
[Tiga bulan berikutnya…]
Seulas senyum terpatri di wajah seorang gadis yang mungkin saat ini sedang merasakan jatuh cinta. Berulang kali ia berusaha mengenyahkan perasaan yang bergejolak saat dirinya mengingat satu nama yang mulai mengisi hari-harinya.
Sagara, satu nama itu lah yang mampu membuat hati gadis seperti Aruna. Ya, Aruna mengakui sudah jatuh cinta pada Sagara sejak beberapa kali bertemu dengan pria itu. Hampir tiga bulan mereka sering jalan bareng. Kadang Sagara mengajak kumpul bersama saat sedang bersama Marvin, Langit, Chandra, Shena dan Karina.
Kedekatan Aruna dan Sagara sudah tidak sangat asing bagi Marvin and the gank. Maka dari merekalah Vesha tahu soal kedekatan antara Aruna dan Sagara.
Namun sayangnya Aruna takut mengakui, dan ia juga takut kecewa dengan apa yang dirasakannya saat ini. Mencintai Sagara bukanlah hal mudah dalam hidupnya. Bagaimanapun juga Aruna tahu kalau Sagara masih belum bisa melupakan Gavesha. Walaupun mereka tahu saat ini Vesha tidak mungkin kembali pada Sagara. Karena wanita itu telah bahagia bersama sang suami.
Seketika senyum Aruna menghilang, wajah yang tadinya berseri saat teringat Sagara. Kini telah berubah murung dan tidak bersemangat.
Haaahhhh…..
Gadis itu menghela nafas gusarnya. Rasanya kenapa begitu sesak, mengingat hatinya yang mencintai seorang diri. Eh, kok mencintai seorang diri? Menyatakan cinta pada Sagara saja belum Aruna lakukan.
Aruna menepuk keningnya, lalu menggelengkan kepalanya.
"Apakah aku harus jujur dengan perasaanku terhadap Sagara?" monolognya.
"Tapi aku takut kejadian pada Vesha dahulu terulang kembali. Aku tidak sekuat Vesha yang sabar ketika hatinya disakiti karena pengkhianatan," lirihnya bermonolog.
Aruna meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya. Tangannya meraih ponsel yang ada di saku blazer nya. Senyumnya terukir kembali saat melihat wallpaper ponselnya. Dimana layar itu menampilkan foto dirinya bersama Sagara.
"Entah sejak kapan aku mulai mencintaimu, Ga. Yang aku tahu sampai saat ini aku masih jatuh cinta padamu," batin Aruna.
Beberapa saat Aruna termenung sambil menatap layar ponselnya. Hingga beberapa menit berlalu, ia tersadar saat sebuah ketukan di meja kerjanya menyadarkan dirinya.
"Kerja! Melamun terus," celetuk seorang pria rekan kerjanya.
Seketika senyum Aruna luntur, ia sangat kenal dengan suara barito itu. Ia pun mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada pria yang berdiri di depan meja kerjanya.
Aruna menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya. Satu alisnya pun terangkat satu.
__ADS_1
"Tidak bisakah kamu sehari ini saja tidak menggangguku!" bentak Aruna.
Pria itu pun melipat kedua tangan di depan dadanya juga. "Ohooo, bahkan kamu sangat berani berbicara bernada tinggi di hadapanku!" sahut pria itu yang ikut berbicara dengan nada tinggi.
[Brak…]
Aruna memukul meja kerjanya, membuat pria itu sedikit berjingkat karena terkejut dengan apa yang dilakukan Aruna.
Aruna pun berdiri. "Kamu benar-benar sangat menyebalkan sekali, Erik!" pekik Aruna
Pria bernama Erik itu pun seketika merasa kesulitan menelan salivanya. Tatapan tajam Aruna benar-benar membuat Erik gemetar.
"Woah, kau…!" Erik mundur beberapa langkah sambil menunjuk-nunjuk Aruna dengan jari telunjuknya.
Erik terus memundurkan langkahnya, sehingga pria itu menghilang di balik pintu ruangan Aruna. Beruntung di ruangan itu Aruna sedang sendirian. Biasanya dia ditemani dua teman sedivisinya. Namun salah satu diantara mereka ada yang sakit, dan yang satunya lagi sedang meninjau proyek bersama atasan mereka.
Aruna mendengus kesal saat melihat pintu ruangannya kembali tertutup. "Ck, dasar penakut. Baru digertak begitu saja sudah ngacir. Belagu tapi ngeselin!" omel Aruna seraya menjatuhkan bobot tubuhnya dengan kasar di kursi.
