
Derap langkah setengah berlari memenuhi lorong rumah sakit. Safira datang bersama Darel, bukan hanya kedua orang tua Sagara yang datang. Tetapi ketiga sahabat Sagara pun datang untuk menjenguk.
Setelah menemukan ruang rawat Sagara, mereka berlima masuk dan langsung mencecar pertanyaan pada Sagara. Vesha dan Bryan yang sedang duduk di sofa pun segera bangun dari posisi mereka.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Gara?" tanya Safira dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Apakah kamu sudah melaporkan hal ini pada polisi?" tanya Darel.
"Sudah, Om."
Semuanya pada menoleh ke arah Vesha. Mereka terkejut saat melihat Vesha dan Bryan. Karena saat datang tadi mereka tidak melihat dan tidak tahu kalau ternyata Sagara tidak sendirian.
Darel dan Safira tersenyum melihat Vesha, namun saat melihat Bryan dahi keduanya berkerut seakan sedang bertanya siapa pria itu. Vesha yang paham pun langsung memperkenalkan Bryan pada semuanya.
"Ini Bryan, dia adalah ke-kekasihku," ucap Vesha gugup.
Entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu saat mengucapkan kata-kata tersebut. Vesha masih belum sepenuhnya percaya begitu saja untuk menyerahkan hatinya pada pria mana pun. Karena dari awal sudah terlanjur Bryan mengatakan kalau dirinya adalah kekasihnya, sebaiknya Vesha pun ikut apa yang dikatakan Bryan.
Walau dia tahu apa yang sudah dilakukannya itu sangatlah salah dan tentu akan menyakiti hati salah satu diantara mereka. Apalagi Bryan, Vesha juga sebenarnya tidak ingin menyakiti perasaan pria itu. Namun gadis itu teringat akan ucapan Bryan yang memintanya untuk tidak melarangnya untuk bertemu dengan dirinya.
Semuanya sangat terkejut mendengar ucapan Vesha. Terkecuali Sagara yang saat ini sedang mengatupkan bibirnya dengan tangan yang meremas kuat sprei kasurnya. Berbeda dengan Bryan yang saat ini sedang tersenyum lebar. Ada rasa bahagia dalam dirinya, karena pada akhirnya Vesha memperkenalkannya sebagai kekasihnya.
Bryan pun berkenalan dengan kedua orang tua Sagara dan ketiga sahabatnya. Sagara menatap tajam pada. Bryan yang terlihat sangat ramah dengan kedua orang tuanya. Bukannya iri, akan tetapi lebih ke benci. Benci karena pria itu adalah kekasih Vesha.
Bukan hanya Sagara saja yang menatap tidak suka pada Bryan. Chandra pun seperti itu, Chandra sempat melirik ke arah Vesha. Lalu ia memberanikan diri untuk mendekat ke arah gadis itu.
"Bisa kita bicara sebentar, Sha?" tanya Chandra dengan suara pelan.
Vesha pun menoleh. "Bisa," jawabnya.
Vesha pun berbisik pada Bryan, sepertinya gadis itu meminta izin keluar sebentar dan ingin berbicara dengan Chandra. Karena Bryan terlihat sempat melirik sekilas ke arah Chandra. Sebenarnya berat bagi Bryan untuk membiarkan Vesha berbincang berdua saja dengan pria lain.
Karena bagaimanapun juga Bryan tahu kalau Chandra menyukai Vesha. Bryan bisa melihat itu dari tatapan Chandra ke Vesha. Namun kembali ke diri Vesha, Bryan yakin kalau gadis itu tidak akan berbuat macam-macam. Bryan percaya kalau Vesha dapat menjaga hatinya. Vesha tersenyum saat Bryan menganggukkan kepalanya, bertanya pria itu mengizinkannya.
Vesha dan Chandra keluar, membuat yang lainnya bertanya-tanya kemana mereka pergi. Kecuali Sagara, pria hanya diam dan tidak ingin berkomentar.
"Mereka mau membeli sesuatu," ucap Bryan.
Mereka pun mengangguk, dan kembali berbincang-bincang. Cukup lama mereka berbincang, hingga Bryan sendiri izin keluar untuk sekedar merokok.
Di taman rumah sakit, Vesha dan Chandra duduk bersisian sambil menatap lurus ke arah kolam ikan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Chan?" tanya Vesha.
Chandra menoleh dan membenarkan duduknya. "Sha, apakah benar pria itu kekasihmu?" kali ini Chandra yang bertanya pada gadis di sampingnya.
"Bryan?"
Chandra mengangguk. "Iya,"
Vesha menghela nafasnya. "Iya, dia kekasihku." jawab Vesha.
Chandra mengatupkan bibirnya menahan gejolak yang membuatnya merasakan sakit pada bagian dada kirinya.
