
Para petugas medis sibuk dalam menangani pasien mereka. Begitupun dengan dokter yang menangani Naura, terlihat wajah frustasi dari dokter maupun suster yang berjaga malam ini. Sean, Gricella juga kedua orang tua Shena sudah datang ke rumah sakit.
Bahkan pihak kepolisian pun sudah datang untuk meminta keterangan menyangkut kecelakaan yang melibatkan Naura. Sean segera mengurus laporan terkait kecelakaan yang menimpa istrinya itu. Sean meminta keringanan dalam menginterogasi korban, mengingat Naura masih dalam keadaan kritis.
Dua orang suster masuk ke dalam ruang UGD, entah apa yang sedang mereka bicarakan ada dokter yang menangani Naura. Mereka pun keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Keluarga pasien atas nama Nyonya Naura," ucap dokter itu.
Sean pun segera menghampiri dokter itu. "Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Sean yang terlihat sangat khawatir.
Dokter itu menghela nafasnya. "Sebelumnya saya sudah menceritakan tentang kondisi pasien dengan Nona ini," jawab dokter itu seraya menunjuk ke arah Vesha.
"Saya sudah menjelaskannya, Dokter. Mungkin Tuan Sean hanya ingin lebih jelas mendengarnya dari anda," ucap Vesha.
"Kondisi pasien masih kritis dan sangat membutuhkan darah. Saya minta maaf sekali karena pihak rumah sakit kehabisan stok golongan darah yang sama dengan milik Nyonya Naura," kata dokter itu.
"Kalau boleh saya tahu golongan darah Tante Naura apa ya, Dok?" tanya Dewi.
"AB negative, dan golongan darah itu sangatlah langka," jawab sang dokter.
"Kami belum mendapatkan golongan darah yang sesuai dengan golongan darah Nyonya Naura. Kami sudah mencari ke beberapa rumah sakit, bahkan Kami sudah menanyakan stok golongan darah yang sama dengan pasien ke PMI dan hasilnya pun nihil. Mungkin anda atau anak anda memiliki golongan darah yang sama dengan pasien. Jika ada kami sangat berharap agar kalian mau mendonorkan darah untuk Nyonya Naura," jawab sang dokter seraya menjelaskan semuanya.
"Lalu kita harus mencarinya kemana?" tanya Bram yang ikut kebingungan.
Gricella yang mendengar itu pun langsung maju. "Golongan darah saya sama dengan Mommy. Dokter bisa ambil darah saya," ucap Gricella.
Bram dan Dewi dapat sedikit bernafas lega, Sean pun baru teringat dengan sang putri yang juga memiliki golongan darah yang sama dengan Naura.
Dokter itu pun tersenyum. "Baiklah kalau begitu, mari ikut saya untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Gricella pun mengangguk dan mengikuti arahan dari dokter tersebut. Setelah beberapa menjalani tes kesehatan, Gricella dan sang dokter kembali ketempat semula.
"Bagaimana Dokter?" tanya Sean.
Dokter itu pun menggeleng lemah dan Gricella hanya menundukkan wajahnya saja. Gadis itu merasa sangat tidak berguna disaat ibunya sedang membutuhkannya.
"Mohon maaf Tuan, Nona Gricella tidak bisa mendonorkan darahnya. Karena tekanan darah beliau sangat rendah, ditambah lagi Nona Gricella juga sedang datang bulan. Jika dipaksakan saya takut Nona Gricella kenapa-kenapa," jawab dokter itu.
"Maafkan aku Daddy," lirih Gricella.
Sean langsung membawa tubuh putrinya ke dalam pelukannya. "Tidak apa, Nak. Jangan berkecil hati," jawab Sean menenangkan gadis kecilnya.
Vesha menoleh ke arah Shena, dan Shena pun tahu apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya itu. Shena menggeleng dengan kuat.
"Tidak, Sha. Aku tidak mengizinkannya," ucap Shena dengan memberi tatapan tajam padanya.
__ADS_1
Dewi mengerutkan dahinya saat mendengar putrinya berkata seperti itu. "Ada apa, Nak?" tanya Dewi dengan suara pelan.
"Tidak ada apa-apa, Mom!" jawab Shena cepat.
Vesha menghela nafasnya. "Shen, ini menyangkut nyawa seseorang. Aku tidak ingin Bryan dan Gricella kehilangan ibunya, please biarkan aku mendonorkan darahku untuk Nyonya Naura!" sahut Vesha seraya memohon.
"Tidak ya tidak! Kamu dengar nggak aku bilang apa?" bentak Shena.
"Shena," tegur Bram. "Kenapa kamu berbicara seperti itu pada Vesha?" Bram kembali menegur putrinya.
"Iya, tadi Mommy juga heran sama kamu kenapa kamu kesal sama Vesha?" timpal Dewi.
Shena menghela nafasnya dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Aku ingin mendonorkan darahku, Om, Tante. Tapi Shena tidak menyetujuinya," lirih Vesha.
"Mengadu," gerutu Shena.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu seperti itu, Shena? Biarkan saja Vesha mendonorkan darahnya untuk Tante Naura. Kenapa kamu malah melarangnya?" tanya Dewi.
"Jelas aku melarangnya. Mommy tidak ingat apa yang sudah Tante Naura lakukan pada Vesha? Aku masih kesal dengan sikap Tante Naura, Mom. Jadi wajar aku melarangnya," ketus Shena.
