CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Kegundahan Hati


__ADS_3

Cinta tanpa restu orang tua itu benar-benar menjadi persoalan yang cukup rumit di antara sepasang kekasih. Karena sebuah restu adalah hal yang sangat penting dalam menjalani sebuah hubungan ke jenjang berikutnya, yaitu pernikahan.


Vesha duduk termenung dalam balkon kamarnya. Kejadian siang ini benar-benar membuat Vesha menjadi pendiam. Setiap ucapan Naura masih melekat dalam pikiran dan hatinya. Sakit, sudah jelas ia sangat sakit mendengar hinaan dari Naura. Namun, Naura tidak ingin mendendam dengan Naura. Karena Naura adalah orang tua yang harus selalu dihormati. Vesha tidak ingin menjadi seorang gadis yang begitu durhaka terhadap orang yang lebih tua darinya.


Vesha menghela nafasnya, dadanya masih terasa sangat sesak. Mengingat hubungannya dengan Bryan masih terhalang restu dari orang tua pria itu. Bagi Vesha dalam menjalani hubungan yang lebih serius itu paling utama adalah restu dari kedua orang tua.


Jika tidak mendapatkan restu orang tua, maka kehidupannya tidak akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman. Inilah sebab Vesha berpikir kalau restu orang tua itu sangatlah penting.


"Sebuah restu menjadi penentu hubungan kita, Bryan." gumam Vesha pelan dengan bibir bergetar.


Vesha mendongakkan kepalanya menahan bulir air mata yang hendak menetes.


"Ya Tuhan, kuatkan aku dalam menjalani cobaan ini. Hanya engkau yang mampu membolak balikkan hati seseorang," lirih Vesha bersamaan jatuhnya air matanya.


Vesha menyandarkan kepalanya pada dinding, gadis itu kembali merenung dan meratapi kisah cintanya yang sedikit rumit.


Disaat sedang sibuk melamun, ponsel Vesha tiba-tiba saja berdering. Gadis itu sempat terkejut dan segera menoleh ke arah ponsel yang ada di sebelahnya.


Vesha meraih ponselnya dan bergeming saat melihat nama yang terpampang jelas di layar ponselnya. Nama orang yang sejak tadi sedang dipikirkannya. Dengan perasaan ragu, akhirnya Vesha menerima panggilan dari Bryan.


"Assalamualaikum," ujar Vesha pelan.


"Waalaikumsalam, ada apa dengan suaramu? Apakah kamu habis menangis?" tanya Bryan yang sedikit curiga kalau Vesha habis menangis.


Vesha berdehem dengan sedikit menjauhkan ponselnya.


"Tidak, tadi tenggorokanku sedikit kering. Jadi suaranya agak berbeda," bohong Vesha dengan tertawa kecil.


"Kamu yakin? Tidak sedang menyembunyikan apapun dariku?" Bryan kembali bertanya pada Vesha.


"Hmm, sangat yakin. Mana mungkin aku berbohong padamu," jawab Vesha.


Terdengar suara tawa dari seberang sana. "Ya, aku percaya padamu." ujar Bryan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Vesha.


Bryan mengalihkan panggilan teleponnya menjadi video call. Rasa ragu kembali meliputi dirinya, pasalnya baru saja ia berbohong soal dirinya yang menangis. Vesha nampak kelimpungan, dengan cepat ia berlari masuk ke dalam kamar dan mencuci wajahnya.


"Sayang kenapa lama sekali menerima panggilan videonya? Kamu sedang apa, hmm?" tanya Bryan lagi.


"Tunggu sebentar, aku kebelet pipis!" jawab Vesha sedikit berteriak.


Bryan tertawa mendengar jawaban Vesha. Pria itu akan menunggu kekasihnya untuk menjawab panggilan video darinya. Vesha kembali bercermin untuk memastikan kalau matanya tidak terlihat habis menangis.


"Kamu masih disana, Bryan?" tanya Vesha.