"Apakah tidak ada kesempatan untuk aku memiliki hatimu, Sha?" tanya Chandra.
Vesha terkejut, sangat terkejut mendengar pertanyaan Chandra. Tatapan Chandra terlihat begitu nanar saat memandang wajah Vesha. Vesha tidak bisa berkata lagi, lidahnya terasa begitu kelu. Bahkan saat ini tenggorokannya terasa kering.
"Chan," panggil Vesha dengan suara tercekat.
Chandra tersenyum hambar. "Aku mencintaimu, Sha. Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini. Tapi rasanya aku terlambat," ucapnya terdengar lirih.
__ADS_1
Vesha masih terdiam, jujur ini sangat diluar dugaannya. Lalu gadis itu memberanikan diri untuk menatap Chandra.
"S-sejak kapan?" tanya Vesha.
Chandra menatap dalam manik mata milik Vesha. "Sejak kamu masih bersama Saga," jawab Chandra.
Vesha kembali terkejut mendengarnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, Vesha menundukkan wajahnya dengan tangan yang terus meremas jemarinya.
"Maafkan aku, Chan!" lirih Vesha.
Chandra tertawa kecil, namun terdengar begitu hambar. "Tidak apa, Sha. Aku mengerti, aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu," jawab Chandra yang membuat Vesha mengangguk kecil.
"Tapi, bisakah kita tetap berteman?" tanya Chandra.
Vesha mendongakkan wajahnya menatap Chandra, dan mengangguk kembali. "Tentu, kita masih bisa berteman." jawab Vesha seraya tersenyum tipis.
Chandra pun membalas senyuman Vesha. "Aku senang mendengarnya. Tetapi jika kekasihmu itu menyakitimu, katakan saja padaku. Biar aku jadikan dia perkedel, dan menjadikan kamu ratu di hatiku," celetuk Chandra.
Vesha tertawa mendengar ucapan Chandra. Begitupun dengan pria itu, Chandra tersenyum melihat Vesha yang tertawa dan tersenyum seperti tidak ada luka dan beban. Memang itulah yang selalu diharapkan oleh Chandra.
"Aku yang terlebih dahulu menjadikannya perkedel, Chan. Kami tahu aku seperti apa kan?" sahut Vesha yang masih tertawa.
Chandra mengangguk. "Hmm, iya. Aku tahu kamu gadis yang kuat. Mungkin sekelas Wonder Woman," ucap Chandra.
Mereka kembali tertawa. Dari kejauhan Bryan dapat melihat keduanya yang sedang asyik berbincang sambil tertawa. Bryan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
Selang beberapa menit Vesha dan Chandra pun menyudahi obrolan mereka dan kembali ke ruang rawat Sagara. Bryan langsung mengumpat di balik pilar tembok yang cukup besar.
Menjelang sore ketiga genk kura-kura ninja izin untuk pulang. Begitupun juga dengan Darel yang pulang terlebih dahulu dan meninggalkan sang istri untuk menemani Sagara di rumah sakit untuk malam ini. Safira izin mengantarkan sang suami sampai ke lobi dan meninggalkan Vesha dan Bryan berdua.
Kini di dalam kamar hanya ada Vesha dan juga Bryan. Keduanya terlihat asyik mengobrol di sofa tanpa menghiraukan Sagara yang sudah bangun. Vesha sempat melirik sekilas dan terkejut melihat pria itu sudah membuka mata dan hendak bangun untuk duduk.
"Biar aku saja," potong Bryan yang langsung mengambil alih posisi Vesha.
Sagara kesal karena bukan Vesha yang membantunya. "Tidak perlu repot-repot membantu Saya," ucap Sagara dengan ketus.
Bryan memutar bola matanya malas. Pria itu tidak peduli dan malah berjalan mendekati Vesha sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu mau minum?" tanya Vesha.
Sagara tersenyum. "Boleh," jawabnya dengan senang hati.
Namun lagi-lagi Bryan mencegah Vesha untuk membantu Sagara. Pria itu yang terlebih dahulu mengambil segelas air untuk Sagara dan memberikannya pada pria itu.
"Minum!" Bryan berkata sembari menyerahkan gelas tersebut di depan Sagara.
"Tidak jadi," jawab kesal Sagara.
Vesha mengulum senyumnya melihat keduanya berinteraksi. Pintu kamar terbuka dan membuat ketiganya menoleh ke arah pintu. Seorang gadis masuk ke dalam seraya tersenyum.
"Kak Saga," panggil gadis itu dengan ceria.
"Aurel," gumam Saga.