Bram menghela nafasnya. "Nak, Vesha sendiri yang menginginkan untuk mendonorkan darahnya untuk Naura. Tolong singkirkan egomu itu, kita sedang dalam keadaan genting. Benar apa yang dikatakan Vesha tadi, ini menyangkut soal nyawa seseorang." Bram memberi penjelasan pada putrinya itu.
Shena menghentakkan kakinya dan melengoskan wajahnya ke arah lain. "Terserah dia sajalah!" celetuk Shena dengan ketus.
"Permisi Dokter, izinkan saya untuk mendonorkan darah saya untuk Nyonya Naura. Golongan darah saya juga AB negative," ucap Vesha.
Sean dan Gricella pun terkejut mendengar ucapan Vesha. Sedangkan dokter yang menangani Naura tersenyum lebar pada gadis itu.
"Nak Vesha," tegur Sean.
Vesha tersenyum. "Izinkan saya membantu Nyonya Naura, Tuan." ucap Vesha.
"T-tapi kenapa kamu melakukan ini?" tanya Sean.
Vesha tersenyum. "Atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab," jawab Vesha diiringi tawa kecilnya.
Sean dan sang dokter pun sempat tertawa mendengar perkataan Vesha. Seketika suasana menjadi tenang dan tidak setegang tadi.
"Ayo, Dokter. Sebaiknya kita secepatnya mengambil darahku," ucap Vesha lagi.
Dokter pun mengangguk. "Baiklah, mari Nona ikut saya," jawab sang dokter sembari menuntun Vesha ke ruangan pemeriksaan.
"Tunggu!" Sean mencegah Vesha yang hendak ikut bersama sang dokter.
__ADS_1
Vesha pun menoleh. "Ada apa Tuan?" tanya Vesha.
"Terimakasih, Nak!" jawab Sean.
Vesha hanya tersenyum dan mengangguk membalas ucapan Sean. Dokter pun membawa Vesha ke ruangan dimana tadi Gricella melakukan pemeriksaan. Gricella masih terdiam saat melihat Vesha dengan tulus mendonorkan darahnya untuk sang ibu. Gadis itu semakin merasa bersalah dengan Vesha, karena dirinya juga sempat bersikap tidak baik dengan Vesha.
Seketika itu juga Gricella teringat dengan sang kakak. Ia teringat kalau sang daddy belum memberitahukan kabar kecelakaan yang menimpa Naura.
Gricella pun mendekat ke arah Sean. "Daddy, apa sebaiknya kita memberitahukan hal ini pada Kak Bryan?" tanya Gricella.
Sean tersadar akan ucapan Gricella. "Astaghfirullah, Daddy hampir melupakan Bryan. Biar Daddy yang memberitahukan hal ini pada Kakakmu. Kamu tunggu disini saja sambil menunggu Vesha selesai pemeriksaan," jawab Sean.
Gricella pun mengangguk. "Iya, Dad."
Beberapa menit berlalu, Vesha belum juga keluar dari ruangan UGD. Ya, Vesha lolos tes kesehatan dan ia pun bisa mendonorkan darahnya untuk Naura. Shena duduk bersebelahan dengan Gricella, gadis itu sengaja memilih duduk bersebelahan dengan Shena. Karena Gricella sangat ingin berbincang dengan sahabat Vesha itu, dan ia juga ingin tahu lebih banyak tentang Vesha.
Gricella berani mendekati Shena saat gadis itu duduk sendirian, karena Dewi dan Bram sudah izin pulang terlebih dahulu. Mengingat malam semakin larut.
"Kau teman Vesha?" tanya Gricella yang agak takut melihat wajah dingin Shena.
Shena hanya menoleh sebentar dan kembali fokus ke ponselnya. "Hmm, dia sahabatku," jawab Shena dengan suara datar.
Gricella mengangguk dan berdehem guna menghilangkan kegugupannya. "Sejak kapan kalian bersahabat?" tanya Gricella lagi.
Dahi Shena pun berkerut, lalu ia menoleh ke samping dimana Gricella duduk. Shena menatap tajam ke arah gadis itu dan semakin membuat Gricella takut.
"Sejak kapan kau berubah menjadi wartawan?" sinis Shena.
Gadis itu pun berdecak kesal. "Dasar detergen," gumam Shena yang sudah kesal dengan Gricella.
Gricella pun menghela nafasnya. Ia tahu sangat kalau Shena pasti juga kesal dengan dirinya. Ia yakin kalau Vesha juga sudah bercerita tentang dirinya, tambah lagi saat kejadian di restoran itu Shena juga ada di sana.
"Aku minta maaf soal kejadian di restoran waktu itu," ucap Gricella.
Shena memutar bola matanya. "Udah basi," ketus Shena.
"Iya, aku tahu. Aku hanya ingin minta maaf atas sikapku yang terlalu berlebihan saat itu," kata Gricella.
Shena tidak menjawab, ia hanya diam dan tidak peduli dengan ucapan Gricella. Shena sudah terlalu kesal dengan gadis itu, image baik pun seketika tidak ada dalam diri Gricella.
"Aku sangat berterima kasih pada Vesha, karena bersedia mendonorkan darahnya untuk Mommy. Aku sadar telah salah menilai Vesha," lanjut Gricella.
"Akhirnya kau sadar juga kan?" celetuk Shena.
"Sahabatku itu memang ter the best. Tapi kau dan Mommy kau itu malah bersikap seperti itu pada sahabatku," Shena kembali berceletuk.
__ADS_1
"Maka dari itu aku minta maaf," ujar Gricella.
"Minta maaf sama Vesha langsung. Bukan sama aku," jawab Shena bernada ketus.