Bryan tidak menjawab, ia kembali mengalihkan panggilannya ke mode video call. Vesha segera menerima panggilan tersebut.


Dahi Vesha mengernyit saat melihat kamar Bryan terasa asing baginya. Walaupun Vesha belum pernah masuk ke dalam kamar Bryan, tetapi pria itu selalu menunjukkan isi kamarnya saat sedang melakukan video call dengan Vesha.


"Kamu lagi dimana?" tanya Vesha.


"Apartemen," jawab Bryan.


Vesha masih mengerutkan dahinya. "Kamu tidak pulang ke rumah utama?" tanya Vesha.


Bryan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sedang malas bertemu dengan Mommy,"


Vesha tertegun mendengar jawaban Bryan. Vesha menghela nafasnya dengan kasar, dan menatap Bryan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tidak seharusnya kamu seperti itu, Bryan. Bagaimanapun Nyonya Naura itu adalah ibu kandungmu. Pulanglah, aku yakin Mommy kamu menunggu kepulanganmu. Jangan membuat Mommy kamu khawatir terhadapmu," nasehat Vesha untuk Bryan.


Bryan tersenyum miring sambil mengangkat kedua bahunya. Bahkan Vesha dapat mendengar hembusan nafas Bryan yang terasa begitu berat.


"Mommy juga tahu kalau aku ada di apartemen. Tadi aku sudah mengabari Daddy," jawab Bryan.

__ADS_1


"Ya, baiklah. Tapi hanya malam ini saja kamu menginap di apartemenmu. Besok-besok kembalilah ke rumah utama," ucap Vesha.


Bryan mengangguk patuh mendengar perintah dan nasehat Vesha. Layaknya seorang putra yang patuh pada ibunya. Vesha tertawa saat melihat wajah Bryan yang menurutnya sangat imut dan menggemaskan saat mengangguk.


Bryan mencebikkan bibirnya, lalu ia tersenyum saat melihat Vesha yang sedang tertawa. Mereka mengobrol cukup lama, apa saja mereka bahas dan herannya mereka selalu nyambung pada pembahasan apapun itu. Bahkan sesekali mereka bergosip seperti emak-emak komplek yang sedang berkumpul sambil memilih sayuran.


Bryan masih terus tersenyum memandangi objek favoritnya yang berada di layar ponselnya. Sedangkan yang ditatap sedang tersipu malu.


"Stop, menatapku seperti itu!" protes Vesha.


Bryan tertawa kecil seraya menggeleng pelan. "Kenapa?" tanyanya sambil menopang dagu.


"Aku malu," Vesha tersipu dengan pipi merona.


Bryan menampilkan cengiran yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Tidurlah, ini sudah larut malam. Besok kita masih ada pertemuan dengan klien dari Singapura," titah Bryan.


Vesha mengangguk. "Iya, kamu juga. Jangan begadang lagi," jawab Vesha.


"Hmm, good night sweety."


Vesha tersenyum. "Good night,"


Panggilan pun berakhir, Vesha memegangi dada kirinya sambil menghela nafasnya. Seulas senyum terukir di wajahnya. Malam ini rasanya sangat menyenangkan, walaupun hanya melakukan video call saja Vesha merasa sangat senang karena dapat melihat wajah pria yang berhasil mengusik hatinya.


Pagi pun tiba, seperti biasa Bryan selalu menjemput Vesha di rumahnya. Kedekatan Bryan dan Vesha sudah mendapatkan izin dari kedua orang tua Vesha.


Setibanya di kantor, dengan cekatan Vesha mempersiapkan berkas-berkas yang harus dibawa olehnya saat pertemuan dengan klien dari Singapura nanti.


Devano berjalan menghampiri Vesha. "Sha, Bryan ada di dalam?" tanya Devano.


"Oh, Tuan Devan. Ya, Tuan Bryan ada di dalam," jawab Vesha.


Devano tersenyum tipis. "Oke, terimakasih. Aku masuk dulu," ujar Devano.


