Aku akan mengantarkanmu sampai rumahmu," ucap Shena.
"Tidak!" tolak Marvin dengan cepat.
Shena mengerutkan dahinya. "Lalu, kamu ingin naik ojek online?" tanya Shena.
Marvin menggelengkan kepalanya. "Langit dan Chandra sedang menuju kesini," jawabnya.
Tidak lama kedua orang yang baru saja disebutkan oleh Marvin pun tiba. Ya, memang sebelumnya Marvin sudah memberitahukan keduanya kalau dirinya sedang ada di kantor polisi. Sebenarnya Sagara tahu soal ini, namun dirinya tidak dapat datang karena sedang ada interview di perusahaan dimana Darel bekerja.
"Mereka sudah tiba," ucap Marvin.
Shena pun menoleh dan benar keduanya sudah memarkirkan motor mereka. Chandra dan Langit terkejut melihat Shena ada di dekat Marvin.
"Chan, itu kan si cewek galak temennya si Vesha. Kenapa dia bisa ada disini?" bisik Langit pada Chandra saat mereka berjalan menghampiri Marvin.
"Entahlah! Nanti tanyakan saja langsung ke Marvin," jawab Langit.
Mereka berjalan dan tersenyum saat sudah dekat dengan Marvin dan Shena. Langit berjalan sedikit di belakang Langit saat melihat wajah Shena yang sangat galak dan jutek.
Shena melipat kedua tangannya dan berdiri sedikit mengangkat dagunya saat bersitatap dengan Chandra dan langit.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Chandra saat dirinya dan Langit sudah berada di hadapan Marvin.
Marvin mengangguk. "Ya, semuanya sudah beres." jawabnya.
"Bagaimana bisa terjadi, bagaimana kronologisnya?" tanya Langit.
Marvin pun menceritakan semuanya, baik Chandra dan Langit langsung menatap Shena. Mereka pun salut dengan keberanian dan juga kemampuan Shena.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Chandra pada Shena.
Alis Shena pun terangkat satu. "Aku tidak apa-apa. Kamu bisa lihat sendiri kan?" jawab gadis itu dengan tersenyum sinis.
Chandra tersenyum kecut dan mengangguk sambil mengusap lehernya yang tidak gatal.
"Ya, aku bisa lihat kau memang baik-baik saja," ucap Chandra dengan cengiran kecil.
"Kalau begitu kita langsung pulang saja," ujar Langit yang langsung mengajak mereka untuk segera pergi.
Nampaknya Langit benar-benar sangat ingin menjauh dari gadis yang bernama Shena itu. Sepertinya memang pria itu benar-benar tidak suka dan enggan berinteraksi dengan Shena.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya pergi dari kantor polisi tersebut, dan Marvin berpisah dengan Shena. Marvin diboncengi oleh Chandra, dan Shena langsung menuju mobilnya.