Dengan sangat kesal Aruna kembali menatap layar laptopnya. Berkali-kali ia mencoba memfokuskan pemikirannya pada pekerjaannya, tetap saja gadis itu tidak bisa fokus. Karena hanya bayang-bayang wajah Sagara saat tersenyum dan melamun saja yang ada di benaknya.
Aruna pun berdiri sambil merapikan rambutnya. Ia pun keluar dari ruang kerjanya dan menuju pantry.
Sementara itu di perusahaan Heinzee Group, Vesha sedang menunggu sang suami di lobby. Vesha sengaja menunggu di sana atas keinginannya, karena Vesha sedang ingin makan siang di luar bersama temannya.
"Sayang," suara Bryan mengalihkan fokus Vesha yang sedang berkirim pesan dengan temannya itu.
Vesha tersenyum. "Sudah?" tanya Vesha.
Bryan mengangguk. "Ayo, maaf membuatmu menunggu!" jawab Bryan seraya mengulurkan tangannya pada Vesha.
Vesha pun membalas uluran tangan sang suami. "Tidak apa, Gara juga belum sampai di sana," sahut Vesha.
Ya, Vesha sedang ada janji ingin bertemu dengan Sagara. Padahal Bryan sangat ingin melarangnya, namun mengingat ini adalah keinginan Vesha yang sedang hamil.
__ADS_1
Vesha dinyatakan oleh dokter sedang mengandung 8 Minggu. Itupun bukan Vesha yang menyadari kalau dirinya hamil, tetapi Bryan lah yang merasakan kalau istrinya itu sedang hamil.
Sebelum Vesha dinyatakan hamil oleh dokter. Bryan sering merasakan mual dan pusing tanpa sebab, tambah lagi Vesha yang selalu minta apa saja yang terkesan aneh dan tidak terbiasa.
Bryan juga sering banyak membaca artikel di google mengenai tanda-tanda wanita yang sedang hamil. Saat semua yang dibaca dialami dirinya dan juga Vesha, dari situlah Bryan menyadari kalau istrinya sedang hamil.
Bryan tersenyum sambil menghela nafasnya. "Kenapa harus bersama Gara sih, Yank?" tanya Bryan dengan hati yang terasa berat.
Vesha mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Tidak boleh, ya? Ya sudah, kalau tidak boleh. Aku pulang saja!" Vesha langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Bryan dengan kasar.
Bryan merutuki kesalahannya, dengan cepat ia langsung meraih kembali tangan sang istri.
"Jangan marah, sayang! Ayo, sebaiknya kita cepat ke restoran D. Takutnya Gara sudah datang," ucap Bryan.
Vesha masih menekuk wajahnya, rasanya ia masih sangat kesal dengan pertanyaan Bryan tadi. Bukankah mereka sudah bahas beberapa hari yang lalu mengenai keinginan Vesha yang sangat ingin makan siang bersama dengan Sagara.
Bryan merasa sangat bersalah dengan Vesha, padahal ia sudah berjanji akan mewujudkan dan mengikhlaskan keinginan Vesha.
"Sayang, maafkan aku!" lirih Bryan.
Vesha menatap tajam ke arah Bryan. "Kita sudah bahas soal ini 'kan? Tapi kenapa kamu seperti tidak ikhlas dengan keinginan anak kita?" keluh Vesha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bryan menyadari mereka masih di lobby kantor. Akhirnya merangkul pundak Vesha dan membawanya keluar lobby. Disana sang sopir tengah menunggu dan langsung bersiap membuka pintu mobil untuk keduanya.
Bryan menuntun Vesha masuk kedalam mobil, lalu dilanjut dengan dirinya. Bryan masih menggenggam tangan sang istri.
"Maaf ya! Aku benar-benar minta maaf sama kamu. Jangan marah lagi, ya!" ucap Bryan.
Vesha menatap wajah suaminya. "Jangan diulangi lagi. Kalau tidak ikhlas seharusnya kamu bilang dari awal," jawab Vesha.
"Iya, sayang. Aku minta maaf!" ujar Bryan seraya mengelus wajah istrinya.
Vesha pun tersenyum dan mengangguk. Tidak lama sang supir pun segera menjalankan mobilnya dan menuju restoran D untuk makan siang bersama Sagara.
__ADS_1
Bryan bernafas lega, beruntung sang istri sangat mudah dibujuk. Kalau sulit itu pun akan berakibat fatal untuk dirinya. Fatal karena berimbas pada si Minion kecil yang sedang tertidur di balik kain celana panjang yang saat ini sedang digunakannya.