"Silakan, Tuan!" jawab Vesha.b


"Ada apa?" tanya Bryan tanpa menoleh ke arah Devano.


Devano langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung oleh Bryan. Pria itu sedikit menghela nafasnya, merasa Devano hanya diam saja. Akhirnya Bryan menghentikan gerakan jarinya saat mengetik beberapa huruf di laptopnya.


"Kenapa kamu diam?" tanya Bryan lagi.


Devano mengedikkan kedua bahunya sambil tersenyum miring. "Kau tidak pulang semalam?" bukannya menjawab pertanyaan malah balik bertanya.


"Hmm," jawab Bryan yang kembali fokus ke laptopnya.


Sepertinya Bryan tahu kemana arah pembicaraan Devano. Ini tidak jauh dari mommy nya. Sudah dapat dipastikan oleh Bryan, kalau Devano datang ke ruangannya hanya untuk membahas tentang perjodohan itu.


"Tante Naura mengkhawatirkan kamu," ucap Devano.


"Katakan pada Mommy aku baik-baik saja. Aku tidur di apartemenku, Daddy juga sudah tahu akan hal itu." jawab Bryan.


Devano mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Nanti malam pulanglah!"


Bryan menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Devano. "Untuk apa? Membahas rencana perjodohanku lagi dengan anak dari teman-teman Mommy?" Bryan berdecak kesal.


"Aku tidak tahu soal itu, tapi Tante Naura hanya memintaku untuk menyampaikan itu saja. Aku hanya diminta untuk menyuruhmu pulang," jawab Devano.


"Ck, aku sudah besar dan tahu arah pulang ke rumah utama," ketus Bryan.


Sekali lagi Devano menghela nafasnya kasar. "Jangan seperti itu! Bagaimanapun Tante Naura itu adalah ibu kandungmu,"


"Ya, ya. Sudahlah sebaiknya kamu kembali ke ruangan kamu. Karena sebentar lagi aku akan bertemu klien dengan Vesha," cetus Bryan.


Devano memutar bola matanya malas. "Kenapa kamu tidak mencari asisten lagi, Bryan? Jadi saat kamu keluar bertemu klien, ada yang menjaga di depan ruanganmu," usul Devano.

__ADS_1


Bryan menaikkan satu alisnya. "Aku akan mencarinya saat Vesha sudah menjadi istriku," jawab asal Bryan.


"Kau yakin akan menikah dengannya?"


Bryan langsung menatap tajam ke arah Devano. "Apa maksudmu?"


Devano menaikkan satu alisnya seraya tersenyum miring. "Bahkan sampai sekarang kalian belum mengantongi restu dari Tante Naura," cetus Devan.


"Kau…" Bryan berucap seakan menahan kekesalannya.


Devano langsung berdiri dari duduknya. "Setidaknya dapatkan restu terlebih dahulu sebelum melangkah ke jenjang yang lebih jauh, agar kalian hidup bahagia," celetuk Devano seraya berjalan meninggalkan Bryan yang mulai kesal dengannya.


[Brak…]


"Devano…." teriak Bryan ketika Devano sudah membuka pintu.


Vesha tersentak saat mendengar teriakan Bryan dari dalam. Lalu gadis itu pun menatap bingung pada Devano, namun yang ditatap hanya memberikan senyuman tipis dan berlalu begitu saja kembali ke ruangannya.


"Ada apa dengan Bryan?" gumam Vesha.


Vesha masih menatap pintu ruangan Bryan dengan rasa bingungnya. Vesha pun menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, nanti akan aku tanyakan apa yang membuat dia meneriaki Tuan Devano seperti itu," gumam Vesha lagi.


*


Dua wanita paruh baya duduk saling berhadapan di sebuah restoran mewah. Salah satu dari mereka sedang menyesap minuman hangat pesanannya.


"Jadi benar kamu akan tetap membatalkan kesepakatan kita dulu, Wi?" tanya Naura.


Kedua wanita itu adalah Naura dan Dewi. Naura masih kekeh ingin bertemu Dewi dan tetap menjalankan perjodohan untuk Bryan dan Shena.