Vesha dan Bryan saling melirik satu sama lain. Lalu Bryan pun menaruh gelas tersebut di atas nakas. Aurel menghampiri ranjang Sagara dan berdiri di sisi kanan pria itu tanpa mempedulikan Vesha dan Bryan.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Kakak sampai bisa menghadapi empat orang yang akan menculik Kak Vesha?" tanya Aurel.
Sagara mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aurel. "Dari mana kamu tahu kalau mereka ingin menculik Vesha?" tanya Aurel.
Bukan hanya Sagara yang menatap heran pada Aurel. Vesha dan Bryan pun memicingkan matanya, benar apa yang dikatakan Sagara. Bagaimana Aurel tahu tentang kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
Padahal sejak tadi Sagara dan Vesha hanya mengatakan kalau mereka hampir kena begal.
"Iya, apa yang dikatakan Gara benar. Dari mana kamu tahu kalau orang-orang itu ingin menculikku?" tanya Vesha
Aurel menyadari kesalahannya, wajah gadis itu terlihat sangat panik. Namun dengan cepat ia mengubahnya dengan tawa kecilnya.
"Eh, aku tadi hanya mengira-ngira saja kok. Tapi, sepertinya itu benar ya? Aduh, padahal kan aku hanya asal berceletuk saja," jawab Aurel dengan tawa terpaksanya.
Sagara yang masih menatap Aurel curiga pun melirik ke arah Vesha yang sama halnya sedang menatap tajam ke arah Aurel.
Vesha menghela nafasnya dalam-dalam. "Tapi sayangnya apa yang kamu kira itu salah," celetuk Vesha dengan memberi tatapan tajam.
Aurel jadi salah tingkah dan sedikit gugup. "Ah, iya. Maaf Kak," jawab Aurel.
Bryan membuka ponselnya saat merasakan ada getaran dari ponselnya. Lalu ia membaca sebuah pesan dari Devano.
"Sayang, sebaiknya kita keluar saja. Devano menungguku di depan," bisik Bryan pada Vesha.
Vesha pun mengangguk. "Ayo,"
Lalu ia menatap ke arah Sagara. "Aku didepan, jika kamu membutuhkan sesuatu panggil saja," ujar Vesha pada Sagara.
Baru Sagara hendak menjawab, namun Aurel terlebih dahulu membalas ucapan Vesha.
"Tenang saja, ada aku disini!" jawab Aurel.
Vesha hanya melirik dan tidak menghiraukan Aurel. Namun gadis itu tetap tersenyum ke arah Sagara.
"Aku keluar," ucap Vesha lagi pada Sagara.
Sagara mengangguk dan tersenyum. "Jangan lama-lama," jawab Sagara.
Mendengar Sagara berkata seperti itu membuat Aurel kesal. Ditambah lagi dengan sikap Vesha yang masih dingin terhadap dirinya. Aurel mengatupkan bibirnya dengan rahang mengeras.
*
Bryan terlihat sedang berbincang bersama Devano, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Vesha yang sedang duduk di depan ruang rawat hanya bisa menunggu Bryan yang sedang berbincang dengan sahabatnya itu.
Tidak lama, Bryan datang dan langsung duduk di sebelah Vesha. Gadis itu langsung menoleh, Bryan tersenyum melihat Vesha sempat terkejut.
"Dimana Devano?" tanya Vesha sambil melihat ke tempat awal Bryan dan Devano berdiri.
"Aku menyuruhnya untuk pulang," jawab Bryan.
Dagi Vesha berkerut. "Kamu mengusirnya?" tanya Vesha.
Alis Bryan saling bertautan. "Aku tidak mengusirnya. Aku hanya menyuruhnya untuk kembali bekerja. Sejak tadi Daddy membutuhkannya di kantor," jawab Bryan dengan santai.
Vesha mencebikkan bibirnya, gadis itu merasa kesal. Tetapi memang yang dikatakan Bryan itu benar. Mengingat Devano adalah asisten dari ayahnya Bryan.
"Mau pulang?" tanya Bryan.
Vesha menoleh dan sedikit menganggukkan kepalanya. "Lagi pula di dalam sudah ada Tante Safira dan Aurel," jawab Vesha.
Ya, Safira datang setelah Vesha keluar dari ruang rawat Sagara. Bryan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Vesha. Mereka kembali masuk untuk berpamitan dengan Safira dan Sagara.
Tidak mengindahkan keberadaan Aurel, Vesha dan Bryan langsung pamit dan pulang. Rasanya kali ini tubuh Vesha sangat lelah. Bagaimana tidak lelah, tadi dia cukup banyak melakukan gerakan muangthai saat melawan dua orang pria bertopeng.
"Aku tidak menyangka kalau calon istriku ini sangat hebat dalam berkelahi," celetuk Bryan saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Vesha berdecak kesal. "Siapa calon istrimu?" tanya Vesha.
__ADS_1