Dewi menaruh cangkirnya kembali, seraya menghela nafasnya. Ditatapnya Naura begitu lekat.


"Aku tidak ingin membuat Mas Bram kecewa padaku, Nau. Terlebih keluarga Vesha selalu membantu aku dan Mas Bram disaat kami susah dulu. Lagipula aku juga sangat menyayangi Vesha, dia sudah aku anggap anakku sendiri." jawab Dewi.


"Lagipula bukankah sama saja, Vesha dan Shena. Keduanya adalah putriku, Nau. Vesha itu gadis baik dan sangat penurut pada kedua orang tuanya," sambung Dewi.


Naura melengos kan wajahnya ke arah sembarangan. "Tapi aku lebih menyukai putri kandungmu, Shena. Bukan wanita yang hanya berstatus sekretaris putraku," ketus Naura.


Dewi menghela nafasnya kembali sambil menggelengkan kepalanya. Jujur saja ia sangat pusing dengan sikap sahabatnya yang sulit sekali menerima seseorang yang baru dikenalnya.


"Kamu mempermasalahkan status pekerjaannya?" tanya Dewi yang tidak percaya dengan pemikiran Naura.


"Tentu saja, aku malu Wi kalau memiliki menantu hanya seorang sekretaris. Kalau dengan Shena yang seorang dokter, aku tidak akan malu, Wi. Sudah jelas kan Shena itu gadis pintar dengan gelar kedokterannya. Tentu saja aku sangat bangga memiliki menantu seorang dokter. Aku bisa memamerkan Shena dengan teman sosialita ku nanti," jawab Naura


Dewi semakin tercengang mendengar jawaban Naura. Dewi kembali menggeleng tidak percaya atas perubahan sahabatnya itu. Semakin kesini sahabatnya semakin kesana, sombong dan angkuh.


Dewi tersenyum getir, ia membayangkan kalau kehidupannya tidak semapan sekarang. Apakah sahabatnya itu masih ingin mengenal dirinya? Atau sebaliknya, malah lupa dan enggan bertemu seperti ini.


"Kamu belum mengenal Vesha dengan baik, Nau. Jangan hanya karena status pekerjaannya, membuat kamu menyesal karena tidak mengenalnya terlebih dahulu." cetus Dewi.


"Mendengar jawabanmu seperti itu, aku semakin yakin untuk membatalkan perjodohan ini. Aku membayangkan jika Shena bukan seorang dokter, mungkin kamu juga akan memperlakukan Shena sama seperti Vesha." Dewi tertawa getir.


"Aku tidak habis pikir dengan sikap kamu yang sangat berubah, Nau. Dulu kamu selalu berkata kalau dirimu tidak akan pernah mempermasalahkan status pekerjaan dalam memilih seorang menantu. Tapi nyatanya sekarang," Dewi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring.


"Jujur aku kecewa sama sikap kamu, Nau. Seandainya Vesha adalah anakku, mungkin aku orang pertama yang menentang hubungan Bryan dan Vesha. Karena aku tidak ingin melihat putriku menderita tekanan batin karena memiliki ibu mertua seperti kamu,"


Naura membulatkan matanya mendengar semua kata-kata yang mungkin sebagai unek-unek dalam diri Dewi.


"Wi, bukan maksud aku seperti itu."


Dewi langsung mengangkat tangannya ke atas. Mengisyaratkan agar Naura berhenti berbicara.


"Kamu sudah tahu jawabannya kan? Aku tetap dalam pendirianku untuk membatalkan perjodohan anak-anak kita." Dewi mengambil tasnya dan berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Aku permisi!" pamit Dewi.


Naura semakin tercengang dengan sikap Dewi. Naura terus memanggil nama Dewi, namun tidak digubris oleh wanita itu. Dewi terus berjalan dan meninggalkan restoran tersebut dan membiarkan Naura membayar bil pesanannya.


__ADS_2